Senin kali ini adalah hari yang penuh dengan semangat. Hari pertamaku bertugas di Poli Gigi Puskesmas Air Saga setelah minggu lalu melalui masa orientasi. Aku seperti alat eletronik yang baru saja ganti batere baru. Siap bertugas. Siap bertemu dengan pasien pertamaku di Belitung. Aku sudah tidak sabar untuk mulai melayani di Poli Gigi.
Karena hari itu adalah hari Senin, maka aku memakai seragam PNS berwarna khaki kehijauan sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk Pakaian Dinas Harian Senin. Semalam sudah disetrika dan kuberi pengharum pakaian. Tak lupa kupakai deodorant andalan yang motto-nya “Setia Setiap Saat” dan itu wajib bagiku. Kenapa wajib? Karena posisi wajah pasien akan sering berada tepat di bawah ketiak dokter gigi ketika melakukan pemeriksaan atau tindakan. Jarak yang mungkin saja tidak sampai 30 sentimeter. Bayangkan penderitaan pasien yang sedang sakit gigi akan bertambah bila harus menghirup aroma semerbak tak sedap dari ketiak dokter giginya. Jadi bagiku, deodorant is a must.
Aku disambut Kak Mike, Perawat Gigi. Menyebutnya “Mi-ke”,ya, bukan “Maik”. Orangnya cantik dan senyumnya manis sekali dengan deretan gigi yang sehat dan rapi. Sebagai seorang dokter gigi ketika berhadapan dengan seseorang, yang pertama kali dituju pandangannya adalah area mulut lawan bicara. Hal itu otomatis saja. Seperti sudah setelan pabrik sejak lulus menjadi dokter gigi, bahkan ketika menonton artis bernyanyi di televisi, aku pertama-tama akan memperhatikan giginya. Seperti dua kutub magnet yang berbeda saling tarik menarik. Mata ini langsung ke situ.
Kak Mike ternyata asli orang Palembang. Di situ aku merasa mendapat teman ketika hasrat ingin banyak bercerita tetapi masih terkendala bahasa daerah yang belum fasih, keberadaannya menjadi penghibur. Setidaknya kalau aku masih menggunakan Bahasa Palembang, ada lawan bicara yang bisa menanggapi. Kak Mike sudah menyiapkan alat-alat kerja di Dental Unit, dan mengatakan bahwa sudah ada dua pasien dalam antrian. Kulihat ada dua map Rekam Medis di meja. Jaman itu belum ada Rekam Medis elektronik. Semua masih serba manual. Ditulis tangan.
Pasien pertamaku seorang nenek berusia 66 tahun. Walau angka itu sudah tinggi, tetapi ternyata yang muncul adalah seorang wanita tua yang masih gagah berdiri tegak dan berjalan tanpa menggambarkan nyeri lutut atau encoknya. Benar-benar masih bugar nenek ini, pikirku. Dan ketika dia berbaring di kursi gigi, senyumnya mengembang dengan deretan gigi yang tinggal beberapa.
“Tulong cabut gigi nok sikok ini, Buk Dokter,” katanya sebelum aku sempat bertanya. Dia menunjuk pada satu gigi geraham kecil kiri bawahnya. “Semalam sakit benar.”
“Aku lihat dulu, ya, Nek,” jawabku sambil mulai memeriksa kondisi giginya.
Dan ternyata kondisi gigi yang ditunjuk itu ada lubang besar, gusinya sedang meradang kemerahan, gejala akan bengkak dan ketika kusentuh dengan kaca mulut, muncul reaksi kesakitan. Aku meletakkan kaca mulut.
“Nek,..ini gigi Nenek gusinya masih radang, masih sakit.”
“Ndak, aku ndak radang, aku sihat. Aku nak cabut gigi, ukan berubat radang,” katanya menolak penjelasanku.
“Loh, ini gusinya memang lagi radang, Nek. Sakit, kan, waktu tadi di pegang?”
“Dokter ni kiape lah,”(Dokter ini gimana, sih?) ujarnya dengan wajah mulai kesal. “Tingok idung aku dak de ingus. Aku dak radang. Sihat aku,” (Lihat hidungku tidak ada ingus. Aku sehat) jawabnya lagi sambil mendungak menunjukkan lubang hidungnya. “Ngape jadi gusi nok radang. Radang tu di sini.” Sekali lagi ditunjuknya hidungnya.
“Nek!” Tiba-tiba Kak Mike menyentuh pundak Si Nenek. “Maksud Bu Dokter, gusi Ninek agik sakit, nak bengkak, mirah meradang, ukan radang pilek, Nek. Radang gusi tek, infeksi gusi maksud e.”
Aku menyimak saja ketika penjelasan diambil alih Kak Mike. Aku belum nyambung dengan topik mereka.
“Oh, gusi ade radang juak rupe e,” ujar Si Nenek tercerahkan.
“Iye, Nek, tapi ukan radang pilek. Ini radang gusi,” kata Kak Mike lagi.
Si Nenek akhirnya menurut untuk pengobatan gigi, menunda tindakan cabut giginya. Kami berjanji akan bertemu lagi 5 hari kemudian setelah obat dituntaskan. Kak Mike menjelaskan bahwa kata “radang” bagi orang Belitong artinya pilek. Mulutku langsung membentuk huruf “O” sambil mengangguk-angguk. Pantas tidak nyambung, pikirku. Dan sejak hari itu, aku lebih memilih untuk menggunakan kata “infeksi” daripada “radang”yang homonim bila harus menjelaskan kepada pasien.
Pasien berikutnya seorang anak berusia 6 tahun. Masih mengenakan seragam sekolahnya. Dugaanku, anak ini langsung dari sekolah dibawa ibunya ke puskesmas untuk dicabutkan gigi susunya yang goyang. Seperti pada umumnya pasien anak-anak yang berkunjung ke dokter gigi, kesan takut dan cemas tergambar jelas di wajah dan sikapnya. Aku berusaha menampilkan wajah ramah dan menyambutnya dengan pujian betapa gantengnya dia dengan baju seragam itu. Berharap dia lebih santai dan kooperatif.
Duduklah dia di dental chair tanpa bantuan. Aku segera mengambil posisi, siap untuk melihat giginya. Tetapi tiba-tiba anak tersebut bangkit dari kursi gigi dan langsung berlari ke arah ibunya sambil berseru ketakutan.
“Maaak! Aku dak nak dicabut gigi kan Hansip!” serunya. “Balik kite,Mak. Dak nak aku.” (Mak, aku tidak mau dicabut gigi oleh Hansip. Pulang kita, Mak. Tidak mau aku). Anak itu menarik tangan ibunya mengajak keluar ruangan.
Kami semua terkejut. Beberapa saat aku terdiam sampai akhirnya kusadari asal muasal permasalahan. Aku melihat pada tulisan di dada kiriku. Ada tertulis besar di sana, “HANSIP”. Aku segera berkata pada Ibu Si Anak bahwa anak itu sepertinya salah menduga karena membaca tulisan di baju seragam kami hari itu. Dan aku meminta waktu sebentar untuk mengganti pakaian.
Sebagai informasi, pada jaman itu PDH khaki PNS memang bertuliskan “HANSIP” singkatan dari Pertahanan Sipil. Warnanya pun beda tipis dengan seragam Hansip yang sering ikut ronda menjaga keamanan kampung. Lalu sempat berganti dengan kata “LINMAS” singkatan dari Perlindungan Masyarakat, sampai akhirnya sejak 2002 tidak ada lagi PDH khaki seperti itu.
Aku pulang ke rumah dinas bergegas mengganti seragam itu dengan pakaian biasa dan memakai Snelli dokter, lalu kembali ke puskesmas dengan penampilan baru. Penampilan sejati seorang dokter dengan jas putihnya. Anak tersebut sempat ragu pada awalnya, tapi akhirnya dengan penjelasan sedikit panjang lebar, dia bisa diyakinkan bahwa aku benar-benar dokter gigi, bukan Hansip Tukang Cabut Gigi.
Kreator : drg. Maria Cornellia Nira Widyastuti (Nira.W)
Comment Closed: BAB 5_HANSIP TUKANG CABUT GIGI
Sorry, comment are closed for this post.