Bintang Kecilku
Di matamu, aku melihat masa depan.
Di jemari mungilmu, kutitip segenap harapan.
Kau adalah doa yang Tuhan kabulkan.
Anugerah terindah yang takkan pernah tergantikan.
Tumbuhlah dengan berani, anakku sayang.
Meski dunia kadang,
Membawa bimbang dan guncang.
Yakinlah dengan pertolongan Tuhan.
Anakku,
Pelukku akan selalu menjadi rumah.
Tempatmu pulang saat lelah.
Tempatmu bersandar saat gundah.
Cintaku padamu tak bertepi dan tak berpenghujung.
Saat panas terik maupun mendung.
Semoga kau menjadi orang yang beruntung.
Mendapatkan ridho dari Dzat Yang Maha Agung.
Do’a Seorang Ibu.
Anakku,
Jika hidup Ibu hanyalah setitik cahaya,
Aku berharap engkau menjadi bintang,
Yang menerangi lebih luas,
Dari yang pernah ibu mampu lakukan.
Jika langkah Ibu penuh kekurangan,
Biarlah langkahmu lebih teguh,
Lebih tinggi meraih mimpi,
Dan lebih dipenuhi keberkahan.
Melihatmu tumbuh,
Menjadi pribadi yang lebih baik,
Lebih bijaksana dan lebih bahagia.
Adalah kebahagiaan ibu yang sebenarnya.
Maafkan Kami
Anak-anakku,
Di penghujung usia yang kian senja,
Sering terlontar sebuah tanya.
Sudahkah kami menjadi orang tua,
Yang cukup layak untuk kalian semua?
Kadang hari-hari kulewati,
Dengan lelah yang mengalahkan sabar.
Sehingga kata-kata yang keluar,
Tanpa sadar telah membakar,
Tanpa kurela, membuatmu terluka.
Ku mengerti,
Tak semua yang kuberikan,
Adalah yang terbaik.
Tak semua yang ku ajarkan,
Mampu menjadi satu pegangan.
Maafkan Ibu, maafkan Ayah.
Atas segala silap dan salah.
Percayalah,
Kami menyayangi kalian,
Lebih dari yang mampu kami ungkapkan.
Bangkit lagi
Anakku,
Ibu tahu ada duka yang tak selalu bisa kau ceritakan.
Ada luka yang hanya mampu kau simpan.
Hingga kadang, tersenyum pun kau enggan.
Ibu ingin kau kuat,
Tapi tak hendak memaksamu untuk terus berlari,
Tegak berdiri.
Saat kakimu lemah lunglai.
Kadang tak mengapa berjalan perlahan,
Sangat pelaan.
Atau jika kau ingin berhenti sejenak, berhentilah.
Jika kau ingin menangis, menangislah.
Ibu hanya meminta,
Jangan pernah padamkan semua harapan.
Jangan pernah izinkan putus asa menyapa,
Hanya karena satu malam yang gelap gulita.
Percayalah,
Selagi masih ada hari,
Mentari kan bersinar lagi.
Bunga-bunga pun akan kembali berseri.
Hidup tak selalu meminta kita menang sekarang.
Kadang cukup bagimu bertahan.
Jika kau belum percaya pada dirimu,
Izinkanlah ibu yang mempercayaimu lebih dulu.
Sebab di mata Ibu,
Engkau bukan seorang yang gagal,
Melainkan hati yang lelah,
Dan sedang belajar bangkit lagi.
Pantun Nasehat
Jika Al Qadir itu Maha Kuasa,
Maka Al Karim adalah Maha Mulia.
Cinta dan kasih Ibu sepanjang masa,
Mengiringi langkah Ananda, sepenuh jiwa.
Burung merpati terbang melayang,
Hinggap sebentar, di pohon jati.
Jangan berkecil hati, anakku sayang.
Meski cobaan silih berganti.
Jalan-jalan ke tengah kota,
Pagi ramai, siang apalagi.
Teruslah berjuang meraih cita,
Jangan biarkan harapan pergi.
Bintang bersinar di tengah malam,
Cahayanya indah, lembut menerangi.
Jka lelah datang bertandang,
Ingatlah doa ibu, selalu menemani.
Pohon cemara tegak berdiri,
Meskipun badai datang dan pergi.
Bila dunia meragukanmu hari ini,
Ibu lah yang akan percaya sampai nanti.
Burung nuri pulang ke sarang,
Sarang berada di dekat rumah.
Jika hari ini kau belum menang,
Jangan pernah engkau menyerah.
Terima Kasih Anakku
Anakku,
Ibu melihat lelah yang kau sembunyikan.
Dan langkah-langkah yang tetap kau lanjutkan,
Meski tujuan masih jauh di depan.
Terima kasih karena kau telah berani mencoba.
Kau tetap teguh berdiri,
Walaupun harapanmu belum juga tercapai.
Saat banyak orang memilih menyerah dan pergi.
Ibu tak hanya bangga,
Karena keberhasilanmu semata.
Ibu juga sangat bangga,
Karena kau terus berjuang, meski berkali-kali kecewa.
Jangan bersedih jika impian itu belum datang hari ini.
Bagi ibu,
Usaha yang kau lakukan dengan segenap jiwa,
Adalah awal kemenangan yang sebenarnya.
Dan selama kau masih melangkah,
Do’a ibu kan selalu mengiringi,
Menguatkanmu dalam diam.
Hingga Allah Ta’ala memberikan jalan terbaik-Nya untukmu.
Kanggo Anakku
Duh anakku, titipane Sing Moho Kuoso.
Tansah elingo,
Yen awake dewe iku manungso.
Panggone salah, panggone doso.
Ojo sembrono, tansaho waspodo.
Ora usah kegeden rumongso.
Sok kuoso lan sok biso.
Opo maneh ngasi ngremehke wong liyo.
Opo kang ono gur sawetoro.
Omah, rojo koyo lan rojo brono.
Gor sing dienggo ngamal bakal ngetutno.
Liyane muspro banjur sirno.
Taato maring Gusti Kang Murbo Waseso.
Bekti wong tuo lan guru-guru iro.
Kanti becik, srawungono sepodo-podo.
Menowo salah akonono lan jaluko pangapuro.
Mesti Gusti Allah tambah tresno.
Sahingga uripmu Mulyo lan bahagio.
Kreator : Siti Karimah (Putri Waha)
Comment Closed: Bab 6 – Puisi Untuk Buah Hati
Sorry, comment are closed for this post.