Penasehat yang sejati itu adalah diri sendiri. Di saat hati bisa mendengar dan mencerna nasehat dari dalam diri, di saat itu kesadaran itu muncul dan menjadi kekuatan dalam diri untuk berubah lebih baik. Terkadang, masalah utama dalam hidup kita bukanlah beban hidup, bukan musibah, bukan pula sesuatu yang datang dari luar diri. Terkadang, masalah utama dalam hidup kita adalah hati ,jiwa ,mental dan kekuatan batin yang rapuh. sehingga kita butuh kekuatan batin untuk mengangkat persoalan hidup itu. Inilah yang kadang jarang kita sadari. selama ini, kita melihat setiap permasalahan dari sisi luar diri, orang lain atau dari lingkungan sekitar. Sehingga, kita lebih sering menyalahkan daripada mengintrospeksi diri, lebih sering suudzon dan tidak belajar untuk husnudzon, lebih sering memaki daripada memuji, lebih sering marah daripada menahan diri. Sehingga sulit untuk menemukan akar masalah dan solusi.
Tapi, setelah aku banyak mengalami guncangan dan ujian, aku coba untuk mencari ke dalam diriku sehingga aku bisa belajar ilmu syukur dan ilmu ridha sehingga aku mulai belajar untuk melepaskan dan menerima diriku, belajar ikhlas atas semua takdir yang Allah berikan, belajar menerima setiap ketentuan dan takdir yang telah Allah tetapkan. Sehingga, aku merasa menemukan pencarian hati ku tentang kesenangan yang membuat aku bahagia sehingga aku bisa meraih ketenangan .
Aku berulang kali membaca buku, Quranic Law of Attraction: Meraih Asa dengan Energi Kalam Illahi, buku best seller yang ditulis oleh Rusdin S Rauf. Subhanallah, seakan aku mendapatkan suntikan energi dan ribuan vitamin, sehingga aku bisa bangkit dan mendapatkan akar permasalahan yang selama ini aku cari.
Segala sesuatu yang kita pikirkan dengan segenap hati, pikiran, energi dan perhatian, baik hal positif maupun hal negatif. Maka, itulah yang akan datang pada kehidupan kita. Saat kita memikirkan sesuatu berarti kita sedang menarik sesuatu itu ke arah diri kita. Memang benar, bukan? Inilah yang selalu kita lakukan, oleh karena itu aku belajar untuk meyakinkan diriku kalau aku pasti bisa berubah, aku perbaiki dan luruskan niatku dan yang terutama aku berusaha menghadirkan Allah di setiap niat itu.
Mungkin dulu kita pernah berpikir sesuatu, yang sekarang sudah atau sedang terjadi. aku ingin menuliskan disini apa yang aku pikirkan dan aku ucapkan sesungguhnya terjadi dalam hidupku. Ketika kecil, aku selalu mengatakan kalau aku ingin jadi guru. Setiap bermain peran dengan teman-temanku, aku selalu memainkan peran guru walaupun kata almarhum Bapak tidak bau telunjuknya kalau aku bakal jadi guru. Nyatanya, sekarang aku jadi guru.
Yang kedua, aku dulu punya impian untuk sekolah dan kuliah walaupun dalam perhitungan manusia itu sesuatu hal yang mustahil, namun Allah wujudkan impianku melalui beasiswa yang Allah titipkan melalui seorang dermawan yang baik hati. Akhirnya, aku bisa kuliah dan jadi sarjana. Aku pernah berkata ingin besar di rantau buktinya sampai sekarang saya merantau.
Pernah suatu waktu ada kejadian (tidak bermaksud untuk riya’ hanya untuk pembelajaran), ketika wabah korona ekonomi orang rata-rata susah. Alhamdulillah, aku masih ada usaha laundry waktu itu.
Suatu sore hujan, ada seorang pemuda datang meminta tolong untuk diberi uang sepuluh ribu. Waktu itu, uangku cuma ada dua belas ribu di kotak.
Anak bungsuku berkata, “Kok dikasihkan uang kita? Kan cuma segitu, untuk besok bagaimana, Ma?”
Aku spontan menjawab, “Mungkin dia lebih membutuhkan, Nak. Insya Allah, Allah pasti akan mengganti.”
Tidak lama setelah itu, aku mendapat telepon dari pelanggan laundry, meminta agar aku mengantarkan baju laundry-nya. Setelah aku menerima uang jasa laundry, pelanggan itu menyodorkan sebuah amplop di tanganku dan berkata,
“Ini ada sedikit uang untuk membantu anak-anakmu.”
“Terima kasih, Ibu.” ucapku sambil menggenggam amplop itu. Setelah aku buka amplop itu ternyata berisi uang satu juta rupiah. Subhanallah, begitu cepatnya Allah membuktikan ucapanku.
Pada suatu ketika, aku pergi mengajar privat ngaji. Kebetulan lokasinya jauh dan aku diantar grab ke rumah tempat aku mengajar privat tersebut.
Ketika mau pulang orang yang punya rumah bicara padaku.
“Ibu kesini naik grab?”
“Iya,” jawabku.
“Kenapa naik grab, Bu? Kan ongkosnya mahal dibanding bawa motor sendiri.”
“Insya Allah, besok bawa motor, Bu. Karena hari ini perdana mengajar, saya belum tahu jalan.” jawabku spontan. Padahal, aku tidak punya motor waktu itu.
Sorenya, sepulang mengajar privat, ada seseorang datang ke kontrakanku. Dia menawarkan sebuah motor padaku dan aku boleh mencicil bayarnya. Subhanallah, di luar skenario manusia seperti aku. Alhamdulillah, besoknya aku benar-benar bawa motor sendiri sesuai jawabanku.
Dan, ada satu lagi peristiwa yang aku alami ketika anak-anak sudah mulai dewasa dan Si Bungsu juga masuk sekolah berasrama. Aku merasa sunyi dan sepi.
Aku berkata, “Ya Allah, alangkah terasa sepinya tanpa ada anak di rumah ini. Aku ingin punya sebuah rumah yang akan aku jadikan tempat belajar dan menghafal Al-Quran bersama anak-anak yang lain, ya Allah.”
Subhanallah, dalam bulan itu juga Allah jawab. Ketika aku diminta untuk menjadi ibu asuh di sebuah asrama yatim piatu dan diminta untuk tinggal di rumah yang telah disediakan lengkap dengan fasilitasnya. Alhamdulillah, aku mendapatkan semua yang aku inginkan. Di sini aku bahagia sekali. Aku tidak akan kesepian karena banyak anak yang membutuhkanku sebagai pengganti ibunya. Aku dapat rumah yang setiap saat bisa aku pakai untuk belajar dan menghafal Al-Quran bersama anak-anak.
Begitu juga ketika aku membutuhkan sebuah motor untuk berdakwah. Sore itu, aku ada jadwal ceramah di sebuah majelis ilmu. Aku sempat terlambat karena menunggu grab yang aku pesan. Ketika sampai di masjid, aku minta maaf kepada pengurus majelis atas keterlambatanku karena menunggu grab yang aku pesan. Namun, ketika akan pulang aku ditawari seorang Ibu untuk mengantar aku pulang. Aku tidak bisa menolak. Akhirnya, aku diantar pulang. Tapi, alangkah terkejutnya Ibu itu melihat kondisiku yang tidak sesuai dengan perkiraannya selama ini. Spontan, beliau menawarkan sebuah sepeda motor untuk aku pakai karena ada motor di rumahnya yang tidak terpakai. Subhanallah, begitulah cara Allah memenuhi kebutuhanku yang tidak aku sangka-sangka. Waktu itu apapun kondisiku, aku coba menerima dengan rasa syukur dan pasrahkan diri hanya pada Allah.
Begitu indah kasih sayang-Nya, namun yang aku sesali kenapa sekarang aku baru menyadarinya. Setelah sekian tahun aku hidup bergelimang nikmat dari Allah, tapi aku masih bermaksiat dan berlumuran dosa. Astagfirullahaladzim. Semoga Allah swt ampuni dosa-dosaku dan perbaiki ibadahku.
Aku ingin berpesan untuk diriku agar selalu belajar dan istiqomah dalam kebaikan .Andai aku khilaf, maka itu adalah kebodohan diriku sendiri.
Cara Allah menyayangi kita terkadang bukan dengan memberi kita hidup dalam harta, tapi dengan hidup penuh kesederhanaan karena bisa jadi Allah ingin meringankan hisab kita di akhirat.
Cara Allah menyayangi kita terkadang bukan dengan segera memberi kita kesembuhan, tapi dengan cara memberi kita sakit karena bisa jadi Allah ingin menghapus dosa-dosa kita dengan penyakit yang kita hadapi.
Cara Allah menyayangi kita terkadang bukan dengan cara memberi kita kebahagiaan dan kenyamanan, tapi dengan memberi kita musibah dan ujian karena bisa jadi Allah ingin meninggikan derajat kita kelak di surga.
Cara Allah menyayangi kita bukan dengan cara mengabulkan apa yang kita inginkan, tapi dengan menunda doa atau menggantikan dengan sesuatu yang lain karena bisa jadi Allah Maha tahu ada bahaya di balik sesuatu yang kita minta.
Cara Allah menyayangi kita terkadang bukan dengan cara seketika memberi kita kemudahan atau kesuksesan, tapi dengan memberi kita berbagai kesulitan dan kegagalan karena bisa jadi Allah ingin memberi kita pahala yang banyak sehingga kelak kita menyadari bahwa di balik setiap kesulitan itu ada banyak pelajaran untuk kita.
Untuk itu tetaplah husnudzon atau berprasangka baik kepada Allah atas segala kesusahan, sakit, ujian, kesulitan dan kegagalan yang kita hadapi. Karena jalan untuk menuju surga-Nya itu tidak mudah. Butuh ujian agar kita mendapatkan banyak pahala dari-Nya. Butuh kesabaran agar kita mendapat ridha-Nya. Butuh sakit agar kita mendapatkan ampunan-Nya. Butuh pengorbanan agar kita mendapatkan kedudukan yang tinggi di surga-Nya.
Begitulah terkadang cara-cara Allah menyayangi kita, bahkan beberapa luka diciptakan untuk tidak sembuh agar menjadi pelajaran bermakna. Jika kita ikhlas, maka akan mendapat pahala. Maka kita harus sabar pada ketentuan Allah karena sungguh pada akhirnya kita akan mengerti bahwa di balik semua yang telah Allah gariskan ternyata menyimpan banyak kebahagiaan dan kebaikan.
Kreator : Reni Elfira
Comment Closed: Takdir Allah Itu Indah episode 8
Sorry, comment are closed for this post.