Ketika masih lelap dalam buaian mimpi di suatu dini hari di penghujung tahun, aku terbangun karena mendengar suara menderu yang asing di telingaku. Aku membuka mataku tapi tak ada yang dapat kulihat karena gelap. Suara menderu seperti angin yang berputar terdengar jelas, seperti suara tali pengumban yang diputar kencang. Kusibak tirai jendela dan diluar juga gelap tidak ada cahaya lampu. Rupanya ada pemadaman listrik.
Suasana gelap dan hujan deras membuat hatiku tak nyaman. Suami dan anak-anakku masih tidur, tidak terganggu sama sekali. Aku beranjak dari tempat tidur dengan meraba-raba, mencari lampu darurat yang biasa diletakkan di ruang tengah di samping televisi. Dan dengan lampu itu aku mencoba memeriksa kondisi rumah dinas sampai ke dapur. Tidak ada yang bocor.
Suara menderu itu semakin terdengar kencang, malah sekarang seperti dengung lebah besar yang mendekat. Dari balik jendela dapur aku melihat pohon mangga di belakang rumah condong ke kiri, pohon-pohon pisang pun begitu, seperti sedang bertahan hendak tercabut dari akarnya. Jantungku berdegub cepat. Hembusan angin menyusup di celah-celah kusen membuat aku menggigil kedinginan.
Langit di belakang rumah terlihat lebih terang, beberapa kali kilat berkelebat dan diikuti suara gemuruh. Aku melihat ke arah pantai dan aku terkesiap. Sebuah pemandangan yang membuat tubuhku menggigil hebat. Sebuah corong seperti turun dari langit nun jauh di laut. Terlihat jelas meliuk-liuk bergerak mendekati pantai.
Aku bergegas kembali ke kamar sampai kakiku terantuk kaki meja. Aku tak menghiraukan rasa sakitnya. Kutepuk-tepuk bahu suamiku tanpa bersuara padahal aku ingin berteriak panik. Tapi takut membangunkan anak-anakku. Suamiku bangun dan terkejut karena aku terlihat panik.
“Apa? Kenapa?” tanyanya.
“Ada puting beliung di belakang, Bang,” jawabku.
Tiba-tiba terdengar suara seperti seng terlepas dari rumah Pak Feri di seberang rumah dinas. Menghempas-hempas. Tak lama suara orang ramai di seberang terdengar menyebutkan “seng terbang”.
Suamiku bergegas ke dapur dan tak lama kembali lagi ke kamar, menutup pintu kamar lalu duduk di sebelahku.
“Kita Doa Rosario. Semoga puting beliungnya tidak bergerak ke sini.” Suamiku menggenggam tanganku yang dingin ketakutan.
Gabriel terbangun, disusul adiknya karena suara hujan dan badai yang kencang serta bunyi hempasan-hempasan atap seng tetangga yang hampir lepas. Mereka juga ketakutan dan memeluk kami erat-erat. Butir-butir Rosario kami daraskan perlahan memohon keselamatan, dikepung ketakutan. Aku memeluk erat Audrey sambil berusaha menutupi telinganya. Degup jantungnya terasa di tanganku.
Guruh dan kelebat kilat bergantian di langit. Deru angin kencang dan curahan hujan serta pikiran tentang corong raksasa di laut itu mencekam kami dalam kegelapan. Aku berpasrah diri dalam Doa Rosario yang lambat laun menenangkan hatiku. Hujan perlahan reda, suara dengung besar dari belakang rumah sudah tidak terdengar lagi, menyisakan bunyi hempasan atap seng di beberapa rumah tetangga yang sesekali masih dimainkan angin.
Suamiku bangkit, ke dapur dan tak lama kembali ke kamar.
“Sudah tidak ada,” katanya lega. “Di belakang sudah mulai terang.”
Aku nyaris menangis karena lepas dari ketakutan yang berlangsung sekitar satu jam dini hari itu. Pengalaman pertama kami sejak tinggal di Belitung. Aku tidak membayangkan bahwa akan berada dalam situasi seperti itu. Hujan deras dan angin kencang sudah biasa aku alami ketika di Palembang. Tetapi mengalami badai di sebuah rumah kecil di dekat pantai, adalah pengalaman yang “berkesan”. Suara angin berputar seperti dengung lebah baru kali itu aku dengar. Dan melihat corong tornado kecil meliuk-liuk di horizon pagi buta, ini tak akan pernah aku lupakan.
Ketika langit mulai terang, tinggal tersisa gerimis kecil yang riuh jatuh di atap seng rumah dinas. Perlahan semakin halus dan tak lama berhenti. Samar-samar mulai terdengar jeritan camar di langit, pertanda alam sudah tenang dan semua kembali keluar mencari kehidupannya.
Kulihat di seberang rumah, Pak Feri dan Dek Noh, anaknya, sedang memasang kembali atap bengkel yang tadi terbang disapu badai. Dek Noh naik ke atap dan memaku seng yang lepas.
“Kiape rumah mikak?(Bagaimana rumah kalian?),” teriak Pak Feri dari seberang kepada Suamiku yang berdiri di teras.
“Alhamdulillah, aman, Pak.”
“Seng kamek terbang dua ikok. Sikok ntah kemane acong e (Seng kami terbang dua. Yang satu tidak tahu kemana),” kata Pak Feri lagi.
Suamiku ikut membantu Pak Feri membersihkan lantai bengkel las-nya yang basah. Aku dan anak-anak ikut keluar dan melihat sekeliling rumah. Satu pohon pisang yang sedang berbuah di belakang rumah rebah, tak kuat menahan tandan dan akarnya. Daun-daun berserakan. Teras basah sampai ke kaca-kaca jendela.
Dari Pak Feri kami tahu bahwa hal seperti ini biasa terjadi beberapa kali dalam setahun di saat musim Angin Barat yang berlangsung mulai Oktober sampai Maret tahun berikutnya. Puncaknya di rentang Desember sampai Februari, ketika angin bertiup dari arah Barat atau Barat Laut yang kencang membawa banyak uap air dari Laut Cina Selatan. Pada saat angin bertiup dari Barat ini, perairan terbuka di Belitung ombaknya akan tinggi, bisa mencapai 1,5 – 3 meter. Pantai Wisata Tanjung Pendam akan terendam air sampai ke jalanan. BMKG akan membuat peringatan bagi aktivitas pelayaran dan nelayan. Inilah alasan mengapa di akhir dan awal tahun, ikan akan mahal, tidak terlalu banyak di pasar dan kualitasnya tidak terlalu bagus. Karena para nelayan tidak berani melaut.
Badai dini hari tadi hanya berlangsung sekitar 1 jam sejak mulai turun hujan dan angin menderu sampai semua reda. Tidak lama sebenarnya, tapi begitu ganasnya alam ketika mengamuk membuat hitungan menit pun terasa sangat lama. Suasana mencekam, didera rasa takut dan tak berdaya di bawah atap dalam kelemahan manusiawi.
Namun di balik peristiwa itu, aku menangkap satu hal yang bertolak belakang. Ketika amarah alam mereda dan perlahan mulai tenang, muncul suasana hening. Ada beberapa saat yang benar-benar tenang, alam senyap. Kontras dengan amukan badai yang menggelora, penuh amarah, merusak, melibas apapun dan menakutkan. Hening sesaat yang kemudian diisi suara-suara alam yang menyejukkan hati. Melipur, membasuh dari ketakutan. Memunculkan sebuah rasa yang damai. Sebuah kelegaan ketika Ibu Bumi dan Saudara Angin memalingkan wajahnya dari amarah.
Akhirnya aku bisa memaknai kalimat “Badai Pasti Berlalu”. Begini ini, rupanya. Ibarat ketika dicobai dengan peristiwa-peristiwa yang menakutkan atau menyedihkan. Dihantam badai hidup yang sering melemahkan jiwa dan raga. Itulah saat Tuhan memanggil dengan jelas karena kita seringkali abai padaNYA. Sebuah ujian sesungguhnya alat untuk membuat kita lebih sabar, lebih kuat dan terutama mengingatkan untuk selalu bersyukur. Tuhan menunjukkan kuasaNYA melalui alam atau hal-hal duniawi untuk kita belajar rendah hati, bahwa kita hanya mahkluk fana yang lemah.
Dan satu pelajaran lagi, bahwa selalu ada saat teduh setelah badai.
“Tapi yang terjadi barusan lumayan parah, Om” kata Dek Noh kepada suamiku sambil turun dari atap. “Biasanya tidak sampai merusak atap”.
Aku sedikit ciut mendengar hal itu. Beberapa kali, dan selalu terjadi setiap tahun, pikirku. Sekali ini saja sudah membuat surga terasa dekat.
Kreator : drg.Maria Cornellia Nira Widyastuti (Nira.W)
Comment Closed: BAB 11_Badai Pasti Berlalu
Sorry, comment are closed for this post.