Tahun Ajaran Baru tiba. Aku seperti terbangun dari mimpi. Pagi itu dengan malu-malu aku mengakui bahwa ada air mata menggenang ketika melihat kedua anakku, Gabriel dan Audrey berjejer rapi di teras rumah dinas hendak berangkat ke sekolah. Wajah-wajah mungil itu penuh semangat dan kegembiraan. Polos dan menggemaskan. Mereka antusias sekali, aku pun begitu.
Gabriel masuk ke Sekolah Dasar dan Audrey masuk ke Taman Kanan-Kanak Kelas A. Kebetulan di lokasi sekolah yang sama, TK dan SD Regina Pacis Tanjung Pandan. Karena waktu itu kami belum punya kendaraan roda empat, kami membawa masing-masing satu anak dengan motor kami. Gabriel di motorku, sementara Audrey bersama Papanya. Kami berempat berangkat menuju ke sekolah. Kami berjanji kepada anak-anak untuk sebisa mungkin mengantar mereka sampai ke gerbang sekolah di hari pertama setiap awal mereka level up dalam pendidikannya.
Suasana di lorong menuju ke sekolah padat merayap dengan kendaraan bermotor yang semua berkepentingan sama, mengantar putera-puteri mereka di hari pertama sekolah. Kerumunan terpadat adalah di area TK karena sebagian besar anak di sana baru pertama kali masuk sekolah seperti Audrey. Pemandangan anak yang memeluk erat kaki ibunya sambil menangis, takut ditinggal hampir di semua sudut ada. Ada pula yang menjerit ketakutan ketika dilepas ibunya untuk masuk ke dalam kelas. Ada yang menangis bergulingan di lantai. Hiruk pikuk, drama di setiap Tahun Ajaran Baru.
Ibu guru yang hanya 6 orang sedikit kewalahan tetapi mereka tetap terlihat sabar membujuk satu per satu siswanya. Membawa dan beberapa terpaksa ditarik dengan lembut karena masih enggan berpisah dari ibunya ke dalam kelas. Sampai juga akhirnya aku dan Audrey di depan pintu kelas. Kami sengaja menunggu dalam antrian dengan sabar. Audrey terlihat tenang bersamaku. Walau ada sedikit kecemasanku muncul, takut Audrey terpengaruh dengan suasana yang penuh jerit dan tangis. Namun kulihat dia tenang saja, mengamati sekitarnya tanpa berkomentar. Jemari kecilnya tetap erat menggenggam jari telunjukku.
Ibu Guru menyambut kami sebagai orang terakhir yang akan masuk ke kelas. Senyumnya menyejukkan.
“Selamat pagi. Ini namanya siapa,ya?” sapanya sambil menunduk ke arah Audrey.
“Audrey melepas genggamannya dari tanganku, mengulurkan tangan untuk menyalam.
Ibu Guru sedikit terkejut melihat sebuah kepercayaan diri muncul di tengah-tengah kelelahannya.
“Nama saya Audrey,” katanya dengan berani.
“Wah, Audrey pintar sekali. Berani dan tidak menangis,ya,” puji Ibu Guru.
Singkat cerita, Gadis Kecilku langsung menyambut ajakan Ibu Gurunya untuk masuk ke kelas tanpa drama. Dan sebelum melangkah jauh, dia kembali menoleh kepadaku sambil melambaikan tangan seolah menyuruhku pergi.
“Mama pulanglah. Nanti siang jemput Dedek, ya.” Jempol kecilnya teracung.
Kulihat Ibu Gurunya merasa surprised. Aku terharu dengan keberanian Audrey dan sekaligus merasa dikuatkan dengan acungan jempol imutnya. Di saat teman yang lain begitu sulit lepas dari Ibunya. Anakku tak disangka-sangka tampil begitu percaya diri, bahkan menyuruh aku pergi meninggalkannya. Dia berani menjalani hari pertamanya di sekolah tanpa harus aku tunggui. Ah, Gadis Kecilku ini..
Saat aku hendak ke parkiran motor, aku bertemu dengan suamiku yang meminta aku untuk tidak segera pulang, tetapi menunggu sebentar untuk mengawasi Gabriel di Kelas Satu. Katanya dia harus segera mengajar jadi tidak bisa menunggu lebih lama. Aku segera menuju ke Kelas Satu. Tampak masih ada beberapa orang tua yang berdiri di dekat jendela mengawasi anak-anaknya di dalam kelas. Aku mencari celah untuk ikut melongok ke dalam kelas Gabriel, mencari-cari sosoknya. Kutemukan dia duduk di bangku paling belakang di pojok dekat jendela.
Tatapan kami bertemu, dia mengacungkan jempolnya dengan semangat kepadaku.
“Hebat!” aku berseru dengan sedikit berbisik dengan membalas mengacungkan jempol untuknya.
Anakku Gabriel termasuk hiperaktif, sulit fokus dan itu sedikit banyak menjadi kekuatiranku dan papanya. Hal itu sebenarnya sudah aku ketahui sejak awal tumbuh kembangnya. Sejak sebelum masuk di Play Group, aku sudah berusaha mengantisipasi masalah ini. Semua permainannya aku arahkan untuk melatih konsentrasinya. Kemana pun pergi selalu ada kartu bergambar di tasku untuk sewaktu-waktu aku pakai mengajaknya bermain tebak warna, gambar, huruf, angka atau bentuk. Jauh hari sebelum dia masuk sekolah, aku sudah berusaha melatihnya untuk menggunakan dan mengendalikan pensil, dengan membuat garis-garis.
Masih teringat bagaimana aku berusaha melakukan terapi mandiri untuk speech delay-nya. Di saat anak orang lain yang seusianya sudah bisa menyanyikan beberapa lagu anak-anak, sudah bisa diajak berkomunikasi. Aku harus menyimpan rasa gundah dalam hati karena anak sulungku ini bahkan menyebut aku “Mama” pun belum bisa. Untuk membayar terapis, gaji kami tak cukup. Dan waktu itu belum ada terapisnya di Belitung. Jadi aku belajar dari berbagai sumber dan ahli yang bisa aku hubungi per telepon tentang tumbuh kembang anak, tentang permasalahannya, tentang bagaimana mengintervensinya. Media sosial belum seperti sekarang. Telepon seluler belum semua orang memiliki apalagi jenis Ponsel Pintar. Jadi aku lebih banyak mencari dari buku-buku, bertanya kepada siapa saja yang memiliki masalah serupa, menggali dan belajar dari pengalaman mereka.
Aku hampir setiap waktu bernyanyi di rumah. Aku berbicara banyak, terutama kepada Gabriel dengan kata-kata yang pengucapannya jelas dalam Bahasa Indonesia supaya dia menangkap banyak kata. Hal itu membuat kami sampai sekarang lebih sering berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia daripada bahasa daerah.
Kadang kegundahanku tumpah dalam doa-doa yang basah oleh air mata. Rasa pesimis sering muncul bila kemajuan sangat lambat dan seperti tidak berhasil. Sering pula emosi meluap tak terbendung ketika tekanan dari sana sini menderaku. Anak ini, tak terhitung lagi berapa kali menerima tumpahan itu. Yang pada akhirnya selalu aku sesali dan seperti balik memukulku kala melihatnya tidur pulas, begitu polos dan tak bersalah.
Sampai pada suatu hari dia memanggilku “Mama” lalu “Papa” dan beruntun kata-kata yang lain keluar dari mulut mungilnya seperti aliran bendungan yang jebol. Dua tahunan yang terasa sepi tanpa kata-katanya, tiba-tiba begitu saja ramai hari itu dengan banyak kalimat keluar dari mulutnya. Speech delay itu seperti sirna begitu saja. Tidak terbata-bata. Lancar dan jelas.
Dan aku tidak membayangkan bahwa hari ini akan tiba. Hari dimana dia akan mulai bersosialisasi, belajar bersama orang lain dan diajar oleh orang lain selain aku dan papanya. Aku termenung di sela-sela himpitan para orangtua yang masih berada di sekitar jendela Kelas Satu, masih memandangi Gabriel yang antusias di kelas barunya. Aku mensyukuri tibaku di hari itu. Bahwa cerita kehidupan ini belum berhenti di situ. Sebuah pencapaian tidak pernah akan menjadi akhir. Entah akan bagaimana dan seperti apa berikutnya, aku berserah saja.
Sekali lagi pandangan kami beradu. Dan Gabriel kembali mengacungkan kedua jempol mungilnya kepadaku. Jaman itu belum ada simbol-simbol “cinta” dengan jari atau tangan seperti sekarang. Hanya jempol. Lambang cinta, dukungan, apresiasi dan semangat. Dan itulah hari pertama jempol lentikku bertugas di balik jendela. Menyemangati Anak Muda dan seorang Gadis Kecil yang mulai berjuang untuk masa depannya.
Kreator : drg. Maria Cornellia Nira Widyastuti (Nira.W)
Comment Closed: BAB 10_Jempol Lentik Di Balik Jendela
Sorry, comment are closed for this post.