Malam itu hujan kembali turun.
Arga masih duduk sendirian di kamar kontrakannya sambil menatap layar ponsel yang sejak tadi tidak berhenti menyala.
Nama Nadia berkali-kali muncul di layar.
Namun lelaki itu belum punya keberanian untuk mengangkatnya.
Ia takut.
Takut mendengar suara kecewa lagi.
Takut melihat harapan anak-anaknya kembali runtuh.
Arga mengusap wajah kasar pelan lalu akhirnya memberanikan diri menekan tombol panggil video.
Beberapa detik kemudian wajah Nadia muncul.
“Akhirnya diangkat juga.”
Nada suaranya terdengar lembut, tetapi Arga tahu perempuan itu sedang khawatir.
“Maaf… tadi meeting.”
Nadia mengangguk kecil.
Di belakangnya terlihat Farhan dan Nisa sedang duduk di lantai ruang tamu.
Begitu melihat ayahnya, Nisa langsung mendekat ke kamera.
“Ayah!”
Arga tersenyum kecil.
“Halo, Princess.”
“Kapan pulang?”
Pertanyaan itu langsung membuat dadanya sesak lagi.
Farhan ikut muncul.
“Ayah jadi datang acara sekolah kan?”
Arga terdiam beberapa detik.
Nadia langsung menyadari perubahan wajah suaminya.
“Mas…”
Arga menelan ludah pelan.
“Ayah mau ngomong sesuatu.”
Suasana langsung berubah hening.
Farhan mengerutkan kening.
“Apa?”
Arga memejamkan mata sebentar sebelum akhirnya berkata pelan,
“Mungkin Ayah harus pindah kerja sementara.”
“Ke mana?” tanya Nadia lirih.
“Kalimantan.”
Farhan langsung membeku.
“Berapa lama?”
Arga sulit menjawab.
“Tiga bulan mungkin…”
Kalimat itu seperti menghantam seluruh isi rumah.
Nisa yang belum benar-benar mengerti hanya menatap bingung.
Sedangkan Farhan…
Wajah anak itu perlahan berubah kecewa.
“Terus acara sekolahku?”
Arga buru-buru menjawab,
“Ayah bakal usahain pulang.”
“Tapi Ayah kemarin janji.”
Nada suara Farhan mulai bergetar.
“Ayah belum tentu nggak datang—”
“Tapi Ayah selalu bilang gitu!”
Suara Farhan meninggi.
Rumah mendadak sunyi.
Nadia langsung memegang bahu anaknya.
“Farhan…”
“Aku capek denger janji Ayah terus!”
Arga terdiam.
Kata-kata itu terasa lebih sakit daripada bentakan apa pun.
Farhan menatap layar dengan mata berkaca-kaca.
“Kalau akhirnya pergi lagi… kenapa kemarin bikin kita seneng?”
Dan tanpa menunggu jawaban, anak itu langsung pergi masuk kamar.
Pintu terdengar tertutup keras.
BRAKK!!
Nisa kaget sampai memeluk Nadia.
Sedangkan Arga hanya diam mematung di depan layar.
Untuk beberapa detik…
tidak ada yang bicara.
Nadia akhirnya menghela napas pelan.
“Aku ke Farhan dulu.”
“Na…”
Namun panggilan video sudah dimatikan.
Kamar kontrakan kembali sunyi.
Hanya suara hujan yang terdengar dari luar jendela.
Arga menunduk pelan sambil menggenggam ponselnya erat.
Dadanya terasa penuh.
Sesak.
Dan malam itu…
ia mulai sadar bahwa luka karena janji yang terus patah ternyata jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Di rumah, Nadia perlahan membuka pintu kamar Farhan.
Anak itu sedang duduk membelakangi pintu sambil memeluk lutut.
Bahu kecilnya naik turun menahan tangis.
“Farhan…”
“Aku nggak mau ngomong.”
Nadia mendekat lalu duduk di samping anaknya.
“Kakak marah ya?”
Farhan langsung mengusap matanya kasar.
“Ayah bohong terus.”
“Nggak bohong…”
“Tapi selalu nggak jadi!”
Suara Farhan pecah.
Nadia terdiam.
Karena jauh di dalam hatinya…
ia pun mulai lelah berharap.
“Aku cuma pengen Ayah kayak ayah temen-temen.”
Kalimat itu membuat hati Nadia terasa diremas.
“Pas lomba datang…”
“Pas pembagian rapor datang…”
“Pas pentas sekolah datang…”
Tangis Farhan akhirnya pecah.
“Tapi Ayah selalu kerja…”
Nadia langsung memeluk anaknya erat.
Farhan menangis di pelukannya seperti sedang menahan kecewa yang terlalu lama disimpan.
“Ayah sayang sama Kakak,” bisik Nadia pelan.
“Kalau sayang kenapa pergi terus?”
Nadia memejamkan mata.
Pertanyaan itu terlalu sulit dijawab.
Karena diam-diam…
ia juga pernah mempertanyakan hal yang sama.
Sementara itu, di kontrakan kecilnya, Arga masih duduk menatap gelap malam.
Ia membuka dompetnya perlahan.
Di sana ada foto kecil Nadia dan anak-anak.
Foto lama yang mulai kusam.
Dulu ia selalu berpikir bekerja keras adalah bentuk cinta terbesar untuk keluarganya.
Tetapi sekarang…
ia mulai sadar bahwa uang ternyata tidak selalu bisa menggantikan kehadiran.
Ponselnya kembali berbunyi.
Pesan dari atasannya masuk.
“Besok pagi keputusan harus sudah ada.”
Arga menatap pesan itu lama.
Lalu menunduk.
Kepalanya terasa penuh.
Jika ia menerima pekerjaan itu, keuangan keluarganya akan jauh lebih aman.
Tetapi…
Bagaimana dengan Farhan?
Bagaimana dengan Nadia?
Bagaimana kalau saat ia kembali nanti…
rumah itu benar-benar berubah dingin lagi?
Arga mengacak rambutnya frustasi.
Untuk pertama kalinya dalam hidup…
ia merasa kalah.
Keesokan paginya suasana rumah terasa murung.
Farhan tidak banyak bicara saat sarapan.
Nisa beberapa kali melirik kakaknya pelan.
Sedangkan Nadia hanya diam sambil menuangkan teh hangat.
“Bekal Kakak jangan lupa,” katanya pelan.
Farhan hanya mengangguk kecil.
Biasanya anak itu paling cerewet saat pagi.
Tetapi hari ini rumah terasa terlalu sunyi.
Sebelum berangkat sekolah, Farhan tiba-tiba berhenti di depan pintu.
“Bunda…”
“Iya?”
“Kalau Ayah nanti pergi lama lagi…”
Nadia menatap anaknya.
“…apa Ayah bakal betah jauh terus?”
Pertanyaan itu membuat Nadia tercekat.
Farhan menunduk pelan.
“Aku takut nanti Ayah jadi lupa sama rumah.”
Nadia langsung memeluk anaknya erat.
“Nggak akan.”
“Tapi Ayah sibuk terus.”
Nadia mengusap kepala Farhan lembut.
“Ayah cuma lagi berusaha.”
Farhan terdiam.
“Tapi aku capek nunggu.”
Kalimat itu membuat mata Nadia mulai panas.
Karena ternyata…
bukan hanya dirinya yang lelah bertahan.
Anak-anak mereka juga.
Siang harinya Arga akhirnya mengambil keputusan.
Ia berdiri lama di depan ruangan atasannya sebelum mengetuk pintu perlahan.
“Masuk.”
Arga menarik napas panjang lalu masuk.
“Atasan menatapnya.”
“Jadi gimana?”
Arga diam beberapa detik.
Tangannya mengepal pelan.
Lalu akhirnya berkata,
“Pak… saya mau nolak proyek Kalimantan.”
Ruangan langsung hening.
Atasannya terlihat kaget.
“Kamu serius?”
“Iya, Pak.”
“Ini kesempatan besar.”
Arga mengangguk kecil.
“Saya tahu.”
“Terus kenapa ditolak?”
Arga menunduk sesaat sebelum menjawab pelan,
“Karena saya nggak mau kehilangan keluarga saya.”
Dan untuk pertama kalinya…
Arga merasa ada sesuatu di dalam dirinya yang akhirnya berubah.
Kreator : Titin Mustika Merdekawati
Comment Closed: BAB 9 “JANJI YANG MULAI RETAK”
Sorry, comment are closed for this post.