
Ada pengalaman yang tidak mudah dijelaskan dengan kalimat sederhana. Seseorang dapat mengikuti pendidikan dengan baik, hadir di kelas, membaca bahan kuliah, menyelesaikan tugas, mengikuti ujian, bahkan memperoleh capaian akademik yang tidak buruk. Dari luar, tidak tampak ada masalah besar. Semua berjalan sebagaimana mestinya.
Sampai pada satu titik, ketika ia harus menghasilkan karya mandiri, langkahnya tiba-tiba melambat. Bukan sekadar melambat, tetapi seperti tertahan. Ia tidak berhenti belajar. Ia tidak berhenti membaca. Ia tidak berhenti berpikir. Tetapi semua yang dibaca dan dipikirkan tidak segera berubah menjadi tulisan.
Di sinilah pertanyaan mulai muncul.
Jika selama ini saya mampu mengikuti proses pendidikan dengan baik, mengapa sekarang saya tidak bergerak?
Jika saya dapat melewati ujian, mengapa saya tidak mampu menyusun proposal?
Jika saya bukan orang yang sepenuhnya gagal, mengapa saya merasa seperti gagal?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering tidak mudah diucapkan. Sebagian orang memilih diam. Sebagian lagi menutupinya dengan kesibukan. Membaca lagi. Mencari literatur lagi. Membuat catatan baru. Mengganti topik. Berdiskusi dengan orang lain. Membuka laptop, menatap layar, lalu menutupnya kembali. Hari berganti hari, tetapi tulisan tidak kunjung terbentuk.
Dari luar, orang mungkin mengira ia malas. Atau kurang disiplin. Atau tidak cukup serius. Padahal, dalam banyak kasus, persoalannya tidak sesederhana itu. Ada orang yang justru terlalu serius. Terlalu ingin benar. Terlalu ingin siap. Terlalu takut salah. Terlalu banyak memikirkan kemungkinan buruk sebelum satu kalimat pun benar-benar ditulis.
Saya pernah berada di tempat itu.
Sekitar dua puluh tahun yang lalu, saya memberanikan diri untuk mengikuti pendidikan doktoral. Keputusan itu bukan keputusan kecil. Pendidikan doktoral, bagi banyak orang, bukan hanya kelanjutan jenjang akademik. Ia adalah ruang pembuktian. Di sana seseorang tidak lagi hanya diminta menjadi pembelajar, tetapi perlahan-lahan dituntut menjadi pemikir yang mampu berdiri dengan gagasannya sendiri.
Pada tahap awal, proses pendidikan berjalan dengan baik. Perkuliahan dapat saya ikuti. Diskusi dapat saya jalani. Bacaan-bacaan akademik, meskipun tidak selalu mudah, masih dapat saya hadapi. Ada kelas, ada jadwal, ada dosen, ada tugas, ada ujian, dan ada ukuran yang relatif jelas tentang apa yang harus dilakukan.
Dalam suasana seperti itu, saya dapat bergerak. Bahkan, saya termasuk tiga mahasiswa pertama yang menyelesaikan ujian komprehensif untuk menjadi promovendus dalam waktu tiga semester. Secara objektif, capaian itu bukan sesuatu yang buruk. Jika dilihat dari luar, seharusnya capaian tersebut menjadi tanda bahwa saya cukup mampu. Seharusnya itu menjadi bekal untuk melanjutkan tahap berikutnya dengan lebih percaya diri.
Ternyata, keberhasilan akademik tidak selalu otomatis memunculkan rasa percaya diri.
Setelah tahap perkuliahan dan ujian komprehensif terlewati, saya masuk ke tahap yang berbeda: penyusunan proposal penelitian disertasi. Pada titik inilah suasana berubah. Tidak lagi cukup hanya mengikuti kuliah. Tidak lagi cukup hanya membaca bahan yang diberikan. Tidak lagi cukup hanya menjawab pertanyaan dalam ujian. Saya harus mulai merumuskan masalah sendiri, memilih arah penelitian, menentukan pijakan teori, dan menyusun gagasan dalam bentuk tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tahap ini menuntut kemandirian yang berbeda. Bukan hanya menguji pengetahuan, tetapi juga menguji keberanian untuk mengambil keputusan. Keputusan tentang apa yang akan diteliti. Keputusan tentang batas masalah. Keputusan tentang teori yang digunakan. Keputusan tentang metode yang dipilih. Keputusan tentang kalimat-kalimat yang akhirnya harus ditulis, dibaca, dikritik, dan diperbaiki.
Pada tahap perkuliahan, saya merasa berada di jalur yang jelas. Pada tahap proposal, saya seolah memasuki ruang yang jauh lebih sunyi.
Saya membaca banyak buku. Saya menelusuri berbagai literatur. Saya mendatangi beberapa orang yang memiliki keahlian di bidang yang ingin saya teliti. Saya berdiskusi, bertanya, mendengarkan, mencatat, dan mencoba menyusun rencana penelitian. Secara lahiriah, semua itu tampak seperti usaha yang sungguh-sungguh. Dan memang saya bersungguh-sungguh.
Tetapi di balik kesungguhan itu, tulisan tidak kunjung menjadi bentuk yang utuh.
Gagasan ada. Bacaan ada. Catatan ada. Keinginan untuk menyelesaikan juga ada. Namun proposal yang diharapkan tidak juga terbentuk dengan meyakinkan. Setiap kali satu gagasan muncul, segera muncul pertanyaan lain yang membuatnya goyah. Setiap kali satu kemungkinan tema dipilih, kelemahannya segera tampak. Setiap kali hendak menulis, muncul perasaan bahwa masih ada yang kurang, masih ada yang belum dibaca, masih ada yang belum dipahami, dan masih ada yang belum siap.
Saya tidak merasa tidak belajar. Saya justru terus belajar. Saya tidak merasa tidak berusaha. Saya justru merasa telah berusaha keras. Anehnya, usaha itu tidak menghasilkan gerak nyata menuju penyelesaian.
Di sinilah letak kebingungan itu.
Saya tidak merasa gagal dalam pengertian yang sederhana. Saya bukan tidak mampu mengikuti pendidikan. Saya bukan tidak dapat membaca. Saya bukan tidak dapat berdiskusi. Saya bukan tidak pernah mencapai sesuatu. Namun, ketika harus menyusun karya mandiri, saya berhenti di tempat yang sama terlalu lama.
Proposal awal yang saya ajukan ditolak. Saya mencoba mengganti tema. Saya belajar lagi. Membaca lagi. Berdiskusi lagi. Menyusun ulang lagi. Proposal kedua kembali tidak diterima. Saya semakin frustasi. Setelah tiga kali ditolak, saya akhirnya mengambil keputusan yang sangat berat: mengundurkan diri.
Keputusan itu meninggalkan jejak panjang. Bukan hanya karena saya berhenti dari sebuah program pendidikan, tetapi juga karena saya membawa pulang pertanyaan yang belum segera menemukan jawaban.
Apa sebenarnya yang terjadi?
Mengapa saya bisa melewati tahap-tahap awal dengan baik, tetapi tidak mampu bergerak saat harus menyusun proposal?
Mengapa saya mampu berada dalam sistem pendidikan yang terstruktur, tetapi menjadi gamang ketika harus membangun struktur berpikir sendiri?
Mengapa kemampuan yang sebelumnya tampak cukup, tiba-tiba terasa tidak cukup?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang, bertahun-tahun kemudian, menjadi salah satu alasan buku ini ditulis. Bukan untuk meratapi masa lalu, melainkan untuk memahami pengalaman yang ternyata tidak hanya dialami oleh saya. Banyak orang, terutama di dunia pendidikan tinggi, mengalami hal yang serupa. Mereka dapat menyelesaikan mata kuliah, mengikuti seminar, membaca teori, bahkan memperoleh nilai yang baik. Ketika tiba saatnya menulis skripsi, tesis, disertasi, artikel ilmiah, laporan penelitian, atau buku, mereka terhenti.
Mereka tidak selalu berhenti karena tidak mampu. Kadang mereka berhenti karena terlalu takut kemampuan mereka tidak cukup.
Mereka tidak selalu berhenti karena tidak punya bahan. Kadang mereka berhenti karena bahan yang terlalu banyak justru membuat mereka kehilangan arah.
Mereka tidak selalu berhenti karena tidak tahu apa-apa. Kadang mereka berhenti karena semakin tahu, semakin merasa bahwa mereka belum tahu apa-apa.
Dalam pengalaman seperti ini, kata “gagal” menjadi terlalu sempit. Jika seseorang benar-benar tidak belajar, tidak membaca, tidak mencoba, dan tidak peduli, mungkin kita dapat menyebutnya lalai. Namun, bagaimana dengan orang yang membaca banyak, berpikir terus-menerus, berdiskusi ke sana kemari, tetapi tetap tidak mampu menghasilkan tulisan? Bagaimana dengan orang yang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi tidak mampu mempercayai kemampuannya sendiri saat harus tampil secara mandiri?
Di sinilah kita perlu melihat kebuntuan secara lebih jernih. Tidak semua ketidakbergerakan berasal dari kemalasan. Tidak semua penundaan berasal dari ketidakseriusan. Tidak semua halaman kosong menunjukkan kepala yang kosong. Kadang halaman kosong justru menunjukkan kepala yang terlalu penuh, hati yang terlalu takut, dan diri yang terlalu keras menuntut kesempurnaan sebelum waktunya.
Dalam pendidikan, ada fase ketika seseorang masih dapat berlindung di balik struktur. Jadwal memberi arah. Dosen memberi materi. Silabus memberi batas. Tugas memberi bentuk. Ujian memberi ukuran. Dalam struktur seperti itu, seseorang dapat merasa aman karena ia tahu apa yang harus dilakukan.
Akan tetapi ketika struktur itu berkurang, ketika seseorang harus mulai menentukan arah sendiri, rasa aman itu ikut berkurang. Pada tahap penyusunan proposal disertasi, seseorang tidak hanya ditanya, “Apakah Anda memahami teori?” Ia juga ditanya, “Apa yang ingin Anda teliti? Mengapa itu penting? Bagaimana Anda akan menelitinya? Apa posisi Anda? Apa kontribusi Anda?”
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak hanya bersifat akademik. Bagi sebagian orang, pertanyaan itu terasa sangat personal. Seolah-olah yang diuji bukan hanya proposalnya, tetapi juga kelayakannya sebagai calon doktor, sebagai peneliti, sebagai akademisi, bahkan sebagai pribadi yang selama ini dianggap mampu.
Maka ketika proposal ditolak, rasa sakitnya tidak selalu berhenti pada naskah. Penolakan terhadap tulisan dapat terasa seperti penolakan terhadap diri. Kritik terhadap gagasan dapat terdengar seperti kritik terhadap kemampuan. Revisi dapat terasa seperti bukti bahwa sejak awal memang belum layak.
Padahal, dalam proses akademik yang sehat, proposal ditolak atau direvisi bukanlah hal yang luar biasa. Kritik adalah bagian dari pembentukan gagasan. Revisi adalah bagian dari pematangan. Namun bagi seseorang yang sedang rapuh rasa percaya dirinya, setiap koreksi dapat terasa jauh lebih besar daripada maksud akademiknya. Satu catatan kecil dapat mengguncang. Satu penolakan dapat menenggelamkan. Satu kegagalan dapat menghapus ingatan tentang banyak keberhasilan sebelumnya.
Barangkali inilah salah satu ironi dalam perjalanan akademik. Seseorang dapat memiliki bukti bahwa ia mampu, tetapi tetap tidak mampu merasa mampu. Ia dapat memiliki capaian, tetapi capaian itu tidak cukup kuat untuk menenangkan keraguannya. Ia dapat memperoleh pengakuan, tetapi pengakuan itu tidak sepenuhnya dipercaya. Ia dapat berhasil pada satu tahap, tetapi ketika gagal pada tahap berikutnya, ia segera menyimpulkan bahwa kegagalan itulah wajah dirinya yang sebenarnya.
Pengalaman ini tidak hanya berkaitan dengan pendidikan doktoral. Dalam bentuk yang berbeda, banyak orang mengalaminya dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang lancar mengikuti pelatihan, tetapi takut memulai praktik. Ada yang memahami teori kepemimpinan, tetapi takut mengambil keputusan. Ada yang pandai memberi saran kepada orang lain, tetapi ragu untuk menjalankan langkahnya sendiri. Ada yang memiliki banyak ide, tetapi tidak pernah menerbitkan satu pun tulisan karena merasa semua idenya belum cukup baik.
Bab 1 ini ingin membuka pintu pada pertanyaan penting: mengapa seseorang yang tidak merasa sepenuhnya gagal tetap tidak bergerak?
Pada bab-bab berikutnya, kita akan melihat bahwa pendidikan yang terstruktur memang memberikan rasa aman. Dunia teoritis kadang terasa lebih nyaman daripada dunia penulisan mandiri. Dan kita akan memasuki ruang sunyi ketika saatnya harus menyusun proposal dan membuat keputusan sendiri. Kita juga akan melihat bagaimana membaca, berpikir, perfeksionisme, dan rasa tidak layak dapat saling berkelindan hingga membuat seseorang terperangkap di dalam kepalanya sendiri.
Sebelum sampai ke sana, kita perlu menerima satu hal terlebih dahulu: berhenti bergerak tidak selalu berarti tidak mampu. Kadang berhenti bergerak adalah tanda bahwa seseorang sedang berhadapan dengan ketakutan yang belum ia pahami. Kadang ia sedang membawa beban pencapaian yang justru membuatnya takut gagal. Kadang ia sedang menghadapi jarak antara bukti kemampuan dan rasa percaya diri.
Saya tidak menulis buku ini dari posisi seseorang yang sejak awal sudah tahu jawabannya. Saya menulisnya berdasarkan pengalaman pernah tidak mengerti mengapa saya tidak bergerak, padahal saya merasa sudah berusaha. Saya menulisnya dari pengalaman pernah memiliki bahan, tetapi tidak memiliki keberanian yang cukup untuk menjadikannya tulisan. Saya menulisnya berdasarkan pengalaman pernah tampak mampu pada satu tahap, tetapi menjadi tidak berdaya pada tahap berikutnya.
Mungkin pembaca juga pernah berada di tempat seperti itu.
Tidak merasa sepenuhnya gagal, tetapi juga tidak bergerak.
Tidak kosong, tetapi tidak menulis.
Tidak menyerah secara terang-terangan, tetapi tertahan diam-diam.
Jika demikian, barangkali yang pertama-tama perlu dilakukan bukan menghakimi diri, melainkan memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sebab kebuntuan yang dipahami dengan jujur dapat menjadi awal perubahan. Sementara kebuntuan yang hanya dihakimi sering kali membuat seseorang semakin tenggelam dalam rasa malu.
Bab ini dimulai dengan pengakuan sederhana: ada masa ketika saya tidak merasa gagal, tetapi juga tidak mampu bergerak. Dari pengakuan itulah kita akan memasuki percakapan yang lebih luas tentang pendidikan, rasa aman, kemandirian, perfeksionisme, dan fenomena impostor.
Karena sering kali, perjalanan untuk menyelesaikan sebuah tulisan bukan hanya perjalanan akademik. Ia juga perjalanan untuk memahami diri sendiri.
Kreator : Ari Udijono
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 1-Ketika Pendidikan Masih Terasa Aman
Sorry, comment are closed for this post.