KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » TAKDIR DI JALAN SEPI

    TAKDIR DI JALAN SEPI

    BY 15 Nov 2025 Dilihat: 67 kali
    TAKDIR DI JALAN SEPI_alineaku

    Sudah lima tahun aku hidup sendiri. Lima tahun tanpa senyum seorang istri, tanpa suara langkahnya yang dulu memenuhi rumah kecil kami setiap pagi. Sejak dia pergi, semua terasa kosong. Aku mengisi hari-hariku dengan bekerja dan beribadah. Malam sering kuhabiskan dengan duduk di beranda, memandangi langit gelap sambil menyeruput kopi yang sudah dingin. Kadang aku masih teringat caranya menyiapkan sarapan sambil bersenandung pelan. Tapi semua tinggal kenangan. 

    Aku tak punya niat untuk menikah lagi. Entah karena rasa kehilangan yang terlalu dalam, atau karena aku merasa tak ada lagi yang bisa menggantikan dia. Tapi hidup ini, rupanya, punya cara sendiri untuk membuka hati yang telah lama tertutup. Hari itu sore menjelang malam. Jalanan sepi, hanya sesekali ada kendaraan lewat. Angin berembus pelan membawa aroma sawah basah sisa hujan. Saat melintas di sebuah tikungan, aku melihat seorang wanita berdiri di tepi jalan, menunduk sambil memegangi motornya yang tampak mogok.

    Awalnya aku hanya lewat begitu saja. Tapi setelah beberapa meter, entah kenapa aku menoleh ke kaca spion. Ia masih berdiri di sana, menatap sekitar dengan wajah cemas. Hati kecilku berbisik:    “Bagaimana kalau dia kenapa-kenapa? Jalan ini sepi sekali.”

    Akhirnya aku berhenti dan memutar balik motor.

    “Kenapa motornya, Mbak?” tanyaku saat tiba di dekatnya.

    Wanita itu tampak terkejut, matanya melebar. Ada ketakutan di wajahnya.

    “Tenang, Mbak. Saya orang baik,” kataku sambil tersenyum menenangkan.

    Dia menarik napas pelan. “Gak tahu, Mas. Tadi tiba-tiba mati aja.”

    Aku menurunkan helm. “Boleh saya lihat sebentar?”

    Dia mengangguk, sedikit gugup. Aku memeriksa tangki, dan benar saja — kosong. Tak ada setetes pun bensin di dalamnya. Aku menghela napas kecil.

    “Terakhir isi bensin kapan, Mbak?”

    Dia berpikir keras. “Waduh, lupa juga, Mas. Soalnya motor ini jarang dipakai.”

    Aku tersenyum lemah. “Oh begitu. Ya sudah, tunggu di sini ya. Saya carikan bensin dulu.”

    Aku melajukan motor, mencari penjual bensin eceran di sekitar situ. Tak jauh, aku menemukan kios kecil di pinggir jalan yang menjual bensin dalam botol bekas air mineral. Aku membeli satu botol, lalu kembali ke tempat wanita itu.

     

    “Ini bensinnya, Mbak,” ucapku sambil menyerahkan botol.

    Dia menerimanya dengan senyum lega. “Makasih ya, Mas. Maaf ngerepotin.”

    “Gak apa-apa, saya senang bisa bantu,” jawabku.

    Setelah motornya kembali hidup, ia menatapku dengan tatapan yang hangat.

    “Sekali lagi makasih, Mas. Kalau gak ada Mas, mungkin saya masih di sini sampai malam.”

    Aku tersenyum, lalu berpamitan. Tak pernah terpikir kalau pertemuan singkat itu akan menjadi awal dari kisah panjang dalam hidupku. Beberapa bulan berlalu. Hari-hari berjalan biasa seperti sebelumnya. Sampai suatu sore, aku mampir ke minimarket untuk membeli rokok. Di kasir, aku melihat wajah yang terasa familiar. Dia menatapku lama, lalu tersenyum kecil.

    “Mas… yang waktu itu ya?”

    Aku memiringkan kepala, mencoba mengingat.

    “Yang bantu saya waktu motor mogok di jalan,” lanjutnya.

    “Oh, iya! Mbak itu!” kataku, ikut tersenyum. “Masih ingat juga.”

    Dia mengangguk. “Gimana gak ingat, Mas. Kalau gak ada Mas, mungkin saya gak tahu gimana pulangnya waktu itu.” Kami tertawa kecil. Setelah itu, aku membayar dan berpamitan. Tapi sejak pertemuan itu, aku tak bisa berhenti memikirkannya. Entah kenapa, wajahnya seperti muncul setiap kali aku duduk sendirian di beranda.

    Maka aku mulai sering mampir ke minimarket itu. Kadang cuma beli air mineral, kadang roti, kadang cuma ingin menyapa. Awalnya canggung, tapi perlahan kami mulai terbiasa bertukar senyum dan obrolan ringan.

    Suatu sore, saat toko sedang sepi, aku memberanikan diri.

    “Mbak, boleh kenalan gak? Nama saya Rehan.”

    Dia tersenyum. “Saya Sinta.”

    “Boleh minta nomor WA-nya, Mbak?”

    Dia terdiam sesaat, lalu menggeleng. “Maaf, Mas, belum bisa.”

    Aku tertawa kecil untuk menutupi kecewa. “Gak apa-apa, saya paham.”

    Namun rasa penasaran membuatku mencari tahu lewat teman kerjanya. Dari sana aku tahu, Sinta ternyata seorang janda. Suaminya baru meninggal sebulan lalu karena komplikasi penyakit. Usia suaminya jauh lebih tua, selisih dua puluh tahun. Sejak suaminya wafat, dia memilih bekerja di minimarket untuk menghidupi diri.

    Mendengar kisah itu, hatiku terenyuh. Entah kenapa aku merasa ada kesamaan nasib di antara kami — sama-sama kehilangan, sama-sama mencoba bertahan. Beberapa minggu kemudian, hujan deras turun saat aku pulang kerja. Aku berteduh di minimarket yang sudah hampir tutup. Saat membuka pintu, aku melihat Sinta sedang menutup mesin kasir.

    “Mas Rehan?” suaranya terkejut.

    Aku tersenyum malu. “Hujan deras banget, Mbak. Numpang neduh boleh, kan?”

    Dia mengangguk. “Boleh banget. Mas duduk aja dulu. Saya juga nunggu hujan reda.”

    Kami berbicara lama malam itu. Tentang banyak hal — pekerjaan, kehidupan, masa lalu, dan rasa kehilangan. Aku bercerita tentang istriku yang meninggal lima tahun lalu, dan Sinta pun bercerita tentang suaminya yang meninggalkannya begitu cepat. Ada keheningan yang panjang setelah itu. Tapi anehnya, bukan keheningan yang canggung. Justru terasa hangat. Seperti dua jiwa yang akhirnya saling memahami luka masing-masing.

    Sinta menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.

    “Berarti kita sama, ya, Mas. Sama-sama pernah kehilangan seseorang yang kita sayang.”

    Aku tersenyum pelan. “Iya, Mbak. Tapi mungkin… Tuhan ingin kita belajar mencintai lagi.”

    Sinta menunduk, tersenyum malu. “Mas bisa aja.”

    Sejak malam itu, kami mulai sering berkomunikasi. Bukan lagi sekadar pelanggan dan kasir. Kami mulai saling bercerita, saling bertukar kabar. Kadang dia mengirim pesan sederhana:

     “Mas, udah makan?” 

    Kadang aku membalas: “Udah. 

    Tapi kalau makan bareng Mbak Sinta, pasti lebih enak.”

    Perlahan, hubungan kami tumbuh tanpa kami sadari.

    Dua tahun berlalu. Aku sudah jarang memanggilnya “Mbak Sinta”. Sekarang cukup “Sinta”. Kami semakin dekat, semakin saling mengerti. Aku tahu, perasaan ini bukan sekadar iba, tapi cinta yang tulus tumbuh dari luka yang sama.

    Suatu sore aku datang ke minimarket, tapi bukan untuk belanja. Aku membawa seikat bunga mawar putih dan sedikit rasa gugup. Sinta terkejut saat melihatku berdiri di depan kasir dengan wajah tegang.

    “Mas Rehan, ada apa?” tanyanya sambil tersenyum.

    Aku menatapnya dalam-dalam. “Dulu aku cuma bantu isi bensin waktu motor kamu mogok, Sinta. Tapi sekarang aku ingin bantu isi hari-harimu, supaya gak pernah mogok lagi karena kesepian.”

    Matanya mulai berkaca-kaca. “Mas serius?”

    Aku mengangguk. “Serius. Aku gak bisa janji hidup kita selalu mudah, tapi aku janji akan berusaha membuatmu bahagia setiap hari.”

    Sinta menutup mulutnya, menahan tangis. Lalu dengan suara bergetar ia berkata,

    “Kalau begitu, aku rela mogok setiap hari… asalkan Mas Rehan yang datang nolongin.”

    Kami tertawa, dan saat itu aku tahu — inilah takdirku.

    Dari jalan sepi yang dulu penuh kenangan, Tuhan mempertemukanku dengan seseorang yang mengisi kekosongan itu dengan cahaya baru. 

    Terkadang, cinta tak datang dengan megah.

    Ia datang diam-diam, di jalan sepi, di saat hati tak lagi mengharapkannya.

    Dan ketika kau berani berhenti sejenak untuk menolong seseorang…

    Mungkin sebenarnya, Tuhan sedang menolongmu menemukan cinta yang baru.

     

     

    Kreator : Ferayanti, S. HI.

    Bagikan ke

    Comment Closed: TAKDIR DI JALAN SEPI

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021