Ada saat-saat ketika mimpi tidak datang sebagai jawaban, melainkan sebagai getaran kecil yang nyaris tak dianggap. Ia tidak berisik. Tidak memaksa. Hanya seperti desir angin yang menyentuh daun lalu pergi, meninggalkan rasa yang sulit dijelaskan.
Di situlah awalnya. Tiba-tiba saja muncul keinginan untuk lanjut studi.
Bukan di panggung besar, bukan disorot lampu, bukan pula di tepuk tangan yang riuh. Mimpi sering lahir di ruang-ruang sederhana yang bahkan tidak pernah kita anggap istimewa. Di sela waktu istirahat. Di antara halaman buku yang dilipat ujungnya. Di tatapan diam saat melihat orang lain melakukan sesuatu yang entah mengapa terasa dekat di hati.
Kadang, mimpi muncul sebagai kalimat yang terlalu pelan untuk diucapkan:
“Aku ingin seperti itu.”
Dan anehnya, kalimat itu tidak pergi.
Ia tinggal.
Ia kembali lagi keesokan hari, lalu lusa, lalu di waktu-waktu yang tidak terduga. Seperti tamu yang tidak pernah benar-benar pulang. Semakin diabaikan, justru semakin terasa.
Begitulah cara mimpi bekerja.
Ia tidak selalu logis di awal. Tidak selalu masuk akal. Bahkan sering kali terasa kecil jika dibandingkan dengan kenyataan yang ada. Namun justru dari hal-hal sederhana itulah mimpi menemukan akarnya.
Seorang anak bisa mulai bermimpi menjadi penulis hanya karena satu cerita yang membuatnya lupa waktu. Seseorang ingin menjadi guru karena pernah merasakan hangatnya dipahami. Ada yang ingin membangun sesuatu karena sekali waktu ia melihat perubahan kecil yang ternyata berarti besar.
Tidak ada yang megah dari awalnya.
Hanya momen.
Hanya rasa.
Hanya ketertarikan yang tidak bisa dijelaskan dengan rumus apa pun.
Mimpi tidak datang membawa peta. Ia tidak memberi tahu jalan mana yang harus dipilih, rintangan apa yang akan datang, atau bagaimana akhirnya akan terjadi. Ia hanya memberi satu hal yang sederhana, tetapi kuat:
arah.
Seperti kompas yang belum lengkap, tetapi cukup untuk membuat kita tidak berjalan sembarangan.
Sayangnya, banyak orang kehilangan mimpinya bahkan sebelum ia sempat tumbuh. Bukan karena mimpi itu salah, tetapi karena dianggap terlalu kecil. Terlalu biasa. Terlalu tidak penting untuk diperjuangkan.
Padahal, tidak ada mimpi besar yang langsung menjadi besar.
Semua bermula dari sesuatu yang tampak remeh.
Seperti benih yang dikubur dalam tanah gelap. Tidak terlihat. Tidak dipuji. Bahkan mungkin dilupakan. Tetapi di dalam diamnya, ia bekerja. Menguatkan diri. Menumbuhkan akar sebelum berani menampakkan daun.
Mimpi pun begitu.
Ia butuh ruang untuk tumbuh tanpa terus-menerus dihakimi. Ia butuh waktu untuk menguat tanpa dipaksa menjadi sesuatu yang belum siap. Ia butuh keberanian kecil untuk tetap dipercaya, meskipun belum ada bukti apa-apa.
Akan ada suara-suara yang mencoba meredamnya.
Yang berkata bahwa itu mustahil.
Bahwa itu terlalu tinggi.
Bahwa itu hanya angan-angan.
Namun, mimpi tidak pernah meminta izin untuk lahir.
Ia hanya meminta satu hal: didengar.
Maka ketika suatu hari kamu merasakan bisikan kecil itu lagi, jangan buru-buru mengabaikannya. Jangan langsung mengukurnya dengan kemampuanmu hari ini. Jangan membungkamnya hanya karena belum terlihat jalannya.
Duduklah sebentar.
Dengarkan.
Biarkan ia berbicara lebih jelas.
Karena bisa jadi, di balik sesuatu yang terasa sederhana itu, ada arah hidup yang sedang mencari jalan untuk ditemukan.
Dan mungkin, semua hal besar yang akan kamu capai nanti…
berawal dari satu bisikan kecil yang pernah kamu pilih untuk tidak diabaikan.
Kreator : Tuti Widiyastuti(TwiDiaz)
Comment Closed: Ketika Mimpi Masih Berupa Bisikan – Mimpi Sederhana Untuk Lanjut Studi
Sorry, comment are closed for this post.