Merujuk pada gaya bahasa pertentangan yang sebelumnya sudah dibahas, sekarang Darapena akan membahas gaya bahasa selanjutnya, yakni gaya bahasa pertentangan.
1. Gaya Bahasa Pertentangan adalah gaya bahasa yang maknanya bertentangan dengan kata-kata yang ada. Ragam gaya bahasa pertentangan ini ada 20 macam, yaitu:
Contoh:
– Jantungku hampir copot melihat atraksi akrobat itu.
– Aku mengenal gadis itu dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Contoh:
– Mobil sederhana ini adalah hasil kerja keras saya selama lima tahun.
– Kami berharap Saudara berkenan menerima hadiah tidak berharga ini.
Contoh:
– Wah, pagi benar kamu bangun. Pukul sepuluh pun masih di atas tempat tidur.
– Rapi sekali kamarmu. Aku bahkan tidak bisa membedakan baju yang bersih dan baju yang kotor.
Contoh:
– Andakah yang dapat mengeringkan laut dalam sekejap mata?
– Memang Andalah tokoh yang dapat menghidupkan orang mati, hingga mematikan orang hidup.
Sarkasme, adalah gaya bahasa yang mengandung olok-olok atau sindiran pedas, dan menyakiti hati. Ciri utama sarkasme selalu mengandung kepahitan dan celaan getir, menyakiti hati, dan kurang enak didengar.
Contoh:
-Mulutmu harimaumu.
-Memang otak udang isi kepala anak itu!
Contoh:
-Olahraga mendaki gunung memang menarik hati walaupun sangat berbahaya.
– Agar kita dapat bertemu kembali, terpaksalah kita berpisah untuk beberapa lama.
Contoh:
– Ketika saya mengukur kelapa di dapur, burung balam tetangga sedang mengukur bersahut-sahutan.
– Bisa ular itu bisa masuk ke dalam sel darah dengan cepat.
Contoh:
– Saya suka orang munafik (maaf) orang jujur.
– Bukankah negara kita masih terjajah (eh, maksudnya) sudah merdeka?
Zeugma dan silepsis memiliki makna yang berbeda. Pada zeugma, terdapat gabungan gramatikal dua buah kata mengandung ciri-ciri semantik yang bertentangan.
Contoh:
– Anak itu memang malas dan rajin di sekolah.
– Paman saya bersifat sosial dan egoistis.
Pada silepsis, konstruksi yang digunakan secara gramatikal benar, tetapi secara semantik salah.
Contoh:
– Pak Yusuf kehilangan harta dan kehormatannya.
– Kakakku menerima uang dan penghargaan.
Pada dua kalimat di atas, harta dan uang memiliki makna denotatif, sementara kehormatan dan kewibawaan mempunyai makna kiasan.
Satire, adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Satire mengandung kritik tentang kelemahan manusia, tujuannya adalah agar adanya perubahan terhadap manusia yang dituju baik dari segi etis atau estetis.
Contoh:
– Anak muda jaman sekarang selalu mementingkan gaya, tetapi prestasinya payah.
– Ya ampun, soal seperti ini pun tak bisa kau kerjakan?
Satire juga dapat berarti sajak atau karangan yang berupa kritik atau sindiran terang-terangan.
Contoh:
– Adi memang anak baik, hanya tidak jujur saja.
– Ia menjadi orang kaya karena mengadakan komersiliasi jabatan.
Antifrasis, adalah gaya bahasa berupa penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya. Antifrasis akan diketahui dan dipahami dengan jelas jika penyimak atau pembaca menyaksikan kenyataan yang ditulis atau dibicarakan secara nyata, misalnya diketahui yang hadir adalah orang kurus, tetapi dikatakan bahwa si gendut telah hadir.
Contoh:
– Ia menerima pujian dari masyarakat sekelilingnya.
– Lihatlah, si raksasa telah tiba.
Contoh:
– Ia kedinginan di tengah Kota Jakarta yang panas.
– Aku kesepian di tengah keramaian.
Contoh:
– Semua orang mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua ikut mengantri minyak.
– Ketua RT, RW, kepala desa, gubernur, bahkan presiden sekalipun tidak berhak mencampuri urusan pribadi seseorang.
Istilah klimaks dipakai sebagai istilah umum yang merujuk kepada tingkat atau gagasan tertinggi. Jika klimaks terbentuk dari beberapa gagasan berturut-turut semakin meningkat kepentingannya, gaya bahasa ini disebut anabis.
Contoh :
Dengan penuh penderitaan Anita menuntut ilmu hingga ke luar negeri. Ia ingin mempersembahkan ilmu yang didapatnya kepada nusa dan bangsa, meningkatkan taraf pendidikan generasi penerus, dan menciptakan kesejahteraan sosial bangsa Indonesia.
Antiklimaks, adalah kebalikan gaya bahasa klimaks. Sebagai gaya bahasa, antiklimak merupakan suatu acuan berisi gagasan-gagasan yang diurutkan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan kurang penting.
Contoh:
– Wahai, dewa-dewa langit, datanglah dan bebaskan kami dari belenggu penindasan ini.
– Wahai pejuang kemerdekaan yang telah menumpahkan darah demi tanah air tercinta ini, berikanlah kami kebebasan agar dapat mengenyam keadilan dan kemerdekaan seperti yang pernah kamu perjuangkan.
Contoh:
– Menyesal aku tidak dapat menonton acara pertunjukan kemarin.
– Berbahagialah wisudawan-wisudawati dalam perayaan yang diadakan di kampus mereka.
Apofaksis, adalah gaya bahasa yang dipakai oleh pengarang untuk menyampaikan sesuatu yang mengandung unsur kontradiksi. Terlihat seperti menerima, tetapi sebenarnya menerima; terlihat memuji, tetapi sebenarnya menghina.
Contoh:
– Saya tidak ingin membongkar aibmu kalau dulu kamu pernah melakukan pemalsuan ijazah dan menjadi plagiator.
– Sebenarnya tak sampai hati untuk mengatakan bahwa anak anda suka mencuri.
Contoh:
– Silakan terus membaca buku ini sampai jadi kutu buku, agar kebodohanmu tak berkurang, kepandaianmu pun tak bertambah.
– Dia membaca cepat buku itu dengan mengejanya kata demi kata.
Contoh :
– Nenek tertidur di kursi goyang yang nyenyak. (yang tidur nyenyak adalah nenek, bukan kursi goyang)
– Mereka bermain layang-layang yang asyik. (yang asyik adalah mereka, bukan layang-layang)
Demikianlah gaya bahasa pertentangan yang bisa Teman-teman pelajari. Dari salah satu gaya bahasa di atas gaya bahasa apa yang sering Teman-teman gunakan dalam kehidupan sehari-hari? Komen di bawah, ya!
Sekian tulisan hari ini, nantikan kelanjutan dari gaya bahasa pada part tiga! Saya Darapena, sampai jumpa.
Sumber referensi:
– KBBI V
– Ragam Gaya Bahasa, 2019
Comment Closed: 3+ Gaya Bahasa Kamu Harus Tahu part 2
Sorry, comment are closed for this post.