KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 8_MONEY LAUNDRY

    BAB 8_MONEY LAUNDRY

    BY 23 Mei 2026 Dilihat: 3 kali
    MONEY LAUNDRY_alineaku

    Ketika memutuskan pindah ke Belitung, aku sudah membayangkan akan menjalani banyak peran dalam rumah tangga ini secara mandiri tanpa bantuan dari orangtua atau keluarga terdekat. Tempat baru, lingkungan baru tanpa ada sanak keluarga, Baik dari pihakku atau pihak suamiku. Ujian kami salah satunya adalah mulai hidup secara mandiri.  

    Ketika kami mulai membangun rumah tangga, ada orang tua dan sanak saudara di sekitar kami. Kapanpun aku membutuhkan bantuan, mereka akan mudah aku jangkau. Mereka bisa kapan saja datang dan  aku tidak terlalu khawatir meninggalkan anak-anak bersama mereka. Beberapa pekerjaan rumah bahkan mereka kerjakan untuk membantuku yang habis waktu di jalan seharian. Pulang kerja, aku sering mendapati di meja makan sudah tersedia lauk pauk yang dimasak ibuku, cucian kotor sudah bersih di jemuran.  Lantai rumah sudah tidak berpasir. Mainan anak-anak sudah dibereskan. Anak-anak sudah mandi, sudah tidur siang. Intinya aku terima beres tinggal membaringkan tubuh menghilangkan penat. Senyaman itu hidupku dulu.  Aku seperti Tuan Putri diperlakukan oleh ibuku.

    Di Belitung, kisah Tuan Putri itu tidak ada lagi. Aku dihadapkan pada kenyataan tidak ada siapapun lagi yang bisa diandalkan seperti dulu. Semua harus kami kerjakan berdua mulai dari mengurus anak, mengurus rumah, mengatur waktu supaya pekerjaan dan rumah tangga bisa berjalan selaras. Lelah sudah tidak lagi bisa digambarkan karena itu berjalan terus-menerus setiap hari.  

    Dulu, aku bangun pagi di saat matahari sudah muncul. Ada ibuku atau bibiku yang sudah mendahului. Sekarang aku harus bangun bahkan ketika matahari pun belum bangun. Karena ada rumah yang harus dibersihkan, ada makanan yang harus disiapkan untuk tiga kali makan, ada anak-anak yang sudah harus dimandikan pagi-pagi benar dan diberi makan sebelum dibawa bekerja. Iya, dibawa bekerja.  Ibuku hanya sempat beberapa waktu membantu kami dalam proses penyesuaian.  Dia harus kembali ke Palembang karena ibuku juga bekerja. Apa daya, Gabriel ikut dengan papanya ke sekolah, sementara si bayi Audrey aku bawa ke puskesmas.

    Jaman itu kunjungan pasien belum seramai sekarang.  Puskesmas masih kalah pamor dengan para Mantri Suntik yang dulu banyak membuka praktik.  Dengan berat hati aku mengambil risiko bayiku terinfeksi penyakit. Tetapi bukan tanpa pertimbangan. Anak-anak akan lebih aman bersama kami, karena di rumah tidak ada siapa-siapa yang bisa mengawasi seorang pengasuh anak.  Lingkungan masih baru.  Dan yang jelas, gaji kami berdua belum cukup untuk membayar upah seorang pengasuh anak pada waktu itu.

     Aku meletakkan sebuah keranjang pakaian persegi empat yang kuletakkan di bawah meja kerja dan kuberi alas kasur bayi lengkap dengan bantal dan selimut.  Tentu saja beserta seperangkat mainan bayi, baju ganti, popok dan makanannya.  Untuk susu aku mengandalkan produksi sendiri. Anak-anakku semua mendapat ASI eksklusif bahkan sampai usia lebih dari dua tahun.  Untuk hal itu aku punya komitmen kuat.  Walau pun aku bekerja, anak-anak hanya minum air susuku.  Baik secara langsung maupun hasil memompa yang memenuhi isi kulkas.

    Audrey seperti diriku.  Dulu ketika seusianya, aku mengalami hal yang sama.  Aku banyak menghabiskan waktu kecilku di rumah sakit tempat ibuku bekerja.  Tapi tentu saja di area non-infeksius. Sekarang aku juga melakukan hal yang sama.  Anakku banyak menghabiskan waktu di puskesmas.  Aku bersyukur selama menjalani masa itu, daya tahan anak-anakku kuat, mereka jarang sekali sakit. Kalau pun sakit, hanya sebatas batuk ringan dan pilek yang cepat sembuh. Mungkin karena mereka dibentengi antibodi dari ASI yang mereka dapat serta lingkungan Belitung yang bersih dengan kualitas udara bersih minim polutan.

    Sore itu, setelah selesai menyuapi anak-anak makan, aku melanjutkan pekerjaan domestik, mencuci pakaian.  Ketika pertama kali menerima gaji di Belitung, aku membeli sebuah mesin cuci sederhana dengan kapasitas kecil, dan itu sangat meringankan pekerjaanku mencuci pakaian. Seperti biasa pakaian-pakaian kotor aku pisahkan antara yang berwarna dengan yang putih. Tetapi entah kenapa, hari itu aku tidak menerapkan SOP (Standart Operational Procedure) Mencuci Pakaian.  Aku tidak memeriksa saku-saku pakaian.  Langsung saja memutar timer dan mesin berputar.  

    Ketika mesin berhenti setelah berputar sekitar 15 menit, aku bergegas untuk melanjutkan ke tahap membilas.  Tetapi ada pemandangan yang sangat menarik sore itu.  Pemandangan yang membuat aku menyeringai.  Ada selembar uang kertas lima puluh ribu, dua lembar uang dua puluh ribu dan segulung uang seribuan mengapung di balik buih-buih deterjen.  

    Malamnya aku melapor kepada suamiku atas temuan itu.  Dan dia sedikit terkejut.  Rupanya dia memang merasa kehilangan uang sejumlah sembilan puluh ribuan.  

    “Uang bensinku itu,” katanya.

    “Untukku,ya?” ujarku bercanda, tetapi berharap.

    Raut wajahnya memelas.  “Itu untuk sampai akhir bulan, Yang.”

    Tentu saja aku tak tega. Kalau pun aku mendapatkannya, besok akan dimintanya juga ketika berangkat kerja. Jadi kuserahkan lembaran-lembaran uang yang masih lembab itu kepadanya. “Letakkan di atas koran saja supaya besok kering,”kataku.

    Dia melakukannya.

    “Kita bikin MoU (Memorandum of Understanding), ya,” kataku kemudian.  

    “MoU apa?”

    “Kalau ditemukan lagi kasus serupa.  Hasil “pencucian uang” itu akan menjadi milik yang menemukan.  Berapa pun jumlahnya.”

    “Aduh, jangan semua dong,” protesnya.

    “Makanya bantu aku. Sebelum meletakkan baju kotor di keranjang cucian, periksa semua saku baju dan celana. Aku kadang tidak sempat, langsung cemplung saja.”

    “Oke-lah,” katanya setuju tetapi berat kedengarannya.

    Setidaknya, ke depannya dia harus lebih teliti dan hati-hati menyimpan uangnya.  Aku selalu mengingatkan, bahkan hingga hari ini.  Gabriel dan Audrey juga akhirnya masuk sebagai pihak dalam perjanjian tidak tertulis itu. Mereka harus menerima resiko kehilangan uang jajannya apabila uang itu terlanjur masuk ke mesin cuci.  Aku mengajari mereka untuk tidak begitu saja melempar pakaian kotornya ke keranjang atau mesin cuci.  Harus memeriksa semua saku.  Semua benda, termasuk sapu tangan, koin dan tisu harus dikeluarkan sebelum masuk ke mesin cuci.  

    Zaman itu gaji masih sangat ketat alirannya, serupiah pun sangat berharga.  Bahkan anak-anak akhirnya lebih teliti menjaga uang jajan mereka. Hanya bapaknya yang masih sering lalai.  Bila dia protes dengan lembut, berharap uangnya kembali, minimal 50%, aku akan mengingatkan pada kesepakatan itu. Tetapi aku juga sering mendapat kegembiraan palsu, menemukan beberapa lembar uang, yang ternyata berasal dari kantong baju dinasku sendiri. Namun demikian, terlepas dari saku siapa uang itu muncul, menemukannya saat tanggal tua di ujung bulan terasa memberi harapan.

    Sekarang sudah jarang kutemukan lembaran uang seribu. Nominalnya sudah lebih tinggi. Paling kecil nilai uang temuan praktik Money Laundry di mesin cuciku adalah lima ribu. Pernah suatu hari aku mendapat temuan besar. Yang mengapung di balik buih-buih deterjen adalah lima lembar uang bergambar Soekarno-Hatta, dan 4 lembar uang berwarna biru dengan gambar wajah Ir. Djuanda. Tapi sekali ini aku heran,  suamiku tidak merengek minta bagi hasil seperti biasa.

    “Selamat ulang tahun, ya. Itu honor pertamaku mengajar di kampus hadiah buatmu, aku lupa keluarin tadi pagi.” Sebuah kecupan lembut mendarat di pipiku yang berminyak-minyak.

    Dengan hati-hati kuangkat satu per satu hadiah ulang tahunku dari air deterjen, kubilas dengan lembut, ku tiriskan dan ku keringkan dengan sepenuh hati. Hatiku berbuih-buih harum mewangi seperti busa deterjen sore itu.

     

     

    Kreator : drg. Maria Cornellia Nira Widyastuti (Nira.W)

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 8_MONEY LAUNDRY

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021