Untukmu Yang Menjaga Ayah Bunda
Saat aku jauh,
Engkaulah yang tetap tinggal.
Menjaga Ayah Bunda kita dengan cinta,
Melayani keduanya tanpa banyak kata.
Ketika aku hanya mampu bertanya lewat WA.
Menatap gambar mereka lewat layar,
Engkaulah yang hadir dengan nyata,
Menemani dengan sabar.
Seringkali aku merasa malu.
Sebab sedikit sekali bisa membantu.
Sedang engkau harus berjuang keras.
Tanggalkan ego, tinggalkan ambisi.
Terima kasih saudaraku.
Atas semua pengorbananmu.
Sehat dan bahagialah selalu.
Selamat dunia juga akhiratmu.
Ajari Aku Ikhlas
Hari ini,
Telah dua tahun berlalu.
Sejak kau pergi meninggalkanku.
Namun luka itu,
Bagiku seolah sayatan baru.
Duhai pencipta Yang Maha Kuasa.
Ajarilah hati ini untuk bisa menerima.
Semua ketetapan-Mu dengan rela.
Agar damai kembali kurasa.
Sore itu, di tempat yang mulia
Kami sedang belajar bersama.
Namun dengan tiba-tiba,
Buah hatiku datang membawa berita.
Telah berpulang kakakku tercinta.
Kepada Ar-Rahman yang lebih menyayanginya.
Sebuah bus menerobos lampu merah yang menyala.
Menjadi lantaran terenggutnya nyawa.
Ya Robbana,
Hanya kau saja yang tahu akan semua.
Cinta dan pengorbanannya untuk hamba.
Namun belum sempat hamba membalasnya.
Selamat jalan kakakku sayang.
Jasa-jasamu kan selalu ku kenang.
Nasehat-nasehatmu kan kujadikan pegangan.
Hanya doa selalu kupersembahkan.
Pergilah
Kini, genap sudah 40 hari kau pergi.
Membawa serta, sebagian dari diri ini.
Bukan aku membenci takdir Ilahi.
Tapi hanya butuh waktu, untuk mengobati.
Malam itu,
Kupeluk dan kubelai.
Tubuh kurus, rapuh dan lunglai.
Namun menyimpan semangat yang tinggi.
Untuk berjuang, demi melihat kesuksesan sang Buah hati.
Dengan riang dan bangga kau terima.
Satu hadiah kecil, bukuku yang pertama.
Dan kau berjanji akan membacanya,
Saat duduk sendiri sudah bisa.
Satu malam kemudian,
Tiga kali padamu aku berpamitan.
Seolah isyarat penutup percakapan.
Sebelum engkau menghadap Tuhan.
Pergilah saudaraku,
Satu-satunya kakak perempuanku.
Pergilah saudaraku,
Engkau adalah kakak dan ibu bagiku.
Rindu Yang Tak Pernah Usai
Kakakku,
Namamu selalu ada di setiap sudut kenangan.
Meski jasadmu telah lama berpulang.
Beristirahat, memenuhi panggilan Tuhan.
Engkaulah tangan yang menguatkan.
Saat hidup begitu berat kurasakan.
Engkaulah sosok yang selalu siap berkorban.
Saat jalanku dipenuhi rintangan.
Kini,
Hanya lewat do’a aku menyapa.
Karena pintu diantara kita tak lagi terbuka.
Betapa banyak cerita belum sempat kusampaikan.
Betapa banyak kenangan hanya bisa kusimpan.
Menjadi pengikat satu hubungan.
Yang takkan terputus walau oleh kematian.
Kakakku,
Rinduku tak pernah usai.
Walau aku tahu kau telah pergi.
Do’aku, kau damai di tempat abadi.
Lagu Untukmu
Untukmu kakakku, kugubah sebuah lagu.
walau mungkin tidaklah merdu,
Semoga kau dengar itu.
Meski sepintas lalu.
Kakakku,
Apapun kata dunia tentangmu,
Engkau tetap mutiaraku.
Yang demikian berharga bagiku.
Tidakkah kau tahu?
Betapa aku sangat menyayangimu.
Selalu mencari dan menunggu.
Tapi tak satu kabar pun datang darimu.
Ke seberang lautan kau berjuang.
Mengejar mimpi, menggapai harapan.
Demi masa depan lebih gemilang.
Namun mengapa, engkau seolah menghilang?!
Pulanglah kakakku,
Di sini kami menunggumu.
Jangan biarkan kekhawatiran mengganggu.
Siang dan malam merindukanmu.
Kenangan Masa Kecil
Saat bersama, kau selalu menggangguku.
Mulutmu usil, tanganmu jail.
Tak bisa melihatku tenang.
Colek-colek, sentil-sentil agar aku meradang.
Sebentar saja aku pergi,
Ke sana kemari kamu mencari.
Panggil-panggil tak berhenti.
Seolah telah berminggu aku tak kau temui.
Saat seorang anak mengganggu adikmu yang manis,
Apalagi jika sampai menangis.
Tiba-tiba kau jadi bengis.
Seolah tak rela sedikitpun ia terguris.
Begitukah saudara?
Saat dekat sering berdebat.
Selalu beradu.
Tapi ketika jauh, saling merindu.
Memancing
Di sela-sela waktu sibukmu.
Setelah bekerja nyaris seminggu.
Ke sungai kau ajak aku.
Membawa kail, mencari ikan.
Aku girang bukan kepalang.
Mengikutimu dari belakang.
Sambil cerita lepas, tanpa beban.
Sesekali tertawa penuh keriangan.
Setelah jauh kita berjalan.
Melewati sawah dan juga ladang.
Kemudian beberapa kail kau pasang umpan.
Lalu diletakkan di tempat yang berjauhan.
Aku menunggunya dengan diam.
Tak kau bolehkan buat kebisingan.
Hanya mata asyik memperhatikan.
Sungai jernih menawarkan ketenangan.
Beberapa saat kemudian,
Kail bergerak bergoyang-goyang.
Tanda umpan dimakan ikan.
Segera kau dekati kail dengan senyuman.
Satu harapan muncul di hadapan.
Mengusir jemu yang mulai datang.
Segala puji bagi Tuhan.
Akhirnya kami dapatkan juga beberapa ikan.
Sungguh nikmat yang luar biasa.
Tak mampu ku ungkap dengan kata.
Dan tak kan pernah lagi kami bisa.
Mengulanginya bersama-sama.
Kreator : Siti Karimah (Putri Waha)
Comment Closed: Bab 7 – Puisi Untuk Saudara Sedarah
Sorry, comment are closed for this post.