
Ada rasa aman tertentu ketika seseorang masih berada dalam dunia pendidikan yang terstruktur. Ada jadwal yang jelas. Ada ruang kelas yang harus dihadiri. Ada dosen yang memberi arahan. Ada bahan bacaan yang ditentukan. Ada tugas yang harus dikumpulkan. Ada ujian yang harus ditempuh. Ada nilai yang menjadi tanda bahwa seseorang telah melewati satu tahap dengan baik.
Dalam dunia seperti itu, arahnya terasa lebih mudah dikenali.
Seorang mahasiswa tahu kapan harus datang, apa yang harus dibaca, tugas apa yang harus diselesaikan, dan kapan ujian akan berlangsung. Bahkan ketika materinya sulit, struktur pendidikan tetap memberi pegangan. Kesulitan itu masih berada dalam bingkai yang relatif jelas. Ada silabus. Ada daftar pustaka. Ada pokok bahasan. Ada batas waktu. Ada ukuran keberhasilan.
Bagi banyak orang, termasuk saya, fase seperti ini dapat dijalani dengan cukup baik. Proses pendidikan yang bersifat teoritis memiliki ritme yang dapat diikuti. Kita membaca, mencatat, mendengarkan kuliah, berdiskusi, mengerjakan tugas, lalu mengikuti ujian. Ada rasa bergerak karena setiap minggu ada kegiatan. Ada rasa maju karena setiap tugas yang selesai menandakan bahwa satu kewajiban telah dilalui.
Dalam keadaan seperti ini, seseorang dapat merasa menjadi mahasiswa yang baik.
Mahasiswa yang hadir di kelas. Mahasiswa yang membaca. Mahasiswa yang mendengarkan. Mahasiswa yang bertanya ketika perlu. Mahasiswa yang mengerjakan tugas. Mahasiswa yang mengikuti ujian. Mahasiswa yang berusaha memenuhi harapan akademik sebagaimana mestinya.
Namun menjadi mahasiswa yang baik tidak selalu sama dengan menjadi penulis yang berani.
Keduanya memang berhubungan, tetapi tidak identik. Menjadi mahasiswa yang baik sering kali berarti mampu mengikuti struktur yang sudah disediakan. Sementara itu, menjadi penulis yang berani berarti mampu membangun struktur sendiri. Dalam pendidikan yang masih berbasis perkuliahan, seseorang banyak bergerak dalam jalur yang telah dibuat oleh orang lain. Tetapi ketika harus menulis karya ilmiah mandiri, ia harus mulai membuat jalurnya sendiri.
Di sinilah perbedaannya mulai terasa.
Pada tahap perkuliahan, seseorang dapat membaca untuk memahami gagasan orang lain. Ia dapat mempelajari teori yang telah dirumuskan. Ia dapat mengikuti perdebatan yang sudah ada. Ia dapat menjawab pertanyaan berdasarkan bahan yang diajarkan. Ia dapat menunjukkan bahwa ia memahami peta pemikiran yang telah dibentangkan oleh dosen, buku, artikel, dan para ahli.
Ketika harus menulis proposal penelitian, tesis, disertasi, atau karya ilmiah mandiri lainnya, ia tidak cukup hanya memahami gagasan orang lain. Ia harus mulai bertanya: dari semua yang telah saya baca, apa yang ingin saya teliti? Dari sekian banyak teori, mana yang akan saya gunakan? Dari banyak persoalan, mana yang akan saya pilih? Dari berbagai kemungkinan, posisi apa yang akan saya ambil?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawa seseorang keluar dari kenyamanan sebagai penerima pengetahuan menuju tanggung jawab sebagai pencetus gagasan.
Dunia teoritis dapat terasa nyaman karena di dalamnya kita berhadapan dengan sesuatu yang sudah relatif terbentuk. Teori sudah ditulis. Buku sudah diterbitkan. Artikel sudah disusun. Pendapat para ahli sudah tersedia. Kita mempelajarinya, mengutipnya, membandingkannya, dan mencoba memahaminya. Kita dapat merasa aman karena berada di antara bangunan-bangunan pemikiran yang sudah berdiri.
Saat menulis karya sendiri, kita tidak lagi hanya berjalan di antara bangunan yang sudah ada. Kita diminta membangun sesuatu, meskipun kecil, dengan tangan kita sendiri.
Itu tidak mudah.
Dalam pengalaman pendidikan doktoral saya, tahap perkuliahan terasa jauh lebih dapat diikuti dibandingkan tahap penyusunan proposal. Pada tahap kuliah, saya tahu apa yang harus dilakukan. Saya tahu kapan harus membaca. Saya tahu kapan harus hadir. Saya tahu kapan harus menyelesaikan tugas. Saya tahu kapan harus mengikuti ujian. Ada alur yang membantu saya bergerak.
Saya tidak mengatakan tahap itu ringan. Pendidikan doktoral tentu memiliki tuntutan yang tinggi. Bacaan tidak sedikit. Diskusi tidak selalu sederhana. Ujian juga tidak mudah. Sekalipun berat, tahap itu tetap memiliki bentuk. Sesuatu yang berbentuk lebih mudah dihadapi daripada sesuatu yang masih samar.
Tahap teori memberi saya ruang untuk menunjukkan kemampuan memahami. Saya dapat membaca konsep, mendalami pemikiran, menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lain, dan mengikuti proses akademik yang telah dirancang. Saya bahkan dapat menyelesaikan ujian komprehensif dalam waktu yang relatif cepat.
Tetapi pengalaman itu kemudian memperlihatkan satu hal penting: kemampuan mengikuti struktur tidak selalu otomatis menjadi kemampuan menciptakan struktur.
Ini bukan berarti tahap perkuliahan tidak penting. Justru sebaliknya, tahap teoritis sangat penting. Ia membangun dasar. Ia memperkenalkan bahasa akademik. Ia membuka wawasan. Ia melatih cara berpikir. Ia membantu kita melihat bagaimana sebuah ilmu dibangun, diperdebatkan, dan dikembangkan. Tanpa tahap teoritis yang memadai, seseorang akan kesulitan menyusun karya akademik secara bertanggung jawab.
Ada bahaya yang halus ketika seseorang terlalu nyaman berada dalam dunia teori. Ia dapat merasa produktif hanya dengan terus membaca. Ia dapat merasa maju hanya karena semakin banyak yang dipahaminya. Ia dapat merasa aman karena masih berada dalam posisi sebagai pembelajar yang menerima, bukan sebagai penulis yang menyatakan.
Di dalam kelas, seseorang boleh menjadi pendengar yang baik. Dalam diskusi, ia boleh mengutip pendapat orang lain. Dalam ujian, ia dapat menjawab berdasarkan pemahaman atas materi. Tetapi dalam karya mandiri, ia harus tampil dengan kalimatnya sendiri. Ia harus menulis bukan hanya apa yang dikatakan orang lain, tetapi juga bagaimana ia memahami, memilih, membatasi, dan menempatkan gagasannya.
Di sinilah rasa aman dunia teoritis mulai diuji.
Selama berada di kelas, kesalahan sering kali masih terasa sebagai bagian dari proses belajar. Jika tidak memahami satu konsep, kita dapat bertanya. Jika jawabannya belum tepat, dosen dapat meluruskan. Jika tugas kurang sempurna, masih ada tugas berikutnya. Jika diskusi belum matang, masih ada pertemuan selanjutnya. Struktur kelas memberi ruang koreksi yang terasa wajar.
Namun dalam penyusunan proposal, kesalahan terasa lebih personal. Topik yang dipilih terasa seperti mencerminkan kecerdasan kita. Rumusan masalah yang kurang tajam terasa seperti bukti bahwa kita tidak cukup memahami bidang kita. Kerangka teori yang lemah terasa seperti tanda bahwa bacaan kita belum memadai. Metode yang dipertanyakan terasa seperti serangan terhadap kesiapan kita sebagai calon peneliti.
Padahal, secara akademik, semua itu masih merupakan bagian dari proses. Proposal memang perlu diuji. Rumusan masalah memang perlu diasah. Kerangka teori memang perlu diperkuat. Metode memang perlu dipertanyakan. Bagi seseorang yang terbiasa merasa aman dalam struktur kelas, kritik terhadap karya mandiri dapat terasa jauh lebih mengguncang.
Sebab kali ini, yang dikritik bukan jawaban atas soal ujian. Yang dikritik adalah rancangan gagasan yang ia bangun sendiri.
Dunia teoritis juga memberi rasa aman karena di sana kita tidak selalu harus membuat keputusan akhir. Kita dapat mempelajari berbagai teori tanpa harus segera memilih salah satunya. Kita dapat membaca banyak pendekatan tanpa harus langsung menentukan posisi. Kita dapat menikmati keluasan ilmu tanpa harus membatasi diri pada satu pertanyaan penelitian yang spesifik.
Keluasan itu menyenangkan. Bahkan memabukkan.
Semakin banyak membaca, semakin banyak pintu terbuka. Setiap teori memperlihatkan kemungkinan baru. Setiap buku memberi cara pandang yang berbeda. Setiap diskusi menambahkan pertanyaan baru. Dalam tahap pembelajaran, hal ini sangat bermanfaat. Ia membuat wawasan kita berkembang.
Ketika tiba saatnya menyusun proposal, keluasan itu harus dipersempit. Tidak semua teori dapat dipakai. Tidak semua pertanyaan dapat dijawab. Tidak semua minat dapat dimasukkan. Tidak semua kemungkinan dapat dikejar. Penelitian menuntut pembatasan, dan pembatasan menuntut keberanian untuk berkata: ini yang saya pilih, dan yang lain untuk sementara saya tinggalkan.
Bagi yang terbiasa nyaman dengan keluasan teori, tindakan ini seakan membatasi dan terasa seperti kehilangan. Seolah-olah memilih satu tema berarti mengabaikan tema lainnya. Memilih satu pendekatan berarti menutup pintu terhadap pendekatan lain. Memilih satu rumusan masalah berarti melepaskan banyak pertanyaan menarik yang juga ingin dijawab.
Di sinilah seorang mahasiswa mulai belajar bahwa karya akademik tidak hanya dibangun oleh kecerdasan, tetapi juga oleh keputusan.
Keputusan untuk memilih.
Keputusan untuk membatasi.
Keputusan untuk menunda sebagian minat.
Keputusan untuk tidak memasukkan semua hal.
Keputusan untuk menulis sesuatu yang cukup jelas, meskipun belum mampu menampung seluruh kompleksitas pikiran.
Dalam dunia teori, seseorang dapat mengagumi luasnya pengetahuan. Dalam dunia penulisan, seseorang harus belajar menerima keterbatasan. Sebuah proposal yang baik bukan proposal yang memasukkan semua hal, melainkan proposal yang tahu fokusnya. Sebuah penelitian yang dapat dikerjakan bukan penelitian yang menjawab semua persoalan, melainkan penelitian yang memiliki batas yang dapat ditempuh.
Pelajaran ini sederhana, tetapi tidak selalu mudah diterima oleh orang yang perfeksionis atau terlalu banyak berpikir. Ia ingin lengkap. Ia ingin utuh. Ia ingin tidak ada celah. Ia ingin semua kemungkinan sudah dipertimbangkan sebelum mulai. Akibatnya, ia terus berada dalam wilayah persiapan, tetapi tidak kunjung memasuki wilayah penyelesaian.
Saya belum ingin masuk terlalu jauh ke dalam persoalan perfeksionisme. Itu akan kita bahas kemudian. Untuk saat ini, kita hanya perlu melihat bahwa rasa aman dalam dunia teoritis kadang membuat seseorang tidak menyadari bahwa tahap berikutnya membutuhkan keterampilan batin yang berbeda.
Keterampilan itu bukan hanya memahami, tetapi juga memilih.
Bukan hanya membaca, tetapi menulis.
Bukan hanya mengikuti, tetapi memulai.
Bukan hanya menjawab, tetapi merumuskan.
Bukan hanya menjadi mahasiswa yang patuh, tetapi juga menjadi peneliti yang berani.
Pendidikan yang terlalu lama, hanya kita pahami sebagai proses menerima pengetahuan, dapat membuat kita canggung ketika harus menghasilkan pengetahuan. Kita terbiasa bertanya, “Apa yang harus saya pelajari?” Tetapi dalam penelitian, pertanyaannya berubah menjadi, “Apa yang ingin saya ketahui dan bagaimana saya akan mencarinya?”
Kita terbiasa bertanya, “Apa tugas yang diberikan?” Tetapi dalam penulisan mandiri, pertanyaannya berubah menjadi, “Tugas apa yang harus saya rumuskan untuk diri saya sendiri hari ini?”
Kita terbiasa bertanya, “Apa jawaban yang benar?” Namun, dalam penelitian, kita harus bersedia masuk ke wilayah yang jawabannya belum tersedia secara utuh.
Perubahan pertanyaan ini dapat mengguncang. Bukan karena kita tidak mampu belajar, tetapi karena kita belum terbiasa berdiri tanpa struktur yang sepenuhnya disediakan oleh orang lain.
Ada orang yang sangat baik saat berjalan di dalam peta. Tetapi ketika diminta menggambar peta, ia mulai ragu. Ada orang yang sangat mampu mengikuti jalur. Tetapi ketika diminta menentukan jalur, ia menjadi gamang. Ada orang yang sangat tekun dalam membaca bangunan pemikiran orang lain. Tetapi ketika diminta meletakkan batu pertama bagi bangunan pikirannya sendiri, ia merasa tangannya gemetar.
Mungkin di sinilah letak salah satu tantangan terbesar dalam pendidikan tinggi. Ia tidak hanya mengubah seseorang dari tidak tahu menjadi tahu. Ia juga harus mengubah seseorang dari pembelajar menjadi pencipta gagasan. Dari penerima struktur menjadi pembangun struktur. Dari pengikut alur menjadi pengambil keputusan.
Perubahan itu tidak selalu terjadi dengan mulus.
Banyak mahasiswa tidak menyadari bahwa keberhasilan pada tahap teori belum tentu cukup untuk membuat mereka siap secara psikologis untuk memasuki tahap penelitian mandiri. Mereka mengira bahwa setelah semua mata kuliah selesai dan ujian komprehensif terlewati, langkah berikutnya akan berjalan lebih mudah. Kenyataannya, justru setelah struktur formal itu berkurang, mereka mulai merasakan beratnya kesunyian akademik.
Kesunyian itu belum menjadi pokok Bab ini. Akan tetapi tanda-tandanya sudah mulai terlihat di sini: ketika kelas selesai, ketika jadwal tidak lagi sepadat sebelumnya, ketika tugas tidak lagi datang dalam bentuk mingguan, ketika dosen tidak lagi memberi pertanyaan yang harus dijawab, tetapi menunggu kita datang membawa rancangan pertanyaan kita sendiri.
Pada saat itulah dunia teoritis yang nyaman mulai meninggalkan kita di tepi dunia lain: dunia penulisan mandiri.
Dunia teoritis mengajarkan kita tentang pentingnya dasar. Dunia penulisan mengajarkan kita tentang pentingnya keberanian. Dunia teoritis memperlihatkan betapa luasnya ilmu. Tetapi dunia penulisan juga memaksa kita memilih satu jalan kecil di dalam keluasan itu. Dunia teoritis memberi kita bahasa. Dunia penulisan meminta kita menggunakan bahasa itu untuk menyatakan sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita sendiri.
Maka tidak mengherankan jika sebagian orang merasa kehilangan pegangan ketika berpindah dari tahap perkuliahan ke tahap penyusunan karya mandiri. Mereka tidak kehilangan kemampuan. Mereka kehilangan struktur yang selama ini membantu kemampuan itu bekerja.
Pada tahap teori, kemampuan seseorang didukung oleh sistem. Pada tahap mandiri, kemampuan itu harus mulai ditopang oleh disiplin, keberanian, dan kepercayaan diri yang lebih personal. Jika tiga hal ini belum cukup kuat, seseorang dapat merasa tiba-tiba tidak mampu, padahal yang berubah bukan semata-mata kemampuannya, melainkan medan yang ia hadapi.
Saya justru memahami hal ini setelah melewati pengalaman panjang yang tidak selalu menyenangkan. Pada tahap perkuliahan, saya merasa dapat bergerak karena ada struktur yang jelas. Tetapi ketika harus menyusun proposal, saya harus berhadapan dengan ruang yang lebih terbuka. Ruang itu menuntut saya bukan hanya untuk tahu, tetapi juga untuk memilih. Bukan hanya untuk memahami, tetapi juga untuk berani menyatakan.
Dan ternyata, keberanian semacam itu tidak otomatis lahir dari banyaknya teori yang kita pelajari.
Ini bukan alasan untuk meremehkan teori. Sama sekali tidak. Teori tetap penting. Bacaan tetap penting. Kelas tetap penting. Diskusi tetap penting. Justru karena semua itu penting, kita perlu menempatkannya dengan tepat. Dunia teoritis adalah bekal, bukan tempat tinggal selamanya. Ia adalah landasan, bukan tempat persembunyian. Ia adalah pintu masuk menuju karya, bukan pengganti karya itu sendiri.
Ada saatnya kita harus keluar dari kenyamanan, memahami dan memasuki risiko menulis.
Risiko itu tidak selalu menyenangkan. Ketika menulis, gagasan kita menjadi lebih terlihat. Ketika terlihat, ia dapat dinilai. Ketika dinilai, ia dapat dikritik. Ketika dikritik, ia dapat merasa terluka. Tetapi tanpa proses itu, gagasan tidak akan tumbuh menjadi karya.
Di dalam kepala, gagasan dapat terasa indah dan luas. Di dalam kelas, teori dapat terasa rapi dan meyakinkan. Namun di atas halaman, semuanya harus diuji oleh susunan kalimat. Di sanalah kita mulai melihat mana yang sudah jelas dan mana yang masih kabur. Mana yang dapat dipertanggungjawabkan dan mana yang hanya terdengar menarik. Mana yang benar-benar menjadi fokus dan mana yang sekadar keinginan untuk memasukkan terlalu banyak hal.
Menulis membuat pikiran menjadi nyata. Dan karena menjadi nyata, ia juga menjadi rentan.
Barangkali itulah sebabnya banyak orang lebih lama bertahan di dunia teoritis. Bukan karena mereka tidak ingin menulis, tetapi karena selama masih membaca dan berpikir, gagasan mereka belum perlu diuji. Selama masih berada di wilayah persiapan, mereka belum perlu menghadapi kemungkinan ditolak. Selama masih mengumpulkan bahan, mereka belum perlu memperlihatkan bentuk akhir yang dapat dinilai.
Pendidikan, terutama pendidikan tinggi, tidak dapat berhenti pada kenyamanan memahami. Pada akhirnya, seseorang harus berani menyusun, menyatakan, dan mempertanggungjawabkan gagasan. Tidak harus sempurna sejak awal. Tidak harus langsung matang. Tidak harus bebas dari revisi. Tetapi harus mulai diberi bentuk.
Bab ini mengajak kita melihat kembali fase pendidikan teoritis dengan lebih jernih. Fase itu penting, tetapi juga bisa meninabobokan. Ia memberi dasar, tetapi juga dapat memberi ilusi bahwa memahami sudah sama dengan menghasilkan. Ia memberi rasa aman, tetapi rasa aman itu tidak selalu mempersiapkan kita untuk kesunyian tahap mandiri.
Jika pada suatu masa kita pernah merasa begitu lancar di ruang kelas, tetapi tiba-tiba tersendat saat menyusun proposal, mungkin kita tidak sedang mengalami kemunduran dalam kemampuan. Mungkin kita sedang berpindah medan. Dari medan yang terstruktur menuju medan yang menuntut kemandirian. Dari dunia yang memberi pertanyaan menuju dunia yang meminta kita merumuskan pertanyaan. Dari kenyamanan belajar menuju keberanian berkarya.
Perpindahan medan inilah yang sering kali tidak kita sadari.
Kita mengira masalahnya adalah diri kita yang lemah. Padahal mungkin kita hanya belum memahami bahwa tahap baru menuntut cara bergerak yang berbeda. Cara bergerak di ruang kelas tidak sama dengan cara bergerak di ruang penelitian. Cara berhasil dalam ujian tidak sama dengan cara menyelesaikan proposal. Cara menjadi mahasiswa yang baik tidak selalu sama dengan cara menjadi penulis yang berani.
Kesadaran ini penting, karena tanpa kesadaran itu kita mudah menghakimi diri. Kita berkata, “Mengapa dulu saya bisa, sekarang tidak?” Kita mengira diri kita telah kehilangan kemampuan. Padahal mungkin yang sedang terjadi adalah kemampuan lama kita belum cukup disesuaikan dengan tuntutan yang baru.
Tahap teori mengajarkan kita untuk memahami.
Tahap proposal mengajarkan kita untuk memilih.
Tahap teori mengajarkan kita untuk mengikuti.
Tahap proposal mengajarkan kita untuk memulai.
Tahap teori mengajarkan kita untuk menjawab.
Tahap proposal mengajarkan kita untuk bertanya.
Dan tidak semua orang siap menghadapi perubahan itu pada saat yang sama.
Pada akhirnya, dunia teoritis memang terasa nyaman karena ia memberi kita pegangan. Pendidikan tidak berhenti di sana. Pegangan itu diperlukan agar kita dapat melangkah ke ruang berikutnya, bukan agar kita tinggal selamanya di dalamnya. Rasa aman di dalam kelas perlu dihargai, tetapi keberanian di luar kelas perlu dilatih.
Sebab karya mandiri tidak lahir hanya dari banyaknya pengetahuan yang kita simpan. Ia lahir ketika pengetahuan itu mulai diberi arah, dipilih, dibatasi, dituliskan, dan dipertanggungjawabkan.
Di titik inilah perjalanan mulai memasuki wilayah yang lebih sunyi.
Ketika kelas tidak lagi menjadi pusat kegiatan. Ketika jadwal tidak lagi menggerakkan kita dari luar. Ketika tidak ada lagi tugas mingguan yang memaksa kita menulis. Ketika pembimbing menunggu kita datang dengan gagasan, bukan sekadar menunggu kita hadir sebagai peserta kuliah.
Pada saat itulah seseorang mulai berhadapan dengan pertanyaan yang lebih berat:
Sekarang, ketika semua pegangan dari luar mulai berkurang, apakah saya berani bergerak dengan pegangan yang saya bangun sendiri?
Pertanyaan inilah yang membawa kita ke Bab berikutnya: saat harus mandiri, semua menjadi sunyi.
Kreator : Ari Udijono
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 2-Dunia Teoritis yang Terasa Nyaman
Sorry, comment are closed for this post.