Pagi itu, jauh sebelum Bayu memberanikan diri mendekatinya saat istirahat, Raka sudah lebih dulu merasa ada yang tidak beres.
Bel sekolah berbunyi tepat saat Raka dan Bimo sampai di depan pintu kelas.
“Cepet, Rak!” seru Bimo, lalu masuk lebih dulu.
Raka menyusul dengan langkah tergesa. Kelas sudah ramai, bahkan lebih ramai daripada yang ia bayangkan. Ada suara tawa, kursi digeser, tas diletakkan asal di meja, dan bunyi sepatu yang berdecit saat beberapa anak berlari kecil di antara bangku.
Raka langsung menuju mejanya tanpa banyak menoleh. Ia menaruh tas cepat-cepat, nyaris asal, lalu buru-buru keluar lagi karena murid-murid lain sudah mulai berbaris di depan kelas.
Dari ambang pintu, suara Sinta terdengar lantang, mengingatkan anak-anak yang masih mondar-mandir di dalam kelas.
“Ayo cepat berbaris!” serunya. “Bu Rini udah mau datang!”
Suasana kelas yang tadi ramai perlahan menjadi lebih tertib. Bu Rini memang belum terlihat, tapi semua murid sudah tahu kegiatan pagi tidak boleh terlambat: memberi salam, membaca doa, lalu menyetor hafalan kosakata.
Raka berdiri di tengah barisan sambil mencoba mengatur napas. Udara pagi masih lembap, dan bau tanah basah menempel di sepatu serta ujung celananya. Langit di atas halaman sekolah tampak kelabu pucat, tidak merah, tidak aneh, hanya kelabu biasa.
Harusnya itu membuat Raka lebih tenang.
Tapi entah kenapa, langit yang biasa itu justru membuat dadanya tidak enak.
“Assalamu’alaikum…” Bu Rini akhirnya muncul dari ujung barisan.
Anak-anak menjawab serempak. Raka ikut menjawab, suaranya terdengar biasa saja, setidaknya ia berusaha begitu.
Doa dibaca bersama dengan nyaring. Setelah itu, satu per satu murid maju menyetor hafalan. Suara anak-anak bergantian menyebutkan kosakata bahasa Inggris atau Arab. Ada yang lancar, ada yang lupa lalu disuruh mengulang, ada juga yang ditertawakan pelan oleh temannya sebelum Bu Rini langsung melirik tajam ke arah mereka.
Saat namanya dipanggil, Raka maju. Perutnya terasa sedikit mulas, bukan karena takut lupa hafalan, sebab ia masih ingat semuanya, tapi karena sejak tadi ia merasa beberapa mata lebih sering memperhatikannya.
Raka menyetor hafalannya dengan cepat, lalu langsung berbalik menuju pintu kelas. Dalam langkah singkat itu, ia sempat menoleh ke deretan paling belakang.
Seorang anak berbadan gempal berdiri diam, tidak ikut cekikikan seperti anak-anak lain. Anak itu menatapnya sebentar, dan tatapan itu membuat dada Raka terasa ganjil, seperti ada ingatan lama yang tersenggol.
Sekilas, Raka teringat pasir pantai, angin kencang, dan layang-layang raksasa di langit. Tiga tahun lalu, di tengah keramaian festival, ia pernah menahan tubuh seorang anak yang hampir jatuh menimpa adik kecil di belakangnya.
Lalu suara panik seseorang ikut muncul di kepalanya.
“Bayu! Sini!”
Raka menelan ludah.
Bayu.
Nama itu ternyata belum benar-benar hilang dari ingatannya.
Jadi benar.
Anak gempal itu memang anak yang sama.
Raka cepat-cepat memalingkan wajah dan masuk kelas. Dari belakang, masih terdengar bisik-bisik kecil, tidak terlalu keras, tapi cukup membuat telinganya panas.
“Matanya beda…”
“Yang kiri warna apa sih?”
Sebenarnya Raka sudah hafal reaksi seperti itu. Sejak kelas satu, selalu ada saja yang bertanya, selalu ada yang ingin melihat lebih dekat. Biasanya Raka bisa tersenyum tipis, menjawab seperlunya, lalu kembali ke buku gambarnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi hari ini berbeda.
Bukan karena kata-kata mereka lebih kasar. Bukan juga karena Raka tiba-tiba membenci rasa penasaran orang.
Hari ini, suasana sekolah terasa aneh.
Sejak melewati gerbang, dada Raka terasa tidak nyaman. Napasnya jadi lebih pendek, dan ruang kelas terasa lebih panas daripada biasanya, padahal jendela sudah terbuka dan udara pagi masih lembap.
Yang paling membuatnya bingung, emosinya juga terasa lebih mudah naik. Hal-hal kecil yang biasanya bisa ia abaikan, hari itu terasa lebih mengganggu.
Raka mencoba menahan semuanya dengan cara yang paling sederhana: diam, menulis, dan pura-pura fokus pada pelajaran. Tapi setiap kali ia menurunkan pensil ke buku, pandangannya selalu ingin bergerak ke arah jendela.
Waktu berjalan pelan sampai akhirnya bel istirahat berbunyi.
Begitu bel terdengar, kelas langsung ramai. Kursi berderit, meja tersenggol, dan anak-anak mulai berhamburan keluar. Ada yang langsung lari ke kantin, ada yang memanggil temannya dari koridor, ada juga yang masih sibuk mengambil bekal dari tas.
Raka tetap duduk.
Ia bukan malas keluar. Ia hanya merasa lebih aman kalau tetap berada di tempatnya.
Sejak pelajaran tadi, ada sesuatu di luar jendela yang terus menarik perhatiannya. Setiap kali ia mencoba fokus pada angka atau tulisan di papan, matanya seperti ingin kembali melihat ke langit.
Sekarang pelajaran sudah berhenti, tapi rasa itu belum juga hilang.
Raka membuka buku gambarnya di atas meja, mencoba mengalihkan pikiran. Pensilnya bergerak menggambar garis atap sekolah dari sudut pandang jendela kelas, lalu tanpa sadar ia menggambar langit di atasnya.
Langit itu ia beri warna kelabu.
Awalnya hanya kelabu biasa.
Namun tangannya terus bergerak. Ia menebalkan bagian tertentu, mengarsirnya lagi, seolah ada bagian langit yang terasa lebih berat daripada bagian lain.
Raka menelan ludah, lalu menoleh ke jendela.
Langit di luar memang kelabu, tapi ada satu titik di atas gedung seberang yang tampak lebih pekat. Awan di sekitarnya bergerak pelan, sementara titik itu seperti diam di tempat.
Raka cepat-cepat menunduk lagi.
Jangan lihat lama-lama.
Ia tidak tahu kenapa harus begitu, tapi tubuhnya sendiri seperti memberi peringatan.
Di belakang, terdengar suara pensil yang masih bergerak cepat. Tidak semua anak keluar. Ada satu orang yang masih tertahan di kelas, mengerjakan sesuatu dengan serius. Raka tidak menoleh, tapi ia bisa merasakan ada orang lain di ruangan itu.
Ia memaksa tangannya menggambar hal lain: pohon angsana di ujung halaman, batangnya besar, daun-daunnya rimbun. Namun saat ujung pensilnya menyentuh bagian ranting, dadanya mendadak sesak lagi.
Raka berhenti.
Ia mengangkat kepala sedikit. Lewat jendela, pohon angsana terlihat jelas. Daunnya bergoyang pelan, padahal angin tidak terdengar kencang. Di antara cabang-cabangnya, ada bagian kosong yang membuat Raka tidak nyaman, seolah ada sesuatu di sana.
Bulu kuduk Raka berdiri.
Tiba-tiba, sebuah kalimat muncul di kepalanya.
Jangan terpancing.
Raka menegang.
Ia tahu itu bukan pikirannya sendiri. Ada rasa hangat tipis di bahunya, rasa yang sudah sangat ia kenal.
Aji.
Raka menelan ludah. Ia tidak berani bicara, jadi ia hanya bertanya dalam hati.
Langitnya kenapa?
Tidak ada jawaban yang jelas.
Hanya peringatan pendek.
Hati-hati.
Raka langsung menunduk lagi dan menggambar lebih cepat. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ada di luar sana, tapi kalau Aji sampai memperingatkannya, berarti ia memang tidak boleh melihat terlalu lama.
Beberapa menit berlalu seperti itu. Raka menggambar, hampir menoleh, lalu memaksa dirinya menahan. Rasa ingin melihat ke luar jendela tetap ada, seperti terus memanggilnya pelan-pelan.
Lalu kursi di belakang berderit.
Raka langsung menegang.
Ada langkah kaki mendekat.
Ia masih tidak menoleh, tapi ia tahu seseorang sudah berdiri di samping mejanya.
“Gambarnya bagus.”
Suara itu membuat Raka tersentak kecil. Bukan karena suara itu menakutkan, tapi karena terdengar normal.
Suara manusia.
Untuk sesaat, Raka merasa lega.
Tapi ketika menyadari suara itu datang dari samping mejanya, ia kembali menahan napas.
Kreator : Rukmana Gautama (RG Gotama)
Comment Closed: Bab 21 – Bukan Dejavu
Sorry, comment are closed for this post.