Masih tentang rambu-rambu ukhuwah, bila dalam pembahasan terdahulu adalah tentang hak-hak saudara kita, maka untuk pembahasan mendatang, adalah tentang larangan-larangan, yang harus kita hindari.
Hal-hal yang bila kita lakukan, dapat merusak persaudaraan bahkan menghancurkannya. Islam telah memberikan petunjuk agar kita menjaga persaudaraan dengan baik dan berhati-hati dalam bergaul.
Setelah Allah Subhanahu wa Taala menjelaskan di dalam surah Al-Hujuraat;10, bahwa semua orang mukmin bersaudara. Kemudian dilanjutkan dengan ayat 11-13, yang merupakan rambu-rambu pergaulan.
Marilah kita pelajari tentang hal-hal perusak ukhuwah:
Larangan mengolok-olok.
Allah Subhanahu wa Taala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok)…” (QS. Al-Hujuraat;11).
Mengolok-olok orang lain biasanya adalah karena merasa lebih baik (sombong). Dan Allah sangat murka kepada manusia yang bersikap sombong, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman;18).
Larangan mencela.
Allah Subhanahu wa Taala berfirman:
“… Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri…” (QS. Al-Hujuraat;11).
Maksud dari mencela diri sendiri adalah mencela antar sesama mukmin, karena hakikatnya orang mukmin itu bagaikan satu tubuh. Bila menyakiti mukmin yang lain, sama dengan menyakiti dirinya sendiri.
Larangan memanggil dengan gelar yang buruk.
Allah Subhanahu wa Taala berfirman:
“… Dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah beriman, dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujuraat;11).
Larangan prasangka buruk.
Allah Subhanahu wa Taala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya prasangka itu adalah dosa…” (QS. Al-Hujuraat;12).
Imam Malik meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda:
“Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling dusta…”
Larangan tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain.
Allah Subhanahu wa Taala berfirman:
“…Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain…” (QS. Al-Hujuraat;12).
Larangan ghibah.
Allah Subhanahu wa Taala berfirman:
“… Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat;12).
Terdapat peringatan keras dalam masalah ghibah, hingga Allah menyamakan pelakunya dengan orang yang memakan daging bangkai saudaranya sendiri.
Larangan berbuat zalim.
Rasulullah Shalallahu alaihi wassallam bersabda: “Orang muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak menzaliminya dan tidak pula membiarkannya dizalimi.”
Larangan dengki dan bersaing tidak sehat.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda:
“Jauhilah prasangka karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan paling dusta. Janganlah kalian saling memata-matai, janganlah kalian saling mencuri informasi. Janganlah saling bersaing (yang tidak sehat). Janganlah saling mendengkur, jangan saling membenci dan jangan saling membelakangi. Tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
Larangan saling memboikot.
Sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam:
“Janganlah kalian saling memboikot, janganlah saling iri, tapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan tidaklah halal bagi seorang beragama Islam (muslim) untuk bersikap diam (tidak saling tanya) terhadap saudaranya lebih dari tiga hari.”
Tentu masih banyak lagi rambu-rambu ukhuwah yang perlu kita pelajari. Namun hal-hal di atas cukuplah memberikan gambaran, betapa Islam menjunjung tinggi persaudaraan, hingga secara detail memberikan petunjuk tentang larangan-larangan perbuatan yang dapat merusak ukhuwah.
Kami tutup pembahasan tentang rambu-rambu ukhuwah, dengan sebuah ayat yang merupakan penegasan tentang ukuran kemuliaan seseorang dalam kehidupan sosial menurut Islam, sebagaimana firman Allah:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat;13).
Comment Closed: Rambu-rambu Ukhuwah (Persaudaraan) 2
Sorry, comment are closed for this post.