Lain ladang, lain ilalang. Walaupun sudah punya pengalaman bekerja di puskesmas sebelumnya, aku tetap harus memulai semua dari awal lagi di tempat baru. Dan walau tempat yang baru ini juga puskesmas, tetapi beda tempat beda peraturan, beda alur pelayanan, beda rekan kerja, beda suasana kerja dan beda budaya kerja. Aku harus menjalani Masa Orientasi Pegawai Baru selama 6 hari kerja di Puskesmas Air Saga.
Dan setelah perkenalan dengan seluruh pegawai puskesmas, aku memulai masa orientasiku di Loket Pendaftaran. Tugasku mulai dari observasi bagaimana alur pelayanan di loket yang berada di sebelah kiri setelah pintu masuk puskesmas. Ada Kak Murni dan Kak Istin sebagai petugas di bagian pendaftaran yang menjadi mentorku selama satu hari di situ.
Di Belitung, sedikit berbeda untuk panggilan kepada seseorang. Kalau di Palembang, panggilan Kak itu untuk laki-laki. Di Belitung panggilan Kak itu untuk perempuan. Aku masih kagok dengan hal itu. Beberapa kali aku masih menyebut kata “Ayuk” kepada keduanya. Dan mereka memaklumi itu. Dalam satu jam aku mengamati hampir 10 pasien yang mendaftar. Ada pasien lama, ada yang baru. Semua dimulai dengan pertanyaan awal: “Nak berubat ape?” (Mau berobat apa?).
Satu lagi yang kupelajari pagi itu yaitu akhiran “e” seperti bunyi “e” pada kata “emak”. Berbeda dengan bunyi “e” pada Bahasa Bangka yang seperti bunyi “e” pada kata “enak”. Dan tentu saja berbeda jauh dengan akhiran “o” pada Bahasa Palembang yang aku kuasai sejak balita. Padahal tiga pulau ini bersebelahan dan pernah menjadi satu provinsi.
Setelah dirasa cukup mengamati, Kak Murni mempersilahkan aku untuk mulai mencoba menjadi petugas loket pendaftaran. Diberinya aku satu pasien laki-laki paruh baya yang baru pertama kali datang berobat alias pasien baru. Dan meniru mentor, aku membuka dengan senyum dan pertanyaan yang sama: “Bapak nak berubat ape?”. Tentu saja masih lekat logat Palembang di lidahku walau aku berupaya mengakhiri kata dengan huruf “e”. Terasa kaku dan aneh ketika aku yang mengucapkannya.
Bapak itu menjawab, “Nak berubat peranakan, Buk..lah tige ari dak nyaman badan.”(Mau berobat peranakan, Bu..sudah tiga hari tidak enak badan)
Alisku naik sebelah. Aku mencoba mengulangi pertanyaanku.
“Bapak sakit ape?”
“Ukan, Buk. Peranakan nok sakit.” (Bukan, Bu. Peranakan yang sakit) katanya menggeleng.
Aku mencoba mengamati Bapak itu dengan seksama. Ini benar laki-laki tapi sejak kapan laki-laki mengalami sakit peranakan, pikirku. Seumur hidupku sebagai anak seorang Bidan, aku sering mendengar Ibuku mengucapkan kata “peranakan” dan itu adalah kata lain dari “rahim”.
Proses pendaftaran macet. Aku yang bingung mencari Kak Murni yang sedang membalik-balik lembaran rekam medis di sudut ruangan.
Aku berbisik kepadanya. “Kak, maaf aku bingung.”
Kak Murni menoleh. “Kenapa, Dok?”
“Itu bapak mau daftar berobat, pasien baru. Tapi katanya yang sakit peranakannya. Sejak kapan bapak-bapak sakit peranakan, Kak?” kataku tetap berbisik.
Kak Murni sejenak menoleh ke arah Bapak itu. Lalu pecahlah tawanya sambil menepuk-nepuk lenganku. Aku semakin bingung. Kak Istin jadi ikut bertanya penasaran karena Kak Murni tertawa sampai keluar air di sudut matanya. Lalu setelah reda ia menarik napas panjang. Dia mengambil alih pendaftaran pasien itu.
“Peranakan di bawak ke?” Tanya Kak Murni kepada Bapak itu, membuat aku semakin bingung. Lah, kok, malah ditanya peranakannya dibawa atau tidak.
“Ade, Buk, itu,” jawabnya sambil menunjuk ke kursi tunggu. Seorang wanita sedang menggendong balita yang tampaknya demam.
Aku diam di sebelah Kak Murni, mengamati lagi proses pendaftaran itu yang ternyata atas nama seorang balita. Sampai selesai proses itu, baru Kak Murni kembali kepadaku.
“Maaf, Dok. Di Belitong peranakan itu artinya anak, bukan rahim, Dok. Kalau dia menyebut “urang bini” artinya istri, kalau disebut “belau tue” artinya orang tua,” jelasnya masih dengan sedikit tertawa. Aku hanya mengangguk-angguk, mencoba menyimpan kosa kata baru ke dalam memoriku.
Pelajaran hari itu ternyata bukan sekedar alur pelayanan pendaftaran pasien, tetapi aku lebih banyak belajar tentang kata-kata baru yang ke depannya akan menjadi bahasa harianku di sini.
Dan ketika ishoma Pak Paouzi bertanya, “Peranakan dimane, Dok? Ade berape?”
Aku dengan lancar menjawab, “Peranakanku di rumah, Pak, ada dua.” Sambil ku angkat dua jari.
Kreator : drg.Maria Cornellia Nira Widyastuti (Nira.W)
Comment Closed: BAB 3_PERANAKAN BAPAK SAKIT
Sorry, comment are closed for this post.