Tahun 2005 adalah waktu penuh rindu dan harapan. Satu tahun aku dan anak-anakku menjalani Long Distance Relationship dengan suamiku. Aku di Kota Palembang, Sumatera Selatan, sementara suamiku di Kota Tanjung Pandan,Belitung. Semula kami bersama tinggal di Palembang, kota kelahiranku. Aku bekerja sebagai PNS di sebuah Puskesmas di Kabupaten Banyuasin sebagai dokter gigi. Sementara suamiku waktu itu masih pegawai honorer di sebuah sekolah swasta di Kota Palembang.
Kehidupan di kota besar lumayan menantang bagi kami keluarga muda yang baru mulai membangun keluarga. Tempat tugasku di luar kota dengan jarak tempuh yang jauh, sarana transportasi umum yang setiap hari berganti sampai 3 kali untuk sampai di tempat tugas, pun kembali ke rumah sore harinya. Sangat melelahkan. Di sisi lain penghasilan yang diupayakan segenap jiwa raga, sebagian besar habis untuk biaya transportasi. Aku seperti kehabisan waktu. Berangkat saat matahari baru terbit, pulang saat matahari hampir terbenam. Anak-anak balitaku seperti sangat merindukan kehadiranku. Sejak bayi mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama Bibiku atau Mamaku. Waktu mereka bersamaku sangat minim, karena sepulang bekerja aku masih lanjut dengan praktik mandiri di luar rumah.
Suamiku pun begitu. Karena gaji sebagai Guru Honorer tak seberapa, maka dia berusaha menambah jam mengajar dengan mengambil jam mengajar di beberapa sekolah swasta lainnya. Malam hari dia mengajar les matematika untuk beberapa anak SD, atau les Akuntansi untuk siswa SMK. Kata orang, kami berdua tua di jalan.
Sampai pada suatu saat tiba sebuah kesempatan untuk mengadu peruntungan. Ada Seleksi Penerimaan Calon PNS di Kabupaten Belitung untuk formasi Guru Akuntansi. Suamiku yang orang Batak ini segera mengambil kesempatan itu. Tidak terlalu banyak pertimbangan ini itu. Bahkan dia pun belum tahu Belitung itu ada di mana. Baginya mendapat pekerjaan tetap itulah tujuan. Sebagai istri, walau aku sudah lebih dulu menjadi PNS, hal mengikuti suami adalah sebuah kewajiban. Susah senang aku harus berada di sisinya. Tugasku hanya sebagai pendamping. Sebagai kepala keluarga dia yang harus lebih mapan. Jadi aku mendukung dan setuju dia mengikuti seleksi tersebut. Kabar gembira itu kami terima di penghujung 2004, suamiku diterima sebagai CPNS di Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Puji Tuhan.
Mulailah aku mencari tahu tentang Pulau Belitung. Aku ingat ketika aku menjalani masa sebagai Dokter Gigi PTT, aku ditempatkan di Kecamatan Koba Bangka. Tiga tahun aku menempa diri sebagai dokter gigi muda yang baru lulus di Pulau Bangka. Dan waktu itu Pulau Bangka dan Pulau Belitung adalah kabupaten bagian dari Provinsi Sumatera Selatan. Bangka Belitung resmi berpisah dari Sumatera Selatan dan menjadi Provinsi sendiri pada 21 November 2000 dan diresmikan sebagai Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan Pangkal Pinang di Pulau Bangka sebagai ibukotanya. Resmi menjadi Provinsi ke-31 di Indonesia.
Butuh waktu sekitar 1 tahun untuk suami menjalani masa CPNS-nya di Belitung dan aku mengurus segala sesuatu di Palembang untuk kepindahanku ke Belitung. Pindah rumah, pindah tempat tugas. Tuhan merahmati dengan banyak kemudahan dalam proses yang aku urus sendirian itu. Sampai tiba hari dimana aku dan anak-anak dijemput suami untuk pergi, berpisah dengan tanah kelahiran, dengan sanak keluarga di Palembang menuju tempat baru dengan harapan baru.
Kami berangkat menggunakan transportasi laut. Berangkat pagi dari Pelabuhan Boom Baru Palembang menggunakan Kapal Cepat Express Bahari. Kami tiba di Pelabuhan Mentok di Bangka sekitar pukul 10 pagi. Perjalanan dilanjutkan dengan jalan darat selama sekitar 3 jam menuju kota Pangkal Pinang dengan mobil travel. Menjelang tengah hari kami sudah tiba di Pelabuhan Pangkal Balam untuk melanjutkan lagi pelayaran selama sekitar 5 jam menuju ke Tanjung Pandan Belitung menggunakan Kapal Cepat Express Bahari yang lain. Puji Tuhan hari itu lautan teduh, gelombang tidak terlalu terasa menggoyang kapal. Anakku Gabriel yang baru berusia 3 tahun sangat menikmati pemandangan laut dari balik kaca. Sementara Audrey masih bayi dan lebih banyak tidur dalam gendonganku. Melelahkan dan penuh rasa penasaran berkecamuk dalam pikiranku. Akan seperti apa berikutnya?
BELITUNG, here we come…
Kreator : drg.Maria Cornellia Nira Widyastuti (Nira.W)
Comment Closed: BAB 1_PINDAH KE BELITUNG
Sorry, comment are closed for this post.