Bab 9 Keinginan Orang Tua
Aku berdiri sambil menundukkan kepala, tidak berani menatap wajah Bapak dan Ibu, yang sekarang duduk di ruang tamu tempat kos.
“Kamu kok berdiri di depan pintu begitu, toh, Nduk.” kata Ibu lembut.
“Duduk sini. Nanti kalau ada yang lihat, dikira kamu lagi dimarahi sama Bapak dan Ibu.” sambungnya lagi.
“Nggih, Bu.” jawabku sambil duduk di kursi yang ada di depan mereka.
“Kok baru pulang sekarang? Dari mana saja?” tanya Bapak.
“Dari…em.. latihan band, Pak.” jawabku. Aku tahu aku tidak akan bisa berbohong pada kedua orang tuaku, karena itu kukatakan saja dengan jujur.
Bapak menghela nafas.
“Nin, coba Bapak tanya, sekarang kamu semester berapa?” tanya Bapak lagi. Walaupun pertanyaan Bapak biasa saja, tapi aku bisa merasakan penekanan pada suaranya.
“Delapan, Pak.” sahutku pelan.
“Bapak sangat mengharapkan kamu bisa fokus pada kuliahmu. Bukan saatnya bermain-main. Tahun ini kamu harus lulus kuliah. Setelah itu, bekerja.” tandas Bapak.
“Iya, Nduk. Bapak kan sudah pensiun. Kalau terus membiayai kuliahmu, Bapak dan Ibu tidak sanggup. Jadi, mulai sekarang kamu harus konsentrasi sama kuliahmu, ya,” sambung Ibu.
“Jangan seperti Masmu.” sergah Bapak.
“Sudahlah, Pak. Bapak tidak usah mengingat Dimas lagi. Dia sudah memilih jalan hidupnya sendiri.” potong Ibu.
Aku tahu Bapak sangat kecewa pada Mas Dimas, kakak laki-lakiku satu-satunya. Sebagai anak tertua, Bapak sangat mengharapkan masku bisa membanggakan keluarga dengan menjadi arsitek. Tapi, Mas justru memilih untuk menekuni hobinya menjadi pelukis dan putus kuliah.
“Nggih, Pak, Bu. Nina akan fokus kuliah dan berusaha untuk lulus tahun ini.” jawabku.
“Bagus. Kamu jangan sampai membuat Bapak dan Ibu kecewa sekali lagi.” kata Bapak.
“Nggih.” ujarku sambil menganggukkan kepala.
“Bapak sama Ibu nginep, kan?” tanyaku.
“Nggak, Nduk. Bapak sama Ibu langsung pulang. Mumpung ini masih sore. Masih ada jadwal bus Nusantara, jadi masih bisa pulang.” jawab Ibu.
“Ke terminalnya pripun, Bu?” ujarku.
“Bapak kosmu tadi sudah memesankan taksi.” sambung Bapak.
Tak lama kemudian tampak sebuah taksi berhenti di depan tempat kos.
“Nah, itu taksinya sudah datang.” kata Ibu.
“Sudah ya, Nduk. Bapak dan Ibu pulang dulu. Kamu kuliahnya hati-hati,” sambung Ibu lagi.
“Dan ingat ya, Nin. Fokus kuliah,” tambah Bapak sekali lagi. Aku hanya bisa menganggukkan kepala.
Bapak dan Ibu kemudian berdiri dan keluar dari ruang tamu tempat kos. Tak lama kemudian tampak Bapak Kos menghampiri Bapak dan Ibu.
“Mangga, Pak, Bu Hardiman. Itu taksinya sudah siap.” ujar Bapak Kos dengan ramah.
“Nggih, Pak Ripto. Terima kasih sekali atas bantuannya, lho.” sahut Ibu.
“Sami-sami. Jangan sungkan-sungkan. Kita ini kan, bisa dibilang sudah seperti keluarga,” jawab Bapak Kos.
“Nggih, Pak Ripto. Saya pamit dulu. Sekalian titip Nina, ya. Kalau anak itu bandel, bisa njenengan marahi saja.” ujar Bapak sambil menjabat tangan Bapak Kos.
“Bapak ini, lho. Aku kan nggak nakal.” kilahku sambil cemberut.
“Pokoknya beres, Pak Hardiman. Saya akan mengawasi Nina.” jawab Bapak Kosku sambil tersenyum.
“Pamit dulu nggih, Pak Ripto.” ujar Ibu sambil bersalaman dengan Bapak Kos. Setelah itu aku menyalami dan mencium tangan kedua orangtuaku.
“Hati-hati ya, Nduk.” pesan Ibu sebelum masuk ke dalam taksi.
Tak lama kemudian, taksi itu pun pergi meninggalkan aku yang berdiri sambil melambaikan tangan di depan tempat kos.
“Orang tua memang begitu, Mbak Nina. Di mata beliau Mbak Nina tetap anak-anak yang harus selalu diawasi.” kata Bapak Kosku.
“Nggih, Pak,” jawabku sambil berjalan kembali menuju kamarku.
Seminggu setelah kedatangan Bapak dan Ibu, aku fokus kuliah. Setiap hari kegiatanku hanya ke kampus dan belajar. Aku ingin menepati janjiku pada Bapak dan Ibu untuk lulus tahun ini. Sebenarnya, sebagai mahasiswa Fakultas Bahasa Inggris, nilaiku juga lumayan bagus. IPK ku pasti di atas 3. Ini semua kulakukan untuk membuktikan kepada kedua orang tuaku, bahwa walaupun aku ikut grup band, tapi aku tetap serius kuliah. Namun kenyataannya, kedua orang tuaku tetap saja tidak setuju aku menekuni bidang menyanyi.
Tentang The Virgin, karena aku tidak pernah ke studio, aku tidak tahu bagaimana perkembangan mereka. Apakah mereka jadi ikut festival ke Surabaya atau tidak. Dan, juga lagu apa yang akhirnya dipakai untuk festival. Entahlah, sampai saat ini aku masih kecewa pada Toni. Apalagi jika aku ingat dia mengubah lagu ciptaanku dengan tiba-tiba. Rasanya hatiku masih dongkol.
Hari itu, setelah pulang kuliah, aku tidur-tiduran di kamar kos sambil mendengarkan radio. Suara James Hetfield menyanyikan lagu One terdengar di telingaku. Sesekali aku ikut bernyanyi menirukan liriknya. Tiba-tiba, Lisa, teman sebelah kamar, mengetuk pintu sambil berteriak.
”Nina ada yang nyariin, tuh!”
“Iya.” ujarku sambil membuka pintu.
“Siapa, Lis?”
Lisa sedang mengoleskan masker di wajahnya. “Lihat aja sendiri. Aku nggak kenal.”
Aku segera bergegas menuju ruang tamu. Oh, ternyata Whempy. Dia duduk di ruang tamu sambil melihat-lihat koran yang ada di atas meja.
“Kamu, Whem.” ujarku.
“Kamu gimana, Nin? Ke mana aja, sih, kok nggak pernah kelihatan?” tanyanya dengan wajah serius. Aku tertawa melihatnya.
“Kalau serius gitu, kamu malah aneh.” ujarku.
“Cah iki, piye sih? Malah diguyu.” sahutnya kesal.
“Tenang, Ndes. Tenaaang. Aku baik-baik saja. Masih hidup, masih bernafas.” ujarku tertawa.
“Kowe iki, dasar! Berminggu-minggu nggak nongol, nggak pernah ke studio.” gerutunya.
“Lha, terus aku kudu piye? Laguku diorak-arik, padahal dudu endog! Wong laguku jenise hard rock kok trus diubah jadi speed metal. Aku nggonduk, to, Whem.” sahutku berang.
“Iya, iya, aku paham. Toni ncen nggonduke.” timpalnya.
“Lha, terus sidane cah-cah, piye, Whem? Jadi festival ke Surabaya?” tanyaku.
“Jadi. Sudah tiga hari yang lalu. Tapi, kayaknya kalah.” sahutnya.
“Kok kayaknya? Kamu nggak ikut? Apa … jangan-jangan kamu diganti juga, Whem?” sergahku sambil menatap wajahnya ingin tahu.
“Iya.” sahutnya pelan.
“Wah, kebangetan ini Toni. Sudah berlagak jadi bos besar main ganti-ganti pemain. Padahal The Virgin kan komitmen bersama,” ujarku mulai emosi.
“Sebenarnya, waktu Diko mulai nempel ke Toni, aku sudah curiga, Nin. Tapi, daripada dikira menuduh yang nggak-nggak, aku diam saja.” katanya.
“Aku juga sudah curiga.” timpalku. “Trus, yang vokal siapa?”
“Riano, vokalisnya Rhombus.” jawab Whempy.
Aku benar-benar tidak percaya mendengarnya.
“Hmm, benar-benar keterlaluan! Ketahuan kan, sekarang tujuannya apa.” sahutku.
“Tujuannya yaa.. memecah The Virgin.” ujar Whempy.
“Ya, sudahlah , Whem. Memang itu yang diinginkan mereka, biarin aja. Dan lagi, sekarang ini aku mau fokus kuliah. Aku nggak ingin mengecewakan orang tuaku. Kedua orang tuaku ingin aku lulus tahun ini,” jawabku pelan.
“Kalau aku sekarang ini gabung sama band baru, Nin. Alirannya sama kayak The Virgin, hard rock dan progressive. Kamu mau gabung?” pintanya.
“Untuk sementara ini, nggak lah, Whem. Daripada aku dimarahi terus sama Bapak.” jawabku.
“Iya, terserah kamu aja sih. Yang penting apa pun yang kamu lakukan, kamu lakukan dengan senang.” lanjutnya.
“Siap, Ndes. Makasih ya, masih inget aku dan mau nawarin aku jadi vokalismu.” jawabku sambil tersenyum.
“Pastilah itu, Nin. Kita kan sudah sama-sama dari dulu. Sudah merasakan perjalanan susah dan senang bersama The Virgin.” sahutnya. Pandangan mata Whempy tampak menerawang.
“Iya. Sebenarnya, sayang sih ya, apa yang kita perjuangkan harus berakhir sampai di sini.” ujarku pelan.
“Mau bagaimana lagi, Nin. Itulah liku-liku cerita dalam kehidupan.” jawabnya.
“Eh, sudah. Kamu kok jadi sok dewasa, sih.” sergahku sambil tertawa.
“Lho, aku kan ncen dewasa to, Nin. Kowe wae, sing sering pecicilan karo aku.” jawabnya tidak terima. Kami berdua tertawa bersama.
Seiring dengan adzan sholat Maghrib,Whempy meninggalkan tempat kosku. Aku menatap sepeda motornya yang perlahan menghilang dari pandangan. Cerita perjuangan kami bersama The Virgin mungkin memang harus berakhir sampai di sini. Aku, Whempy dan yang lainnya akhirnya berpisah untuk mencari jalan hidup kami masing-masing.
Keterangan:
- Nduk : Nak, anak perempuan dalam Bahasa Jawa
- Mas : kakak laki-laki dalam Bahasa Jawa
- Nggih : ya dalam Bahasa Jawa halus
- Nginep : menginap dalam Bahasa Jawa
- Pripun : bagaimana, Bahasa Jawa halus
- Mangga : silahkan Bahasa Jawa halus
- Sami-sami : sama-sama, Bahasa Jawa halus
- Njenengan : anda, Bahasa Jawa halus
- Cah iki, piye sih? Malah ngguyu : Anak ini gimana sih? Malah tertawa.
- Kowe iki, dasar! : Kamu ini, dasar!
- Lha, trus aku kudu piye? : Lha, aku harus bagaimana?
- Laguku diorak-arik, padahal dudu endog : Laguku diobrak-abrik, padahal bukan telur
- Wong laguku jenise hard rock : Padahal laguku bergenre hard rock
- Aku nggonduk, to : Aku sebal, to.
- Toni ncen nggonduke : Toni memang menyebalkan
- Lha, trus, sidane cah-cah, piye, Whem? : Kemudian jadinya anak-anak, bagaimana?
- Aku kan ncen dewasa to, Nin : Aku kan memang dewasa. To. Nin.
- Kowe wae, sing sering pecicilan karo aku : Kamu saja yang sering seenaknya sama aku.
Kreator : Klara Rosita
Comment Closed: Tersesat di Jalan Yang Benar Bab 9
Sorry, comment are closed for this post.