
Perfeksionisme jarang muncul dengan wajah yang baik.
Ia sering datang dengan wajah yang tampak mulia. Ia berbicara dengan bahasa yang terdengar baik. Ia mengatakan bahwa kita harus bersikap serius. Harus teliti. Harus bertanggung jawab. Harus menghasilkan karya yang kuat. Harus menjaga mutu. Harus tidak sembarangan. Harus menghormati proses akademik. Harus memberi yang terbaik.
Semua itu terdengar benar.
Dalam pendidikan tinggi, standar memang penting. Karya akademik tidak boleh asal-asalan. Proposal penelitian harus disusun berdasarkan dasar yang jelas. Rumusan masalah harus tajam. Teori harus dipilih dengan tepat. Metode harus dapat dipertanggungjawabkan. Argumen harus runtut. Rujukan harus memadai. Tulisan harus dapat dibaca dan diuji.
Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk menghasilkan karya yang baik.
Yang menjadi persoalan adalah ketika keinginan untuk menghasilkan karya yang baik berubah menjadi ketakutan akan menghasilkan karya yang belum sempurna. Ketika standar tinggi tidak lagi menjadi penuntun, melainkan berubah menjadi penghalang. Ketika kalimat “saya ingin memberikan yang terbaik” perlahan berubah menjadi “jangan mulai dulu, karena kalau belum sempurna nanti terlihat bahwa saya tidak cukup mampu.”
Di sinilah perfeksionisme mulai menyamar.
Ia tidak selalu terasa seperti rasa takut. Kadang ia terasa seperti tanggung jawab. Kadang seperti kehati-hatian. Kadang seperti idealisme. Kadang seperti kesungguhan akademik. Karena itulah ia sulit dikenali. Kita merasa sedang menjaga kualitas, padahal mungkin sedang menunda. Kita merasa sedang memperkuat karya, padahal mungkin sedang melindungi diri dari kemungkinan kecewa. Kita merasa sedang menunggu waktu yang tepat, padahal mungkin sedang takut menghadapi penilaian.
Perfeksionisme sering berkata, “Saya hanya ingin hasil yang terbaik.”
Namun di balik kalimat itu, kadang ada bisikan lain yang lebih gelap: “Jangan mulai. Nanti ketahuan kalau kamu tidak sehebat itu.”
Bisikan semacam ini tidak selalu keras. Ia sering sangat halus. Ia muncul ketika kita hendak menulis kalimat pertama. Ketika ingin mengirim draft kepada pembimbing. Ketika hendak memilih topik. Ketika harus memutuskan kerangka teori. Ketika akan mengajukan proposal. Ia membuat kita merasa bahwa tulisan yang belum sempurna lebih baik disimpan daripada diperlihatkan. Ia membuat kita percaya bahwa menunda lebih aman daripada mencoba.
Padahal karya akademik hampir selalu lahir dalam keadaan belum sempurna.
Tidak ada proposal yang langsung matang sejak kalimat pertama. Tidak ada disertasi yang sejak awal tersusun rapi tanpa perubahan. Tidak ada artikel yang langsung siap terbit tanpa revisi. Tidak ada buku yang lahir utuh tanpa coretan, penghapusan, pemindahan, dan penulisan ulang. Setiap karya yang tampak baik di hadapan pembaca hampir selalu melewati bentuk-bentuk awal yang tidak tampak: draf kasar, catatan berantakan, gagasan yang belum fokus, struktur yang berubah, dan kalimat yang diperbaiki berkali-kali.
Namun, orang yang perfeksionis sering tidak sabar terhadap proses awal itu.
Ia ingin langsung sampai pada bentuk yang layak. Ia ingin draft pertama sudah meyakinkan. Ia ingin paragraf pembuka yang langsung kuat. Ia ingin rumusan masalah yang langsung tajam. Ia ingin pembimbing membaca dan segera memahami tanpa banyak catatan. Ia ingin penguji mengakui bahwa naskahnya sudah matang. Ia ingin tidak terlihat lemah.
Keinginan itu dapat dipahami. Siapa yang tidak ingin karyanya dihargai? Siapa yang tidak ingin tulisannya dianggap baik? Siapa yang tidak ingin tampak siap? Ketika keinginan itu menjadi syarat untuk memulai, proses menulis menjadi sangat melelahkan.
Sebab tidak ada manusia yang dapat memulai dari kesempurnaan.
Kesempurnaan, kalaupun dapat didekati, biasanya datang belakangan. Ia lahir dari pengulangan. Dari keberanian mencoba. Dari kesediaan menerima kritik. Dari proses membaca ulang. Dari revisi yang kadang melelahkan. Dari kesalahan yang dikenali. Dari kalimat yang diganti. Dari gagasan yang dipertajam. Dari bagian yang dibuang meskipun dulu terasa penting.
Perfeksionisme ingin melompati semua proses itu. Ia ingin hasil akhir tanpa harus melewati bentuk awal yang buruk. Ia ingin kematangan tanpa masa mentah. Ia ingin ketepatan tanpa risiko salah. Ia ingin pengakuan tanpa kemungkinan ditolak.
Karena itulah, perfeksionisme sering membuat seseorang tampak serius, tetapi tidak bergerak maju.
Dalam pengalaman saya menyusun proposal penelitian, saya sering merasa bahwa naskah yang akan saya ajukan harus benar-benar kuat. Saya ingin proposal itu tidak mudah dipatahkan. Saya ingin setiap bagian memiliki dasar. Saya ingin topik yang dipilih benar-benar tepat. Saya ingin rumusan masalah tidak memiliki celah. Saya ingin menunjukkan bahwa saya layak masuk program doktoral.
Keinginan itu tampak baik. Lama-kelamaan, saya mulai merasakan sisi lain dari keinginan tersebut. Semakin saya ingin semuanya kuat, semakin sulit saya menerima bagian yang masih lemah. Semakin saya ingin proposal itu matang, semakin sulit saya mengizinkan diri menulis bagian yang masih mentah. Semakin saya ingin terlihat siap, semakin takut saya memperlihatkan draf yang belum matang.
Akibatnya, pekerjaan yang seharusnya berkembang melalui proses menjadi tertahan oleh tuntutan kesempurnaan sebelum waktunya.
Saya membaca lagi. Berpikir lagi. Berdiskusi lagi. Mengganti kemungkinan lagi. Menimbang ulang lagi. Semua itu tidak selalu salah. Tetapi jika dilihat dengan jujur, sebagian dari gerak itu bukan lagi semata-mata upaya untuk memperbaiki kualitas. Sebagian darinya adalah cara untuk menunda perjumpaan dengan ketidaksempurnaan.
Saya takut proposal itu ditolak.
Saya takut dianggap tidak cukup memahami bidang yang ingin saya teliti.
Saya takut terlihat belum siap.
Saya takut mengecewakan pembimbing.
Saya takut bahwa tulisan yang saya ajukan akan membuka kelemahan diri yang selama ini saya sembunyikan bahkan dari diri saya sendiri.
Ketakutan seperti ini membuat perfeksionisme menjadi sangat melelahkan. Di permukaan, ia menuntut kualitas. Di kedalaman, ia menjaga harga dirinya agar tidak terluka. Kita tidak hanya ingin tulisan yang baik; kita ingin terlindung dari rasa malu jika tulisan itu dianggap belum memadai. Kita tidak hanya ingin proposal diterima; kita ingin diri kita diterima sebagai orang yang pantas berada di jenjang tersebut.
Maka ketika naskah dikritik, yang terasa terluka bukan hanya gagasan. Yang terasa terluka adalah diri.
Kritik terhadap rumusan masalah terdengar seperti kritik terhadap kecerdasan.
Catatan pada kerangka teori terasa seperti tanda bahwa kita kurang membaca.
Pertanyaan tentang metode terasa seperti keraguan terhadap kelayakan kita sebagai calon peneliti.
Penolakan proposal terasa seperti penolakan terhadap diri sendiri.
Padahal, dalam proses akademik, naskah memang harus diuji. Proposal memang harus dipertanyakan. Kerangka berpikir memang harus diperiksa. Metode memang harus dikritisi. Semua itu bukan penghinaan, melainkan bagian dari proses pembentukan karya. Bagi orang yang perfeksionis, proses koreksi sering terasa seperti ancaman.
Ia tidak melihat revisi sebagai jalan menuju perbaikan. Ia melihat revisi sebagai bukti bahwa dirinya kurang.
Di sinilah perfeksionisme berbeda dari keinginan yang sehat untuk menghasilkan karya yang baik.
Keinginan yang sehat terhadap kualitas membuat seseorang bersedia belajar. Ia menulis, lalu memperbaiki. Ia menerima masukan, lalu menimbang. Ia mengakui kekurangan, lalu bekerja. Ia dapat merasa kecewa, tetapi tidak hancur. Ia memahami bahwa karya yang belum baik masih dapat diperbaiki.
Perfeksionisme tidak demikian. Perfeksionisme membuat seseorang sulit memisahkan kualitas karya dari nilai dirinya. Jika karyanya belum baik, ia merasa dirinya juga tidak baik. Jika proposal ditolak, ia merasa dirinya gagal. Jika tulisannya banyak direvisi, ia merasa tidak mampu. Jika pembimbing memberi catatan tajam, ia merasa kelayakannya dipertanyakan.
Akibatnya, ia tidak hanya takut menghasilkan karya yang buruk. Ia takut menjadi orang yang buruk di mata dirinya sendiri.
Rasa takut itulah yang membuat perfeksionisme begitu kuat. Ia bukan sekadar kebiasaan untuk menjadi rapi. Ia bukan sekadar sifat teliti. Ia adalah mekanisme perlindungan diri. Dengan tidak memulai, seseorang tidak perlu menghadapi kemungkinan kegagalan. Dengan tidak mengirim draf, ia tidak perlu menerima kritik. Dengan terus menunda, ia masih dapat mempertahankan bayangan bahwa karyanya mungkin akan sangat baik jika suatu saat nanti benar-benar ditulis.
Selama tulisan belum selesai, masih ada ilusi bahwa tulisan itu bisa sempurna.
Tetapi begitu tulisan lahir, ia menjadi nyata. Dan sesuatu yang nyata selalu memiliki kekurangan.
Bagi orang yang perfeksionis, kenyataan ini sulit diterima. Selama gagasan berada di kepala, ia dapat terasa indah, besar, dan sempurna. Ketika ditulis, gagasan itu menjadi terbatas. Kalimatnya mungkin kaku. Argumennya mungkin melompat. Referensinya mungkin kurang. Hubungannya mungkin belum jelas. Apa yang di kepala terasa luas, di halaman tampak sempit dan tidak memuaskan.
Maka ia kecewa. Lalu berhenti.
Padahal perbedaan antara gagasan di kepala dan tulisan di halaman adalah hal yang wajar. Hampir semua penulis mengalaminya. Di dalam kepala, pikiran tidak harus antre. Ia dapat muncul bersamaan, lengkap dengan nuansa, bayangan, pengalaman, dan perasaan. Tetapi di atas halaman, pikiran harus menjadi kalimat satu demi satu. Ia harus memilih urutan. Ia harus memiliki batas. Ia harus rela kehilangan sebagian keluasan agar dapat dipahami.
Tulisan selalu merupakan penyederhanaan dari kerumitan pikiran.
Karena itu, tulisan awal hampir pasti terasa kurang memadai. Bukan karena kita bodoh, tetapi karena proses mengubah pikiran menjadi bahasa memang membutuhkan waktu. Perfeksionisme tidak sabar terhadap jarak ini. Ia ingin pikiran yang kaya langsung berubah menjadi tulisan yang matang. Ketika itu tidak terjadi, ia menyimpulkan bahwa dirinya gagal.
Salah satu jebakan perfeksionisme adalah menganggap draf pertama sebagai cermin kemampuan akhir.
Padahal draft pertama hanyalah titik awal. Ia bukan putusan akhir tentang kecerdasan. Ia bukan bukti final tentang kelayakan akademik. Ia bukan gambaran yang utuh tentang potensi seseorang. Draf pertama adalah bahan kerja. Ia adalah bentuk awal yang dibuat agar proses perbaikan dapat dimulai.
Orang yang perfeksionis sering memperlakukan draf pertama seperti ujian terakhir. Karena itu, ia menjadi takut membuatnya.
Jika draf pertama harus langsung bagus, menulis terasa menegangkan. Jika kalimat pertama harus langsung tepat, halaman kosong pun terasa menakutkan. Jika proposal awal harus langsung diterima, maka mengajukan proposal terasa seperti mempertaruhkan harga diri. Jika setiap kritik dianggap sebagai tanda kegagalan, bimbingan berubah menjadi ruang yang dihindari.
Dalam keadaan seperti ini, perfeksionisme tidak meningkatkan kualitas. Ia justru menghambat proses yang diperlukan untuk mencapai kualitas.
Sebab kualitas lahir dari siklus: menulis, menerima masukan, memperbaiki, membaca ulang, menata kembali, dan mengajukan kembali. Perfeksionisme memutus siklus itu di awal. Ia berkata, “Jangan menulis sampai cukup baik.” Padahal, untuk menjadi cukup baik, tulisan harus ditulis terlebih dahulu.
Ini paradoks yang sering menjebak.
Kita menunggu tulisan yang baik agar berani menulis.
Padahal tulisan menjadi baik karena kita berani menulis.
Dalam proses akademik, perfeksionisme juga dapat membuat seseorang sulit untuk mengambil keputusan. Setiap pilihan terasa harus benar. Topik harus paling tepat. Teori harus paling sesuai. Metode harus paling kuat. Judul harus paling sempurna. Padahal penelitian selalu melibatkan batas dan keterbatasan. Tidak ada topik yang bebas dari kelemahan. Tidak ada teori yang menjawab semua hal. Tidak ada metode yang sempurna untuk setiap pertanyaan. Tidak ada keputusan akademik yang sepenuhnya tanpa risiko.
Kematangan akademik bukan berarti menemukan pilihan tanpa kelemahan. Kematangan akademik berarti memahami kelemahan dalam pilihan kita dan tetap dapat mempertanggungjawabkannya.
Perfeksionisme sering menolak kenyataan ini. Ia ingin pilihan yang aman dari kritik. Ia ingin keputusan yang tidak dapat dipersoalkan. Ia ingin proposal yang tidak memiliki celah. Dalam dunia ilmu, hampir semua hal dapat dipersoalkan. Justru karena itulah ilmu berkembang. Sebuah penelitian tidak harus sempurna agar berharga. Ia hanya perlu jujur terhadap batasnya, jelas dalam pertanyaannya, tepat dalam metodenya, dan terbuka terhadap kritik.
Kesediaan untuk mengakui batas adalah bagian dari kedewasaan ilmiah.
Tetapi bagi orang yang perfeksionis, batas terasa seperti kelemahan yang memalukan. Ia ingin tampak menguasai semuanya. Ia ingin terlihat siap dalam segala hal. Ia tidak ingin berkata, “Saya belum tahu.” Padahal dalam proses belajar, kalimat “saya belum tahu” adalah pintu masuk menuju pengetahuan. Yang berbahaya bukan tidak tahu, melainkan tidak berani mengakui ketidaktahuan sehingga kita tidak dapat belajar.
Perfeksionisme juga membuat seseorang sulit untuk meminta bantuan. Karena meminta bantuan terasa seperti mengakui kekurangan. Bertanya terasa seperti menunjukkan kebodohan. Mengirim draf kasar terasa seperti membuka aib akademik. Padahal bimbingan hanya dapat bekerja jika ada sesuatu yang dibawa. Pembimbing tidak dapat memperbaiki pikiran yang hanya berputar di kepala. Teman tidak dapat memberi masukan pada tulisan yang tidak pernah dibagikan. Diskusi tidak dapat menjadi konkret jika tidak ada rancangan yang dapat dibahas.
Kadang, untuk bertumbuh, kita harus berani memperlihatkan sesuatu yang belum bagus kepada orang yang tepat.
Ini tidak mudah. Terutama bagi orang yang terbiasa ingin tampil siap. Pendidikan yang sehat bukanlah panggung untuk selalu tampil sempurna. Pendidikan adalah ruang pembentukan. Dalam ruang pembentukan, ada bagian diri yang memang harus terlihat belum selesai. Ada gagasan yang harus diuji. Ada tulisan yang harus dicoret. Ada pemahaman yang harus diluruskan. Ada keyakinan yang harus direvisi.
Jika kita hanya mau hadir ketika sudah sempurna, kita kehilangan kesempatan untuk dibentuk.
Dalam pengalaman kedua saya menempuh pendidikan doktoral, pendampingan dari tim promotor menjadi sangat berarti. Mereka mengetahui pengalaman pahit di masa lalu. Mereka lebih intens menemani. Bukan berarti semua keraguan langsung hilang. Bukan berarti tulisan tiba-tiba menjadi mudah. Tetapi kehadiran mereka membantu saya melihat bahwa draf yang belum sempurna tetap boleh diajukan. Catatan bukan akhir. Revisi bukan kehancuran. Perbaikan bukan tanda bahwa saya tidak layak.
Perlahan-lahan, saya belajar membedakan antara standar yang menuntun dan standar yang melumpuhkan.
Standar yang menuntun kita bergerak sambil memperbaiki.
Standar yang melumpuhkan membuat kita diam sambil menghakimi diri sendiri.
Standar yang menuntun berkata, “Tulisan ini belum baik, mari kita perbaiki.”
Standar yang melumpuhkan berkata, “Tulisan ini belum baik, berarti kamu tidak mampu.”
Perbedaannya halus, tetapi dampaknya besar.
Dalam menulis, kita membutuhkan standar yang dapat menuntun. Tanpa standar, tulisan dapat menjadi sembarangan. Kita juga perlu mewaspadai standar yang berubah menjadi cambuk. Standar yang sehat memberi arah. Standar yang tidak sehat membuat kita takut melangkah. Standar yang sehat membuka ruang belajar. Standar yang tidak sehat menutup ruang itu dengan rasa malu.
Pertanyaannya bukan apakah kita boleh memiliki standar tinggi. Tentu boleh. Bahkan perlu. Pertanyaannya adalah: apakah standar itu membuat kita semakin bertumbuh, atau semakin takut?
Jika standar membuat kita membaca dengan lebih terarah, menulis dengan lebih bertanggung jawab, meminta masukan, dan memperbaiki karya, maka standar itu menolong. Tetapi jika standar membuat kita menunda terus-menerus, takut mengirim draf, menghapus setiap kalimat, menghindari bimbingan, dan merasa tidak layak sebelum mencoba, maka standar itu perlu diperiksa.
Mungkin itu bukan lagi standar.
Mungkin itu ketakutan memakai pakaian standar.
Perfeksionisme sering membuat seseorang hidup dalam bayangan penilaian. Ia membayangkan pembimbing kecewa. Membayangkan penguji tajam. Membayangkan teman lebih cepat. Membayangkan orang lain mempertanyakan keterlambatannya. Membayangkan karya orang lain jauh lebih baik. Semua bayangan itu memenuhi kepalaku sebelum peristiwa sebenarnya terjadi.
Akibatnya, seseorang tidak hanya menghadapi tugas akademik, tetapi juga pengadilan imajiner yang ia bangun sendiri.
Dalam pengadilan itu, ia sering menjadi terdakwa, jaksa, dan hakim sekaligus. Ia menuduh dirinya kurang. Membela diri dengan membaca lebih banyak. Menghakimi diri karena belum menulis. Lalu menjatuhkan hukuman berupa rasa malu dan penundaan. Semua terjadi di dalam kepala, tanpa ada satu paragraf pun yang bertambah.
Perfeksionisme membuat proses akademik terasa seperti pembuktian diri yang terus-menerus. Bukan lagi sekadar belajar, meneliti, dan menulis. Tetapi membuktikan bahwa kita pantas. Membuktikan bahwa kita pintar. Membuktikan bahwa kita tidak salah diterima. Membuktikan bahwa pencapaian sebelumnya bukan kebetulan. Membuktikan bahwa orang lain tidak keliru dalam menaruh harapan kepada kita.
Beban pembuktian seperti ini sangat berat.
Tidak heran jika seseorang kemudian menjadi sulit bergerak. Setiap kalimat terasa seperti mempertaruhkan identitas. Setiap halaman terasa harus membuktikan nilai dirinya. Setiap revisi terasa seperti kegagalan moral. Padahal tulisan akademik seharusnya menjadi ruang kerja, bukan ruang pembuktian harga diri secara total.
Kita perlu menurunkan beban itu.
Tulisan tidak perlu membuktikan seluruh nilai diri kita. Proposal tidak perlu menjadi bukti bahwa kita sempurna. Disertasi tidak perlu menunjukkan bahwa kita menguasai semua hal. Artikel ini tidak perlu menjadi jaminan bahwa kita tidak memiliki kelemahan. Karya ilmiah adalah kontribusi terbatas dari seseorang yang sedang belajar, meneliti, dan berusaha memahami satu bagian kecil dari kenyataan.
Keterbatasan bukan aib. Keterbatasan merupakan sifat dasar dari setiap penelitian.
Menyadari hal ini dapat membantu melunakkan perfeksionisme. Kita mulai melihat bahwa tugas kita bukan menghasilkan karya tanpa cela, melainkan menghasilkan karya yang cukup jelas, cukup jujur, cukup bertanggung jawab, dan cukup terbuka untuk diperbaiki. Kata “cukup” sekali lagi menjadi penting. Bukan cukup dalam arti seadanya, tetapi cukup dalam arti manusiawi dan dapat dikerjakan.
Orang yang perfeksionis sering kali sulit menerima ukuran yang manusiawi. Ia menuntut dirinya melampaui batas yang wajar. Ia ingin selalu siap. Selalu kuat. Selalu paham. Selalu benar. Selalu dapat menjawab. Selalu menghasilkan yang terbaik. Tetapi manusia tidak bekerja seperti itu. Terutama manusia yang sedang belajar.
Belajar berarti ada bagian yang belum bisa.
Meneliti berarti ada bagian yang belum diketahui.
Menulis berarti ada bagian yang belum rapi.
Direvisi berarti ada bagian yang masih perlu diperbaiki.
Dikritik berarti ada bagian yang perlu dilihat dari sudut pandang lain.
Semua itu bukan tanda kegagalan. Semua itu adalah tanda bahwa proses sedang berlangsung.
Perfeksionisme sering memusuhi proses. Ia hanya mencintai hasil akhir. Padahal hasil akhir tidak mungkin lahir tanpa proses yang kadang-kadang kacau. Jika kita ingin memiliki tulisan yang baik, kita harus bersedia melewati tulisan yang belum memadai. Jika ingin memiliki proposal yang kuat, kita harus bersedia menyusun proposal awal yang mungkin masih belum sempurna. Jika ingin memiliki disertasi yang matang, kita harus bersedia menghadapi revisi berulang kali.
Tidak ada jalan lain yang benar-benar bersih.
Latihan penting bagi orang yang perfeksionis bukan untuk menurunkan mutu, tetapi untuk menurunkan tuntutan agar mutu itu tidak muncul terlalu cepat. Kita tetap boleh memiliki cita-cita untuk menghasilkan karya yang baik. Tetapi kita perlu memberi ruang bagi tahapan menuju ke sana. Kita perlu mengizinkan draft pertama sebagai draf pertama. Mengizinkan rumusan awal menjadi rumusan awal. Mengizinkan bimbingan pertama sebagai ruang untuk mencari bentuk. Mengizinkan diri belum sepenuhnya tahu.
Dengan kata lain, kita perlu belajar menghormati proses, bukan hanya hasil.
Menghormati proses berarti tidak menghina langkah-langkah kecil. Tidak meremehkan paragraf kasar. Tidak membenci revisi. Tidak malu bertanya. Tidak menganggap koreksi sebagai penghancuran diri. Tidak menjadikan keterlambatan sebagai identitas yang permanen. Tidak menyamakan kesulitan dengan ketidakmampuan.
Menghormati proses juga berarti menyadari bahwa menyelesaikan sesuatu sering kali membutuhkan konsistensi lebih daripada kesempurnaan. Orang yang selesai bukan selalu orang yang paling pintar. Bukan selalu orang yang paling siap. Bukan selalu orang yang sejak awal paling percaya diri. Sering kali, orang yang berhasil adalah orang yang bersedia kembali ke pekerjaannya setelah kecewa, direvisi, ditolak, lelah, dan ragu.
Ia tidak selalu berjalan cepat. Tetapi ia kembali.
Dalam perjalanan akademik, kemampuan untuk kembali sangat penting. Perfeksionisme sering membuat seseorang berhenti ketika hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Ia sulit menerima bahwa prosesnya tidak berjalan lancar. Ia merasa bahwa jika sudah gagal sekali, mungkin seluruh perjalanan tidak layak dilanjutkan. Ia merasa bahwa jika proposal ditolak, berarti dirinya tidak cocok. Ia merasa jika tulisan penuh catatan, berarti tidak ada harapan.
Padahal banyak karya besar lahir dari kemampuan untuk bangkit kembali setelah tidak sesuai harapan.
Kembali membuka dokumen.
Kembali membaca catatan.
Kembali menulis ulang.
Kembali menghubungi pembimbing.
Kembali menyusun jadwal.
Kembali percaya, meskipun sedikit.
Dalam pengalaman saya, proses penyelesaian akhirnya tidak terjadi karena suatu hari semua keraguan hilang. Tidak. Keraguan masih ada. Rasa tidak percaya diri masih kadang muncul. Luka masa lalu juga tidak langsung lenyap. Tetapi ada dukungan, ada bimbingan, ada langkah kecil, dan ada kesediaan untuk kembali. Terseok, tetapi tetap berjalan.
Mungkin itulah lawan paling nyata dari perfeksionisme: bukan ketidaksempurnaan yang asal-asalan, melainkan keberanian untuk terus memperbaiki.
Perfeksionisme berkata, “Kalau belum sempurna, jangan ditunjukkan.”
Keberanian bertumbuh berkata, “Karena belum sempurna, mari ditunjukkan kepada orang yang tepat agar bisa diperbaiki.”
Perfeksionisme berkata, “Kalau banyak revisi, berarti gagal.”
Kedewasaan akademik berkata, “Karena ada revisi, berarti ada kesempatan untuk menjadi lebih baik.”
Perfeksionisme berkata, “Kalau ditolak, berarti saya tidak layak.”
Proses belajar berkata, “Kalau ditolak, berarti ada bagian yang harus dipahami dan dikerjakan ulang.”
Perubahan cara berbicara kepada diri sendiri ini tidak kecil. Ia dapat mengubah pengalaman menulis secara mendalam. Sebab sering kali yang membuat kita lumpuh bukan hanya komentar orang lain, tetapi komentar yang kita ulang-ulang kepada diri sendiri.
Kita perlu belajar berbicara kepada diri sendiri dengan lebih adil.
Adil bukan berarti memanjakan. Bukan berarti membenarkan semua alasan. Bukan berarti menghindari tanggung jawab. Adil berarti melihat kenyataan secara utuh. Jika tulisan belum baik, katakan saja bahwa tulisan belum baik, tetapi jangan langsung menyimpulkan bahwa diri tidak mampu. Jika proposal ditolak, akui sakitnya, tetapi jangan jadikan itu bukti bahwa seluruh perjalanan sia-sia. Jika kita terlambat, terima konsekuensinya, tetapi jangan gunakan keterlambatan untuk menghukum diri sampai tidak bergerak sama sekali.
Perfeksionisme sering tidak adil. Ia hanya melihat kekurangan. Ia mengabaikan usaha. Ia mengecilkan keberhasilan. Ia memperbesar kesalahan. Ia lupa bahwa manusia belajar melalui proses yang tidak selalu rapi.
Maka untuk melunakkan perfeksionisme, kita perlu membangunkan cara pandang yang lebih seimbang. Kita boleh bertanya, “Apa yang kurang dari tulisan ini?” Tetapi kita juga perlu bertanya, “Apa yang sudah ada dan dapat dikembangkan?” Kita boleh bertanya, “Bagian mana yang lemah?” Tetapi juga, “Bagian mana yang mulai jelas?” Kita boleh bertanya, “Apa yang perlu diperbaiki?” Tetapi juga, “Langkah apa yang sudah saya ambil?”
Pertanyaan seperti ini membantu kita tetap bertanggung jawab tanpa menghancurkan diri.
Dalam menulis proposal, satu halaman yang belum sempurna tetap lebih baik daripada nol halaman yang sempurna di dalam bayangan. Satu draf lemah tetap lebih berguna daripada gagasan kuat yang tidak pernah dibagikan. Satu rumusan masalah sementara tetap lebih membantu daripada keinginan untuk memiliki rumusan final yang tidak kunjung ditulis.
Kita perlu mengingat ini berulang-ulang, karena perfeksionisme akan terus membisikkan kebalikannya.
Ia akan berkata bahwa belum waktunya.
Ia akan berkata bahwa kita harus membaca lagi.
Ia akan berkata bahwa orang lain lebih siap.
Ia akan berkata bahwa draf ini memalukan.
Ia akan berkata bahwa menunggu sedikit lagi akan membuat semuanya lebih baik.
Kadang memang perlu membaca lagi. Kadang memang perlu menunggu sejenak. Kadang memang perlu diperbaiki sebelum dikirim. Tetapi jika alasan itu terus berulang tanpa menghasilkan tindakan, kita perlu curiga. Jangan-jangan itu bukan lagi kebijaksanaan, melainkan ketakutan yang menyamar.
Salah satu cara sederhana untuk membedakannya adalah dengan melihat hasilnya. Standar yang sehat biasanya menghasilkan langkah. Perfeksionisme yang melumpuhkan biasanya menyebabkan penundaan. Standar yang sehat membuat kita memperbaiki draf. Perfeksionisme membuat kita menyembunyikannya. Standar yang sehat membuat kita bertanya. Perfeksionisme membuat kita malu bertanya. Standar yang sehat membuat kita belajar dari kritik. Perfeksionisme membuat kita menghindari kritik.
Dari buahnya, kita dapat mengenali sifatnya.
Jika setelah menetapkan standar tinggi kita menjadi lebih terarah, itu baik. Jika setelah menetapkan standar tinggi kita menjadi lumpuh, mungkin standar itu perlu dilunakkan. Bukan dibuang, melainkan dilunakkan agar tetap manusiawi. Sebab standar yang terlalu keras tidak selalu menghasilkan karya yang lebih baik. Kadang ia justru membuat karya yang tidak pernah lahir.
Karya yang tidak lahir tidak dapat memberikan kontribusi.
Pikiran yang tidak ditulis tidak dapat dibaca.
Proposal yang tidak diajukan tidak dapat diuji.
Disertasi yang tidak diselesaikan tidak dapat menjadi bagian dari percakapan ilmiah.
Maka tugas kita bukan menunggu keberanian untuk menjadi sempurna, melainkan melatih keberanian untuk tidak sempurna terlebih dahulu. Bukan tidak sempurna sebagai tujuan akhir, tetapi tidak sempurna sebagai tahap awal yang sah. Kita mulai dari sana, lalu bergerak menuju perbaikan.
Pada akhirnya, perfeksionisme perlu ditempatkan kembali pada posisinya. Ia boleh menjadi pengingat agar kita tidak terlalu sembrono. Tetapi ia tidak boleh menjadi penguasa yang melarang kita memulai. Ia boleh membantu kita memeriksa kualitas. Tetapi ia tidak boleh menghukum setiap ketidaksempurnaan. Ia boleh mendorong kita memperbaiki karya. Tetapi ia tidak boleh membuat kita takut untuk memperlihatkan karya yang masih perlu diperbaiki.
Kita membutuhkan standar, tetapi juga belas kasih pada diri.
Kita membutuhkan ketelitian, tetapi juga keberanian.
Kita membutuhkan kualitas, tetapi juga proses.
Kita membutuhkan revisi, tetapi juga penerimaan bahwa revisi adalah bagian dari perjalanan.
Jika selama ini kita sering berkata, “Saya hanya ingin hasil terbaik,” mungkin kita perlu menambahkan kalimat lain: “Dan untuk mencapai hasil terbaik yang mungkin, saya harus bersedia memulai dari hasil awal yang belum sempurna.”
Kalimat itu sederhana, tetapi dapat menjadi pintu keluar.
Banyak orang tidak selesai bukan karena tidak memiliki kemampuan, melainkan karena tidak mengizinkan kemampuannya bekerja secara bertahap. Mereka menuntut diri mereka untuk segera dewasa. Langsung kuat. Langsung layak. Langsung bebas dari kritik. Padahal kemampuan manusia tumbuh melalui latihan, koreksi, kesalahan, dan pengulangan.
Kita tidak perlu membuang keinginan untuk menghasilkan karya yang baik. Kita hanya perlu berhenti menjadikan kesempurnaan sebagai syarat untuk memulai.
Tulisan pertama boleh belum baik.
Proposal awal boleh perlu banyak revisi.
Pertanyaan penelitian boleh berubah.
Kerangka teori boleh diperbaiki.
Metode boleh dipertajam.
Diri kita boleh belajar.
Dan semua itu tidak membuat kita gagal.
Justru di sanalah proses akademik yang sebenarnya berlangsung.
Bab ini menjadi pengingat bahwa standar tinggi dapat menjadi sahabat jika ia menuntun kita bergerak, tetapi dapat menjadi penjara jika ia membuat kita takut untuk memulai. Kita perlu belajar mengenali perbedaannya. Sebab di balik perfeksionisme yang tampak mulia, kadang tersembunyi rasa tidak percaya diri yang lebih dalam.
Rasa itulah yang akan kita masuki pada Bab berikutnya: ketika pencapaian tidak pernah terasa sah, ketika keberhasilan selalu dicurigai sebagai kebetulan, dan ketika seseorang takut suatu hari akan terbongkar bahwa dirinya tidak sepantasnya berada di tempatnya.
Di sanalah kita mulai berbicara lebih langsung tentang sindroma impostor.
Kreator : Ari Udijono
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Bab 6 – Perfeksionisme yang Menyamar sebagai Standar Tinggi
Sorry, comment are closed for this post.