Menggapai salah satu impian dalam hidup adalah sebuah anugerah yang tak terkira. Apalagi menyusul impian selanjutnya terwujud sesuai ekspektasi, maka lengkaplah sukacita di hidup ini. Itulah bigBro dan babyGirl, Anugerah yang dikarunianakan oleh sang Empunya Semesta dan Sukacita yang melengkapi setiap syukur kami atas jawaban doa yang diimpikan dan diusahakan.
Tahun pertama pernikahan, ketika kami ragu akan langsung diberkahi keturunan karena harus segera berpisah ke tempat tugas masing-masing di distrik yang berbeda segera setelah pesta diselenggarakan, ternyata langsung dianugerahi benih kehidupan walaupun pertemuan yang hanya sekejab. Yang memang sudah direncanakan dan dipersiapkan seoptimal mungkin jauh hari sebelum acara pernikahan karena menyadari tujuan pernikahan yang kami putuskan adalah untuk melanjutkan keturunan ditengah kondisi pekerjaan dan pertimbangan usia.
Lahirnya bigBro membuat kami harus memutuskan siapa yang mengalah pindah distrik dan pekerjaan untuk memberikan keluarga yang utuh tak terpisahkan demi perkembangan anak yang optimal. Bekerja sambil terus membersamai bigBro menjadi tantangan baru yang harus ditaklukkan. Melayani masyarakat daerah pedalaman sampai ke desa-desanya yang paling terpencil dan belum terjamah orang luar, memberikan pengalaman pendidikan yang berbeda untuk bigBro.
BigBro tumbuh menjadi anak lelaki yang senang bermain dalam honai karena hangat dan berbaur dengan anak-anak Papua yang belum tahu memakai baju. Ia tidak tahu makan nasi sampai umur 3 tahun, karena memang beras agak sulit didapatkan. Ubi-ubian, jagung, gandum dan tapioka menjadi makanan pokoknya. Perangainya lembut, halus bertutur kata dan tidak tahu bahasa Indonesia sampai kelas 1 SD karena dalam rumah kami menggunakan bahasa Inggris dan diluar rumah sebagian besar masyarakat menggunakan bahasa daerah Damal dan Dani.
Tumbuh dalam rumah yang hanya ada Papa dan Mama, membuat bigBro agak susah bergaul dengan orang baru. Karena terbiasa bermain dalam rumah atau Honai yang hangat, ia jarang bermain diluar ruangan karena cuaca yang 85% hujan dalam sehari sepanjang tahun, membuat perkembangan sosialnya agak memprihatinkan.
Walaupun kebutuhan akademik, kebutuhan gizi dengan makanan vegetarian organic hasil panen dari kebun sendiri dan kebutuhan tangki cinta bigBro terpenuhi dengan baik, kami orang tua merasa ada yang kurang dari kebutuhan sosialnya yang seakan timpang. Kecewa akan cara kami dalam mendidik bigBro dan sedih karena belum bisa memenuhi kebutuhan sosialnya, menjadi tantangan tersendiri bagi kami.
5 tahun (kurang sehari) dari hari ulang tahunnya bigBro, babyGirl lahir melengkapi sukacita kami di tengah terpaan Pandemi Covid-19. Tanggal lahir mereka berdua hanya beda sehari saja dibulan yang sama. Tidak sampai 24 jam pasca melahirkan, kami sudah berada dirumah, ber-4 saja. Karena Papua lock down total, kami tidak bisa pulang kampung demikian juga orang tua yang tidak bisa hadir mendampingi kelahiran cucu kedua mereka. Keluarga terdekat kami hanyalah tetangga dalam kompleks pemukiman tempat kami berdomisili jika berada di kota.
Dibesarkan dalam kondisi lockdown dalam komplek pemukiman yang tertutup, menjadikan babyGirl terbiasa bergaul karib dengan tetangga. Membuatnya sangat supel dan easy going dalam bergaul. BabyGirl tumbuh menjadi anak yang lincah, senang bermain di halaman rumah dan aktif bergerak dengan berbagai macam olahraga sederhana. Banyak orang yang jadi contoh baginya dalam berbicara dan bertingkah laku, membuatnya sangat bertolak belakang dengan sikap bigBro.
Memfasilitasi kebutuhan babyGirl akan pemenuhan tangki cinta, kebutuhan gizi dan kebutuhan sosialnya adalah hal yang lumayan mudah. Namun, memenuhi kebutuhan akademik babyGirl adalah tantangan yang berbeda.
Kami berusaha memberikan segalanya sama untuk bigBro dan babyGirl. Namun, perbedaan pola asuhan dan kondisi lingkungan membuat kami kesulitan mengontrol apa yang babyGirl pelajari diluar rumah. Walaupun kami percaya lingkungan tempat tinggal kami dikelilingi oleh orang-orang yang peduli dan menyayangi kami sekeluarga, tetap saja ada perbedaan prinsip yang agak sulit kami tolerir untuk diterapkan kepada anak-anak kami. Salah satunya adalah karena diasuh banyak orang, babyGirl kesulitan berbahasa Inggris karena orang disekitarnya lebih menggunakan bahasa Manado.
Setiap anak adalah unik dan berbeda. Walaupun kami berusaha perlakukan sama, namun banyak faktor lain yang membuat mereka jadi berbeda. Dibesarkan di pedalaman dan dibesarkan di kota, tentunya memberi banyak perbedaan pada semua aspek kehidupan. Perbedaan yang unik, memberi tantangan kepada kami orang tua untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengekspresikan cinta kami kedua anak kami dengan keistimewaannya masing-masing. BigBro dan babyGirl adalah buah cinta yang kami cintai dan banggakan selalu.
Kreator : Vidya D’CharV (dr. Olvina ML.L. Pangemanan, M.K.M.)
Comment Closed: Topangpecirita Cinta Kami untuk Mereka Berdua
Sorry, comment are closed for this post.