Kapal merapat saat matahari sudah tenggelam, langit sudah mulai gelap dengan semburat jingga di cakrawala Barat. Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah ternyata begitu indah langit itu. Pemandangan yang nyaris tidak pernah kulihat di setiap senja hariku selama ini. Aku tidak pernah melihat cakrawala begitu indah tanpa terhalang apapun. Semua terbentang begitu saja di ufuk Barat. Aku seperti manusia yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ada sedikit rasa berdebar dan kagum.
Kami semua kelelahan setelah menempuh perjalanan 12 jam. Dan aku sempat mabuk laut karena diayun gelombang Selat Bangka dan Selat Gaspar. Aku tidak setangguh itu untuk perjalanan di laut. Ayunan kecil pun akan mengaduk isi lambungku. Kami segera menuju ke rumah dinas pegawai Puskesmas Air Saga. Suamiku sudah mengurus semua dan mempersiapkan rumah tersebut sehingga siap ditempati saat kami datang. Aku mendapat penempatan di Puskesmas Air Saga. Sebuah puskesmas yang menghadap ke pantai. Bersyukur ada satu rumah dinas yang kosong dan bisa kami tempati.
Rumah tipe 36 dengan dua kamar tidur dan dapur mungil. Sedikit membuatku merasa aneh karena aku terbiasa dengan rumah yang memiliki ruangan luas, dua lantai dengan dapur yang bisa menampung banyak barang. Tapi semua ini tetap aku syukuri. Setidaknya di sini kami berempat berkumpul. Lagi pula anak-anakku masih balita. Aku tidak membutuhkan ruangan luas yang akan sulit aku bersihkan sendiri. Bilik kami tidur hanya bisa memuat satu tempat tidur ukuran 2×2 meter dan menyisakan sedikit celah untuk kami lewati. Kamar lainnya kami pakai untuk meletakkan banyak barang rumah tangga yang belum sempat kami tata. Home Sweet Home, bisikku sambil menutup jendela. Saatnya merebahkan badan untuk mengisi ulang tenaga yang terkuras sepanjang hari ini.
Tengah malam aku terbangun, merasa ada yang menggoyang tanganku. Aku menghidupkan lampu meja dan mendapati anakku Gabriel belum tidur. Dia menatapku dan aku melihat bahwa dia seperti merasa takut.
“Ada apa? Kenapa belum bobok?” tanyaku sambil mengelus kepalanya.
“Mama tidak dengar itu?” tanyanya.
Alisku berkerut. “Dengar apa?” bisikku.
Tiba-tiba telingaku menangkap suara dari luar rumah, tepatnya dari arah belakang dan samping rumah. Suara yang baru pertama kali aku dengar. Bersahut-sahutan dengan irama dan tempo yang teratur. Aku tersenyum dan segera mengajaknya menuju ke arah jendela samping rumah. Kubiarkan hanya lampu teras yang menerangi. Kugendong Gabriel dan mendekat ke jendela. Kusibak tirai dan kucari asal suara itu. Tak lama kutemukan 2 ekor kodok berukuran tidak terlalu besar sedang bertengger di dekat selokan.
“Lihat,..itu ada kodok, Bang,” kataku sambil menunjuk ke arah selokan. “Itu suara kodok, Bang.”
Gabriel kecil berusaha mendekat ke jendela. Rasa ingin tahunya muncul. Dia belum pernah melihat hewan itu seumur hidupnya di kota besar. Dia hanya tahu kodok dari cerita-cerita dongeng dan tontonannya di televisi.
“Mama, lihat. Lehernya bengkak,” serunya setengah berbisik.
Lalu terdengar bunyi “kung” saat leher kodok itu mengempis. Gabriel kecil tertawa sumringah. Tak lama kembali terdengar bunyi yang sama dari arah berbeda, lagi dan lagi, bersahut-sahutan, seperti bunyi tabuhan alat musik,..kung…kung…kung…
“Kodoknya sedang bernyanyi, Bang,” kataku sambil memeluknya.
Jujur, itu suara kodok yang berbeda dengan yang selama ini kudengar. Memoriku belum pernah menangkap bunyi yang seperti itu. Lebih ke suara krok..krok..krok. Ini benar-benar menggetarkan kekagumanku. Tak hanya suara tabuhan itu, tetapi ternyata ada banyak bunyi lain yang mengisi alam malam itu. Ada suara jangkrik bak penyanyi sopran dengan nada tingginya. Ada cuitan burung-burung malam di langit dengan dinamika forte lalu mengalun lembut ke piano, menjauh. Tidak ada suara lain selain suara alam yang riuh membuai. Telingaku seperti dibersihkan dari kebisingan dan hiruk pikuk malam di kota.
Sebuah malam yang begitu tenang dan damai. Malam pertama kami disambut tabuhan alam yang menggetarkan hati. Aku dan Gabriel kecil beruntung bisa menikmati itu. A very peaceful midnight concert.
Kreator : drg.Maria Cornellia Nira Widyastuti (Nira.W)
Comment Closed: BAB 2_TABUHAN ALAM PENGGETAR MALAM
Sorry, comment are closed for this post.