Malam itu, malam yang ke tiga puluh Arif mengurung diri di dalam kamarnya. Tidak pergi ke kampus, tidak bermain ke rumah-teman seusianya, ataupun melakukan aktifitas di luar rumahnya. Dia hanya keluar, waktu mau makan, atau mau melakukan shalat berjamaah di masjid. Ketika ditanya mengapa, dia hanya mengatakan ingin beristirahat setelah menyelesaikan perbaikan skripsinya.
Sebenarnya bukan itu masalahnya. Arif lagi dirungrung rasa bingung. Disatu sisi dia harus memenuhi janjinya melamar Resti, wanita yang sangat dia cintai yang sudah dia janjikan sejak satu tahun yang lalu. Di sisi lain dia tidak bisa memaksa ibunya agar mau menerima Resti sebagai mantunya. Ibunya tidak mau, karena dia trauma dengan perilaku yang diperlihatkan kakak iparnya yang satu suku dengan Resti.
“Umi …., Resti tidak sama seperti Kak Nunik.” Arif mencoba meyakinkan saat dia mengutarakan maksudnya kepada ibunya.
“Apa kamu yakin ?”
“Saya yakin, umi.”
“Arif…., ibu sayang sama kamu. Ibu tidak mau kamu seperti kakakmu, yang seakan-akan tidak harganya di mata istrinya.”
“Resti orang terpelajar, umi….. Tidak mungkin dia memperlakukan saya seperti Kak Nunik memperlakukan Kak Hamdan.” Kembali Arif meyakinkan
“Arif…., kalau kamu tetap pada pendirianmu, ibu tidak akan menghalangi kamu. Tapi…, kamu harus tahu…., diantara anak-anak umi, hanya kamu yang bisa umi ikuti. Kalau istrimu nanti seperti kakak iparmu, umi bingung, umi mau ikut siapa …. ?” Ibunya mengutarakan kekhawatirannya, beberapa butir air matanya mulai menetes.
“Iya…, iya…, umi. Saya akan pertimbangkan lagi.” Arif langsung memeluk ibunya. “Umi jangan menangis, ya …. !” Pintanya
Arif sangat terpukul dengan penolakan halus dari ibunya itu, karena selama ini apa yang diinginkannya, selalu disetujui sekalipun saudara-saudaranya yang lain menolaknya. Karena itulah dia berani berjanji pada Resti untuk melamarnya di bulan Juli yang sekarang telah memasuki tanggal yang ke tujuh. Terbayang olehnya saat dia berdua berada di ruang baca Perpustakaan UHAMKA Jakarta.
“Ada salam dari kakaku.”Ucap Resti memulai pembicaraan
“Wa alaiki wa alaihis salam.” Jawabnya
“Arif…., tadi malam aku ditanya lagi oleh kakakku. Kata dia kapan kamu mau ke rumah ?”
“Ke rumah ?”
“Ga usah kaget gitu, kali……! “
“Kalau sudah dengar kata kakak kamu, aku suka miris.”
“Kenapa… ?
“Pasti nanya kapan aku ngelamar kamu.”
“Wajarlah, Arif. Aku kan adik dia satu-satunya. Dan dia merupakan tulang punggung keluargaku saat ini.” Jelas Resti
“Resti…., aku sangat mencintai kamu, aku ingin menjadikan kamu sebagai isteriku. Tapi…, terus terang, sekarang-sekarang ini aku belum siap.”
“Kakakku tidak minta sekarang kok, dia hanya minta kepastian dari kamu. Kalau bulan, bulan apa….? Kalau tahun, tahun berapa …. ?”
Arif berpikir sejenak, dipandangnya wajah Resti yang tengah mengarah kepada dirinya, diminumnya air mineral yang ada ditepanya, lalu jari jemari tangannya bergerak-gerak di atas meja seakan-akan tengah menghitung-hitung sesuatu.
“Resti ….!”
“Iya…, Arif !”
“Kapan kamu dapat menyelesaikan seluruh mata kuliah ?”
“Insya Allah, akhir tahun pelajaran tahun ini bisa selesai. Kecuali skripsi.”
“Ga apa-apa, untuk skripsi nanti aku bantu.”
“Terus kerumahnya, kapan …. ?”Resti bertanya manja
“Insya Allah bulan Juli tahun depan, aku akan datang melamarmu.”
Itulah janji Arif pada Resti yang kini kena benturan dengan penolakan ibunya. Dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Resti dan keluarganya tengah menunggu kedatangan nya, sementara ibunya sekalipun membolehkan tapi ridhonya tidak dia dapatkan.
“Huuuuuuh …..” Arif mengeluh sambil menyandarkan tubuhnya di kursi. Matanya terpejam pikiranya melayang-layang tidak karuan.
“Aku harus ketemu Resti, aku harus katakan apa adanya. Besok aku harus ketemu denganya.” Gumamnya dalam hati, setelah beberapa saat berpikir.
Pagi harinya, sepulang dari masjid, Arif langsung mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah Resti. Saat itu ibunya masuk ke kamarnya membawakan segelas susu dan roti kering kesukaanya.
“Mau kemana, Arif ?” /Tanya ibunya
“Mau ke rumah teman, umi….” Jawab Arif, sambil berusaha menenangkan dirinya.
“Pagi amat ?
“Rumahnya agak jauh umi, perjalanannya kurang lebih dua jam. Kalau masih pagi kan tidak terlalu panas.
“Ini minum dulu susunya….!”
“Iya, umi. Simpan saja, disitu.” Jawab Arif sambil menyisir rambutnya.
“Hati-hati di jalan, jangan ngebut.!” Pinta ibu sambil meletakan susu dan roti kering di atas meja. “Umi mau belanja sayuran dulu, ya !”
“Iya, umi….”
Sepeninggal ibunya, Arif mengeluarkan sepeda motor. Dengan hati yang cukup penat, dia meninggalkan rumahnya. Sambil mengendarai sepeda motor dia berpikir keras apa yang harus disampaikan pada Resti, bagaimana caranya, dan dari mana memulainya. Saking kalutnya pemikiran dia, hampir-hampir dia menabrak tukang rongsokan yang sedang menyebrang. Sumpah serapah pun dia dapatkan dari tukang rongsokan dan orang-orang yang ada di sekitar itu,
“Assalamu alaikum !” Ucap Arif setelah berada didepan pintu rumah Resti
“Wa alaikum salam !” Suara ibu tua, menjawab salam dan membukakan pintu
“Ibu….” Ucap Arif sambil mencium tangan orang tua itu. “Restinya ada, ibu ?” Tanyanya
“Ada…., Ade siapa ?”
“Saya Arif, bu…”
“Ooh, ini nak Arif.”
“Iya, bu.” Jawab Arif sambil menganggukan kepalanya
“Resti…..,! “ Panggil sang ibu
“Iya, bu…”
“Ini…, ada nak Arif…”
Mendengar ibunya menyebut nama Arif Resti setengah berlari dari kamarnya. Sudah satu minggu dia menunggu kedatangan nya. “Ariiif……” Kok ga bilang-bilang kalau mau datang ?” Tanyanya
“Ayooo, ngobrolnya di dalam saja !” Pinta ibu
Ketiganya masuk ke ruang tengah. Raut muka Resti nampak sangat gembira, sementara Arif sebaliknya, dia kelihatan sangat dingin.
“Ibu ke dalam dulu, ya !”
“Iya, bu….!” Jawab Resti dan Arif hampir bersamaan
“Apa kabarnya, Arif ? Kok, HP nya ga bisa dihubungi terus ?”
Sebelum menjawab berondong pertanyaan dari Resti, Arif menarik napas dalam-dalam, lalu dipandangnya wanita yang sangat dicintainya itu.
“Resti…., ada sesuatu yang harus sampaikan pada kamu.”
“Tentang apa ?”
“Tentang ibuku…”
“Ibumu kenapa…. ?”
Arif mulai menceritakan apa yang pernah dibicarakan dengan ibunya kepada Resti dari awal hingga akhir. Tak ada disembunyikan atau ditutup-tutupi. Hal itu dimaksudkan agar Resti Pun tahu kalau dia pun merasa sangat terpukul dengan keputusan ibunya tersebut.
Mendengar cerita Arif seperti itu, mendadak raut muka Resti berubah. Rona merah di mukanya nampak sangat jelas. Berkali-kali dia mengarahkan pandangannya ke atas agar air matanya tidak jatuh.
“Bagaimana pendapatmu, sayang ?” Kata Arif, setelah selesai bercerita. Tak terasa mulutnya mengatakan sayang pada Resti.
“Ariiif …. !” Ucap Resti sambil menatap Arif dengan sangat dalam. “Kenapa kamu meminta pendapat ku ?” Tanyanya
“Karena aku merasa punya janji denganmu, dan bulan ini aku seharusnya memenuhi janji itu.”
“Terus…., kamu akan mengatakan bahwa karena ibumu kamu akan membatalkan janjimu itu ?”
“Justru itu, aku bertanya kepadamu. Apakah setelah kamu tahu masalahnya, kamu akan tetap menuntut aku untuk menikahimu ?” Kali ini Arif yang lebih mengarahkan pandangannya pada Resti. “Aku laki-laki, Resti. Kalau mau menikah tidak perlu wali. Kalau kamu tetap menuntut, tekadku sudah bulat. Aku akan tetap akan memenuhi janjiku untuk menikahimu.” Arif memastikan.
“Arif…., ! kamu sangat sayang pada ibumu, kan ?”
“Aku memang sangat sayang pada ibuku, tapi … aku tidak mau berpisah denganmu, Resti ….”
“Arif…., kalau kamu memaksakan kehendak, aku yang nantinya tidak enak.” Ucap Resti sambil menempelkan tangan di dadanya. “Mungkin Allah tidak mentakdirkan kita untuk berjodoh…”
“Tapi, Resti …..,’
“Kamu percaya takdir, kan ?” Tanya Resti sambil berusaha untuk tidak menangis. “Kamu ingat, apa yang dikatakan oleh Umar bin Khathab saat membatalkan rencananya untuk memasuki suatu wilayah, karena wilayah tersebut sedang terkena wabah. Ketika ditanya tentang sikapnya tersebut dia mengatakan ; Kita…. lari dari satu takdir menuju takdir Allah yang lain.”
“Kamu rela, berpisah dengan aku ?”
“Kita berpisah karena takdir, dan kita nantikan takdir terbaik dari Allah untuk kita.”
Arif tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh Resti, Dia tidak menyangka kalau orang yang kelihatan sayu itu, memiliki hati yang sangat tegar. Ada sedikit ketenangan dalam dirinya, ada satu keyakinan dalam hatinya bahwa Resti tidak akan terguncang hatinya saat berpisah dengan nya, dia akan tabah dan pasrah menerima kenyataan.
Dua puluh tahun telah berlalu, Arif kini sudah menjadi seorang guru di salah satu Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di kota Bogor. Dia menikahi seorang gadis yang rumahnya tidak jauh dengan rumah ibunya. Dari pernikanya itu dia dikaruniai dua orang putra dan dua orang putri. Yang tertua sudah menjadi mahasiswa tingkat satu, yang paling kecil baru memasuki Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Sekalipun sudah berpisah lama, Arif selalu memantau keberadaan Resti lewat Facebook di HP nya. Tapi, dia tidak pernah menyapa atau melakukan kontak dengan nya. Dia bersyukur Resti mendapatkan suami yang kelihatannya cukup mapan, dan Resti Pun nampak berbahagia yang diperlihatkanya lewat unggahan photo-photonya.”Resti…. berkat keikhlasanmu engkau telah menemukan takdir terbaikmu.” Gumanya didalam hati.
Kreator : Baenuri
Comment Closed: Takdir yang Terbaik
Sorry, comment are closed for this post.