BAB 3. Kehilangan Separuh Jiwa “Setiap waktu adalah kesempatan yang diberikan Tuhan. Hargai setiap detiknya sayangi mereka Yang dihadirkan bersamamu.” **Aku, Rani, si melankolis. Kepribadianku membentukku menjadi seorang introvert, perfeksionis, dan pemikir. Sejak kecil aku terbiasa hidup dalam tuntutan bahwa segala sesuatu harus tampak sempurna—‘no mistake’. Aku belajar menahan air mata, menekan keinginan, menyembunyikan […]
BAB 2. Retak Yang Tak Terlihat “Kadang, luka yang paling menyakitkan adalah yang tak terlihat oleh mata, tapi diam-diam merobek dari dalam.” **Aku, Rani, anak pertama dari dua bersaudara. Adikku lelaki usianya dua tahun lebih muda dariku. Kami kehilangan ayah saat sama-sama masih mahasiswa—aku di semester enam, dia di semester dua. Sejak itu, beban […]
Jika seseorang bertanya padaku lima tahun lalu, “Apa yang kamu bayangkan tentang menjadi ibu?” Jawabanku pasti penuh dengan kata-kata indah tentang kebahagiaan dan idealisme seorang ibu. Tapi tidak ada yang memberitahuku tentang temaram setelah menjadi ibu. Walau mungkin jawabanku masih demikian, setidaknya aku sudah berancang-ancang akan datangnya masa temaram itu. Temaram yang kumaksud bukanlah […]
PROLOG Untuk luka yang tak tampak, tapi terasa sampai ke ujung napas. Aku tidak tahu pasti kapan cinta mulai terasa seperti beban. Mungkin saat panggilan “Ibu” terdengar lebih seperti pengingat, bukan pujian. Mungkin sejak malam-malam panjang menjadi saksi air mata yang tak sempat ditampung pelukan. Atau ketika dunia menuntutku jadi kuat, saat hatiku bahkan […]
Fatamorgana Sekolahku satu-satunya di desa ini. Sebuah sekolah negeri kecil yang berdiri di antara ladang singkong dan pohon-pohon kelapa yang menjulang. Cat temboknya mulai mengelupas, papan tulisnya abu-abu pudar, dan halaman tanahnya berubah menjadi kubangan ketika hujan turun. Tapi di balik segala keterbatasannya, tempat itu menyimpan hangatnya semangat—semangat anak-anak yang tumbuh di tengah kesunyian. Desaku […]
Senyuman di Ujung Waktu Di kedalaman hutan yang hijau temaram, kabut putih membalut pepohonan bak awan yang turun menyentuh bumi. Secercah cahaya menembus lurus, menyelinap di antara celah dedaunan yang masih basah oleh tetes-tetes gutasi pagi menyentuh bumi seperti salam dari langit yang jauh. Kicauan burung bersahutan, berpadu dengan riak lembut sungai yang sesekali menyentuh […]
Dari Bayang-Bayang Sejarah Kelam Menuju Pelayanan Untuk Banyak Orang Lahir di Kulon Progo pada 10 Juni, saat pergantian pemerintahan Orde Lama ke Orde Baru, aku tidak menyangka bahwa perjalanan karirku akan menjadi refleksi dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Aku lahir saat Indonesia bergolak. pasca pemberontakan G.30 S. PKI yang gagal, jutaan anak yang lahir di […]
PROLOG February 2028 Kau belum kembali? Ku masih menunggumu dengan setia di sini.. Bagaimana kabarmu? Pasti sudah melupakan sosok diriku yang masih menunggumu Berapa lama lagi aku harus menunggu? Baiklah jika maumu aku akan berusaha menghapus dirimu dari kehidupanku Jika suatu saat kembali, jangan mencariku maupun menghubungiku Write by AM Daun daun […]
Reyhan duduk sendirian di beranda rumahnya yang kecil di pinggir kota. Matahari sore mulai tenggelam, menyisakan semburat jingga di langit. Ia memeluk lututnya, menggigit bibir bawah, dan menatap jalan kecil di depan rumah yang sepi. Di dalam rumah, suara televisi menggelegar. Adiknya, Lala, menangis karena Ibu memarahinya. Lagi-lagi soal hal kecil—susu tumpah, mainan berantakan, atau […]