Jangan Biarkan Aku Sendiri.
Menjelang subuh,
Diatas hamparan kain suci aku bersimpuh.
Membawa semua pinta dan keluh,
Dengan retak hati yang belum sembuh.
Kepada-Mu pemilik segala nafas,
Peluk daku dengan cinta-Mu yang tak terbatas.
Jangan sedikitpun Kau lepas.
Walau kusadari, diriku tidaklah pantas.
Duhai Penguasa Langit dan bumi,
Bimbinglah aku dari pagi hingga pagi.
Jangan pernah biarkan melangkah sendiri.
Tanpa cahaya-Mu menerangi.
Ternyata.
Sungguh indah kepingan puzzle itu kala sudah tertata.
Setelah sekian lama hatiku penuh tanya.
Apa dibalik ini semua?
Atur saja Tuhan,
Daku percaya yang kau siapkan.
Pasti terbaik, tak layak diragukan.
Kini pintaku dalam setiap kejadian,
Berikan daku ketenangan juga kepahaman.
Agar buruk sangka tak selalu terulang.
Maafkan daku yang terlalu cepat bereaksi,
Sebelum benar-benar memahami.
Sirri dari semua yang terjadi.
Pulang.
Pulang adalah sesuatu yang diinginkan,
Dinantikan dan diharapkan,
Bagi musafir yang penuh kerinduan
Dan senantiasa berusaha kumpulkan perbekalan.
Tapi pulang adalah hal yang menakutkan,
Mengerikan dan menyedihkan,
Bagi mereka yang terlena
Dan terbuai kemilau fana.
Pulang…
Di sana ada surga yang siap dinikmati.
Pulang….
Di sana juga ada neraka yang menanti.
Namun lebih dari itu semua,
Di sana kita akan bersua,
Dengan Pemilik Cinta yang tiada tandingannya,
Tempat ternyaman untuk bermanja.
Ikhlas.
Ya Robbi,
Izinkan daku menikmati.
Lezatnya dzikir dan sujud itu sendiri.
Bukan karena balasan dan janji-janji.
Ya Robbi,
Izinkan aku berlari.
Saat panggilan-Mu menyapa telinga ini.
Meninggalkan semua kesibukan yang membelenggu diri.
Ya Robbi,
Mampukan aku menghindari,
Hal yang engkau larang dan benci,
Bukan karena takut panasnya api.
Ya Robbi,
Hamba ridho Engkau bagiku Tuhan.
Pelindung dan tempatku bergantung.
Karena itulah kebahagiaan, juga kebanggaan.
Alhamdulillah.
Terima kasih Tuhan,
Atas semua coba yang telah kau berikan.
Karenanya kusadari hilaf diri,
Dan segera kembali.
Sebelum segalanya tak berarti.
Terima kasih Tuhan,
Cintamu sungguh dalam.
Kasihmu tiada tandingan.
Hingga diriku yang lusuh penuh kotoran,
Tetap kau terima dengan senyuman.
Terima kasih Tuhan,
Luas rahmat-Mu tak tergambarkan.
Besar ampunan-Mu tak terbayangkan.
Itulah alasanku selalu punya harapan,
Dan masih berani untuk pulang.
Izinkan Aku Kembali.
Saat aku sadar akan dosaku yang menggunung,
Serasa tak pantas lagi memohon ampun.
Tapi ketika kuingat rahmat-Mu yang agung,
Harapanku bak air bah yang tak terbendung.
Di suatu keheningan sepertiga malam,
Kucoba memberanikan diri menyalakan api harapan.
Bersimpuh dan bersujud dengan seribu pengakuan,
Atas salah dan dosa yang telah kulakukan.
Sambutlah tanganku Ya Ghoffar,
Agar hariku kembali bersinar.
Setelah sekian lama hidup dalam samar.
Hingga ketenangan hilang memudar.
Sambutlah diri ini Ya Ilahii,
Izinkan hamba kembali.
Hanya pada-Mu mengabdi.
Dan berserah diri.
Hanya Engkau.
Yaa Robb…
Hanya dengan-Mu aku bisa benar-benar jujur bercerita.
Hanya kepada-Mu aku bisa leluasa meminta.
Hanya bersama-Mu segala sedih dan dukaku sirna.
Hanya Engkaulah yang mencintaiku tanpa batasan.
Setelah begitu banyak salah dan dosa kulakukan.
Hanya Engkau yang tetap hangat memberiku pelukan.
Setelah sekian lama jalan-Mu kutinggalkan.
Cinta-Mu tak bersyarat.
Kasih-Mu sungguh bulat.
Senantiasa membuka pintu taubat,
Bahkan kepada hamba yang telah banyak bermaksiat.
Kreator : Siti Karimah (Putri Waha)
Comment Closed: Bab 1 – Puisi Untuk Tuhan
Sorry, comment are closed for this post.