Raka buru-buru menutup buku gambarnya, tetapi terlambat setengah detik. Anak di samping mejanya sudah sempat melihat.
Langit yang ia gambar tampak terlalu pekat. Di bagian tepinya bahkan ada warna merah, padahal Raka sama sekali tidak merasa menggambar merah.
Raka menahan napas, lalu menoleh pelan.
Bayu berdiri di sampingnya. Wajahnya terlihat polos, tetapi matanya penuh rasa ingin tahu yang tidak terasa jahat.
Ini benar-benar anak yang sama, batin Raka. Yang tiga tahun lalu…
Bayu menyodorkan tangan dengan senyum lebar. “Kamu Raka, kan? Kenalin, aku—”
“Bayu, kan?” potong Raka pelan. “Aku sudah tahu kok.”
Bayu berkedip. Tangannya masih menggantung sebentar sebelum akhirnya ia menurunkannya sambil nyengir.
“Oh… iya.”
Raka kembali menunduk. Jari-jarinya masih mencengkeram ujung buku gambar, seolah takut kalau buku itu dibuka lagi, langit di dalamnya akan berubah sendiri.
Bayu tidak langsung pergi. Ia berdiri sebentar seperti sedang memikirkan sesuatu, lalu bertanya pelan, “Boleh tanya nggak? Aku kayak pernah lihat kamu…”
Perut Raka langsung terasa mulas.
Festival layang-layang, pasir, angin, dan tubuh Bayu yang dulu sempat ia tahan agar tidak jatuh, muncul begitu saja di kepalanya.
Tapi kilasan itu tidak berhenti di sana.
Saat ia teringat tangannya yang dulu menyentuh pundak Bayu, gambar lain tiba-tiba ikut muncul. Bukan pantai. Bukan layang-layang. Yang terlihat justru sebuah ruangan gelap, sudut yang dingin, dan seorang anak perempuan yang meringkuk sambil menangis terisak. Suaranya kecil, tetapi membuat dada Raka ikut sakit. Lalu ada tangan yang menarik Raka paksa menjauh, keras, seolah tidak ingin Raka mendekat.
Raka membeku.
Untuk sesaat, yang terasa di kepalanya bukan lagi kelas, bukan lagi Bayu yang berdiri di samping meja, melainkan suara ombak yang ramai, bau asin, dan kerumunan orang yang bercampur jadi satu.
Ia mendongak cepat.
Namun yang ia lihat tetap kelas. Dinding, meja, jendela, dan Bayu yang masih berdiri di hadapannya.
Tubuh Raka sudah telanjur bereaksi. Tubuh Raka langsung kaku. Bahunya menegang, dan dadanya terasa sesak.
Ia menatap Bayu, tetapi tatapannya tidak benar-benar berhenti pada wajah anak itu. Matanya seperti mencari sesuatu di belakang Bayu—langit, pohon angsana, atau apa pun yang sejak tadi membuatnya tidak tenang.
Bayu ikut menoleh sebentar mengikuti arah tatapannya, lalu kembali menatap Raka dengan bingung. “Rak…?”
Raka menarik napas tajam. Ia harus cepat menutup percakapan ini. Kalau Bayu terus bertanya, ingatannya mungkin akan terbuka lebih jauh, dan Raka belum siap untuk itu.
Raka berkedip beberapa kali, lalu berkata dengan suara yang terdengar dipaksakan, “Kamu… salah orang.”
Bayu terdiam.
Raka tidak memberi kesempatan untuk pertanyaan lain. Ia menunduk lagi, cepat-cepat membuka buku gambarnya, bukan untuk menggambar sungguhan, tetapi untuk punya sesuatu yang bisa ia jadikan tameng. Pensilnya bergerak terlalu cepat, membuat garis-garis di kertas tidak serapi tadi.
Bayu masih berdiri di sampingnya. “Oh… ya sudah.”
Raka tidak menoleh. “Aku mau… lanjut gambar,” katanya pendek.
Bayu mengangguk pelan, lalu mundur satu langkah. Kemudian satu langkah lagi. Setelah itu, langkahnya kembali menuju pintu.
Raka tetap menunduk, tetapi ia bisa merasakan Bayu sempat menoleh sekali lagi sebelum keluar.
Begitu Bayu pergi, kelas terasa lebih kosong. Namun tarikan dari jendela kembali muncul. Raka tanpa sadar menoleh. Langit masih kelabu, noda pekat itu juga masih ada, dan entah kenapa, kali ini rasanya bukan hanya seperti memanggil.
Rasanya seperti menunggu.
Raka menelan ludah, lalu menunduk lagi. Di bahunya, hangat tipis itu tetap ada, diam dan berjaga.
Di dalam hati, Raka hanya bisa bertanya-tanya. Bayu itu benar-benar ingat, atau hanya merasa pernah melihatnya? Lalu kenapa setiap Bayu mendekat, dadanya ikut berdebar seperti ada sesuatu yang belum selesai?
Tak lama kemudian, bel tanda istirahat berakhir berbunyi.
Suara langkah kaki di koridor mendadak ramai. Satu per satu anak masuk lagi ke kelas, masih membawa remah makanan, masih tertawa, dan masih menyebut-nyebut jajanan yang baru mereka beli.
Raka tetap duduk. Ia pura-pura menggambar lagi, padahal ujung pensilnya hanya bergerak tanpa arah.
Lalu ada suara yang terdengar terlalu dekat.
“Eh, ini Raka ya?”
Raka langsung menegang.
“Aku mau lihat matanya dong.”
Satu anak mendekat. Lalu dua. Lalu tiga. Semuanya terjadi terlalu cepat.
“Kok bisa beda gitu sih?”
“Boleh lihat deket nggak?”
Raka mundur sedikit di kursinya. Ia menutup buku gambarnya setengah, seperti tameng.
“Jangan,” kata Raka pelan.
Tapi mereka tidak langsung mundur.
“Ah, lihat bentar aja kok,” kata Putra, yang sudah berdiri di samping meja Raka. Wajahnya santai, tetapi mulutnya nyengir seolah permintaan Raka tidak terlalu penting.
Raka menggenggam pensil kuat-kuat. Dadanya kembali terasa ditekan. Panas kecil di dalam dirinya naik cepat, seperti mau meledak.
Di bahunya, hangat tipis itu terasa lebih jelas, seolah sedang menahannya agar tidak kehilangan kendali.
Raka menelan ludah. Ia tidak mau marah, tetapi rasanya sulit sekali.
Lalu suara lain terdengar dari pintu.
“Woi, udah. Jangan gangguin dia.”
Suaranya datar, tetapi tegas.
Anak-anak menoleh.
Bayu muncul di ambang pintu dengan napas agak cepat seperti habis berlari. Di tangannya ada plastik jajanan.
Ia melangkah mendekat. Tubuhnya yang besar membuat beberapa anak otomatis memberi jalan.
“Bubar,” kata Bayu lagi. “Mau lihat-lihat, lihat papan tulis sana. Bentar lagi guru masuk.”
Putra mendengus. “Ah, Bayu. Kita cuma—”
“Cuma ganggu,” potong Bayu cepat. Nadanya tetap datar. “Raka bilang jangan.”
Putra melirik teman-temannya. Beberapa anak sudah mulai mundur duluan. Bayu tidak banyak bergerak, tetapi ia berdiri di sana seperti tembok.
Akhirnya Putra merengut, lalu ikut mundur. “Ya udah.”
Satu per satu anak bubar. Kursi-kursi kembali digeser ke tempatnya, dan suara kelas perlahan mengecil.
Raka merasa bisa bernapas lebih lega.
Ia baru sadar bahwa sejak tadi ia menahan napas, lalu mengembuskannya pelan.
Bayu menatapnya sebentar. “Kamu nggak papa, Rak?”
Raka mengangguk kecil. Tenggorokannya masih terasa panas, tetapi sekarang tidak lagi seperti mau meledak.
“Makasih,” ucap Raka pelan.
Bayu seperti hendak mengangkat bahu seperti biasa, tetapi gerakannya tertahan. Untuk sesaat, wajahnya berubah aneh, seolah ia sedang mencari sesuatu di dalam kepalanya.
“Oh…” gumam Bayu pelan.
Raka menatapnya. “Kenapa?”
Bayu mencondongkan tubuh sedikit. Ia menatap mata Raka, bukan karena ingin tahu seperti anak-anak tadi, tetapi seperti sedang memastikan sesuatu.
“Aku inget mata itu…” katanya lirih. “Aku beneran pernah lihat.”
Jantung Raka berdegup lebih kencang.
Bayu menelan ludah. Matanya melebar kecil, lalu ia berseru pelan, “Oh, aku ingat!”
Raka membeku.
Bayu menatapnya dengan penuh tanya, lalu suaranya turun lebih pelan. “Kamu… yang nolong aku di festival layang-layang, kan?”
Raka ragu sebentar sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Iya.”
Bayu melongo. “Serius?!”
Raka mengangguk lagi, kali ini lebih jelas. “Kamu hampir jatuh. Ada adik kecil di belakangmu. Aku nahan kamu supaya kamu nggak jatuh kena dia.”
Bayu mengusap tengkuknya, tampak malu sendiri. “Ya ampun… pantesan! Aku dulu mau bilang makasih, tapi keburu ketarik si Angga, sepupuku. Terus suasananya rame banget. Aku sempat cari-cari kamu, tapi nggak ketemu. Aku belum sempat bilang makasih.”
Raka menunduk. Kali ini, ada rasa hangat yang enak di dadanya, rasa yang membuat napasnya sedikit lebih ringan.
Bayu nyengir lebar. “Oke. Berarti sekarang gantian.”
“Hah?”
Bayu menunjuk Raka sebentar, wajahnya setengah serius. “Sekarang aku yang bilang makasih beneran.”
Raka tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia hanya mengangguk kecil. Tapi bibirnya sudah sulit menahan senyum.
Belum sempat mereka bicara lagi, suara langkah Bu Rini terdengar dari koridor.
Bayu buru-buru kembali ke bangkunya. Raka juga cepat-cepat merapikan duduknya.
Namun sebelum Bu Rini benar-benar masuk, Bayu sempat menoleh sebentar dan mengangkat alis ke arah Raka, seolah berkata bahwa mereka akan melanjutkan obrolan itu nanti.
Raka mengangguk kecil.
Di luar jendela, langit masih kelabu. Rasa tidak enak di sekolah itu juga belum benar-benar hilang.
Tapi sekarang, ada satu hal yang membuat dada Raka terasa sedikit lebih ringan.
Ia menahan senyum, lalu menunduk ke bukunya lagi.
Entah kenapa, Raka merasa Bayu mungkin benar-benar bisa menjadi teman baiknya.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 22 – Oh, Aku Ingat!
Sorry, comment are closed for this post.