KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • Berita Alineaku
  • Bisnis
  • Branding
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Moralitas
  • Motivasi
  • Novel
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Politik
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Teman Senasib

    Teman Senasib

    BY 23 Des 2022 Dilihat: 138 kali

    Oleh : Gayuh Rahayu Utami

    Bulan Ramadhan lalu mendapatkan pengalaman yang berharga bagi saya. Sepuluh malam terakhir pada bulan ini kegiatan rutinnya adalah i’tikaf di masjid seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam. Benar-benar dilatih untuk bangun malam, memperbanyak ibadah dan justru harus lebih kencang menjalankannya bukan sibuk untuk urusan duniawi. Di antaranya adalah sibuk ke pusat perbelanjaan untuk mencari pernak-pernik menjelang lebaran dan terlalu sibuk di dapur untuk bikin kue lebaran. 

    Sebenarnya boleh saja sih namun dalam skala sesuai kebutuhan ya dan sesuai kemampuan. Tidak sampai melenakan ibadah yang penting banget dan sayang jika dilewatkan. Malam yang lebih baik dari seribu bulan begitu terasa syahdunya. Apalagi bertemu dengan orang-orang yang bersemangat untuk beribadah pada malam-malam ini. Masjid juga banyak pengunjung khususnya masjid yang saya kunjungi ketika 10 malam terakhir bulan yang penuh dengan kemuliaan ini. Allah melimpahkan berkah yang begitu besarnya dan rasanya ingin bertemu kembali kepada Ramadhan yang akan datang tiga bulan mendatang. 

    Di sana, saya bertemu dengan orang baru. Sebut saja namanya Mbak Viva. Eh ternyata tempat tinggalnya satu kecamatan dengan saya. Orangnya asyik dan bisa diajak tukar pikiran. Kami saling berbagi cerita tentang pengalaman hidup mulai dari hal yang menyenangkan maupun hal yang menyedihkan semuanya menjadikan hikmah untuk lebih mendekat kepada Allah. Ternyata saya dipertemukan orang yang sama nasibnya yaitu belum menemukan jodoh di usia yang tergolong matang. Mbak Viva usianya mencapai kepala lima sedangkan saya berusia kepala tiga. 

    Walau Mbak Viva berusia kepala lima, wajahnya terlihat awet muda dan kulitnya bagus. Tidak terlihat kalau usianya bisa dikatakan sudah senja. Begitu terpukau tawakkal beliau kepada Allah. Ceritanya hampir sama dengan cerita saya. Banyak liku-likunya untuk mencari jodoh. Menjadi bahan omongan tetangga sekitar dihadapi oleh beliau bahkan tidak ketinggalan dikatakan perawan tua. 


    Rasa sedih itu adalah hal yang wajar dan galau jika perempuan belum menemukan jodohnya. Namun kesedihan tidak boleh berlarut terlalu lama. Wajib berprasangka baik terhadap ketetapan Allah karena tidak semua orang bisa melewati ujian yang serupa. Antara jodoh dan kematian memang sama-sama dipersiapkan. Namun kita tidak tahu mana yang lebih dulu datangnya. Hasil obrolan kami berdua kudu saling memberikan motivasi dan terus berusaha melakukan aktivitas yang positif. Benar-benar jodoh adalah di tangan Allah dan penuh misteri. 

    Berusaha untuk menjalani hidup sesuai dengan aturan Allah merasa lebih bersyukur untuk menghadapi kenyataan walau harus menyelami kepahitan. Kalau jodoh terlalu dikejar malah jadi makin menjauh. Dan jika terlalu dipikirkan malah jadi sakit hati. Menanamkan sifat sabar bagi saya adalah hal yang penuh perjuangan. Mudah dalam teori namun penerapannya membutuhkan energi yang cukup menguras tenaga mengingat balasan dari Allah Subhanahu wa ta’ala yaitu surga. Jika tidak dapat jodoh di dunia maka akan menemukan jodohnya di akhirat kelak. Karena di sana adalah kehidupan kita yang sesungguhnya sedangkan di dunia sejatinya hidup hanya numpang lewat dan pasti akan binasa bersifat fana dan penuh tipu daya.


    Bagikan ke

    Comment Closed: Teman Senasib

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Part 14: Kopi Klotok Pagi hari yang cerah, secerah hati Rani dan semangat yang tinggi menyambut keseruan hari ini. Ia bersenandung dan tersenyum sambil mengiris bahan untuk membuat nasi goreng. Tante, yang berada di dekat Rani, ikut tersenyum melihat Rani yang bersenandung dengan bahagia. “Rani, kamu ada rasa tidak sama Rama? Awas, ya. Jangan suka […]

      Sep 18, 2024
    • Part 13 : Candi Borobudur Keesokan harinya Rama sibuk mencari handphone yang biasa membangunkannya untuk berolahraga disaat Rama berada di Jogja. Rama tersenyum dan semangat untuk bangun, membersihkan diri dan segera membereskan kamarnya. Tidak lupa Rama juga menggunakan pakaian yang Rapih untuk menemui Rani hari ini. Sementara Rani seperti biasa masih bermalas-malasan di dalam kamarnya […]

      Sep 07, 2024
    • Part 12 : Cemburu Rama langsung memukul Jaka saat Jaka baru saja masuk ke ruang kerjanya Rama. Jaka yang meringis bukannya marah namun malah tersenyum terhadap Rama karena Jaka tahu bahwa Rama lagi cemburu terhadapnya. Rama males menjawab salam dari Jaka namun sebagai orang yang punya adab Rama harus menjawab salam dari Jaka dengan sopan. […]

      Sep 05, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021