Lonceng istirahat sudah berbunyi lima menit lalu, tapi Bayu masih tertahan di kelas. Ia baru saja menyelesaikan soal yang tadi diberikan Bu Rini. Setelah menulis jawaban terakhir, ia meletakkan pensil di atas meja, lalu menutup buku latihan matematikanya.
Di luar kelas, suara anak-anak terdengar ramai. Sebagian besar sudah turun ke kantin di lantai dasar. Tawa mereka terdengar dari koridor, bercampur dengan suara langkah kaki dan panggilan teman-teman yang saling menyahut. Beberapa murid yang tidak ikut ke kantin duduk di bangku semen depan kelas sambil mengobrol dan bercanda.
Bayu melirik ke arah pintu, lalu menoleh lagi ke depan.
Kelas yang tadi penuh sekarang terasa jauh lebih lengang. Hanya ada dua orang di dalam: Bayu di bangku belakang, dan Raka di barisan depan.
Anak itu duduk sendirian sambil menggambar di buku gambarnya. Sejak pagi, Bayu sudah beberapa kali memperhatikan Raka. Bukan hanya karena mata Raka berbeda, tapi juga karena entah kenapa Bayu merasa pernah melihatnya di suatu tempat.
Raka kelihatannya memang suka menggambar. Tangannya terus bergerak di atas kertas. Sesekali ia mengangkat wajah, menatap langit di luar jendela, lalu kembali menunduk lagi.
Bayu mengernyit kecil.
Kenapa dia begitu, ya? Tadi waktu pelajaran juga sama.
Bayu menarik napas pelan, lalu berdiri. Kursinya sempat berderit, membuatnya langsung berhenti sebentar. Raka tidak menoleh, tapi Bayu tetap merasa kelas jadi lebih sunyi.
Pelan-pelan, Bayu berjalan mendekat sampai berdiri di samping bangku Raka.
Raka langsung menutup buku gambarnya.
Tapi Bayu sudah sempat melihat sedikit.
Gambarnya bagus. Di buku itu ada langit di atas sekolah, warnanya merah-jingga. Atap-atap kelas di bawahnya terlihat gelap. Sekilas seperti suasana senja, tapi warnanya lebih merah.
Raka menoleh. Tatapannya singkat, tapi cukup tajam, seperti ingin memastikan Bayu tidak akan mengejek gambarnya.
Bayu buru-buru tersenyum, lalu menyodorkan tangan.
“Kamu Raka, kan? Kenalin, aku—”
“Bayu, kan?” potong Raka pelan. “Aku sudah tahu kok.”
Bayu berkedip. Tangannya masih menggantung sebentar, lalu ia menurunkannya lagi sambil nyengir.
“Oh… iya.”
Mungkin dia dengar anak-anak lain manggil namaku, pikir Bayu.
Bayu berdiri canggung sebentar. Sebenarnya ia bisa saja langsung pergi ke kantin, tapi rasa penasaran itu belum hilang. Semakin ia melihat Raka, semakin kuat perasaan bahwa ia pernah bertemu anak ini sebelumnya.
Akhirnya, Bayu memberanikan diri.
“Boleh tanya nggak?” katanya pelan. “Aku kayak pernah lihat kamu…”
Raka tidak langsung menjawab.
Untuk beberapa detik, tubuhnya seperti kaku. Bahunya menegang, dan pensil di tangannya berhenti di udara. Jari-jarinya mencengkeram ujung buku gambar sampai buku itu sedikit terangkat dari meja.
Raka menatap Bayu, tapi tatapannya seperti tidak benar-benar melihat Bayu. Matanya justru terlihat seperti sedang mengingat sesuatu yang lain.
Bayu ikut menoleh ke belakang.
Tidak ada apa-apa.
Kelas tetap kosong. Jendela sedikit terbuka. Angin dari koridor masuk pelan dan menggoyangkan ujung tirai.
Namun Raka malah menarik napas cepat. Matanya melebar sebentar, lalu ia buru-buru memalingkan wajah ke jendela.
Bayu menelan ludah.
“Rak…?”
Raka berkedip beberapa kali. Bibirnya terbuka sedikit, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia tampak seperti ingin bicara, tapi bingung harus mengatakan apa.
Lalu dengan suara pelan, ia berkata, “Kamu… salah orang.”
Bayu terdiam.
Raka langsung membuka lagi buku gambarnya. Pensilnya bergerak cepat di atas kertas, tapi garis-garisnya tidak serapi tadi.
Bayu masih berdiri di sampingnya beberapa saat.
“Oh…” Ia mengangguk pelan. “Ya sudah.”
Raka tidak menoleh.
“Aku mau… lanjut gambar,” katanya pendek.
Bayu mengangguk lagi, lalu mundur satu langkah. Kemudian satu langkah lagi.
Saat berjalan menuju pintu, Bayu sempat menengok sekali lagi.
Raka masih menunduk di atas buku gambarnya, tapi tubuhnya masih terlihat tegang. Bayu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi tatapan Raka tadi terasa aneh.
Seperti tatapan yang pernah ia lihat.
Entah di mana.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 20 – Dejavu
Sorry, comment are closed for this post.