Tahun 2013 adalah tahun paling sibuk dalam hidupku. Selain status mahasiswa S2 Prodi Pendidikan Bahasa Inggris di sebuah universitas di kota seberang, aku pun menambah atribut baru: dosen honorer di salah satu kampus swasta di kotaku. Tidak cukup sampai di situ, setelah Rumah Pintar Muntigunung diresmikan oleh Ibu Negara, Ibu Ani Yudhoyono, aku pun menyandang gelar baru: tutor paket C Rumpin Munti Gunung.
Aku benar-benar tak pernah membayangkan, kampung kecil kami yang dulu sepi, identik dengan cerita sedih dan stigma “kampung gepeng”, kini mendadak jadi ramai. Pada November 2013, sejak kabar kunjungan orang nomor satu di negeri ini tersebar, suasana kampung berubah drastis. Di pinggir-pinggir jalan desa, orang-orang asing berlalu-lalang, ada yang jual bakso, es krim, balon, bahkan mainan anak-anak. Tapi konon katanya, banyak dari mereka adalah petugas yang menyamar.
Pejabat pun silih berganti datang. Mulai dari pejabat tingkat kabupaten, provinsi, hingga dari pusat. Semua bersiap menyambut kedatangan Presiden dan Ibu Negara yang akan meresmikan Rumah Pintar Muntigunung, sebagai simbol bahwa pendidikan harus bisa merata sampai ke pelosok negeri.
Sebagai salah satu tutor, aku menatap haru warga belajarku, warga belajar paket C, yang setara siswa SMA. Dari segi usia, mereka sangat bervariasi. Ada yang baru lulus SMP, ada yang usia 30-an, bahkan ada pula yang sudah memasuki kepala lima. Status mereka pun bermacam-macam. Ada yang masih lajang, ada yang sudah menikah dengan anak lebih dari dua, bahkan ada yang cucunya sudah mulai sekolah dasar.
Dari segi pekerjaan pun beraneka ragam. Ada yang sehari-hari menjadi ibu rumah tangga, ada yang menganggur, ada pula yang bekerja sebagai karyawan swasta di kota, dan seorang satpam hotel di kawasan wisata. Masing-masing datang dengan ceritanya sendiri, dengan perjuangan dan alasan mengapa mereka ingin tetap sekolah meski usia dan keadaan seringkali tidak berpihak.
Aku selalu kagum pada semangat mereka. Bagiku, mereka bukan sekadar warga belajar. Mereka adalah orang-orang hebat yang tidak menyerah oleh keadaan. Pernah suatu kali, salah satu warga belajarku, Puri, yang usianya usianya sebetulnya masih 18 tahun, namun sudah menikah dan memiliki bayi. Dia berkata padaku saat aku bertanya kenapa masih mau sekolah,
“Saya ingin punya ijazah SMA, Bu. Biar anak saya tidak malu nanti punya Ibu hanya lulusan SMP.”
Aku terdiam saat itu. Hatiku seperti diremas. Aku sadar, bagi sebagian orang, pendidikan mungkin soal gelar, soal pekerjaan, atau soal gengsi. Tapi bagi mereka, pendidikan adalah tentang harga diri dan tentang harapan sederhana yang tak boleh padam.
Rumpin Munti Gunung memberiku banyak cerita. Tempat sederhana yang berdiri di atas tanah kelahiranku itu menjadi saksi betapa pendidikan bisa mengubah arah hidup seseorang. Bahkan, di tempat itulah beberapa mimpiku yang dulu hanya aku bisikkan dalam hati, perlahan mulai terwujud.
Aku masih ingat, pertama kali bergabung di Rumpin, rasanya seperti kembali ke titik awal. Menjadi tutor bukan sekadar soal mengajar, tapi tentang berbagi hidup. Tentang mendengar kisah-kisah getir, tentang menyeka air mata warga belajar yang merasa tak dihargai hanya karena mereka tak sempat menamatkan sekolah. Tentang menguatkan hati ketika ada yang harus absen karena anaknya sakit atau karena harus ikut suami merantau.
Tapi, dari ruang-ruang belajar sederhana itu, aku menemukan arti kata pengabdian yang sebenarnya. Dan siapa sangka, dari tempat terpencil yang dulu bahkan tak tercantum di peta itu, aku diterbangkan menjelajahi benua biru.
Hal itu berawal dari sebuah lomba yang aku ikuti. Tak disangka dan tak dikira, aku berhasil meraih juara 1 tingkat provinsi. Rumpin yang saat itu baru berusia 3 tahun, bahkan tak pernah diperhitungkan oleh daerah lain, justru mampu unggul di atas tujuh kabupaten dan kota madya.
Aku masih ingat betul, waktu itu kami berangkat ke kota dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi minder karena fasilitas kami sangat terbatas, di sisi lain tetap ingin menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Aku datang hanya berbekal keyakinan, bahwa apa yang kami lakukan di Rumpin Munti Gunung punya nilai lebih karena dilakukan dengan hati.
Ketika pengumuman pemenang dibacakan, aku hampir tak percaya mendengar namaku disebut di urutan pertama. Rumpin Munti Gunung, kampung kecil yang dulu hanya dikenal karena stigma gepengnya, kini berdiri sejajar, bahkan lebih unggul dari wilayah-wilayah lain yang jauh lebih mapan.
Sejak kemenangan itu, nama Rumpin mulai diperbincangkan. Banyak yang bertanya, banyak yang ingin tahu, bahkan beberapa pejabat sempat tak percaya, “Munti Gunung? Serius dari sana?”. Aku hanya bisa tersenyum kecil. Dalam hati aku berkata, ya, dari sini, dari kampung yang dulu kalian pandang sebelah mata.
Dan kemenangan itu ternyata menjadi tiket awal yang membuka pintu kesempatan-kesempatan lain.
Satu bulan setelahnya, aku kembali mengikuti lomba yang sama, namun kali ini di tingkat nasional. Rasanya waktu itu seperti mimpi. Bisa mewakili provinsi saja sudah menjadi kehormatan besar bagiku, apalagi berasal dari kampung kecil di balik bukit gersang Munti Gunung.
Berangkat ke kota Palu, Sulawesi Tengah, dengan segala keterbatasan, aku hanya membawa semangat dan doa dari warga belajarku di Rumpin. Aku tahu, bukan hanya nama pribadi yang aku bawa, tapi juga nama kampung, nama Rumpin, dan harga diri warga Munti Gunung.
Dan lagi-lagi, berkat restu Tuhan, aku berhasil unggul di atas 33 provinsi lainnya. Saat namaku disebut sebagai juara pertama tingkat nasional, aku hampir tak mampu menahan air mata. Aku teringat wajah-wajah warga belajarku, teringat Pak Made yang sering terlambat datang ke kelas karena masih bekerja, teringat Puri yang sering terlambat karena bayinya sakit.
Kemenangan itu bukan semata-mata tentang piala atau piagam penghargaan. Bukan pula soal prestise pribadi. Tapi ini tentang pembuktian, bahwa dari kampung sekecil Munti Gunung, dari tempat yang dulu hanya dikenal karena gepeng, ternyata bisa lahir sesuatu yang layak dibanggakan di tingkat nasional.
Dan di momen itulah, jalanku ke benua biru benar-benar terbuka. Masih di tahun yang sama, tak lama setelah kepulanganku dari ajang nasional, sebuah surat cinta dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendarat di tanganku. Surat itu berisi kabar bahagia bahwa pemenang lomba di Ajang GTK PAUD dan Dikmas Berprestasi 2016 diundang untuk mengikuti study tour ke Negara Federasi Republik Jerman.
Aku membaca surat itu berkali-kali, memastikan bahwa benar namaku yang tercantum di sana. Rasanya seperti mimpi. Bagaimana mungkin, anak kampung yang dulu sekolah naik turun bukit, kadang tanpa alas kaki, kini akan menjejakkan kaki di Eropa? Ke negeri yang dulu hanya aku lihat di peta atlas butut saat pelajaran IPS di sekolah dasar.
Berita itu cepat menyebar di kampung. Warga Munti Gunung, terutama warga belajar di Rumpin, menyambutnya dengan suka cita. Beberapa bahkan datang khusus ke rumah hanya untuk menyalami, memberi selamat, dan menitipkan pesan. “Dek, jangan lupa ceritakan kampung kita di sana,” kata Pak Made, Koordinator paket C rumpin Munti Gunung.
Dan aku pun berjanji dalam hati, kemanapun langkahku pergi, aku akan selalu membawa nama Munti Gunung, tanah kelahiranku selalu di dadaku. Bahwa kampung kecil ini pernah melahirkan anak-anak muda yang berani bermimpi tinggi, meski hidup di balik bukit kering dan jauh dari gemerlap kota.
Perjalanan ke Jerman itu bukan sekadar tentang jalan-jalan atau melihat indahnya kota-kota di Eropa. Tapi tentang belajar, bertemu dengan pendidik dari berbagai belahan dunia, berbagi kisah tentang bagaimana pendidikan bisa mengubah nasib sebuah desa, dan tentang meyakinkan diri bahwa siapa pun bisa, asal mau berusaha dan tak pernah berhenti bermimpi.
November 2016, aku menjejakkan kaki di Frankfurt, Jerman. Udara musim gugur saat itu dingin menggigit, menusuk sampai ke tulang. Jaket tebal yang kupakai seolah tak cukup menahan suhu yang jauh berbeda dengan kampungku yang panas dan kering. Tapi hatiku hangat. Hangat karena rasa syukur, hangat karena sebuah mimpi yang dulu hanya sebatas angan kini benar-benar menjadi nyata.
Aku tergabung dalam rombongan pendidik dari berbagai provinsi di Indonesia. Sebagian besar adalah guru-guru dari kota besar, kepala PAUD, tutor PKBM, dan penggiat pendidikan masyarakat. Di antara mereka, aku mungkin satu-satunya yang datang dari kampung yang namanya nyaris tak dikenal.
Kegiatan kami di Jerman padat. Mulai dari kunjungan ke sekolah komunitas, pusat pendidikan informal, museum pendidikan, hingga diskusi bersama pendidik dari berbagai negara Eropa.
5 November 2016 adalah tanggal yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Hari itu, aku berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, bersama rombongan pendidik terbaik dari berbagai provinsi di Indonesia, yang diundang oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Di ruang tunggu bandara, perasaan haru, gugup, dan bahagia bercampur jadi satu. Aku masih seperti tak percaya, benar-benar akan menjejakkan kaki di benua biru, membawa nama kampung kecilku, Munti Gunung. Semua masih terasa mimpi.
Perjalanan panjang pun dimulai. Dari Jakarta menuju Frankfurt, Jerman, dengan transit beberapa jam di Singapura dan Belanda. Rasanya aneh berada di dalam pesawat sebesar itu, bersama orang-orang dari berbagai negara. Aku duduk di kursi dekat jendela, memandang langit malam dari balik kaca kecil, sambil terus membatin, Ya Tuhan… ini benar terjadi. Sambil menampar pipiku, meyakinkan bahwa ini betul-betul nyata.
Sesampainya di Frankfurt, suhu udara langsung menyapa dengan dingin menusuk. Kami dijemput panitia dari KBRI dan langsung diantar menuju hotel. Meski tubuh lelah setelah lebih dari 18 jam perjalanan, tapi hati ini terlalu bahagia untuk diajak tidur. Malam itu, sebelum istirahat, aku sempat membuka koper kecil, mengambil foto keluarga dan poster Rumpin Munti gunung yang sengaja aku bawa. Aku letakkan di meja samping ranjang hotel. Mereka ikut bersamaku ke sini.
Kreator : Kade Restika Dewi
Comment Closed: Dari Bukit Gersang ke Benua Biru (Chapter 14)
Sorry, comment are closed for this post.