
Dua minggu setelah kejadian di kelas itu, Raka mulai hafal lagi ritme hari-harinya di sekolah.
Ia dan Bayu makin sering bersama. Saat istirahat, mereka duduk berdampingan, saling tukar bekal, atau adu tebak-tebakan sampai Bayu tertawa sendiri. Kalau ada anak lain mendekat hanya untuk menatap mata Raka terlalu lama, Bayu biasanya cukup melirik sekali, dan anak-anak itu langsung paham harus menjaga jarak.
Seharusnya, Raka merasa aman.
Namun setiap kali tanpa sengaja ia menoleh ke jendela, rasa tidak nyaman itu selalu muncul lagi. Langit di atas sekolah memang kelabu dan tampak biasa, tetapi bagi Raka, ada sesuatu yang salah di sana, seperti noda tak terlihat yang diam-diam menunggu waktunya.
Malam sebelumnya, Raka susah tidur.
Ia sempat terbangun tiba-tiba dengan dada sesak seperti habis menangis, padahal pipinya kering. Matanya menatap langit-langit kamar yang gelap, berusaha mengingat mimpi yang baru saja ia alami, tetapi semuanya kosong. Tidak ada gambar. Tidak ada suara. Hanya rasa sedih dan bingung yang tertinggal, berat di dadanya tanpa alasan yang jelas.
Raka menarik selimut sampai ke leher, lalu mengusap matanya.
“Mimpi apa sih…” gumamnya pelan.
Saat ia hampir memejamkan mata lagi, sesuatu menyelinap masuk dengan sangat halus, seperti angin yang lewat dari celah jendela.
“Ra…”
Suara perempuan.
Bukan suara Mama. Bukan Farah.
Suara itu seperti datang dari tempat yang sangat jauh, tetapi terdengar tepat di dekat telinganya.
Raka menahan napas.
“Ra…”
Kali ini lebih jelas, seperti seseorang memanggilnya dari balik dinding yang sangat tebal.
Raka ingin menjawab. Mulutnya sudah terbuka sedikit, tetapi sebelum satu huruf pun keluar, suara lain menimpa panggilan itu.
Jangan.
Raka membeku.
Belum waktunya. Kamu belum siap.
Suara perempuan tadi seperti tersentak mundur. Makin jauh, makin samar, lalu padam pelan seperti lilin yang ditiup.
Raka menelan ludah.
“Siapa itu tadi, Ji…?” bisiknya, lebih kepada udara kosong daripada kepada siapa pun.
Tenang, jawab suara itu lembut dari dalam kepalanya.
Bukan mereka nggak bisa. Aku yang menahan. Supaya kamu aman.
Setelah itu, Aji menghilang dan kamar kembali sunyi. Namun sunyinya tidak terasa kosong; lebih seperti ada sesuatu yang baru saja ditutup rapat-rapat.
Raka menatap gelap cukup lama. Matanya perih, tetapi ia tidak benar-benar menangis. Yang ada hanya rasa sesak yang tidak ia mengerti, seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia genggam.
Ia mencoba mengingat lagi suara yang tadi memanggilnya.
“Ra…”
Hanya itu.
Potongan kecil itu tertinggal sebentar, lalu ikut menghilang seperti mimpi yang disapu bersih.
Raka memeluk bantal lebih erat. Dalam hati, ia ingin protes dan bertanya kenapa ia tidak boleh menjawab, tetapi kata-kata itu tidak pernah keluar. Yang keluar hanya napas panjang dan berat, sebelum akhirnya ia pelan-pelan terlelap lagi.
Pagi harinya, langit masih kelabu.
Raka bangun dengan kepala sedikit berat dan dada yang masih terasa aneh. Ia duduk sebentar di tepi ranjang, lalu menatap buku gambar yang tergeletak di meja. Belum lama melihatnya, ia cepat-cepat mengalihkan pandangan, seolah takut benda itu menyimpan jawaban yang belum siap ia dengar.
Di meja makan, Raka lebih banyak diam. Mama sempat bertanya sekali, tetapi ia hanya mengangguk-angguk. Farah sibuk membicarakan tugas sekolah, sementara Sekar sesekali menyelipkan komentar lucu sambil memeluk bonekanya.
Di dalam mobil, Raka menatap keluar jendela sepanjang jalan. Kabut di arah lereng Merapi menggantung rendah, membuat puncaknya tampak seperti disembunyikan. Gerimis menempel di kaca, lalu disapu wiper pelan-pelan.
Begitu sampai di sekolah, Raka turun dari mobil, merapikan tali tas, lalu melangkah menuju gerbang. Suara riuh anak-anak terdengar dari berbagai arah, bercampur dengan bau tanah basah dan daun-daun lembap.
Ia baru hendak melewati gerbang ketika sebuah suara memanggil dari belakang.
“Raka… tunggu!”
Raka sempat menegang. Selama sepersekian detik, ia mengira akan mendengar panggilan itu lagi.
Ra…
Namun begitu menoleh, ia langsung mengembuskan napas lega.
Bayu berlari kecil menghampiri. Tubuh gempalnya berguncang di setiap langkah.
“Nggak naik sepeda hari ini, Bay?” tanya Raka sambil melirik mobil Bayu yang baru saja melaju pergi.
“Nggak boleh, Rak,” jawab Bayu sambil tersenyum. “Kata Mama, nanti kehujanan. Padahal cuma mendung aja, lho. Nggak hujan kok.”
Bayu mengangkat bahu, lalu menadahkan telapak tangannya ke atas seolah ingin membuktikan ucapannya. Raka ikut menengadah. Langit perlahan memudar dari kelabu menjadi pucat keperakan. Awan mendung yang sejak pagi menggantung mulai tersapu angin dari lereng Merapi, menyisakan warna redup yang tampak lebih tenang.
Mereka kemudian berjalan beriringan memasuki halaman sekolah, asyik membahas episode Roboman yang mereka tonton semalam.
Tak lama kemudian, lonceng sekolah berdentang nyaring. Gema logamnya memantul di dinding tua gedung sekolah, membuat beberapa burung di pohon angsana beterbangan. Anak-anak segera berlarian menuju barisan, lalu membentuk antrean rapi di depan kelas masing-masing.
Ritual pagi berjalan seperti biasa: doa, lalu setoran kosakata. Raka berdiri dalam barisan sambil menunggu giliran ketika angin lembap tiba-tiba menyapu dari samping gedung. Hawa dinginnya terasa janggal.
Ia menoleh ke arah pohon angsana besar di ujung halaman.
Daun-daunnya bergoyang pelan, tetapi Raka merasa ada sesuatu yang memperhatikannya dari balik rimbunan itu.
“Raka… ayo maju, Nak.”
Suara Bu Rini membuyarkan lamunannya.
Raka tersentak. Gilirannya sudah tiba. Ia menarik napas, melangkah ke depan, lalu menyebutkan hafalan pagi itu dengan suara lantang.
Sebelum masuk kelas, ia sempat menoleh sekali lagi.
Kosong.
Hanya ranting angsana yang bergoyang pelan tertiup angin.
Namun dada Raka tetap terasa tidak enak. Ia tahu, sesuatu masih ada di sana.
Jam sepuluh pagi, bel istirahat berbunyi. Seperti biasa, waktunya salat Dhuha bersama di aula sekolah. Raka dan Bayu berjalan menuju tempat wudhu, lalu mengambil air dari pancuran kecil dekat kamar mandi. Suara air yang jatuh memantul lembut di dinding, menciptakan gema yang tenang.
Begitu selesai berwudhu, Bayu meliriknya.
“Rak, kamu kenapa diam saja?”
Raka menatap ke luar jendela. “Kayaknya ada yang memperhatikan dari tadi.”
“Memperhatikan?” Bayu ikut melirik ke luar sambil tertawa kecil, meski matanya tampak mulai waspada. “Siapa? Jangan aneh-aneh, Rak.”
Pohon angsana itu berdiri diam di bawah langit kelabu. Namun di antara cabang-cabangnya, Raka melihat bayangan kecil yang menggantung. Tubuh mungil, pakaian lusuh, dan wajah samar seperti diselimuti kabut.
“Rak!” tegur Bayu lagi.
Raka tersentak. “Eh… iya, kenapa?”
“Aku ajak bicara, tapi kamu nggak jawab. Kamu ini aneh, tahu?”
Raka tersenyum tipis. “Iya ya… maaf, Bay.”
Dari pantulan air wudhu, ia melihat sekelebat cahaya keemasan di belakangnya. Aji berdiri diam, menatap lembut seolah berjaga.
Dan di atas sana, di antara ranting-ranting tua, sosok kecil itu masih menatap mereka.
Tidak bergerak.
Tidak bernapas.
Saat lonceng pelajaran berikutnya berbunyi, Raka tahu tatapan dari pohon angsana itu belum benar-benar pergi.
Pada istirahat siang, setelah selesai salat Zuhur berjamaah, Raka dan Bayu berjalan menuju kantin. Suara langkah kaki para siswa bercampur dengan gemerisik daun pepohonan di halaman sekolah. Bayu berjalan di samping Raka sambil mengeluhkan pelajaran matematika tadi pagi.
“Aku masih nggak ngerti, Rak,” katanya dengan wajah muram. “Tambah kok bisa jadi kurang, kurang malah disuruh tambah. Angka kok bisa seenaknya gitu, sih? Pusing aku!”
Raka hanya tersenyum tipis. Pikirannya sudah melayang ke tempat lain.
Sejak berjalan di pinggir halaman, ia merasakan udara berubah. Lebih berat. Lebih panas. Seperti menekan napasnya pelan-pelan.
Ia menatap langit.
Awan-awan yang tadi putih keabu-abuan bergerak cepat, berpusar di atas atap sekolah seolah ditarik ke satu titik. Dalam hitungan detik, warna langit berubah dari kelabu menjadi merah tua yang aneh.
Bayu tidak menyadari apa pun. Ia masih bercerita sambil mengibaskan tangan karena kepanasan.
Raka berhenti melangkah.
Dadanya berdebar keras. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Suara anak-anak di sekitar mendadak jauh, seperti teredam di dalam air. Yang tersisa hanya dengung rendah dari arah langit, bergetar pelan di telinganya.
“Oi, Rakaaa! Halo! Bumi memanggil Raka!”
Suara Bayu terdengar dekat sekali, disusul tangannya yang melambai-lambai di depan wajah Raka.
Lamunan itu pecah seketika. Raka tersentak, lalu menoleh cepat ke arah sahabatnya.
“A-apa?”
“Dari tadi aku ngomong, kamu malah ngeliatin langit terus.” Bayu menyengir. “Lihat apaan, sih?”
Raka kembali menatap langit. Warna merah itu masih ada di sana, berdenyut pelan seperti bara.
“Langitnya…” gumamnya lirih, “kenapa jadi merah begitu?”
Bayu ikut mendongak, lalu mengerutkan dahi. “Merah apanya? Biasa aja, Rak. Jangan bikin aku takut, deh.”
Namun Raka tahu apa yang ia lihat bukan hal biasa.
Merah itu terasa familiar. Bukan karena ia pernah melihatnya dengan jelas, tetapi karena warna itu seperti sisa mimpi yang selalu hilang; membawa rasa sedih yang sama, bingung yang sama, dan tekanan yang sama di dada.
Lalu bisikan itu datang lagi.
Pelan, tetapi jelas.
Menembus riuh halaman sekolah.
Hati-hati, Raka. Mereka semakin kuat.
Raka membeku.
Suara itu sama seperti yang ia dengar semalam.
Dari sudut matanya, ia melihat sosok anak laki-laki berpendar keemasan. Wajahnya pucat bercahaya, tetapi tenang, seperti sudah tahu semuanya.
Raka refleks membungkuk, pura-pura membetulkan tali sepatu agar tidak menarik perhatian. Bayu sudah berjalan beberapa langkah di depan, masih asyik bercerita tentang adiknya yang suka menyembunyikan barang.
Raka menelan ludah, berusaha menenangkan degup jantungnya.
Lalu, tanpa menoleh, ia berbisik sangat pelan.
“Kamu… Aji, kan?”
Iya, jawab suara itu lembut. Aku Aji.
Namun ketika Raka menoleh sekilas, sosok Aji sudah tidak ada. Hanya bayangan samar yang bergerak pelan di antara cahaya merah yang memantul di jendela kelas.
“Bay… tunggu!” seru Raka spontan.
Ia berlari kecil menyusul Bayu yang sudah lebih dulu menuju kantin.
Ketika Raka menengadah lagi, langit di atas sekolah telah kembali seperti semula: kelabu pucat, tanpa warna merah, tanpa pusaran awan, seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Namun di dada Raka, sesuatu masih bergetar.
Entah karena takut, atau karena bisikan Aji yang belum benar-benar pergi dari telinganya.
Saat jam pelajaran terakhir, Pak Hendra sedang menjelaskan tentang magnet dan listrik. Suara spidol yang bergesek di papan tulis berpadu dengan dengung pelan kipas angin di langit-langit kelas. Anak-anak lain tampak mencatat dengan serius, tetapi pikiran Raka melayang jauh.
Bayangan sosok kecil di pohon angsana kembali muncul di kepalanya. Rasa aneh itu datang begitu saja, bercampur antara sedih dan bingung yang menyesakkan dada. Seolah-olah Raka ikut merasakan apa yang dirasakan anak itu: kesepian, ketakutan, dan keinginan kuat untuk pulang.
Raka menatap keluar jendela.
Angin sore mengayunkan daun angsana yang rimbun. Bayangannya menari di tanah, membentuk rupa-rupa aneh yang berubah setiap detik. Di sela-sela gerakan itu, seperti ada sesuatu yang mengintai dari balik batang pohon tua.
Lalu, samar-samar, sebuah suara terdengar.
“Tolong aku…”
Hanya sekelebat, selembut hembusan napas.
Namun setelah itu, Raka merasakan sesuatu yang lebih dalam dan lebih jauh, entah dari mana asalnya. Seperti napas berat yang menekan udara, membuat dadanya ikut sesak. Lalu terdengar jeritan lirih yang cepat memudar, seakan disedot oleh sesuatu yang tak terlihat.
Raka menggenggam pensilnya kuat-kuat. Tengkuknya terasa dingin.
Saat ia menatap keluar lagi, halaman sekolah tetap sepi. Tidak ada siapa-siapa. Hanya pohon angsana yang berdiri diam, seolah menyimpan rahasia yang tidak boleh diungkap.
Lonceng tanda pelajaran berakhir berbunyi beberapa detik kemudian.
Bersamaan dengan itu, semua suara aneh tadi lenyap seakan tak pernah ada.
Namun gemanya masih tertinggal di dada Raka.
Dan entah kenapa, ia tahu suara tadi bukan sekadar imajinasi.
Ada sesuatu di bawah pohon angsana itu.
Sesuatu yang menunggu untuk ditemukan.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 23 – Langit Merah di Atas Sekolah
Sorry, comment are closed for this post.