Adzan dzuhur telah berkumandang. Suaranya masuk ke dalam ruang kelasku yang mungil. Memberiku peringatan, saatnya aku harus segera mengakhiri aktivitasku. Kumatikan lampu dan kusisihkan meja kursi yang habis dipakai KBM tadi, biar besok pagi masuk kelas tampak terang, rapi, dan menyenangkan hati.
“Sebentar lagi Padma keluar dari kelas, aku harus segera meluncur ke SD. Kasihan nanti kalau sampai terlambat seperti kemarin, dia tinggal sendirian di jalan kecil belakang sekolah menungguku yang tak kunjung datang. Memang kemarin itu benar-benar sibuk nich, mana kelas berantakan meja belum tertata, hasil karya anak masih belum saya nilai, dan media yang digunakan masih berserakan. Saat itu belum sempat aku bereskan tiba-tiba sudah masuk ke dalam kelas anak-anak kelas TK B yang akan mengikuti ekstra di kelasku. Usai ekstra hafalan kemarin aku tidak segera membereskan kelas, tetapi aku keluar kelas dan menunggui anak-anak yang selesai ekstra dijemput oleh orang tuanya sampai habis dijemput semua. Penuh sekali kemarin itu rasanya, sampai aku menjemput anakku Si Padma lumayan lama telatnya. Aku tak ingin suasana seperti kemarin terulang lagi, kasihan dia, sabar menungguku walaupun sampai tinggal dia sendiri yang belum dijemput orang tuanya. Kali ini aku harus segera berangkat biar tidak ngebut juga di jalan.” ucapku dalam hati sambil beberes kelas.
Alhamdulillah hari ini cepat selesai aku membereskan kelas, dan segera pamitan izin mendahului pulang kepada teman-temanku yang masih sibuk di ruangan masing-masing. Ada bu Rahma yang berkantor di ruangan paling depan sebelah kanan, ruangannya yang mungil penuh dengan buku-buku dan file-file tertata rapi di rak yang cukup tinggi. Kursi goyang dan meja kantornya yang lumayan istimewa menambah sempitnya ruangan tampak penuh dengan meja kursi.
Habis dari ruangnya bu Rahma lanjut ke ruang kelasnya bu Erna yang berada di sebelah kiri kelasku. Tampaknya dia tidak mengetahui kedatanganku di depan pintu. Kuperhatikan dia serius menilai hasil kerja anak-anak kelas TK A1. Ruang kelasnya yang mungil seluas ruang kelasku tampak rapi. Ada angklung di pojok sebelah kiri. berjajar dengan loker-loker yang tertata memanjang di sepanjang tembok ruangan. Terlihat rapi tumpukan bukunya. Buku materi, buku gambar, buku tulis ditumpuk dengan rapi dan indah. Media pembelajaran yang banyak dan bermacam-macam begitu rapi dan bagus, nyaman dipandang mata.
Tampak spaneng dia, konsentrasi tingkat tinggi adalah ciri khasnya dalam setiap melakukan pekerjaan. kasihan juga kalau mau saya ganggu, tapi kalau tidak segera salaman untuk pulang gak enak juga ntar terlalu lama lagi anakku menungguku. Ya udah deh, aku samperin aja dia. Aku segera salaman/ berjabat tangan dan ngobrol sebentar kemudian segera berlalu dari hadapannya, agar dia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Selanjutnya aku ke ruangannya Bu Eulis. Kursi goyang dan meja kantornya yang tampak istimewa berada di sebelah meja printer dan deretan rak file yang tertata rapi pula. Kesibukannya di depan laptop ku ganggu sebentar. Suara dan logat Bandungnya yang khas mengiyakan dan menyuruhku untuk hati-hati di jalan. Ditambah “Gak usah ngebut ya, sok-sok sampean ngebut sih kalau naik motor, kayak Valentino Rossi aja.” ucapnya sambil tertawa ringan, yang aku respon kesanggupan dengan senyum juga. Tak lupa berjabat tangan dengan ciri khas kami komunitas guru TK ABA 45 Bambe yang menamai diri Guru Pendekar ABA 45.
Kulanjutkan ke ruangan bu Yudhis dan bu Novi serta bu Aim. Dan segera aku berlari menuju parkiran sepeda motor yang berada di sebelah kiri TK. Tak pakai lama segera ku nyalakan mesin motor kesayanganku dan ku tarik gasnya, meluncur menuju SD yang kudapati Padma sudah menunggu di pinggir jalan belakang sekolah. Tampak dia menyambut kedatanganku dengan senyum sumringah menandakan bahagia, alhamdulillah.
“Terima kasih Bu, gak telat.” ucapnya sambil salaman dan cipika cipiki. Pipinya yang gemoy teras empuk dan dingin. Ingin rasanya menempelkan lama-lama. Tapi tak usah lah seperti. Hemat waktu untuk segera sampai di rumah dan mengerjakan pekerjaan lainnya, aku segera tarik gas dan melesat pulang bagaikan Valentino Rossi. Teringat pesan Bu Lis, gak boleh ngebut. Perlahan kutahan gas dan ku bergerak perlahan.
Alhamdulillah, tak lama kemudian sampailah kami di rumah. Cekatan si Padma membuka pagar, setelah aku masuk dan parkir motor di serambi dia kembali menutup pintunya. Kemudian kami wudhu selanjutnya sholat dhuhur. Tak sengaja badan rasanya lelah, mau membuka laptop mengerjakan tugas rasanya berat sekali. Tak terasa aku pun tertidur pulas seperti halnya Padma yang telah tertidur pula.
Di tengah nyenyaknya tidur siang, tiba-tiba terdengar suara anak-anak memanggil namaku. “Bu Endah, assalamu’alaikum, Bu Endah..” terdengar jelas di telinga. Membangunkan tidur pulasku. Aku kaget dan bangkit, melompat mencari mukena. Dan kudapati beberapa anak sudah berada di depan pagar. Mereka anak-anak yang rajin, disiplin, dan penuh semangat untuk belajar Al Qur’an. Belajar hafalan juz ‘amma di rumahku setiap hari senin sampai jumat pukul 15.00 sampai 16.00.
Ya Allah… alhamdulillah… Suaramu membangunkan aku Naakkk… terima kasih yaaa
Kreator : Endah Suryani, S. Pd AUD
Comment Closed: Suaramu Bangunkan Aku
Sorry, comment are closed for this post.