KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Adat & Budaya » BAB 7_MATI GAYA DI PASAR BEREHUN

    BAB 7_MATI GAYA DI PASAR BEREHUN

    BY 09 Jun 2026 Dilihat: 7 kali
    BAB 7_MATI GAYA DI PASAR BEREHUN_alineaku

    Pagi-pagi benar Gabriel sudah mandi dan berpakaian dengan penuh semangat.  Hari itu, hari Minggu, dia tahu rutinitasku setiap hari Minggu adalah pergi berbelanja ke pasar.  Dia senang bila diajak pergi ke pasar karena dia akan melihat aneka rupa sayuran dan ikan dan yang terutama dia akan mendapat sebungkus kue Pukis atau Lupis kesukaannya sebelum pulang.

    Jarak pasar tradisional itu dengan rumah dinas kami tidak terlalu jauh.  Dengan bermotor hanya butuh 5 menit kami berdua sudah sampai di Pasar Berehun.  Sebuah pasar tradisional yang tidak terlalu luas.  Waktu itu lokasinya masih di simpang tiga Kampung Parit, yang sekarang sudah direlokasi tak jauh dari lokasi lama.  Berehun dalam Bahasa Belitong artinya “Banyak sekali” atau “Berlimpah ruah”.  Sesuai dengan kondisi sebuah pasar dimana ada banyak sekali hasil alam, hasil laut dan hasil olahannya dijual.  Berharap semua berlimpah ruah dan menjadi sumber kesejahteraan.

    Itu kali pertamaku berbelanja di situ.  Biasanya aku membeli kebutuhan dapur dari pedagang sayur keliling.  Di Belitung, pedagang sayur menjual sayuran berkeliling kampung dengan kendaraan motor yang di bagian jok belakang diletakkan sepasang keranjang bambu agak besar yang disebut Ambong.  Tepi-tepi ambong dipasang banyak paku untuk menggantung berbagai macam sayur, bumbu dapur, kue-kue dan kerupuk.  Ikan, ayam dan daging akan diletakkan di bagian dalam ambong.  

    Aku menggandeng Gabriel kecil menuju lorong pasar.  Di ambang gerbang masuk pasar kami sudah disapa penjual ayam.

    “Ayam, Ce…terima bersih, siap potong.”

    Aku cuma mengangguk melewatinya.  Agak kaget juga dengan sapaan “Ce” itu. Berikutnya melewati penjual telor, kembali kami di sapa.

    “Teluk Belitong, Moy..agik baru.”  

    Aku mengernyitkan dahi.  “Amoy?”  

    Makin ke dalam pasar makin sering terdengar sapaan baru itu.

    “Cece nyari ape?  Sayor ape nak e?” Penjual sayur ikut menyapa silih berganti.

    Gabriel kecil menarik tanganku. Dia merasa asing dengan suasana pasar.  Aku mengajaknya ke lapak penjual ikan.  Ini area yang aku sukai.  Semua ikan pagi itu tampak masih mengkilat dengan mata yang bening.  Kesan pertamaku, semua masih belum dibekukan.  Ikan yang baru ditangkap nelayan malam tadi. Sambil melihat-lihat aku mengajari Gabriel nama-nama jenis ikan.  Ada Kerisi yang berwarna pink segar, yang di Palembang belum pernah dia lihat.  Ada ikan Banyir dan Mata Bulat yang membuat Gabriel tertawa karena ikan itu seperti melotot baginya.  Ada ikan Tongkol yang masih sangat bagus kondisinya, Tenggiri, dan Cumi-cumi yang warnanya masih putih segar.  Tidak ada aroma anyir busuk di area ini karena hampir semua ikan dalam kondisi baik dan segar.  

    Aku tertarik untuk membeli di salah satu lapak.  Ikan Banyir dan Tenggiri itu menarik perhatianku.  Di kota aku sering membeli tapi dengan kondisi pasca dibekukan, sehingga sangat berbeda kualitasnya.  Aku seringkali mengalami gatal-gatal karena alergi setelah memakan ikan laut.  Tetapi selama beberapa waktu di Belitung, hampir setiap hari aku makan makanan laut, dan tidak sekalipun aku mengalami gatal-gatal.  Berarti kualitas ikan yang kumakan semua masih bagus.  Ikan yang masih segar.

    “Nak yang mane,Ce? Tenggiri 80 ribu yang ini,” ujar Penjual Ikan menunjuk potongan daging tenggiri.  Banyir 55 ribu.”

    Aku terkejut, karena tadi sempat mendengar pembeli sebelumnya mendapat harga lebih murah.

    “Kok jadi mahalan, Bang? Tadi gak segitu?” kataku.

    Penjual itu seperti tidak enak padaku, lalu segera menunjuk ke tenggiri.

    “Cece mau ambil sekilo dagingnya saja?” tanyanya.

    “Mau, tapi jangan harga segitu, Bang. Samalah dengan Ibu tadi,” jawabku.

    Dia setuju dan segera menimbang beberapa potong daging ikan tenggiri.

    Sambil menyiapkan pesananku, dia memperhatikan Gabriel kecil di sebelahku.  Aku akhirnya menyadari, asal muasal panggilan “Cece dan Amoy” itu.  Kulitku waktu itu masih cerah, mataku sipit seperti wanita Tionghoa, apalagi bila melihat pada Gabriel.  Tidak sedikitpun tergambar wajah Melayu, Jawa atau Batak di sana.  Putih, dan sangat sipit matanya.  

    “Dari Jakarta, ya, Ce?” tanya Penjual Ikan.

    “Dari Palembang, Bang,” jawabku.

    “Cina Palembang?”

    Aku menggeleng. “Asli Jawa, Bang, kelahiran Palembang.  Suamiku Batak.”  Sekalian aku menjelaskan secara lengkap jati diriku.  

    Abang Penjual Ikan terkejut.  “Tapi macam orang Cin,” katanya heran sambil kembali melihat pada Gabriel.  “Orang Cin” adalah sebutan untuk orang Tionghoa di sini. Aku tidak bisa memungkiri kenyataan itu.  Aku dan kedua anakku memang lebih mirip Tionghoa daripada Melayu.  “Maaflah, ye, Kak.” Tukang Ikan akhirnya merasa tidak enak hati.  

    Akhirnya setelah tahu jati diriku, aku mendapat harga yang lebih murah.  Diskon sebagai permintaan maaf.  Dan sejak hari itu Abang Penjual Ikan menjadi langgananku, sampai sekarang.  Dan dia memanggilku “Nyunya Melayu”.  “Nyunya” itu juga sebenarnya panggilan untuk para wanita Tionghoa. Disingkat “Nya”.  Seiring waktu, Wanita Melayu pun sering disapa “Nya” dalam kesehariannya.

    Di lain waktu, aku juga sering diajak berkomunikasi dalam Bahasa Khek/Hakka oleh penjual-penjual sayur yang asli Khek.  Bahkan hingga hari ini. Karena dikiranya aku juga Khek.  Kadang lelah juga menjelaskan berulang-ulang. Mati gaya aku jadinya.  Bahasa Khek berbeda dengan Bahasa Hokkian yang sering aku dengar di Palembang.  Sehingga aku mulai belajar sedikit demi sedikit Bahasa Khek yang lumrah dipakai di pasar.  Ini penting bagiku karena saat bertanya harga aku sempat bingung dengan nilai uang yang disebut dalam Bahasa Khek. Minimal bisa mengimbangi saat tawar menawar.

    Sejarah orang Khek atau Hakka di Belitung dimulai pada kisaran tahun 1700-1800-an, ketika Sultan Palembang memberi izin menambang timah di Bangka dan Belitung bagi orang-orang dari Tiongkok.  Mereka datang sebagai kuli tambang. Saat Belitung diserahkan ke Belanda dan dikelola oleh NV Billiton Maatschappij, dimulailah penambangan timah besar-besaran pada tahun 1852.  Orang-orang Hakka(Khek) dari Guandong, Fujian Barat terutama daerah Meixian/Kay Yin yang terkenal ulet dan mau bekerja keras dan biasa hidup dengan kesulitan alam di pegunungan, banyak direkrut sebagai kuli tambang timah pada masa itu.  Itulah asal muasal keberadaan Masyarakat Hakka/Khek di Belitung.  

    Hak-ngin cho-mak-ke m-hiau kong Hak-fa.”(Orang Khek kenapa tidak bisa ngomong Khek).

     Ini yang sering mereka lontarkan padaku.  Kalau orang lain butuh pencerah warna kulit, aku butuh lebih banyak cahaya matahari untuk menggelapkan warna kulitku. Dan setelah sekian puluh tahun, aku akhirnya menjadi lebih gelap.  Tapi wajah ini tetap bermata sipit. Setelan pabrik yang sulit aku ubah.  

     

     

    Kreator : drg. Maria Cornellia Nira Widyastuti (Nira.W)

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 7_MATI GAYA DI PASAR BEREHUN

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021