Terusir dari kampung karena fitnah yang keji—fitnah yang lahir dari hati orang yang iri—Mila berjalan tanpa arah. Setiap langkahnya terasa berat, seolah bumi pun menolak menopang luka yang tak terlihat. Wajah-wajah orang kampung, tatapan curiga, dan kata-kata tajam masih terbayang di benaknya.
Terminal bus antar kota jadi saksinya ketika ia melangkah dengan mata sembab. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin — ke tempat di mana tak ada satu pun yang mengenalnya. Ia tak tahu mau kemana, hanya yakin satu hal: ia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Bus melaju membawa tubuh lelahnya hingga tiba di sebuah pulau kecil yang bahkan belum pernah ia dengar namanya. Di situ, angin laut berhembus lembut, tapi hatinya masih terasa sesak.
Ia berjalan menyusuri jalan tanah, hingga langkahnya terhenti di depan sebuah kedai kecil. Dengan sisa uang yang ada, Mila memesan segelas teh panas dan sepotong roti. Pemilik kedai—gadis muda berwajah ramah—memperhatikannya penuh iba.
“Ini, Kak, tehnya.”
“Terima kasih,” jawab Mila pelan.
“Kakak bukan orang sini ya?”
“Bukan… baru sampai.”
“Punya saudara di sini?”
“Tidak.”
“Maaf, saya banyak tanya…”
“Tidak apa-apa.”
“Kalau Kakak butuh kerja, coba saja ke rumah besar di ujung jalan itu. Punya Bu De Rahmi, pengrajin batik terbesar di sini. Siapa tahu sedang butuh tenaga.”
Mila tersenyum lemah, tapi matanya menyorot secercah harapan.
“Terima kasih, Dek. Mudah-mudahan saya diterima.”
Ia melangkah menuju rumah besar yang dimaksud. Dari kejauhan terlihat beberapa orang tengah menjemur kain berwarna-warni. Mila mendekat, menyapa sopan.
“Assalamu’alaikum, Mbak.”
“Wa’alaikumussalam. Cari siapa, Kak?”
“Saya Mila. Mau tanya, apakah di sini butuh pekerja?”
Salah satu pekerja tersenyum lega.
“Wah, kebetulan banget! Kami lagi kekurangan tenaga untuk membatik. Coba Kak Mila langsung temui Bu De Rahmi di bangunan sebelah.” Langkah Mila menuju bangunan itu terasa seperti langkah menuju lembaran baru hidupnya.
Di depan pintu, ia melihat seorang wanita paruh baya berwibawa namun berwajah teduh.
“Permisi, Bu. Saya dengar Ibu sedang butuh pekerja.”
“Siapa namamu, Nak?”
“Mila, Bu.”
“Kau bisa membatik?”
“Sedikit, Bu. Tapi saya mau belajar.”
Bu De Rahmi menatapnya lama, lalu tersenyum.
“Baiklah. Mulai besok, kau bantu di bagian pewarnaan dulu.”
Hari demi hari berlalu. Mila bekerja dengan tekun, penuh kesabaran. Tangannya lembut, telitinya luar biasa. Dalam waktu singkat, hasil batik buatannya menonjol—warnanya hidup, motifnya seakan punya jiwa. Bu De Rahmi pun kagum.
“Kau punya bakat besar, Mila. Teruskan. Suatu hari kau akan jadi pengrajin hebat.”
Dan benar saja, beberapa tahun kemudian, pusat kerajinan Bu De Rahmi berkembang pesat. Pesanan datang dari berbagai daerah. Semua berkat inovasi dan ketelatenan Mila—tangan dingin yang mampu mengubah kesedihan menjadi karya.
Namun, di kampung halamannya, fitnah yang dulu menghancurkan hidupnya mulai terungkap. Orang yang dulu menebar dusta akhirnya menerima balasan setimpal; usahanya bangkrut, dan ia dijauhi warga. Sementara itu, kabar tentang keberhasilan Mila menyebar ke seluruh penjuru, termasuk ke kampung asalnya. Suatu hari, beberapa warga datang menemui Mila di tempat kerjanya. Mereka menunduk dalam penyesalan.
“Maafkan kami, Mila. Kami telah salah menilai. Kami ingin kau kembali ke kampung.”
Mila tersenyum lembut, namun matanya tenang.
“Saya sudah memaafkan semuanya. Tapi biarkan saya tetap di sini. Di tempat saya belajar arti sabar, kerja keras, dan keikhlasan.” Bu De Rahmi menepuk pundaknya penuh bangga.
“Kau bukan sekadar pekerja lagi, Mila. Kau tangan kananku.”
Dan sejak hari itu, nama Mila menjadi simbol keteguhan dan kebangkitan. Dari luka lahir kekuatan, dari fitnah tumbuh keberkahan.
Kreator : Ferayanti, S. HI.
Comment Closed: TANGAN DINGIN MILA
Sorry, comment are closed for this post.