Perawat itu menyerahkan selembar kertas pengantar. Suaranya lembut namun tegas, seolah sudah mengulang kalimat yang sama puluhan kali dalam sehari.
“Ibu, ini surat pengantar ke laboratorium. Kalau sudah selesai cek darah, langsung kembali, ya. Tidak perlu menunggu hasilnya.”
Aku melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang panjang. Lift membawaku turun dari lantai dua ke lantai satu menuju instalasi laboratorium. Di depan ruang itu, kursi-kursi besi berderet rapi dan hampir seluruhnya sudah terisi. Aku berjalan menuju loket pendaftaran untuk menyerahkan lembaran pengantar, lalu duduk di antara wajah-wajah cemas dan pasrah semuanya menyatu dalam ruang tunggu yang dipenuhi riuh percakapan dan sesekali panggilan nomor antrean dari pengeras suara yang juga ditampilkan di sebuah layar kecil di dinding.
Waktu terasa lambat, ketika akhirnya namaku dipanggil setelah lebih dari dua jam menunggu, aku melangkah menuju ruangan khusus pengambilan sampel darah dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Tangan ini sudah terlalu akrab dengan tusukan jarum. Torniket melilit lengan atas, kapas alkohol menyentuh kulit dengan dingin yang singkat. Setetes demi setetes darah mengalir memenuhi tabung-tabung kecil.
Pukul sebelas siang aku kembali ke poli Onkologi. Suasana di sana tak jauh berbeda—pasien duduk berjejer dan sekarang sudah penuh, sebagian ditemani keluarga. Perawat yang tadi memberikan surat pengantar menyambut dengan senyum.
“Laboratoriumnya penuh ya, Bu? Mari, saya antar ke poli Dokter Anestesi. Ada konsultasi dengannya dan juga ahli gizi sebelum tindakan bedah.” Dia membereskan beberapa kertas dokumen berisi riwayat kesehatan yang akan dibawa ke poli.
Kami berjalan menyusuri lorong lain yang lebih terang dan halaman ruang tunggu yang lebih luas dari ruang tunggu lainnya. Di sana terdapat beberapa ruang praktik dokter. Empat pasien lain sudah menunggu di ruang Konsultasi Pra-Anestesi. Udara di ruangan itu terasa lebih hening, seakan setiap orang sedang berdamai dengan pikirannya sendiri.
Perawat muda itu mendampingiku masuk ke ruangan. Seorang dokter lelaki muda menyambut kami. Sorot mata yang meneduhkan, wajahnya tenang dan suara yang dalam penuh wibawa dengan logat Jawa yang halus menenangkan. Ia mengenakan baju seragam hijau khusus dokter berlengan pendek di atas siku. Sebagian wajahnya tertutup masker berwarna putih, name tag kecil tersemat di dada kirinya. Di lehernya tergantung stetoskop berwarna hitam dengan ujung metal yang berkilau di bawah cahaya lampu.
“Silahkan duduk.”
Dia membuka dokumen catatan riwayat kesehatanku yang dibawa perawat tadi. Ruangannya rapi dan terang. Di sudut terdapat meja kerja dengan komputer, monitor, serta printer kecil yang sesekali berdengung. Di dinding tergantung diagram anatomi tubuh manusia dan poster tentang jenis-jenis anestesi. Di samping meja terdapat troli kecil berisi tensimeter digital, oksimeter nadi, termometer inframerah, dan alat pengukur tekanan darah manual lengkap dengan manset dan pompa karet.
Dokter itu mulai memeriksa dengan tenang. Stetoskop ditempelkan ke dadaku, berpindah dari kiri ke kanan, lalu ke punggung. Nafasku diminta ditarik dalam dan dihembuskan perlahan. Kemudian ia melilitkan manset tensimeter di lenganku. Pompa ditekan, ujung jarinya menyentuh pergelangan tangan, dan menekan bagian nadiku.
“Apakah Anda punya riwayat penyakit jantung?”
“Tidak.”
“Tekanan darah tinggi atau diabetes?”
“Tidak.”
“Apakah ada riwayat asma atau gangguan pernapasan?”
“Tidak ada.”
“Selama ini pernah menjalani operasi sebelumnya?”
“Belum pernah. Ini pertama kalinya.” Dan insyaallah yang terakhir kalinya, gumamku meneruskan kalimat yang berisi doa di dalam hati.
“Apakah Anda memiliki alergi terhadap obat-obatan tertentu?”
“Tidak ada.”
“Apakah sedang mengonsumsi obat rutin, seperti jamu, atau suplemen tertentu?”
“Hanya mengonsumsi obat-obatan dari rumah sakit dan yang disarankan dokter saja.”
Ia mencatat dengan teliti.
“Apakah ada keluhan sulit tidur?”
“Tidak.”
“Gigi ada yang goyang atau menggunakan gigi palsu?”
“Tidak ada.”
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun di baliknya ada perhitungan. Ternyata peran dokter anestesi bukan hanya tentang membuat seseorang tertidur. Ia adalah penjaga batas antara sadar dan hampa, antara nyeri dan hening.
“Untuk rencana operasi nanti,” katanya lembut, “jenis anestesi yang akan digunakan adalah obat anestesi umum. Anda akan dibius total dan akan tertidur sepenuhnya selama tindakan berlangsung. Sebelum operasi, Anda akan menjalani puasa minimal delapan jam.”
“Apakah saya akan merasakan sakit saat tindakan, Dok?”
“Tidak. Anda tidak akan merasakan apa pun saat tindakan berlangsung.”
Ia menatapku sejenak, memastikan tidak ada lagi pertanyaan lain. Saat pandangan kami saling beradu, iris matanya yang cokelat cerah memantulkan bayangan wajahku. Diam-diam aku terpaku oleh indah bola mata itu. Aku menundukkan kepala, sesuatu terasa merayap di area wajah, kemudian berdesir di kepala. Apakah dia blasteran? Pikirku. Beruntung sekali keluarganya.
“Semua hasil pemeriksaan awal baik. Apakah ada yang ingin ditanyakan lagi?”
“Tidak.” Hanya jawaban itu yang keluar karena memang tidak ingin menunda apa pun dan menghindari segala kemungkinan yang akan membuat waktu terulur
Ruang itu kembali sunyi, hanya terdengar detak jam dinding, suara keyboard komputer dan bunyi halus pendingin ruangan. Di antara alat-alat medis dan formulir persetujuan tindakan, aku duduk sebagai seseorang yang akan menyerahkan kesadaran sementara, percaya pada tangan-tangan terlatih, pada Tuhan yang memegang semua kendali kehidupan.
Perawat menandai bagian yang terdapat benjolan dan melingkarinya dengan pena. Ia memintaku untuk duduk di kursi roda, aku mencoba menolaknya dan memilih berjalan kaki menuju ruang perawatan, namun dia tidak memperbolehkan. Rasanya terlalu aneh tubuh yang sehat ini harus didorong dengan kursi roda.
Di luar ruangan, lorong rumah sakit kembali menyambut dengan cahaya putihnya yang menyilaukan. Aku duduk manis dengan sejumlah dokumen di pangkuan, membawa campuran antara keteguhan dan ketakutan, menyadari esok adalah hari yang penting, terlintas bahwa cahaya yang sama yang akan lihat saat terbangun nanti. Aku sebagai versi lain dari diri yang telah melewati satu lagi pertempuran.
Kreator : Ai Shanti (Shanti)
Comment Closed: YANG HILANG DAN YANG TERTINGGAL
Sorry, comment are closed for this post.