Penulis : Iis Istiqomah (Member KMO Alineaku)
Gawaiku mati, baterainya habis ternyata. Aku ambil charger, ku hubungkan dengan stop contact, tidak ada reaksi. Kucoba menunggu beberapa saat, masih tidak ada perubahan. Aku coba ganti charger lainnya, tak ada perubahan. Huff…. Aku mulai panik. Mana hari sudah larut malam.
Ya, bagaimana mungkin aku tidak panik. Aktivitasku sehari-hari hampir tidak lepas dari gawai. Bisa dikatakan dalam bidang transportasi, konsumsi, akomodasi maupun keuangan lebih sering menggunakan hp. Berangkat dan pulang kerja, pesan ojek online. Beli makanan dan kebutuhan sehari-hari juga melalui online. Transaksi perbankan pun menggunakan mobile banking.
Di kosan aku tidak punya teman dekat. Karena kami semua memang para pekerja yang menjadikan kosan sebagai tempat istirahat, tidur setelah seharian bekerja. Kami jarang bertemu sehingga sangat langka bertegur sapa apalagi mengobrol. Yang paling sering aku ajak ngobrol cuma Ibu Kos.
Akhirnya aku merebahkan diri sambil menunggu kantuk datang. Tak ada televisi, mau nonton drakor di laptop juga tidak ada jaringan internet karena hp mati. Hanya bisa berdoa semoga rasa kantuk segera menerpaku.
Aku terperanjat dari tidurku. Aku baru sadar alarm tidak berbunyi karena hp mati. Kucari-cari jam tanganku untuk melihat jam berapa sekarang. Karena memang aku tak punya jam dinding. Ternyata jam menunjukkan pukul 6 pagi. Ya Allah aku bahkan belum sholat Subuh. Akhirnya aku larut dalam kepanikan dan keriweuhan yang luar biasa.
Pukul 07.30 aku baru berangkat kerja. Padahal biasanya jam 7 pagi aku sudah berangkat. Masalah baru muncul, aku tak bisa pesan ojek online. Aku baru ingat, tak jauh dari kosan ada pangkalan ojek. Aku pun berjalan dengan tergesa-gesa menuju pangkalan ojek yang jaraknya sekitar 400 meter.
Alhamdulillah ada satu tukang ojek yang sedang mangkal.
“Jalan Merdeka ya Bang,” aku langsung mengatakan tujuanku.
“Siap Neng, silahkan dipakai helmnya Neng,” abang ojek menyerahkan sebuah helm padaku.
Akhirnya aku datang terlambat ke tempat kerja. Pasrah dengan potongan gaji nanti. Setengah berlari aku menuju ruangan kerjaku. Langsung larut dengan tumpukan data di meja. Pertanyaan teman kerjaku aku jawab seperlunya. Ini pertama kalinya aku datang terlambat, sehingga membuat mereka sedikit heran dengan keterlambatanku.
Sepulang kerja aku mampir ke counter hp langgananku. Aku biasa membeli berbagai aksesoris hp di tempat itu. Jadi sudah kenal baik dengan pemiliknya. Dia juga sering menerima service hp.
“Bang, hp aku ngadat ni,” ujarku.
“Kenapa Kak?”
“Gak tahu, hp ku tak bisa dicharge Bang.”
“Coba aku liat dulu Kak.”
Aku menyerahkan hp semata wayangku.
“Tapi harus ditinggal hp nya, gak apa-apa?”
“Yaah, kira-kira berapa hari Bang?”
“Paling dua hari.”
“Waduh, gak bisa lebih cepat Bang?”
“Soalnya ini lumayan antri, banyak hp yang harus diservice.”
“Ya udah deh Bang, aku tinggal. Dua hari lagi aku ke sini.”
Duuuuh…ini artinya aku masih harus hidup tanpa gadget dua hari ke depan. Tapi mau gimana lagi, kalau beli baru juga tak mungkin untuk saat ini.
Malam sudah tiba. Aku setel jam weker yang baru tadi aku beli. Meski murah tapi lumayan bisa berfungsi untuk membangunkanku.
Kriiiiiiiing….!!!!
Jam weaker berbunyi kencang di jam 5 pagi.aku beranjak ke kamar mandi, ambil air wudhu untuk sholat Subuh. Setelah itu aku bersibuk ria mempersiapkan diri untuk berangkat kerja. Mandi, sarapan, beres-beres dan sebagainya.
Aku berjalan lebih santai menuju pangkalan ojek. Hari masih cukup pagi, sehingga aku tak perlu tergesa-gesa. Di tengah perjalanan mataku berbinar ketika melihat kue cucur terpajang di gerobak. Kue cucur adalah kue kesukaanku. Kenapa selama ini aku tidak tahu kalau ada tukang kue cucur di sini ya, pikirku. Aku berhenti membeli beberapa potong kue cucur. Masih sangat hangat ternyata. Aku melanjutkan perjalanan dengan hati gembira.
Selepas sholat Maghrib, perutku tiba-tiba terasa lapar. Sebetulnya aku enggan pergi keluar mencari makan. Biasanya aku tinggal pesan melalui aplikasi online. Sekarang mau gak mau aku harus beranjak keluar.
Setelah berjalan kurang lebih 200 meter, aku menemukan sebuah warung makan Sunda.
“Masih ada lauknya Bu?” aku bertanya pada si ibu yang sedang berjaga di warung itu.
“Ada Neng, tapi sudah gak banyak, tinggal ayam goreng, pepes ikan, sama beberapa tumisan sayur.”
“Boleh deh Bu ayam goreng sama tumis kangkung, pakei sambel ya Bu.”
“Iya Neng, pake nasi?”
“Iya Bu, pake nasi.”
Ibu itu dengan cekatan menyiapkan pesananku.
“Baru pindah ke sini ya Neng? Sepertinya Ibu gak pernah liat Neng.”
“Lumayan Bu, sudah setahun lebih di sini.”
“Owalah sudah lama ya. Ngekos ya Neng?”
“Iya Bu.”
“Memang aslinya dari mana Neng?”
“Saya asli dari Majalengka Bu, Jawa Barat.”
“Euleuh sama atuh , Ibu oge orang Majalengka.”
“Majalengkanya mana Bu?”
“Cigasong Neng. Si Eneng dari mana?”
“Ooo deket atuh, saya di Tonjong Bu.”
“Ih, tatangga atuh ari kitu mah nya. Duh seneng pisan ketemu orang sekampung.”
Akhirnya aku bercuap-cuap sejenak dengan si Ibu warung. Dia bahkan memberiku sekantong kerupuk untuk dibawa pulang.
Keesokan harinya aku bangun lebih awal. Aku ingin berangkat lebih pagi. Supaya bisa sambil mencari sarapan di perjalanan nanti.
Aku sudah menenteng kue cucur dan kue serabi. Tiba-tiba suara klakson sepeda motor mengagetkanku.
Tin!Tin!
Aku reflek berjalan lebih minggir.
“Nina ya?” seorang perempuan sebayaku menyapa sambil menghentikan sepeda motornya.
“Iya, Mbak kenal saya?”
“Aku tinggal dekat kosanmu. Namaku Rere. Ibu kosmu sering cerita soal kamu kalau lagi kumpul-kumpul sama tetangga. Tenang aja, dia cerita yang baik-baik kok.”
Aku merasa malu karena tidak mengenal tetanggaku sendiri.
“Ngomong-ngomong kamu kerja di mana?”
“Di jalan Merdeka Mbak.”
“Duuh jangan panggil Mbak dong, panggil Rere aja, kita kan seumuran.”
Kami tertawa bersama.
“O iya, kamu bareng aku aja Na. tempat kerjaku melewati kantormu kok. Ni kebetulan aku bawa helm cadangan.”
“Beneran Re?”
“Iya lah, masa boongan.”
“Oke deh kalo gitu. Makasih ya sebelumnya.”
“Iyaa sama-sama. Yuk naik.”
Akhirnya aku berangkat bersama Rere. Lumayan bisa mengurangi ongkos ojek. Aku tersenyum dalam hati.
Hari berikutnya aku Kembali bertemu Rere. Dan seperti kemarin, aku nebeng lagi dengan Rere untuk berangkat kerja. Ternyata Rere orangnya asik dan baik. Seru banget kalo ngobrol sama dia.
Sepulang kerja aku mampir ke counter untuk mengambil hp ku. Semoga hp ku sudah pulih kembali.
“Bang, hp aku udah bener belum?”
“Udah ni, udah bisa nyala.”
“Alhamdulillah. Jadi berapa Bang?”
“Enam puluh lima ribu Kak.”
Aku menyerahkan selembar uang seratus ribuan.
“Ini kembaliannya Kak.”
”Makasih banyak ya Bang.”
“Sama-sama Kak.”
“Aku berjalan pulang dengan gembira. Akhirnya aku bisa buka hp lagi.
Sesampainya di kosan, aku segera membuka hp ku. Ratusan notifikasi chat whatsapp sudah berderet. Aku segera membalas chat-chat penting. Dan tentunya menyampaikan permintaan maaf karena terlambat merespon.
Aku merebahkan tubuhku di kasur. Pikiranku menerawang mengingat tiga hari terakhir ini. Banyak hal baru yang kualami. Aku bersyukur, karena hp mati aku jadi bisa mendapatkan teman baru. Ternyata selama ini aku telah mengabaikan apa yang ada di sekitarku. Apa yang kualami sungguh sangat berharga. Gadget memang bisa mendekatkan orang-orang yang jauh. Namun bisa juga menjauhkan orang-orang yang dekat.
Tiga hari tanpa gadget membuat mataku terbuka lebar. Menyadarkanku betapa pentingnya bersosialisasi dengan orang-orang di sekitar kita. Karena di saat darurat, merekalah yang akan memberi kita pertolongan lebih dahulu…
“Naskah ini merupakan kiriman dari peserta KMO Alineaku, isi naskah sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis”
Comment Closed: Tiga Hari Tanpa Gawai
Sorry, comment are closed for this post.