Pada suatu senja yang hangat, anak-anak sedang mengerjakan tugas sekolahnya di ruang tamu rumah dinas. Mengapa di ruang tamu? Karena hanya di ruang tamu yang lampunya paling terang dan tidak ada benda-benda yang akan mengganggu konsentrasi mereka selain 1 set kursi dan meja. Ini terutama untuk Gabriel yang mudah pecah konsentrasinya.
Keduanya tampak tekun menulis di buku masing-masing. Gabriel saat itu sudah kelas 3 dan Audrey baru masuk kelas 1 SD. Aku duduk di antara mereka berdua, menemani dan sekaligus sebagai narasumber ketika muncul pertanyaan dari mereka sehubungan dengan pelajarannya. Papanya belum pulang mengajar les Akuntansi. Kami bertiga nyaris tanpa suara. Hanya terdengar Sriti dan Walet yang hendak pulang ke sarang, riuh mengisi keheningan senja langit Air Saga.
“Mama..,” Audrey tiba-tiba mengangkat Buku Tematik-nya dan menunjuk pada satu kalimat.
“Kenapa, Sayang?” Tanyaku.
“Kunang-kunang itu seperti apa, Ma?”
Aku melihat pada kalimat yang ditunjuknya. Sebuah pertanyaan untuk satu cerita singkat di buku itu. “Bagaimana perasaan Andi ketika melihat kunang-kunang?
Aku sejenak membaca cerita pendek di Buku Tematik itu. Rupanya cerita tentang Andi yang melihat hewan kecil yang bisa menyala kelap-kelip saat berkemah bersama keluarganya.
“Itu robot kecil, ya, Ma? Ada lampunya di kepala, ya?”. Gabriel ikut bertanya dan imajinasinya bermain.
Aku menghela napas panjang. Ini bukan perkara mudah untuk menjelaskan tanpa memperlihatkan bendanya. Dan jujur saja aku tidak berpikir sebelumnya bahwa akan ada pertanyaan-pertanyaan seperti itu.
Aku berusaha sebisanya memberi gambaran tentang hewan kecil bernama Kunang-kunang, yang aku sendiri pun sudah puluhan tahun tidak pernah melihatnya lagi. Yang aku gambarkan dengan kata-kata adalah gambaran dari memori masa kecilku. Kunang-kunang yang pernah aku lihat di dalam sebuah botol kaca, bawaan Mbah Kung sepulang dia memasang perangkap belut. Hewan mungil yang malam itu bercahaya kelap-kelip di dalam botol. Dan aku ingat betapa terperangahnya aku ketika mendapati ada hewan yang bisa mengeluarkan cahaya di malam hari.
Yang pasti, malam itu berakhir dengan rasa penasaran yang besar dalam diri Gabriel dan Audrey. Mereka tidak puas hanya mendengar ceritaku. Dan aku tiba-tiba merasa berhutang kepada mereka.
Aku bercerita kepada Papanya perihal kunang-kunang itu. Aku merasa sedih karena hanya bisa bercerita tetapi tidak bisa menunjukkan seperti apa hewan kecil itu. Dan ternyata suamiku merespon dengan sebuah rencana untuk berkemah di kebun. Rencana yang disambut gembira anak-anaknya.
Sabtu pekan itu kami berempat berangkat ke Desa Simpang Rusa menjelang sore. Sebenarnya lumayan jauh, sekitar 35 Km dari pusat kota Tanjung Pandan. Tetapi jalanan yang mulus dan masih sepi membuat jarak sejauh itu hanya memakan waktu sekitar 40 menit dengan kecepatan sedang. Perjalanan menuju ke Barat sore itu terasa menyenangkan. Cuaca cerah dan hangat. Suamiku bersama Audrey di motor depan dan Gabriel bersamaku di motor belakang, beriringan.
Kami sampai di rumah Bibi Kustinah, di Simpang Rusa saat matahari sudah hampir menyentuh garis cakrawala. Pemandangan jingga kemerahan di sisi Barat itu sungguh indah. Aku bersyukur sekali karena bisa menikmati pemandangan matahari terbit dan terbenam hampir setiap hari sejak tinggal di Belitung. Romantisme pagi biru kekuningan dan senja jingga kemerahan di cakrawala sering memunculkan bait-bait puisi dalam benakku saat melihatnya.
Bibi Kustinah adalah adik Mama. Aku biasa memanggilnya Bibi Kus. Dia menyusul pindah ke Belitung bersama suaminya Lek Romli untuk mengadu nasib di Belitung dengan bertanam sayuran dan buah semangka. Mereka membeli sebidang tanah dan hidup dari hasil menjual sayuran dan semangka yang mereka tanam. Karena tanaman semangka mereka lumayan menghasilkan, orang-orang kampung akhirnya lebih mengenal Lek Romli sebagai Pak Semangko daripada nama aslinya.
Malam itu kami belum mendirikan tenda karena hari sudah keburu gelap. Jadi kami memilih duduk-duduk di depan pondok, di sebuah bale-bale bambu setelah makan malam bersama. Jaman itu, gawai belum merusak suasana. Ketika berkumpul maka semua akan menikmati obrolan dan canda tawa. Tidak ada yang sibuk sendiri dengan ponsel, main game atau swafoto. Semua peristiwa kami simpan dalam kenangan di hati masing-masing.
Suasana malam itu sepi. Hanya terdengar suara jangkrik di sekitar rumah Bibi Kus dan sesekali ditimpa suara kodok bersahutan seperti sebuah simfoni. Beberapa bunyi berpadu menjadi sebuah harmoni malam yang indah.
“Papa, lihat itu ada pohon Natal,” kata Audrey sambil menunjuk jauh ke depan.
Kami semua serentak melihat ke arah telunjuk mungil itu tertuju.
Suamiku bangkit dari bale-bale sambil menggendong Audrey dan berjalan beberapa langkah ke depan. Lek Romli ikut menyusul. Tak lama suamiku melambai ke arah kami, terlihat gembira.
“Gabriel, sini cepat!” serunya.
Gabriel yang tadi tiduran di pangkuanku bergegas bangkit dan berlari ke arah papanya.
“Lihat itu ada pohon yang kelap-kelip, Bang”. Papanya menunjuk lagi.
“Pohon Natal..Pohon Natal!” seru Audrey kegirangan. Dia menggambarkan apa yang dilihatnya seperti pohon cemara yang dihias dengan lampu dan ornamen kelap-kelip saat Hari Natal.
Kami semua akhirnya berjalan mendekat ke sumber cahaya kelap-kelip itu. Tidak bisa terlalu mendekat karena ternyata ada di seberang parit.
“Waah, kunang-kunang,” teriakku takjub. Aku tanpa sadar meloncat-loncat kegirangan seperti anak kecil. Gabriel dan Audrey berseru ria.
Semakin menjauh dari rumah Mbah Kus, pepohonan semakin rimbun dan gelap. Dari tempat kami berdiri ternyata muncul kelap-kelip yang menyebar. Tak tergambarkan betapa terharunya aku saat itu. Aku merasakan kegembiraan hati seorang anak kecil pada diriku yang sudah sangat lama tidak melihat kunang-kunang. Seperti terlempar kembali ke masa lalu saat melihat mahkluk kecil itu pertama kali, di dalam botol kaca.
Dan malam itu, tidak hanya seekor kunang-kunang dalam botol kaca, tapi ribuan. Membuat malam yang gelap seperti penuh bintang-bintang. Audrey dan Gabriel diam memutar pandangan, menikmati kekagumannya. Tangan-tangan kecil mereka menggapai-gapai ke arah cahaya-cahaya kecil di sekitarnya.
“Ini lihat,” kata Lek Romli kepada mereka sambil membuka kedua tangannya yang terkatup.
Gabriel dan Audrey ternganga melihat mahkluk kecil bercahaya itu ada di telapak tangan Lek Romli.
“Itu robot, ya, Mbah?” tanya Gabriel penasaran sambil mendekatkan wajahnya ke tangan Lek Romli
“Bukan,..ini buatan Tuhan. Kalau malam kelihatan ada cahaya di perutnya. Hebat, kan, Tuhan?”
Audrey yang semula ragu ikut mendekatkan wajahnya. “Nanti kalau Natal kita bisa pasang di pohon Natal, ya, Ma? Gak usah pakai lampu lagi.”
Kami semua tertawa.
“Boleh dibawa pulang, Mbah?” tanya Audrey lagi.
“Jangan, Dek, nanti kunang-kunangnya mati. Karena rumahnya di sini, yang banyak pohon. Nanti kalau di bawa pergi dia sedih karena jauh dari papa, mama dan saudara-saudaranya,” kata Papanya sambil ikut berjongkok di sebelah Audrey.
“Aku mau sering-sering ke rumah Mbah, Pa. Boleh, ya, Pa?” tanya Gabriel.
“Boleh. Nanti kita akan sering main ke sini. Tengok Mbah dan lihat kunang-kunang lagi,” jawab papanya. “Jadi sekarang Dedek sudah tahu, kan, seperti apa kunang-kunang? Senang, kan?”
Kedua anakku mengangguk. Dan aku lega karena Tuhan membantuku membayar hutang pada anak-anakku. Membawa mereka bertemu kunang-kunang.
Kunang-kunang atau Lampyride, diambil dari Bahasa Yunani “lampyris” yang artinya bersinar/bercahaya. Terdiri lebih dari 2000 spesies. Mahkluk mungil bercahaya ini suka pentas di pohon-pohon dengan menampilkan bioluminesensi di perutnya. Mereka menyukai tempat yang lembab, gelap dan menjadi tanda bahwa tempat itu alamnya masih sehat dan udaranya bersih. Usia hidup kunang-kunang sekitar 1-3 minggu. Justru lebih lama di dalam tanah saat menjadi larva, bisa 1 tahun lebih.
Pada jaman sekarang, habitat kunang-kunang hampir punah. Polusi udara, cahaya, banyaknya pemukiman, perambahan hutan, penggunaan pestisida tak terkendali, membuat anak-anak hampir tidak pernah melihat kunang-kunang di dunia nyata. Sekarang aku pun tidak pernah lagi melihatnya, bahkan ketika aku ke rumah Bibi Kus.
Kunang-kunang menjadi simbol harapan. Ini mengingatkan aku bahwa betapa pun susahnya hidup, masa depan terasa gelap, tetap ada titik-titik cahaya di hati yang bersih. Yang memberi secercah kegembiraan pada jiwa yang penat.
Malam itu di Simpang Rusa, kami tidur pulas dalam cerita kunang-kunang.
Kreator : drg. Maria Cornellia Nira Widyastuti (Nira.W)
Comment Closed: BAB 12_KUNANG-KUNANG DI SIMPANG RUSA
Sorry, comment are closed for this post.