KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Wajah yang Hilang dalam Kenangan

    Wajah yang Hilang dalam Kenangan

    BY 15 Nov 2025 Dilihat: 54 kali
    Wajah yang Hilang dalam Kenangan_alineaku

    Sore Jakarta menyisakan jingga di jendela, seperti sisa teh yang lupa dihabiskan. Di antara bunyi notifikasi yang berulang-ulang, satu pesan terasa asing: Rully.

    Aku menatap layar sejenak—nama itu seperti daun tua yang hanyut di arus waktu, menepi setelah empat puluh tiga tahun.

    “Halo, ini Rully. Masih ingat aku? Mau bahas soal alternatif pengobatan kanker untuk teman kita di SMA dulu. Tapi sebelumnya, aku kirim artikel ya, tentang kondisi yang aku alami.”

    Tautan itu berbunyi: prosopagnosia — kebutaan wajah.

    Sejenak, waktu berhenti. Di kepalaku, wajah-wajah masa lalu berkelebat seperti foto lama di kamar gelap. Dan di antaranya, wajah Rully muncul samar: senyum miringnya, rambut sedikit ikal, sorot mata yang dulu lebih cepat menangkap lelucon daripada guru fisika menangkap contekan kami.

    Kini, semua itu seolah hanya bisa kubaca lewat kata-kata.

    Aku: “Serem ya, Rul… semoga kamu baik-baik saja. Nggak stres, kan?”

    Rully: “Nggak parah-parah amat untungnya. Ada yang lebih berat, sampai nggak kenal anaknya sendiri. Aku nggak sampai segitu.”

    Lalu, seolah sedang menertawakan takdirnya sendiri, Rully menulis:

    “Cuma ya itu, jadi malas datang reuni. Takut pulang babak belur, hahaha.”

    Aku ikut tertawa, tapi di dada ada yang meremang. Dunia tanpa wajah. Dunia di mana setiap orang adalah kabut.

     

    Keesokan paginya, aku membaca ulang artikelnya. Prosopagnosia, kata sains, adalah gangguan pada lobus temporal otak. Bukan lupa, bukan lalai—tapi benar-benar kehilangan kemampuan mengenali wajah.

    Bayangkan hidup seperti di tengah keramaian topeng, tapi semua topeng sama. Mata tak lagi jendela jiwa, bibir tak lagi tanda tawa.

    “Jadi kamu benar-benar nggak bisa kenali wajah?”

    “Bisa sih, tapi kayak puzzle tanpa pola. Aku kenal dari suara, jalan, gaya bicara, kadang aroma. Tapi muka? Kabur semua.”

    Aku membayangkan hidup seperti itu.

    Bagaimana rasanya tak bisa mengenali wajah ibu yang menangis di depan pintu?

    Bagaimana rasanya memandang cermin dan bertanya, “Siapa aku?”

    Rully hidup di dunia seperti itu. Dunia yang hanya bisa dibaca lewat gema, bukan bentuk.

    Aku duduk di ruang keluargaku, menatap tumpukan foto hitam putih dari masa SMA. Ada satu foto: kami duduk di warung bakso depan sekolah, wajah kami muda, tawa masih jernih.

    Kutatap wajah Rully muda di foto itu, dan kutulis pesan:

    Aku: “Masih ingat warung bakso depan sekolah?”

    Rully: “Ingat banget! Kuahnya gurih, isi mangkoknya dikasih kerupuk kecil. Aku lebih ingat rasa kuahnya daripada muka abang baksonya, hahaha.”

    Aku ikut tertawa.

    Bagi Rully, kenangan bukan tentang wajah. Ia mengingat lewat rasa, aroma, nada tawa.

    Aku mulai menyadari sesuatu yang pelik: mungkin selama ini aku terlalu sibuk mengingat wajah, padahal yang membuat seseorang tetap hidup dalam kenangan bukan bentuknya, tapi getarannya.

    Hari-hari berikutnya kami saling berkirim pesan, kadang panggilan singkat. Suara Rully serak tapi hangat, seperti daun kering yang tetap bernyanyi ketika diinjak.

    Ia bercerita bagaimana di awal ia merasa tersesat: salah menyapa, salah menebak.

    Pernah, katanya, ia menyalami orang asing di mal, mengira itu rekan kerja lamanya.

    Atau lebih buruk: melewati sahabat lama di trotoar, tanpa menyapa sedikit pun.

    “Aku jadi takut dianggap sombong. Padahal otakku saja yang salah baca.”

    “Berarti kamu nggak bisa nonton film juga, ya?”

    “Nonton bisa. Tapi kalau banyak tokohnya, aku bingung. Semua mukanya mirip.”

    Kami tertawa lagi, tapi dalam tawa itu ada sepi yang tidak bisa kuterjemahkan.

    Ada sesuatu yang aneh tapi indah di antara kami—semacam simpul lama yang direkatkan kembali, bukan oleh ingatan wajah, tapi oleh kerinduan akan makna.

    Suatu malam, hujan turun. Aku menulis catatan di jurnal, “Wajah adalah puisi pertama yang kita baca tanpa huruf.”

    Setiap alis yang terangkat, setiap garis di dahi, adalah tanda baca dari hati. Tapi bagi Rully, semua tanda baca itu hilang.

    Ia hidup di kitab kehidupan tanpa huruf.

    “Kadang aku iri,” katanya di panggilan malam itu.

    “Iri kenapa?”

    “Karena orang lain bisa menatap wajah seseorang dan langsung tahu maknanya. Aku harus menebak dari nada, dari diam.”

    Aku terdiam.

    Barangkali, pikirku, justru di situlah letak keajaibannya. Rully membaca hati, bukan raut. Ia mengenali manusia dari energi, bukan penampakan.

    Beberapa hari kemudian, aku memberanikan diri menulis pesan:

    “Rul, aku mau ketemu kamu. Aku penasaran gimana rasanya ngobrol sama orang yang nggak bisa mengenal wajah.”

    Ia menjawab cepat:

    “Boleh. Tapi nanti kamu jangan kecewa kalau aku salah nyapa, ya. Kadang aku bisa melihat tapi nggak kenal.”

    Kami sepakat bertemu di sebuah kafe di Dago, Bandung—tempat yang dulu sering kami lewati sepulang sekolah.

    Aku datang lebih dulu. Kafe itu penuh cahaya sore, aroma kopi mengisi udara.

    Ketika Rully datang, aku tahu itu dia bukan dari wajahnya, tapi dari cara jalannya: sedikit miring ke kanan, langkahnya tenang seperti orang yang sudah berdamai dengan waktu.

    “Kamu Nayla, kan?” tanyanya pelan, dengan senyum malu-malu.

    “Iya, aku. Kamu masih ingat suaraku?”

    “Suara kamu khas. Kayak catatan hujan di kaca.”

    Aku tertawa. Ia ikut tertawa, meski matanya kosong. Tapi di balik kekosongan itu, ada cahaya yang lain: penerimaan.

    Kami duduk lama. Aku menatapnya, mencoba mencari sisa-sisa remaja dulu di wajah yang kini diukir waktu.

    Rully bercerita tentang hidupnya—tentang ibu dan adiknya yang setia menuntunnya mengenali orang lewat kode kecil, tentang pekerjaannya sebagai penulis sains populer yang kini ia kerjakan dari rumah.

    “Ironis ya,” katanya, “aku menulis tentang otak, tapi otakku sendiri kehilangan sebagian fungsinya.”

    “Mungkin justru karena itu kamu bisa menulis dengan jujur,” jawabku.

    “Kenapa bisa begitu?”

    “Karena kamu nggak terpesona oleh wajah, tapi oleh isi.”

    Ia mengangguk pelan.

    “Mungkin. Dulu aku pikir kehilangan wajah itu kutukan. Sekarang aku sadar, ini bentuk latihan—belajar mengenali manusia dari dalam.”

    Saat kami beranjak pulang, hujan tipis turun lagi. Kami berjalan di bawah payung, jarak hanya sejengkal, tapi aku tahu Rully tak mengenal wajahku.

    “Kalau nanti aku ketemu kamu lagi, gimana caranya aku tahu kamu?”

    “Aku pakai anting kecil berbentuk bintang, di telinga kanan. Kamu cari itu aja.”

    “Oke. Dan kalau aku lupa juga?”

    “Nggak apa-apa. Aku akan nyapa duluan. Karena ingatan yang penting bukan di mata, tapi di hati.”

    Rully tersenyum, mungkin karena lega, mungkin karena senang mendengar sesuatu yang tidak perlu dihafal.

    Malam itu, di hotel kecil tempatku menginap, aku memandang cermin. Wajahku sendiri tampak asing setelah percakapan panjang itu.

    Apakah aku benar-benar mengenali wajahku sendiri?

    Ataukah aku hanya menghafalnya, seperti menghafal nama kota yang belum pernah kukunjungi dengan hati?

    Aku menulis di buku catatan:

    “Wajah bisa hilang. Tapi yang abadi adalah kesan, suara, dan kebaikan. Wajah hanyalah wadah, bukan wujud dari jiwa.”

    Mungkin itulah yang ingin diajarkan oleh Rully, tanpa mengajar: bahwa wajah hanyalah pintu, bukan rumah.

    Surat dari dunia tanpa wajah. Seminggu setelah pertemuan itu, sebuah pesan datang lagi:

    “Nayla, terima kasih sudah mau ketemu. Rasanya aneh tapi hangat. Aku nggak bisa ingat wajahmu, tapi aku bisa dengar tawa kamu terus di kepala. Itu cukup buat aku.”

    Aku tersenyum, membalas:

    “Rully, wajah hanyalah bentuk. Tapi persahabatan itu gema. Dan gema nggak butuh bentuk untuk bertahan.”

    Aku menatap layar, dan di sela-sela senja yang turun, aku sadar: dunia memang berubah, tapi esensi manusia tetap sama—dikenal bukan dari rupa, tapi dari resonansi.

    Karena ketika wajah memudar, yang tinggal hanyalah wajah hati—dan wajah itu tak pernah buta, tak pernah hilang.

    Makna yang tersisa. Cerita ini bukan hanya tentang kehilangan penglihatan atas wajah, tapi kehilangan ilusi bahwa identitas bersandar pada bentuk.

    Rully hidup di dunia di mana wajah adalah kabut, tapi ia mengajarkan cara melihat lewat hati.

    Ia menutup matanya untuk mengenali orang lain dengan lebih jernih. Ia kehilangan satu peta, tapi menemukan atlas baru: atlas jiwa.

    Dan aku, yang pernah menganggap wajah adalah rumah kenangan, kini tahu: rumah yang sebenarnya adalah hati yang pernah disinggahi, suara yang pernah membuat kita tertawa, dan pertemuan yang tak lagi butuh bentuk untuk berarti.

    Aku menuliskan puisi untuk Rully:

     

    Di ruang sunyi yang dipenuhi 

    langkah-langkah samar,

    wajah-wajah melintas 

    bagai bayangan di air keruh.

    Aku berdiri di antara 

    bingkai-bingkai tak berjudul,

    setiap kanvas adalah 

    waktu yang pernah bersuara,

    namun catnya kini 

    mengelupas bersama 

    nama-nama yang hilang.

     

    Pelukisnya adalah takdir—

    ia menggurat garis 

    di atas ketiadaan,

    memberi warna pada kenangan 

    yang tak lagi utuh.

    Aku mencari dirimu 

    di antara cahaya dan kabut,

    namun yang kutemukan 

    hanya gema suaramu

    yang menggantung seperti 

    bintang di langit retak.

     

    Suaramu adalah peta kuno

    yang menuntun perjalananku pulang 

    tanpa arah.

    Ketika mataku mencoba menatapmu,

    dunia berubah menjadi cermin yang pecah:

    setiap serpihan memantulkan seseorang,

    namun tak satupun benar-benar dirimu.

     

    Aku memanggil namamu,

    tak yakin pada siapa aku berbicara—

    barangkali hanya pada bayangan 

    yang lahir dari rinduku sendiri.

    Tawamu masih di sana, 

    tapi wajahmu telah pergi,

    seperti aroma hujan 

    yang tinggal di udara

    setelah langit berhenti menangis.

     

    Inilah kesepian 

    yang tak bisa kutuliskan:

    keramaian tanpa bentuk,

    kenangan tanpa rupa,

    dan aku—yang masih berdiri 

    di galeri tanpa nama,

    memandang setiap bingkai kosong

    dengan hati yang terus mengingat, 

    meski tanpa wajah.

     

    Jakarta, 1 September 2025

    Kreator : Mariza

    Bagikan ke

    Comment Closed: Wajah yang Hilang dalam Kenangan

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021