Di hari terakhir masa orientasi, aku menjalani tugas observasi di Poli Umum. Di poli yang selalu ramai pasien ini, aku pertama kali berkenalan dengan Ko Joko, seorang dokter umum yang usianya hanya terpaut satu tahun lebih tua dariku. Karena beliau seorang Tionghoa, dia mengatakan lebih suka dipanggil “Koko”, sebutan untuk abang bagi orang Tionghoa. Katanya kalau dipanggil “bapak” terasa tua baginya. Beliau sangat ramah, dan suka melucu. Selama pengamatan, banyak sekali jokes yang dia buat untuk membuat pasien-pasiennya tertawa. Katanya, kalau pasien datang sudah sakit kepala, demam, setidaknya tertawa akan sedikit meringankan rasa sakit. Karena menurut Ko Joko, hati yang gembira adalah obat.
Suatu ketika Ko Joko meminta bantuanku untuk meminta blanko resep yang sudah hampir habis ke ruangan Kantor Tata Usaha. Aku pun dengan sigap segera menuju ke ruangan Pak Pahrul, Kepala Tata Usaha puskesmas. Ruangannya sepi. Pak Pahrul ternyata sedang ke Dinas Kesehatan. Hanya ada Bu Dede di sana yang sedang mengetik sesuatu.
Waktu itu belum ada komputer sebagai fasilitas administrasi kantor. Komputer masih termasuk barang mewah yang belum semua kantor memilikinya. Jadi di ruangan Pak Pahrul hanya ada dua mesin tik. Satu mesin tik berukuran besar yang nampaknya sudah sangat tua, dengan tuas yang sudah berkarat, dan ukurannya memenuhi satu meja kerja Pak Pahrul. Bu Dede mengetik di meja sebelahnya dengan mesin tik merk Royal yang lebih terbaru dan berukuran jauh lebih kecil.
Suara ketukan mesin tik terdengar memenuhi ruangan yang sepi itu. Ketukan yang bertenaga dari jari jemari Bu Dede yang kecil mungil. Sudah pasti para sekretaris pada masa itu akan sangat tersiksa bila menggunakan Nail Art, kuku artificial yang panjang runcing. Karena berbeda bila mengetik pada keyboard komputer atau laptop masa kini yang hanya dengan sentuhan atau tekanan minimalis sudah dapat menghasilkan huruf. Para pengguna mesin tik jadul harus menggunakan kekuatan jari jemari untuk mengetuk tuts atau tombol-tombol huruf supaya tercetak huruf pada kertas. Alangkah gagah otot-otot jemari para pengetik yang bisa menggunakan kesepuluh jarinya saat mengetik. Sementara Bu Dede kulihat mengetik dengan terbata-bata menggunakan jari tengah dan telunjuknya saja bergantian. Maklum saja karena dia seorang perawat bukan sekretaris.
“Dokter kalau mau ketemu Pak Pahrul nanti sekitar jam 10 baru dia datang,” ujar Bu Dede saat melihat aku di ambang pintu.
“Oh, begitu, ya.” Aku memutar pandangan ke sudut-sudut ruangan, berharap melihat tumpukan blanko resep yang kucari.
“Dokter mau cari apa?”
“Blangko resep Poli Umum hampir habis, Bu. Apakah Ibu tahu dimana bisa mendapat yang baru?” kataku.
“Mun stok blangko ku kurang paham dimane Pak Itam simpan. Tapi kinik kuang pakai dulu nok punya Poli Anak , ade due, nok sikok lum terpakai. Kinik, Dok, ye..suat kinik kuantar.” (Kalau stok blangko aku tidak tahu Dimana Pak Itam simpan. Tapi bisa pakai punya Poli Anak, ada dua, yang satu belum terpakai. Sebentar, ya Dok).
“Saya tunggu aja, Bu, biar saya yang bawa,” kataku.
“Kinik, Dok , usa ditunggu.”
“Dak apa, Bu, saya tunggu.” Aku merasa yakin itu tidak akan lama karena Bu Dede mengatakan “kini”, lebih baik aku menunggu daripada merepotkan dia.
Aku mengambil kursi dekat pintu dan duduk menunggu.
Pak Itam itu ternyata nama panggilan untuk Pak Pahrul, karena beliau memang berkulit gelap. Di Belitong banyak nama sebutan untuk seseorang berdasarkan penampakan fisik. Ada Pak atau Mak Anjang untuk orang yang posturnya jangkung, asal kata dari “panjang”, ada Pak atau Mak Cik untuk yang tubuhnya mungil, asal kata dari “kecik atau kecil”. Ada Pak atau Mak Ute untuk yang berkulit putih, asal kata dari “puteh atau putih” selain sebutan Pak atau Mak Long untuk paman dan bibi paling tua. Pak atau Mak Nga untuk paman dan bibi anak tengah. Pak Busu dan Mak Busu untuk paman atau bibi anak bungsu.
Sebagai orang Jawa tulen yang lahir dan besar di Palembang serta bersuamikan orang Batak, aku merasa diperkaya dengan banyak bahasa daerah yang aku kuasai. Aku hidup di keragaman budaya. Di keluarga ayahku yang ningrat Solo, aku masih merasakan unggah-ungguh priyayi Jawa, dengan tiga level Bahasa Jawa yang harusnya otomatis bisa kupakai tergantung kepada siapa aku bicara. Tapi pada kenyataan aku hanya menguasai Bahasa Jawa sudra yang lumrah dipakai kepada usia sebaya atau yang lebih muda. Sehingga aku seperti anak pendiam bila berkumpul di keluarga pihak ayahku. Perkaranya hanya karena aku tidak menguasai Bahasa Jawa level terhalus itu.
Berbeda bila aku berada di keluarga pihak ibu yang berada di Lampung. Mereka adalah transmigran bedol desa pada jaman dulu dan beranak pinak di daerah transmigrasi di Lampung. Bahasa mereka hanya satu. Bahasa Jawa ngapak. Ini menjadi perekat erat saat bersama mereka. Kami leluasa tertawa terbahak-bahak. Satu dengan yang lain bisa berinteraksi dengan nyaman tanpa banyak aturan. Walau pun begitu aku tetap mencintai kedua budaya itu. Yang satu membuatku merasa anggun menggunakannya, sementara yang lain membuatku merasa leluasa tanpa banyak pantangan.
Di lain waktu aku harus aktif ber-adat di keluarga pihak suami yang Batak Toba, dimana kekerabatan terasa sangat erat. Dimanapun diri berada akan mudah menemukan “keluarga”. Hanya butuh bertanya “Apa margamu, mamakmu boru apa”, itu akan bisa ditelusuri silsilah kekerabatannya. Kita akan tahu berada di posisi apa dengan orang tersebut. Bisa jadi usia kita lebih tua, tetapi dalam silsilah marga kita harus memanggilnya Tulang, Amangboru atau bahkan Opung. Atau sebaliknya kita yang dipanggil Opung oleh orang yang jauh lebih tua dari kita. Ya,..itulah keunikan setiap adat dan budaya. Untuk satu hal ini, aku kaya.
Sekarang sudah 5 menit lebih menunggu Bu Dede mengetik yang katanya “kini” tetapi dia belum juga beranjak dari depan mesin tik itu. Dan beberapa kali, sambil mengetik dia mengucapkan “Kinik, Dok, ye.”
Beberapa kali juga aku mengiyakan tapi dengan hati bertanya-tanya dan mulai menggerutu. “Kini..kini..tapi tidak beranjak juga dari situ.”
Sampai akhirnya ketikannya selesai dan dia mengajakku ke Poli Anak untuk mengambil buku blangko yang kuminta. Aku menghela napas membuang rasa jengkel. Kembali aku ke Poli Umum dan Ko Joko melihat air muka ku tidak seceria tadi.
“Cuma diberi satu buku, ya, Dok?” tanyanya sambil menerima buku blangko itu.
“Maaf, Ko. Pak Itam lagi ke Dinkes, Bu Dede tidak tahu dimana buku-buku itu disimpan. Jadi ini diberi yang punya Poli Anak.”
“Kinik mintak mun Pak Itam lah balik, cepat abis soal e, dak cukup sikok.”
Aku merasa aneh. Dan sepertinya memang harus aku tanyakan.
“Ko,..sekarang?”
“Kiniklah, nunggu Pak Itam balik, Dok.”
Beberapa saat Ko Joko tidak menyadari aku melihat kepadanya dengan pandangan bingung. Sampai kemudian dia melihatku dan berkata, “Astaga..,” serunya sambil menggaruk kepala lalu tersenyum seperti ada yang lucu. “Jadi tadi lama karena ditunggu?”
Aku mengangguk.
Dia tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“I feel you,” katanya tetap dengan tertawa. “Dulu waktu istriku baru datang dari Jakarta juga seperti Dokter Lia. Dan kami ribut karena satu kata itu. Dia mengajak makan siang di luar, aku bilang “kiniklah”. Dia segera mandi dan berdandan, sementara aku melanjutkan pekerjaan. Dia menunggu sampai lewat jam makan siang. Dan saat kami bertemu, pecahlah suasana, aku diomeli tak habis-habis sampai maghrib. Aku tak merasa bersalah, dan dia merasa aku ingkar janji. Hanya gara-gara kata “kinik” itu.”
Ternyata,..”kinik” dalam Bahasa Belitong berarti “nanti”.
“Nanti minta tolong aku dibantu, catatkan semua kunjungan pasien Poli Umum di Buku Register, ya,Dok,” pintanya.
“Oke, Ko.. kiniklah ye,” jawabku dengan bangga merasa sudah bisa menggunakan kata “kinik” dengan pemahaman yang benar.
Kreator : drg.Maria Cornellia Nira Widyastuti
Comment Closed: BAB 4_KINI TAPI NANTI
Sorry, comment are closed for this post.