KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » YANG HILANG DAN YANG TERTINGGAL

    YANG HILANG DAN YANG TERTINGGAL

    BY 07 Apr 2026 Dilihat: 13 kali
    YANG HILANG DAN YANG TERTINGGAL_alineaku

    Perawat itu menyerahkan selembar kertas pengantar. Suaranya lembut namun tegas, seolah sudah mengulang kalimat yang sama puluhan kali dalam sehari.

    “Ibu, ini surat pengantar ke laboratorium. Kalau sudah selesai cek darah, langsung kembali, ya. Tidak perlu menunggu hasilnya.”

    Aku melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang panjang. Lift membawaku turun dari lantai dua ke lantai satu menuju instalasi laboratorium. Di depan ruang itu, kursi-kursi besi berderet rapi dan hampir seluruhnya sudah terisi. Aku berjalan menuju loket pendaftaran untuk menyerahkan lembaran pengantar, lalu duduk di antara wajah-wajah cemas dan pasrah semuanya menyatu dalam ruang tunggu yang dipenuhi riuh percakapan dan sesekali panggilan nomor antrean dari pengeras suara yang juga ditampilkan di sebuah layar kecil di dinding.

    Waktu terasa lambat, ketika akhirnya namaku dipanggil setelah lebih dari dua jam menunggu, aku melangkah menuju ruangan khusus pengambilan sampel darah dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Tangan ini sudah terlalu akrab dengan tusukan jarum. Torniket melilit lengan atas, kapas alkohol menyentuh kulit dengan dingin yang singkat. Setetes demi setetes darah mengalir memenuhi tabung-tabung kecil.

    Pukul sebelas siang aku kembali ke poli Onkologi. Suasana di sana tak jauh berbeda—pasien duduk berjejer dan sekarang sudah penuh, sebagian ditemani keluarga. Perawat yang tadi memberikan surat pengantar menyambut dengan senyum.

    “Laboratoriumnya penuh ya, Bu? Mari, saya antar ke poli Dokter Anestesi. Ada konsultasi dengannya dan juga ahli gizi sebelum tindakan bedah.” Dia membereskan beberapa kertas dokumen berisi riwayat kesehatan yang akan dibawa ke poli.

    Kami berjalan menyusuri lorong lain yang lebih terang dan halaman ruang tunggu yang lebih luas dari ruang tunggu lainnya. Di sana terdapat beberapa ruang praktik dokter. Empat pasien lain sudah menunggu di ruang Konsultasi Pra-Anestesi. Udara di ruangan itu terasa lebih hening, seakan setiap orang sedang berdamai dengan pikirannya sendiri.

    Perawat muda itu mendampingiku masuk ke ruangan. Seorang dokter lelaki muda menyambut kami. Sorot mata yang meneduhkan, wajahnya tenang dan suara yang dalam penuh wibawa dengan logat Jawa yang halus menenangkan. Ia mengenakan baju seragam hijau khusus dokter berlengan pendek di atas siku. Sebagian wajahnya tertutup masker berwarna putih, name tag kecil tersemat di dada kirinya. Di lehernya tergantung stetoskop berwarna hitam dengan ujung metal yang berkilau di bawah cahaya lampu.

    “Silahkan duduk.” 

    Dia membuka dokumen catatan riwayat kesehatanku yang dibawa perawat tadi. Ruangannya rapi dan terang. Di sudut terdapat meja kerja dengan komputer, monitor, serta printer kecil yang sesekali berdengung. Di dinding tergantung diagram anatomi tubuh manusia dan poster tentang jenis-jenis anestesi. Di samping meja terdapat troli kecil berisi tensimeter digital, oksimeter nadi, termometer inframerah, dan alat pengukur tekanan darah manual lengkap dengan manset dan pompa karet.

    Dokter itu mulai memeriksa dengan tenang. Stetoskop ditempelkan ke dadaku, berpindah dari kiri ke kanan, lalu ke punggung. Nafasku diminta ditarik dalam dan dihembuskan perlahan. Kemudian ia melilitkan manset tensimeter di lenganku. Pompa ditekan, ujung jarinya menyentuh pergelangan tangan, dan menekan bagian nadiku.

    “Apakah Anda punya riwayat penyakit jantung?”

    “Tidak.”

    “Tekanan darah tinggi atau diabetes?”

    “Tidak.”

    “Apakah ada riwayat asma atau gangguan pernapasan?”

    “Tidak ada.”

    “Selama ini pernah menjalani operasi sebelumnya?”

    “Belum pernah. Ini pertama kalinya.” Dan insyaallah yang terakhir kalinya, gumamku meneruskan kalimat yang berisi doa di dalam hati.

    “Apakah Anda memiliki alergi terhadap obat-obatan tertentu?”

    “Tidak ada.”

    “Apakah sedang mengonsumsi obat rutin, seperti jamu, atau suplemen tertentu?”

    “Hanya mengonsumsi obat-obatan dari rumah sakit dan yang disarankan dokter saja.”

    Ia mencatat dengan teliti.

    “Apakah ada keluhan sulit tidur?”

    “Tidak.”

    “Gigi ada yang goyang atau menggunakan gigi palsu?”

    “Tidak ada.”

    Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun di baliknya ada perhitungan. Ternyata peran dokter anestesi bukan hanya tentang membuat seseorang tertidur. Ia adalah penjaga batas antara sadar dan hampa, antara nyeri dan hening.

    “Untuk rencana operasi nanti,” katanya lembut, “jenis anestesi yang akan digunakan adalah obat anestesi umum. Anda akan dibius total dan akan tertidur sepenuhnya selama tindakan berlangsung. Sebelum operasi, Anda akan menjalani puasa minimal delapan jam.”

    “Apakah saya akan merasakan sakit saat tindakan, Dok?” 

    “Tidak. Anda tidak akan merasakan apa pun saat tindakan berlangsung.” 

    Ia menatapku sejenak, memastikan tidak ada lagi pertanyaan lain. Saat pandangan kami saling beradu, iris matanya yang cokelat cerah memantulkan bayangan wajahku. Diam-diam aku terpaku oleh indah bola mata itu. Aku menundukkan kepala, sesuatu terasa merayap di area wajah, kemudian berdesir di kepala. Apakah dia blasteran? Pikirku. Beruntung sekali keluarganya. 

    “Semua hasil pemeriksaan awal baik. Apakah ada yang ingin ditanyakan lagi?”

    “Tidak.” Hanya jawaban itu yang keluar karena memang tidak ingin menunda apa pun dan menghindari segala kemungkinan yang akan membuat waktu terulur

    Ruang itu kembali sunyi, hanya terdengar detak jam dinding, suara keyboard komputer dan bunyi halus pendingin ruangan. Di antara alat-alat medis dan formulir persetujuan tindakan, aku duduk sebagai seseorang yang akan menyerahkan kesadaran sementara, percaya pada tangan-tangan terlatih, pada Tuhan yang memegang semua kendali kehidupan.

    Perawat menandai bagian yang terdapat benjolan dan melingkarinya dengan pena. Ia memintaku untuk duduk di kursi roda, aku mencoba menolaknya dan memilih berjalan kaki menuju ruang perawatan, namun dia tidak memperbolehkan. Rasanya terlalu aneh tubuh yang sehat ini harus didorong dengan kursi roda.

    Di luar ruangan, lorong rumah sakit kembali menyambut dengan cahaya putihnya yang menyilaukan. Aku duduk manis dengan sejumlah dokumen di pangkuan, membawa campuran antara keteguhan dan ketakutan, menyadari esok adalah hari yang penting, terlintas bahwa cahaya yang sama yang akan lihat saat terbangun nanti. Aku sebagai versi lain dari diri yang telah melewati satu lagi pertempuran.

     

     

    Kreator : Ai Shanti (Shanti)

    Bagikan ke

    Comment Closed: YANG HILANG DAN YANG TERTINGGAL

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021