Pagi-pagi benar Gabriel sudah mandi dan berpakaian dengan penuh semangat. Hari itu, hari Minggu, dia tahu rutinitasku setiap hari Minggu adalah pergi berbelanja ke pasar. Dia senang bila diajak pergi ke pasar karena dia akan melihat aneka rupa sayuran dan ikan dan yang terutama dia akan mendapat sebungkus kue Pukis atau Lupis kesukaannya sebelum pulang.
Jarak pasar tradisional itu dengan rumah dinas kami tidak terlalu jauh. Dengan bermotor hanya butuh 5 menit kami berdua sudah sampai di Pasar Berehun. Sebuah pasar tradisional yang tidak terlalu luas. Waktu itu lokasinya masih di simpang tiga Kampung Parit, yang sekarang sudah direlokasi tak jauh dari lokasi lama. Berehun dalam Bahasa Belitong artinya “Banyak sekali” atau “Berlimpah ruah”. Sesuai dengan kondisi sebuah pasar dimana ada banyak sekali hasil alam, hasil laut dan hasil olahannya dijual. Berharap semua berlimpah ruah dan menjadi sumber kesejahteraan.
Itu kali pertamaku berbelanja di situ. Biasanya aku membeli kebutuhan dapur dari pedagang sayur keliling. Di Belitung, pedagang sayur menjual sayuran berkeliling kampung dengan kendaraan motor yang di bagian jok belakang diletakkan sepasang keranjang bambu agak besar yang disebut Ambong. Tepi-tepi ambong dipasang banyak paku untuk menggantung berbagai macam sayur, bumbu dapur, kue-kue dan kerupuk. Ikan, ayam dan daging akan diletakkan di bagian dalam ambong.
Aku menggandeng Gabriel kecil menuju lorong pasar. Di ambang gerbang masuk pasar kami sudah disapa penjual ayam.
“Ayam, Ce…terima bersih, siap potong.”
Aku cuma mengangguk melewatinya. Agak kaget juga dengan sapaan “Ce” itu. Berikutnya melewati penjual telor, kembali kami di sapa.
“Teluk Belitong, Moy..agik baru.”
Aku mengernyitkan dahi. “Amoy?”
Makin ke dalam pasar makin sering terdengar sapaan baru itu.
“Cece nyari ape? Sayor ape nak e?” Penjual sayur ikut menyapa silih berganti.
Gabriel kecil menarik tanganku. Dia merasa asing dengan suasana pasar. Aku mengajaknya ke lapak penjual ikan. Ini area yang aku sukai. Semua ikan pagi itu tampak masih mengkilat dengan mata yang bening. Kesan pertamaku, semua masih belum dibekukan. Ikan yang baru ditangkap nelayan malam tadi. Sambil melihat-lihat aku mengajari Gabriel nama-nama jenis ikan. Ada Kerisi yang berwarna pink segar, yang di Palembang belum pernah dia lihat. Ada ikan Banyir dan Mata Bulat yang membuat Gabriel tertawa karena ikan itu seperti melotot baginya. Ada ikan Tongkol yang masih sangat bagus kondisinya, Tenggiri, dan Cumi-cumi yang warnanya masih putih segar. Tidak ada aroma anyir busuk di area ini karena hampir semua ikan dalam kondisi baik dan segar.
Aku tertarik untuk membeli di salah satu lapak. Ikan Banyir dan Tenggiri itu menarik perhatianku. Di kota aku sering membeli tapi dengan kondisi pasca dibekukan, sehingga sangat berbeda kualitasnya. Aku seringkali mengalami gatal-gatal karena alergi setelah memakan ikan laut. Tetapi selama beberapa waktu di Belitung, hampir setiap hari aku makan makanan laut, dan tidak sekalipun aku mengalami gatal-gatal. Berarti kualitas ikan yang kumakan semua masih bagus. Ikan yang masih segar.
“Nak yang mane,Ce? Tenggiri 80 ribu yang ini,” ujar Penjual Ikan menunjuk potongan daging tenggiri. Banyir 55 ribu.”
Aku terkejut, karena tadi sempat mendengar pembeli sebelumnya mendapat harga lebih murah.
“Kok jadi mahalan, Bang? Tadi gak segitu?” kataku.
Penjual itu seperti tidak enak padaku, lalu segera menunjuk ke tenggiri.
“Cece mau ambil sekilo dagingnya saja?” tanyanya.
“Mau, tapi jangan harga segitu, Bang. Samalah dengan Ibu tadi,” jawabku.
Dia setuju dan segera menimbang beberapa potong daging ikan tenggiri.
Sambil menyiapkan pesananku, dia memperhatikan Gabriel kecil di sebelahku. Aku akhirnya menyadari, asal muasal panggilan “Cece dan Amoy” itu. Kulitku waktu itu masih cerah, mataku sipit seperti wanita Tionghoa, apalagi bila melihat pada Gabriel. Tidak sedikitpun tergambar wajah Melayu, Jawa atau Batak di sana. Putih, dan sangat sipit matanya.
“Dari Jakarta, ya, Ce?” tanya Penjual Ikan.
“Dari Palembang, Bang,” jawabku.
“Cina Palembang?”
Aku menggeleng. “Asli Jawa, Bang, kelahiran Palembang. Suamiku Batak.” Sekalian aku menjelaskan secara lengkap jati diriku.
Abang Penjual Ikan terkejut. “Tapi macam orang Cin,” katanya heran sambil kembali melihat pada Gabriel. “Orang Cin” adalah sebutan untuk orang Tionghoa di sini. Aku tidak bisa memungkiri kenyataan itu. Aku dan kedua anakku memang lebih mirip Tionghoa daripada Melayu. “Maaflah, ye, Kak.” Tukang Ikan akhirnya merasa tidak enak hati.
Akhirnya setelah tahu jati diriku, aku mendapat harga yang lebih murah. Diskon sebagai permintaan maaf. Dan sejak hari itu Abang Penjual Ikan menjadi langgananku, sampai sekarang. Dan dia memanggilku “Nyunya Melayu”. “Nyunya” itu juga sebenarnya panggilan untuk para wanita Tionghoa. Disingkat “Nya”. Seiring waktu, Wanita Melayu pun sering disapa “Nya” dalam kesehariannya.
Di lain waktu, aku juga sering diajak berkomunikasi dalam Bahasa Khek/Hakka oleh penjual-penjual sayur yang asli Khek. Bahkan hingga hari ini. Karena dikiranya aku juga Khek. Kadang lelah juga menjelaskan berulang-ulang. Mati gaya aku jadinya. Bahasa Khek berbeda dengan Bahasa Hokkian yang sering aku dengar di Palembang. Sehingga aku mulai belajar sedikit demi sedikit Bahasa Khek yang lumrah dipakai di pasar. Ini penting bagiku karena saat bertanya harga aku sempat bingung dengan nilai uang yang disebut dalam Bahasa Khek. Minimal bisa mengimbangi saat tawar menawar.
Sejarah orang Khek atau Hakka di Belitung dimulai pada kisaran tahun 1700-1800-an, ketika Sultan Palembang memberi izin menambang timah di Bangka dan Belitung bagi orang-orang dari Tiongkok. Mereka datang sebagai kuli tambang. Saat Belitung diserahkan ke Belanda dan dikelola oleh NV Billiton Maatschappij, dimulailah penambangan timah besar-besaran pada tahun 1852. Orang-orang Hakka(Khek) dari Guandong, Fujian Barat terutama daerah Meixian/Kay Yin yang terkenal ulet dan mau bekerja keras dan biasa hidup dengan kesulitan alam di pegunungan, banyak direkrut sebagai kuli tambang timah pada masa itu. Itulah asal muasal keberadaan Masyarakat Hakka/Khek di Belitung.
“Hak-ngin cho-mak-ke m-hiau kong Hak-fa.”(Orang Khek kenapa tidak bisa ngomong Khek).
Ini yang sering mereka lontarkan padaku. Kalau orang lain butuh pencerah warna kulit, aku butuh lebih banyak cahaya matahari untuk menggelapkan warna kulitku. Dan setelah sekian puluh tahun, aku akhirnya menjadi lebih gelap. Tapi wajah ini tetap bermata sipit. Setelan pabrik yang sulit aku ubah.
Kreator : drg. Maria Cornellia Nira Widyastuti (Nira.W)
Comment Closed: BAB 7_MATI GAYA DI PASAR BEREHUN
Sorry, comment are closed for this post.