“Mas..Mas… tungguin Mas! Aku belum naik!!”
Terlihat seorang wanita muda berlari-lari sambil mengejar suaminya yang melaju pelan mengendarai sepeda motornya. Wanita berperawakan sedang dengan tinggi sekitar 150 cm ini terus memanggil sambil melambai-lambaikan tangan kanannya. Sedang tangan kirinya sibuk mengangkat roknya yang menghalangi kebebasan larinya. Roknya dengan model span berbelah sedikit bagian belakang membuatnya susah untuk melangkah. Memang bajunya ini dirancang untuk tampil cantik rupawan semacam ibu-ibu bangsawan.
Namun keadaan darurat yang demikian membuat ia lupa dengan model bangsawannya. Kebiasaannya menggunakan celana panjang setiap harinya membuat dia kesulitan menggunakan rok panjang model span. Tanpa berpikir panjang dan tanpa peduli dengan lingkungan sekitar, dia spontan menarik roknya tinggi-tinggi dan lari menyusul suaminya yang terhenti di perempatan lampu merah jauh di depan sana.
Angannya melayang ingin segera dapat menyusul suaminya. Dengan rok yang sudah tinggi ia merasa bebas dan bisa berlari kencang. Namun, apa yang terjadi, ternyata si wanita ini memakai sepatu hak tinggi untuk mendukung penampilannya yang menginginkan tampil sebagaimana ibu-ibu bangsawan. Dia terus berusaha keras mengangkat kedua kakinya secara bergantian secepat mungkin. Kebiasaannya selama ini yang memakai sandal jepit membuatnya kesulitan berlari dengan mengenakan sepatu model hak tinggi.
Kebetulan ada beberapa pengendara sepeda motor dari arah yang sama melihat wanita itu berlarian. Pengendara motor itu sedikit memperlambat laju kendaraannya sambil menoleh ke arah wanita itu. Dilihatnya wanita itu tetap lari tanpa menghiraukan dirinya yang melambat sambil menoleh ke arahnya. Dari raut wajahnya tampak wanita itu panik dan ketakutan. Kulitnya yang sawo matang ditambah keringat membasahi wajahnya tampak seperti gosong terpapar terik matahari.
Si pengendara motor pun merasa iba pada wanita tersebut. Kemudian dia menarik gas perlahan mendekati si laki-laki yang berhenti di tengah jalan bersama pengendara lain karena lampu merah sedang menyala. Perlahan dia memberhentikan sepeda motornya mengambil tempat dekat laki-laki muda yang terlihat meninggalkan wanita berlari-lari itu.
Setelah berhenti sejenak, dipanggilnya laki-laki itu.
“Pak…itu istrinya ketinggalan.” Kata pengendara motor yang baik hati itu.
Dengan tenangnya si laki-laki muda tersebut menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya dia tampak sedang berbicara padanya. Pengendara motor itu melihat si laki-laki muda itu seperti tidak mendengar ucapannya.
Mungkin karena telinganya tertutup helm, pikirnya.
Kemudian, diulanginya ucapannya tadi dengan sedikit lebih keras.
“Pak, itu istrinya ketinggalan!!!”
Sambil tangan kanannya menunjuk ke arah belakang.
Kemudian si laki-laki muda itu menoleh ke belakang kemudian mengucap, “Ya, terima kasih.”
Mendengar percakapan keduanya, para pengendara yang sama-sama berhenti menunggu lampu hijau menyala serentak tertawa terbahak-bahak. Sambil menoleh ke arah keduanya dan ke arah belakang. Begitu mereka semua sedang menoleh ke arah wanita itu tiba-tiba lampu merah padam dan berganti lampu hijau yang menyala. Dengan segera pengendara bermotor yang baik hati itu bersama pengguna jalan yang lainnya tarik gas dan melaju melanjutkan perjalanannya.
Tinggallah di tengah jalan di perempatan itu laki-laki muda seorang diri. Sambil tetap memegang kuat rem motornya dia melihat ke arah istrinya yang terus berlari menuju ke arahnya. Sambil tertatih dengan nafas ngos-ngosan, sampailah istrinya di samping kiri motornya.
“Kok bisa ketinggalan gimana sih?!” kata si suami dengan nada seolah-olah menyalahkan istrinya.
Tanpa menjawab sepatah katapun, si istri langsung naik ke atas motor. Tanpa berlama-lama berhenti di tengah jalan, si suami segera menarik gasnya dan mereka berdua melaju melanjutkan perjalanannya.
Sepanjang perjalanan si suami hanya diam dengan tenang mengendarai motornya. Si istri pun diam seribu bahasa sambil perlahan menghela nafas dalam-dalam. Dari nafas yang ngos-ngosan akibat capek habis lari-lari perlahan mulai tenang dan bernafas seperti biasa.
Setelah cukup lama dan cukup jauh mereka berkendara. Akhirnya sampailah pengantin baru itu di rumah mungilnya di antara bangunan-bangunan yang sama di sekelilingnya. Sesampai di teras, si suami memarkir motornya dengan standar dua dan kepala motor menghadap kiri seperti peraturan parkir pada umumnya. Hal ini menunjukkan jiwa kedisiplinan yang tinggi yang telah menjadi kebiasaan baik yang tak terlupakan.
Dengan segera, istrinya bergegas menuju pintu rumah yang tertutup rapat. Tangannya sibuk meraba-raba isi tas yang dari awal sudah menempel di pundaknya. Tak lama kemudian terbukalah pintunya setelah kunci dilepaskannya.
Dua sejoli yang sama-sama masih canggung itu kemudian duduk santai di kursi tamu yang terbuat dari anyaman bambu. Ternyata mereka menyukai barang antik dan perabot yang masih tradisional. Sambil membuka tutup gelas berisi teh yang baru saja disajikan istrinya, si suami mulai membuka pembicaraan.
“Gimana sih kamu tadi kok bisa ketinggalan. Untung masih bisa mengejar.” Kata suaminya dengan nada masih menyalahkan istrinya.
Dengan polosnya istri menjawab.
“Ya gimana, wong aku belum naik motor situ udah tancap gas. Gimana aku gak ketinggalan. Untung aja ada orang yang bilangin kalau aku ketinggalan.” Jawab istrinya datar.
“Emang situ gak terasa kalau motornya ringan tanpa muatan?!” si istri balik bertanya seolah menyalahkan suami pula.
Dengan santainya si suami menjawab, ”Aku lupa kalau bawa muatan. Soale selama ini biasa sendirian ke mana-mana, bebas gak ada tanggungan. Gak pernah ada muatan di belakang kendaraan.”
“Hmmmmmmmmmm…..” istrinya menggumam panjang.
Lalu dia melanjutkan pembicaraannya.
“Lha tadi lo pas udah lampu ijo kenapa situ malah diam di atas motor menunggu aku sampai di sana, padahal kan aku masih lumayan jauh dan jalan raya pun lumayan sepi. Kenapa gak putar balik jemput aku?” si istri terus mencari kesalahan suaminya.
Dengan sikap tenang dan tanpa merasa berdosa dia menjawab tuntutan istrinya.
“Aku gak kepikiran untuk menjemputmu. Tak terpikirkan olehku menjemput dirimu. Malah kamu terlihat lucu lari-lari sambil ngangkat rok dan kesulitan lari memakai sepatu hak tinggi.” Tegasnya.
Akhirnya si istri pun diam sejenak. Tak dibalasnya ucapan suaminya yang begitu jujur dan menyakitkan hati. Dalam hati dia berkata bahwa dia belum berada di hatinya. Dia masih terbiasa dengan suasana bujang yang masih sendirian. Masih bebas dan belum ada beban dan tanggung jawab. Kalau dia terus berbantahan tak akan ada habisnya. Tak akan ada penyelesaiannya. Bahkan malah akan menjadi semakin runcing dan semakin panas.
Sambil sesekali melirik ke arah suaminya yang menikmati teh hangat dengan camilan kacang tanah kesukaannya itu, si istri terus merenung dan berkata dalam hati.
Oh, ternyata seperti ini ya wataknya. Ini adalah awal aku dan dia saling mengenal watak dan kebiasaannya. Maklum sebelum menikah kami belum pernah berkumpul bersama, belum pernah ngobrol bersama dalam waktu yang lama. Aku harus menyadari, memang komunikasi kami selama ini semenjak kenal sampai hari pernikahan hanya melalui surat menyurat. Ya beginilah akibatnya. Belum akrab. Masih canggung. Masih merasa takut-takut. Dan aku merasa bahwa dia belum menempatkan aku di hatinya. Tapi tak apalah. Jalani aja bagaikan air mengalir. Karena aku dan dia dijodohkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Biarlah waktu terus berjalan. Biarlah aktivitas keseharian yang akan mengajariku mengenalnya. Dan aku berharap melalui kehidupan sehari-hari ini pula lah dia akan mengenalku. Jalani saja dengan senang hati. Biarlah waktu yang menjawab semua ini. biarlah masa yang berkata akan keberadaan kita. Bagaimanapun jiwa dan karakter dia, bagaimanapun emosi dan kebiasaan dia, aku harus tetap menerimanya. Dan tetap mensyukurinya. Karena aku adalah wanita yang ditakdirkan mendampinginya. Jika Allah tidak menghendaki pasti lah semua ini tidak akan terjadi. Jika bukan atas kehendak Allah tentu bukan aku yang menjadi istrinya dia. Dan, kalau bukan karena takdir dari Allah tentu bukan dia yang menjadi suamiku. Aku harus rela, aku harus ikhlas, aku harus kuat, aku harus gembira, aku harus bersyukur, aku harus berterimakasih kepada orang tua, aku harus mampu menjaga dan menjalani kehidupan baru ku ini. Aku harus bisa menempatkan dia di hatiku, aku harus mampu menyingkirkan kenangan-kenangan masa lalu yang mengganggu keutuhan hati dan perasaanku. Aku harus mampu menempatkan diriku di hatinya. Aku harus mampu menerima dia apa adanya supaya dia juga mau dan mampu menerima diriku apa adanya.
Lamunan si istri terus mengembara. Jauh menerawang ke angkasa raya. Ia terus berbicara sendiri dalam hati. Ia lirik suaminya sedang asyik sendiri menikmati minuman hangat. Tampaknya si suami tahu bahwa istrinya sedang merenung. Tampaknya ia memberi kesempatan yang luas untuk istrinya berpikir. Tampaknya ia tidak ingin mengganggu istrinya itu.
Si istri melanjutkan renungannya. Ia ukir kalimat indah melintas dalam angan. Ia rajut kata penguat jiwa tanpa pena menari di atas helai kertas. Terus menerawang. Terus berpikir. Terus melukis di angkasa raya. Bersanding dengan pelangi jingga. Terus mengukir jiwa, merangkai kata mencipta asa, menguatkan tekad tuk mulai melangkahkan kaki menapaki masa depan.
#############################
Kreator : Endah Suryani, S. Pd AUD
Comment Closed: TAK KENAL MAKA TAK SAYANG
Sorry, comment are closed for this post.