Bagi sebagian Kaum Perintis, istilah bagi orang-orang yang membangun kehidupannya dari dasar tanpa kemudahan atau keuntungan tertentu, hidup tetap harus dinikmati walau dengan cara yang sederhana tanpa harus kehilangan makna. Seperti momen ulang tahunku yang kali ini kami nikmati berempat dengan menikmati suasana di sebuah kedai kopi legendaris di Tanjung Pandan.
Adalah Kedai Kopi Kong Djie yang sekarang menjadi Kong Djie Coffee mengikuti arus jaman supaya terdengar lebih kekinian. Sebuah kedai kopi yang berada di pusat kota Tanjung Pandan, tepatnya di sebuah pojok jalan, di tepi Sungai Siburik. Lokasinya cukup strategis, tidak jauh dari pasar, pertokoan lama, pelabuhan kapal, rumah sakit, sekolah dan persis berseberangan dengan Gereja Katolik Maria Regina Pacis.
Kedai kopi yang hingga kini tetap mempertahankan nuansa tempo dulu dengan tidak mengubah bangunan aslinya sejak awal berdiri di tahun 1943, Didirikan oleh seorang perantau asal Pulau Bangka bernama Ho Kong Djie. Kedai ini dirintis ketika Jepang masih menjajah Indonesia, masa yang sulit bagi perekonomian kala itu. Awal mulanya hanya menjual kopi racikan sederhana dengan cara mengasong, sampai akhirnya pada sekitar tahun 1946 mulai menjual di kedai pojok jalan itu.
Cita rasa khas Kopi Kong Djie adalah dari perpaduan biji kopi jenis Robusta dan Arabica yang diracik secara turun temurun. Proses roasting dilakukan secara tradisional menggunakan kuali besar di atas tungku kayu, memunculkan aroma smokey yang khas. Pada jam-jam tertentu menjelang tengah hari,di pusat kota Tanjung Pandan akan tercium aroma sedap kopi yang sedang disangrai. Memancing selera para pelintas jalan untuk sejenak menikmati segelas kopi. Aroma yang menyapa jiwa yang lelah untuk sejenak menepi.
Di jendela kedai akan tampak tungku arang dengan 2 atau 3 teko stainless (ceret) berukuran besar berbentuk khas ciri sebuah kedai kopi di Belitung. Itu adalah tempat merebus air. Kopi tubruk yang disajikan, disaring menggunakan kain langsung di gelas. Tidak menggunakan mesin Espresso. Tersedia Kopi O, sajian kopi hitam tanpa gula, yang menjadi andalan kedai, Kopi Susu, campuran Kopi Tubruk dengan Kental Manis yang legit dengan sedikit sensasi pahit khas kopi. Untuk jenis yang manis ini bagi yang menderita Diabetes tidak direkomendasikan. Sebaiknya membuat pesanan khusus dengan mengurangi pemakaian Kental Manisnya. Ada juga varian Teh, mulai dari yang tawar, manis sampai Teh Susu yang banyak digemari pelanggan remaja.
Suamiku memesan Kopi O sementara aku memesan Es Kopi Susu yang legit itu. Dan anak-anak minta Es Teh Susu. Kami menikmati suasana malam sambil menikmati kue-kue tradisional yang juga disajikan di kedai seperti Pisang Goreng, Roti Goreng Isi Kelapa dan aneka roti lainnya. Hanya itu sajiannya tapi hampir tidak ada kursi atau bangku yang kosong. Penuh dan ramai dengan gelak tawa serta obrolan.
Sambil menyeruput kopi, kami menyimak beberapa obrolan yang tertangkap telinga. Ada sepasang bapak yang sedang membahas tipe-tipe calon pemimpin yang sedang bersaing untuk merebut hati rakyat sambil menggeser bidak-bidak catur. Ada obrolan seru tentang partai apa yang berpeluang besar untuk menang Pemilu di pojok kedai. Ada yang sedang berkeluh kesah tentang beratnya perekonomian negara saat itu sehingga usaha toko kelontongnya terimbas. Ada juga anak muda yang bernyanyi sambil memetik okulele di kursi sebelah. Suasananya benar-benar hidup.
Semua tema obrolan bisa muncul di kedai sederhana itu. Seperti sebuah Parlemen, tempat berkumpul orang-orang menyuarakan aspirasi, bertukar pikiran, berdebat, berkelakar, bahkan merenung di tengah keramaian kedai. Topik terhangat seputar ekonomi, politik dalam negeri bahkan luar negeri bisa muncul. Gosip-gosip terbaru seputar tokoh politik, artis bahkan tetangga juga sering terdengar. Bahkan kisah pilu juga ada. Yang tidak saling mengenal bisa menjadi akrab dalam obrolan di hadapan segelas kopi. Berbagai usia, berbagai latar belakang etnis, budaya, agama dan jabatan pun ada di Kedai Kong Djie pada jam operasionalnya. Sejak pagi merekah sampai larut malam. Silih berganti datang mencari si Hitam Manis Siburik River Side.
Dari segelas Kopi Kong Djie malam itu aku belajar bahwa rasa pahit juga bisa dinikmati. Pahit yang mewakili sebuah proses hidup. Pahit yang tetap manis bagi penikmatnya. Pahit yang tidak bersembunyi dan pada akhirnya memberi ketenangan di saat bisa disyukuri dan dimaknai.
Kreator : drg. Maria Cornellia Nira Widyastuti (Nira.W)
Comment Closed: BAB 9_SI HITAM MANIS SIBURIK RIVER SIDE
Sorry, comment are closed for this post.