
Sumatera, pada tahun diujung abad 19.
Suara histeris, terdengar dari ruangan tengah. Suara itu bersahutan dengan teriakan orang orang marah. Pecahan kaca jendela serta gemuruh benturan batu di dinding. Amarah massa tak terbendung.
“ Sebentar lagi Pak Manager sampai “. Ada teriakan berulang kali.
“ Kami sudah satu jam menunggu “ teriakan keras. Beberapa makian saling berbalas. Suara itu terdengar hingga keluar. Kemudian saling memberi alasan. Nego dari Danru Keamanan tak mampu menenangkan orang orang. Beberapa anggota keamanan mencoba melerai . Saling memukul tak meredakan amarah, Asap hitam membumbung. Dua sepeda motor trail terpanggang api. Beberapa ban mobil Cold Dieses juga ikut jadi korban. Bahkan memicu massa yang di luar ruangan semangkin beringgas. Beberapa botol bekas minuman melayang membentur apa saja di ruangan. Pecahan itu berserakan di lantai . Aroma alkohol memenuhi area. Pegawai kantor berhamburan keluar dari pintu belakang. Dua menit kemudian terlihat satuan brimob sampai di tempat kejadian. Polisi dengan seragam anti huru hara sigap mengatasi situasi. Aparat tersebut membuat tameng pemisahan dua kubu yang berseteru. Kini teriakan demi teriakan yang terdengar. Cercahan dan segala nama penghuni hutan saling disebutkan. Sesekali masih ada lemparan benda benda keras yang melayang. Namun berangsur angsur suasana tenang. Beberapa anggota keamanan yang terluka dikeluarkan. Mereka dikawal empat pegawai untuk mendapatkan perawatan P3K di Klinik
Dua mobil polisi Barakuda memisah massa. Memberi jarak menjauh dari kantor. Sekumpulan pegawai pun sudah mulai lega. Berangsur mereka membenahi diri.
“ Kalian harus bertanggung jawab, sawit kami kalian bakar. Biadab kalian “
“ Seharusnya kalian yang tahu, kalian di sana terus. Tidak ada kami memerintahkan pembakaran “ “ Tunjukkan siapa orangnya “
“ Ah kalian memang licik, “ gubraakan di meja. Kesal ketua rombongan massa itu. Beberapa polisi tidak memberi tanggapan. Mereka hanya berusaha lerai aja jika sudah melakukan kekerasan fisik. Momen perseteruan itu tak lepas dari kameraku. Cannon engkol selalu sigap memfoto momenku.
“ Iya tunjukkan siapa orang kami yang melakukan pembakaran, bawa terus ke polisi. Kami dukung “
“ Yah, sudah pak. Kita bawa duduk dulu. Mari pak . Sambil menunggu pak Managernya…“ seorang polisi mengajak mereka masuk keruangan. Gaya santainya membuat dia terlihat sebagai seorang perwira Polisi. Nego sepertinya mulai mendinginkan perseteruan.
Menelusuri jalan tanah, dikanan kirinya berjejer tanaman sawit. Sela sela pelepah ditusuk sinar matahari menghasilkan garis garis cahaya di tengah perkebunan yang gelap dan penggap. Parit parit berair yang hampir kering terlihat rapi diantara area. Sampai di ujung jalan yang di portal, kami meliuk menghindari besi yang dipalangkan mendekati pos jaga. Setelah memberi sapaan kepada petugas piket, kami melaju lambat. Di depan pos keamanan abang ojek menurunkan aku. Lalu memberi insyarat untuk bertanya di pos tersebut.
“ Sebentar ya bang, kami infokan dulu. Tunggu aja di sana bang “ tanggan pak satpam menunjukkan pojokan dengan bangku bangku.
“ iya pak, terima kasih “ aku pun berlalu. Terdengar satpam tadi mengontak seseorang dari Radio “ Alfa Hotel… Alfa Hotel sera satu. Pangkalan lapan Panggil”
“ Alfa Hotel , Panggkalan lapan Panggil” sssreeeet…… creet…. creet. Suara monitor radio menyatakan ada kontak panggillan.
“ Masuk Panggalan lapan., alfa Hotel terima”
“ Alfa Hotel ada tamu untuk pak sera satu” sseerttt. Suara desiran radio meng akhiri suara.
“ Oke, bisa bongkar infonya, sera satu sedang cangkolan” sseerrrrttt
“ Dee Susilo, posisi sekarang di Pangkalan lapan “sseerrrt
“Oke panggkalan lapan, saya terima langsung infonya. “ tiba tiba suara penerima berubah. “ Oke pak sera satu, info tambahan bapak lagi ditunggu ngopy dengan pak Miko Kilo, ganti “. [ terdengar suara tertawa.] “ oke Pangkalan lapan , saya meluncur. Siapkan dermaga, mana tau ngopinya ramai . Alfa Hotel out “ .
“ Oke, stand by “ pembicara radio berhenti.
Setelahnya salah seorang petugas jaga itu menghampirin “ Bang tunggunya, pak Dharma nya sudah arah kemari. “ “ Berapa lama ?”
“Sekitar setenggah jam lah”.
“ oh..” jawabku.coba memahami. “ Disamping ada warung, kalau bosan menunggu di sini, atau di situ aja juga ada kantin kantor “ usul abang satpam. Aku tersenyum sambil menggaungguk “ iya pak terima kasih “
Aku sibuk dengan catatan notesku.
Gemuruh pagi diantara sepi yang masih kelam
Hening awal hari sisa malam
Bening embun bersinggungan
Kabut tipis menemani peluh berbentuk awan
Bocah bocah beceloteh dari pepohonan berduri
Semangat menyongsong mentari
Menghalau embun di rerumputan
Menyibak gusar masa depan
Bahagianya berseragam sederhana
…..
Setengah jam sudah berlalu, menjelang sejam aku menunggu. Riuh orang orang hilir mudik sibuk dengan tugas rutinnya. Membuat bosanku terbit. Dengan berat, langkah kaki beranjak ke warung sebelah. Mengusir penat menunggu, ku pesan teh manis dengan cemilan. Tak menunggu lama sepiring Lepekan beberapa potong kue tersaji di depannku. Aku mengerakkan kepala tanda ucapan terima kasih.
Kelihatan beberapa orang masuk kedalam. Dari pihak orang banyak ada tiga perwakilan menyertai.
“Hai Bah, tegur Dharma tiba tiba” aku terkejut. “Weah… lama kali pun “ “Haaa…ha “ Dharma tertawa dan menyambutku berpelukan bersalaman. “Wah sampai juga ke hutan, ya ?” sambutnya.
“ wah , ampon bah, jauh kali jalannya “
“Mau cari cerita apa di hutan sini ?. misteri , Legenda ?”
“Kita Tak tahu kisah Legenda yang ada sebelum kita mengalaminya bersama Legenda itu”
“Pak Dharma di panggil meneger “ seorang satpam memberi tahu Dharma. Sahabatku itu angguk sebentar, lalu ia menginsyaratkan pada ku. Dengan bahasa tubuhnya aku mengerti masih ada tugasnya.
“Oke… aku tunggu di sini “, aku hanya melihat langkahnya yang menuju sebuah ruangan. Belum mencapai pintu terdengar serapah dari dalam. Sebuah tinju juga melayang. Satu dan dua kepalan tangan itu di tangkis Dharma. Sembari mundur kebelakang menyiapkan kuda kuda Dharma siap dengan serangan berikutnya. Ternyata sebuah sepakan kaki yang tak seberapa. Disambut saja , tangan Dharma menangkap kaki itu lalu mengikuti arah terjanganya. Kemudian ia mengontrol kaki itu dan membuangnya ke samping sehingga si penyerang terjungkal menghantam meja. Semua yang di rungan mencoba menahan keduanya. Sementara Dharma sudah siap dengan kuda kuda, siaga. “Brengsek kau, enggak tau mana kawan mana lawan. Enggak tau diuntung kau “ sergah Dharma mencecar lawanya.
“Gik , “ teriak salah seorang. Dengan gaya nya yang santai itu membuat aku yakin dia sangat berpenggaruh. “Sudah gik, “ serunya lebih tinggi. Namun kelihatan Pria itu cepat bangkit lalu berusaha ingin menyerang Dharma lagi. Sontak saja plooak. Sebuah tamparan membentur wajahnya. Tanggan pria kurus itu secepat kilat menghantam temanya. Untuk yang kedua kalinya dia jatuh menghantam meja. Semua terdiam tak ada yang memberikan reaksi. Untuk sesaat mematung. Sejak dari awal aku menahan rasa ingin tahuku. Namun kali ini aku tak mampu membendung keinginan itu. Langkah kaki ku cepat merapat ke lokasi mereka. Dharma memberikan insyarat , ketika ia mengetahui kehadiranku. Ia ingin aku sedikit menjauh. Aku hanya mundur satu langkah lalu menunggu selanjutnya.
“ Oke , ayo kita cakapkan dulu. Cakap kayak taek. Kayak anak anak aja. “
“ Iya ayo, mari pak kita bahas apa permasalahannya “ seorang polisi mencoba mencairkan suasana.
“ Ya, ayok. “ sambut pria yang bersetelan rapi. Mungkin dia menejernya, pikirku. Nada ajakkan nya sedikit datar dan merendah.
Semua orang mengambil posisi masing masing. Mencri tempat duduk yang kosong. Pria yang terjungkal tadi pun sudah di amankan di sudut ruangan, dia masih mengusap ngusap wajahnya. Menepis debu yang ia sentuh di lantai. Sedikit menringis. Menahan sakit.
Aku cepat mengambil kamera ku. Beberapa petikan ku ambil potret sekitar tempat itu.
Tegukkan terakhir teh manisku sudah lama berlalu. Dipiring cemilan masih ada dua potong kue lagi. Aku mengurungkan mengambilnya, saat Dharma sudah menghampirin. “Wah sudah minum?”
“ Sudah , mau teh manis ? “ Dharma menggeleng menolak tawaranku.
“ Wah , mas. pak Dharma itu ngopi, minumnya “ celetuk ibu warung dari dalam.
“ Ooh, iya . pesan kopi satu buk “ sambungku bersemangat.
“Sudah , enggak. Aku sudah minum tadi dikantor. Budee , kopinya nanti saja“ “ iya …”
“ Jadi macam mana ceritanya tadi ?” ku nyamankan posisi duduk. Sedikit serius menanti ucapan Bang Dharma.
“ Ooh yang tadi , biasa lah. Salah paham aja. Saling tuduh, siapa pelaku kan pembakaran lahan. Masyarakat menuduh orang lapangan kita melakukan pembakaran di areal Garapan sengketa. Sementara semalam itu kan hari libur, tidak ada seoarng pun yang masuk kerja.” Cerita Bang Dharma seakan dia punya alibi untuk menepis tuduhan.” Terus tadi enggak apa , serangan tadi. Masih ada Tapak sucinya ?”
“ Aah..ha. enggak apa apa. Cuma ngelak saja kok “
“ Bagaiman mau berapa hari liburan disini ?” sambungnya menodongku.
“ Terserah aja, sampai diusir tuan rumah, baru pulang “ candaku sambil sedikit tawaan.
“ Jadi berapa pasang baju yang kau bawa ?” tanyanya mengimbangi candaanku.
“ Enggak banyak tiga pasang aja. Satu pasang untuk dua hari haa…ha “
“Pak Dhaar, dipanggil manager di kantor ,” tiba tiba seorang satpam menghampiri. Bang Dharma tersenyum sedikit. “ Oke sebentar ya, ini belum selesai.” “ Oke silakan….”
Kue terakhirku sudah habis tertelan. Rasanya cukup lah untuk ganjal perut hingga mewnunggu makan siang. Mungkin waktunya tinggal dua atau tiga jam lagi. Aku tersenyum kecil untuk diri sendiri.
“ Bang Dee, di panggil pak Dharma di depan. “ seorang satpam menunjukan arah di mana bang Dharma menunggu. “Eemmm oh iya, terima kasih bang “ aku pun bergegas. “ Bukdee… berapa ini semua ?” tanyaku
Dari dalam warung dijawab, “ Ooh… emggak mas , nanti mas Dharma nya aja yang bayar.” “ Lho kok gitu, ?” heranku
“ Iya mas , biasanya kayak gitu. Kalau ada tamu, atau kawan nya mas Dharma disini nanti dia yang bayar.” Ungkap Bu Warung sambil mengutip gelas dan piring bekas ku minum. “ Ooh.. gitu yaa”
“ iya , ndak apa apa “ kali ini nada bicaranya jelas kali jawa.
“ Oke terima kasih ya buk deee” ucap ku sambil berlalu.
Dua mobil sudah siap siaga akan berangkat. Beberapa orang tampak sibuk disekitaran kenderaan itu. Dharma pun kelihatan menungguku. Sambil melambaikan tanggannya memanggil. Aku semangkin mempercepat langkah mendekat.” Ayo kita berangkat” ajaknya sambil mempersilahkan aku duduk di kursi tenggah.
Dua mobil sudah siap siaga akan berangkat. Beberapa orang tampak sibuk disekitaran kenderaan itu. Dharma pun kelihatan menungguku. Sambil melambaikan tanggannya memanggil. Aku semangkin mempercepat langkah mendekat.” Ayo kita berangkat” ajaknya sambil mempersilahkan aku duduk di kursi tenggah. “ ayo wooi, kita berangkat”,. Aba abanya mengajak yang lain untuk segara masuk ke mobil. Mobil double kabin itu menyelusuri jalanan yang di gambang kayu. Kayu kayu disusun rapi sebagai penahan gambut yang lembut. Di dalam doubel cabin, kami lebih sering ngelonjotan karena goyangagan mobil di atas jalanan. Tak ada yang berbicara, semua seakan menikmati enjut enjutan nya.
View tanaman sawit muda yang berbaris rapi. Hijau dengan warna daun kebiru biruan di terpa sinar matahari. Pemandangannya sejauh mana mata memandang . lurus di sejajar. Tanaman yang masih kecil. Di dalam bondar kelihatan sekali air parit yang berwarna hitam kecoklatan. Sepintas lalu terlihat seperti kopi susu…. airnya tergenang tampak tak ada riak untuk mengalir. Beberapa kali kami melintasi jembatan jembatan kayu memotong Bondar yang lebarnya hampir tigaan meter. Beberapa foto kusempatkan mengambilnya. Disebuah Pondok kayu bertingkat kami berhenti. Sesekali suara bising terdengar. Mengyering melengking untuk satu menit kemudian hilang lalu terdengar lagi . begitu berulang hingga beberapa kali baru hening total hingga setengah jam. Kulihat Dharma berbicara dengan seseorang. Dharma memanggilya pak Rizal. Dengan setelan seragam perusahaan yang sama dengan Dharma. Menandakan dia salah satu pegawai di Jajaran Staf. Tak lama kemudian mereka diam seakan menunggu sesuatu. Aku tak ada nafsu untuk berkeliling. Malas karena cuacanya panas sekali. Gerahku membuat ingin tahuku mandek. Hanya membuat goretan goretan di buku notes. Menghiasi sampul depan nya dengan strip strip lurus .ilustrasi grafis itu ku buat berlapis dengan beberbagai ketebalan. Membujursangkar. Diakhiri dengan senyuman ku yang puas. Tapi itu terhenti ketika sebuah mobil sedan masuk ke halaman. Empat orang keluar dari mobil. Dua wanita dua pria. Salah satunya tampak orang pribumi sisanya Bule.
Bussyet , bule, jerit dalam hatiku. Ada selintas pikiranku takjub. Ada apa ? NGO dari Greenpeace would-kah ?
“ Itu mereka datang “ aku pun ikut mendekati Dharma walau dengnan sangat berhati hati. Takutnya bukan waktu yang tepat untuk merapat. Dharma menyadari aku ada di dekatnya. Dia hanya tersenyum lalu memberikan mimik mengajak mendekat. “ Well, welcome “ sambut pak Rizal. Sedikit kikuk.
“ oh, iya, selamat siang “balas bule itu. Kami setengah terkejut.
” Iso bahasane awak “ celetuk seorang anggota Dharma. Membuat kami tersenyum dan suasana tambah akrab. Saling bersalaman dan meperkenalkan diri. “ saya Bernard, ini Micheal, Claude “ “ Saya Ramos “ orang Indonesia yang bersuara berat. “ Gantian juga Pak Rizal memperkenalkan Dharma dan teamnya serta tak lupa pak Rizal juga menunjukkan tanggannya kearah ku. “ ya… saya Dee Susilo , temannya Bang Dharma. Baru sampai juga “ Terangku. Sedikit gugup. Apalagi harus bersalaman dengan bule. Wah seperti si Sharon. Claude hanya tersenyum ketika ia menangkap tatapanku. Ge-er juga sih. Kubalas malu malu. “ Ayo “ ajak Ramos untuk naik ke teras. Dari teras itu sangat puas memandang sekitar. Hamparan hutan yang baru tertananm pohon Kelapa sawit. Di ujung lahan terhampar masih terlihat pepohonan hutan yang memagari areal sebelah Selatan. Sementar di sebelah Utara telah luas terhampat tanaman perkebunan. Aku duduk agak sedikit dipojok di sudur pertemuan.
“ Begibi pak Dharma, Bang Ramos ini teman saya. Saya sudah ceritakan temuan Pak Dharma tentang lokasi lokasi besi tua tersebut.” Pak Rizal berhenti sejenak ia memberikan mimik agar di permaklumkan. Bang Dharma tak memberikan respon yang reaktif. Dia dingin. Kelihatan ada yang di tunggunya. “ Jadi ternyata Claude ini tertarik. Ia ingin melihat tempat tersebut. Saya sudah memberikan foto foto yang tempo hari itu.”
“Ya, oke. Terus apa hubungannya dengan mereka. Sebenarnya saya tak pasti terhadap keberadaan besi besi tua tersebut. “ Dharma masih kelihatan heran. Ada sedikit khawatiran. “ beginii…maaf saya to the point “ sela Claude tiba tiba. “ saya sangat tertarik untuk menemukan tempat tersebut. Saya sudah siapkan biaya nya. Dan Bang Dharma Juga saya Bayar “ Wanita Bule itu dengan sigap mengeluarka sebuah Amplop. Seperti sudah disiapkan dengan matang. Bang Dharma terkejut, amplop itu terlihat mengelembung. Menandakan berisi padat. Semua anggota team ikut juga terkejut. Beberapa orang terlihat tersenyum senang. “ Wah, bukan seperti ini “ suara Bang Dharma sedikit terbata bata. Matanya melirik Pak Rizal. “ Iya enggak apa apa. Saya juga sudah ngomong soal biaya team tersebut. Its oke “ Pak Rizal menanggapi tatapan Bang Dharma. Ia kelihatan sangat maklum. “ Jadwalnya harus saya sesuaikan “ tegas Dharma. Ada ragu dari getar suaranya.” Oke , itu sudah saya negokan, “ Pak Rizal sedikit merasa puas, seperti yang ia perkirakan. Bang Dharma melihat ke saya, lalu bergantian ia melirik anggotanya. Masing masing memberi tanggapan dengan bahasa tubuh. Mereka dan aku sepenuhnya menyerahkan pada Bang Dharma.
“ Alfa Hotel… monitor. Panggkalan Panggil “ suara panggilan dari radio HT. Panggilan tersebut diulang beberapa kali. Pak Rizal mempersilahkan Bang Dharma menyambutnya. “ Oke Panggkalan di sini Alfa Hotel, Bongkar Info ganti “ “ Dengan pak Alfa Sera satunya ganti ?“
“ oke, Alfa Sera Satu di sini “
“ Pak Dharma , Situasi di areal Garapan harus segera di tindak lanjuti. Apa langkah anti sipasinya ?”
“ Iya pak, kita sudah dapat info tentang tuduhan mereka. Tapi kita belum dapat info yang lengkap “
“ Jadi apa yang akan dilakukan oleh Alfa Hotel”
“ Kita harus mendata ulang lahan yang terkena dampak nya pak. Kita harus survey data real di lapangan “ ,
“ Oke lakukanlah, berapa hari itu bisa selesai ?”
“ Info jadwal, kita usahakan tiga hari pak.”
“ Oke lakukan lah , saya beri waktu seminggu ya . jangan lebih “
“ Eee…. oke pak saya kerjakan “, “ oke . lanjutkan “ suara itu terdiam tak ada lagi tanda tanda pembicaraan.
“Bagai mana. ?” suara pak Rizal tak mau berlama lama.
“ Tunggu dulu. Mengapa penugasan ini langsung melalui Radio?” Bang Dharma mendekati pak Rizal. Lalu memperhatikan para tamu bule satu persatu. Dalam hatiku bertanya menggapa serumit ini. Tau memang ini di buat rumit tanyyaku dalam hati. Ada sesuatu yang tersembunyi. Lalu apa yang mau mereka cari ?. ketiga pertanyaan ini kutulis dalam notes. Kulingkari dan kuberi tanda tanya hingga doubel tiga.
“ Sudahlah, bersiaplah. Berangkat besok pagi kita kumpul disini jam tujuh. Selamat berkemah” desak pak rizal. Untuk menuntaskan kepastian ekspedisi ini.
“ Saya sangat berterima kasih bang, jika ekpedisi ini kita lakukan. Berapa pun biayanya saya sanggupi . please “ Claudia sedikit menampakkan rasa mengiba. Lucu juga kelihatanya seorang cewek bule memohon seperti itu. Apalagi sekarang Claudia sudah mendekat ke sisi Bang Dharma. Terdengr samar samar Cewek itu setengah berbisik . tak jelas apa yang di ucapkan, namun membuat raut wajah Dharma sedikit tenang.
“ Saya ini sedikit menganjal. Penugasan Kerja melalui Ajuan RKH dan harus ada di RKB ?” “ sudah lah, ini kan darurat, Urgent jadi tugas itu bisa bersamaan dengan ekspedisi ini. Sekali Jalan Dua gunung di daki. Oke” Rizal terus memberi semangat. “ Dan ingat kau punya dua hari waktu tambahan” sambungnya . Claudia mengegamkan amplopnya. Gengaman itu terlihat erat. Tanggan Dharma tak menepis peganggan gadis itu. Dia memandang dalam wajah cewek bule di depannya. semua seperti tersihir. Kami mematung menunggu kelanjutan ekpresi mereka. Angin terasa berhenti sejenak. Suara pukang yang sedari tadi riuh di tengah hutan. Tiba tiba diam . Senyap tanpa berisik. Untuk beberapa detik berlalu. Baru Dharma tersadar. Terasa tanggannya di gengam Claidia. “ Oke kita berangkat, tapi ada Syaratnya “,
“ Apa syaratnya ?“ Michel tiba tiba ikut nyambung. “ Apa pun Syaratnya kami setuju “ Ungkap Ramos dengan suara beratnya.
“ Tidak ada yang memberi perintah kecuali saya, Tidak boleh ada Alkohol, minuman keras, jangan kecing sembarangan “, mendengar syarat yang terakhir Ramos tersenyum, sedangkan Bernard tampak tertawa .” is`t Funny “ tapi memang iya juga. Syarat yang ketiga itu membuat aku merasa begok sendiri. Emang di hutan ada tempat toiletnya. Aku pun tertawa tapi yang pasti tidak kedengaran. Takut Bang Dharma tersinggung.” Oke saya rasa kita sudah deal. Selamat jalan. The Adventure team “ Pak Rizal menyalami Keempat tamunya, lalu Dharma dan dia juga menyodorkan tanggannya pada ku. Kepada yang lain ia hanya memberikan pandangan yang penuh semangat. “Oke silahkan mengatur rencana pertualangan kalian , saya tinggalkan dulu ya “ pak Rizal mengangkat kedua tanggannya memberi salam pamit. Langkah kakinya cepat menuruni tangga. Dia benar benar meninggalkan kami.
Dharma melirik jam tanggannya. Ia menunjuk dua orang utk membereskan meja, lalu ia menyuruh anggaota yang lain mengambil sesuatu. Dharma juga menyuruhku mendekat.
Oke, posisi kita sekarang di sini, Kilo Papa romeo. Akan menuju patok lima ribu. Disini kita bagi dua team. Team kuda besi membawa bekal menuju patok tujuh ribu lalu ke camp Alfa Hotel satu. Untuk ambil perlengkapan komunikasi dan peralatan dokumentasi. Lalu menuju jalur 12. Disana simpan kuda besi ,antar sebahagian bekal di camp centong 3. Setelah makan siang kalian balik menuju centong 2. Titik kumpul kita.” Mata dharma melirik dua angotanya. Langsung disambut dengan anggukan mengerti.
“Siap bos “ pekik mereka semangat.
“Jadi yang lain , dari patok lima ribu menuju jalur tangkahan sampai disini. Dari sini kita jalan melalui rintisan hingga sampai di camp centong satu dan centong Dua,. Bertemu “ paparan Dharma. Diatas Peta Lapangan A3 , tergambar jelas rute perjalanan. Dharma memastiakn semua orang yang hadir mengetahui jalur. Tatapan menyelidik dilakukan Dharma. Ketika berpapasan dengan mata Claude, lama mereka saling pandang. Hampir semenit berlalu saling tatap, jika tidak terdengar suara deheman Micheal mungkin akan lama tuh pandangannya.
“ Terus jalur ke lokasi yang akan kita datangi, bagaimana ?” Micheal ingin tahu. Bahasa Indonesianya masih beraksen eropa. “Besok malam kita bermalam di Centong 2, Paginya bergerek ke lokasi hingga siang. Sorenya kita menginap di Alfa Hotel 2. Berarti hari Kamis pagi kita sudah bisa bergerak pulang. Dan Kami akan melaksanakan tugas juga lagi sehari “ papar Dharma sekali lagi. “ oke, Saiya ulang scedule ekpedisinya. Besok pagi kita bergerak dengan dua rombongan. Rombongan Logistic lewat jalur jalan kebun. Dan yang lain berjalan kaki melalui jalur rintisan. Bertemu lagi di Ceintong 2. Pagi Hari rabu bergerak Ke lokasi hingga tengah hari, dan bergerak ke Alfa Hotel 2. Bermalam disana. Baru hari kamis pagi kami sudah bisa kembali pulang menuju patok Tujuh Ribu. “
“ Sepertinya sangat simple, apa nanti rintangannya ?” tanya Micheal sedikit gugup bahasa Indonesianya. Sedikit keheranan. Mencoba cari tantanggan. “Tak ada, Jalur itu biasa saja, hanya saja jalur memang tak bisa ditempuh oleh kenderaan, kita harus berjalan kaki. Dan it`s Jungle, tentunya binatang buas serta pepohonan pula yang menjadi rintangan alamnya, “ senyum sinis terbit juga di bibir Dharma. Semua terdiam masih dengan pikiran masing masing. Lalu ketiga bule itu berbicara dengan bahasa inggris. Busyet lancar amat, wase wess wosss… aku tak bisa mengikuti apa yang mereka omongin. Dharma hanya memandangi ku, ia naikan alisnya. Aku balas tersenyum malu, maklum enggak lulus private Bahasa Inggris. “ well, jadi kita bergerak besok pagi , start bertemu disini. “ ucap Bernard dengan akses australianya. Seakan mereka sudah mendapat keputusan bersama.
“Oke Deal, jam tujuh kita kumpul disini. “ mereka bersalaman, tanda sepakat. “Kami langsung ke base camp untuk persiapan perbekalan dan peralatan “ dibalas oleh bule bule itu dengan anggukan “ yeea..”
Kami pun bubar. Aku segera mengikuti Dharma yang langsung menuruni tangga . diikuti semua anggota kerjanya yang lain. Selang lima menit kemudian kami sudah meninggalkan Rumah Kilo Papa Romeo. Bule bule itu masih di teras atas. Berfoto ria dan menikmati nyayian suara pukang. Serta jeritan burung burung liar. Hembusan angin sudah mulai terasa sedikit kencang. Angin yang berhembus dari balik pepohonan hutan itu terasa berbau aroma laut.
Kami melalui jalan perkebunan itu, menelusuri jalanan tanah yang kulalui tadi pagi. Hampir sejam-an kami sampai di kota kecamatan. Langsung menuju Warung makan, karena jadwal makan siang kami sudah benar benar molor. Selesai makan , kami berbelanja sembako. Mie Instan, beberapa buah lampu teplok gantung serta senter. Segulung plastik terpal dan beberapa tikar plastik. Aku hanya mengekor saja. Dari masuk toko keluar toko. Setelah puas berbelanja kami kembali lagi ke perkebunan. Menjelang Isya kami sampai di sebuah Barak Rumah papan. Mobil terparkir sembarangan dipingir jalan di luar pagar halaman. Tiga buah Lampu minyak sudah terpasang di teras. Barak itu memiliki enam pintu yang berjarak mungkin empat meteran. Rumah model batrey dengan masng masing memiliki ruang tamu, satu kamar dan dapur. Sementara untuk kamar mandinya.
“ Bang, kamar mandinya dimana ?” tanyaku paada salah seorang.
“ Ooh, iya pak. Di sana di depan. “ pria itu menarik tangganku. Diteras ku lihat arah yang ditunjuknya, sebuah tempat yang di tutupi plaastik hitam selebar dua meteran. Posisinya tepat diatas sebuah parit yang lebarnya hanpir sama. Rasa kecutku muncul. Hari telah gelap mandi di ruang terbuka. Yah…. greeer meending enggak mandi lah, pikirku. “ Enggak apa apa pak, ayo kita temani. Kita semua mau mandi kok” bergegas kami ke sana. .
Kreator : Darmen Eka Susilo
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: TERATAI PUTIH LUBUK BUAYA Senin
Sorry, comment are closed for this post.