Malam itu udara terasa lebih dingin dari biasanya.
Arga masih duduk di teras bersama Farhan setelah kalimat terakhir anaknya membuat dadanya sesak.
“Ayah jangan bikin Bunda nangis lagi ya.”
Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepalanya.
Farhan memang masih kecil.
Tetapi, ternyata anak itu melihat semuanya.
Arga menelan ludah pelan lalu mengusap kepala putranya.
“Ayah janji bakal coba berubah.”
Farhan menatap ayahnya ragu.
“Bener?”
“Iya.”
“Jangan cuma sebentar.”
Ucapan polos itu membuat Arga tersenyum pahit.
“Emang Ayah sejahat itu?”
Farhan buru-buru menggeleng.
“Nggak jahat…”
“Terus?”
Farhan berpikir beberapa detik.
“Ayah sekarang gampang marah.”
Arga terdiam.
Anak kecil di depannya ternyata lebih jujur daripada dirinya sendiri selama ini.
Dari dalam rumah, Nadia memperhatikan mereka lewat celah jendela dapur.
Ada rasa hangat melihat Arga akhirnya mau mendengar anak-anak.
Tetapi di sisi lain, hatinya masih takut berharap terlalu banyak.
Karena yang paling menyakitkan bukan pertengkaran…
melainkan harapan yang kembali patah.
Keesokan paginya suasana rumah terasa sedikit berbeda.
Arga bangun lebih pagi.
Saat Nadia sedang membuat sarapan di dapur, lelaki itu tiba-tiba muncul sambil menggulung lengan bajunya.
“Nggak usah kaget.”
Nadia menoleh bingung.
“Aku mau bantu.”
Nadia hampir tertawa kecil.
“Mas bisa?”
Arga mengangkat alis.
“Emang aku kelihatan nggak bisa?”
“Dulu pernah goreng telur aja gosong.”
“Itu kan dulu.”
Nadia akhirnya tersenyum kecil untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Arga langsung menyadarinya.
Dan entah kenapa…
senyum kecil itu terasa lebih menenangkan daripada apa pun.
“Aku ngapain?”
“Tolong potong bawang aja.”
“Oke.”
Beberapa menit kemudian terdengar suara kecil dari dapur.
“Aduh!”
Nadia langsung menoleh.
“Kenapa?”
“Tangan aku kepedesan.”
Nadia spontan tertawa.
“Baru juga potong cabai.”
Arga ikut tertawa pelan.
Suara tawa kecil itu membuat rumah terasa hidup lagi.
Nisa yang baru bangun sampai berhenti di depan dapur sambil melongo.
“Loh…”
Farhan ikut datang.
“Kok Ayah di dapur?”
Arga pura-pura batuk.
“Ayah lagi belajar jadi chef.”
Farhan langsung tertawa.
“Wah bahaya.”
“Heh, nggak percaya banget sih.”
Nadia menggeleng kecil sambil menahan senyum.
Sudah lama sekali suasana pagi mereka tidak seperti ini.
Hangat.
Ringan.
Tanpa bentakan.
Namun kebahagiaan kecil itu ternyata belum benar-benar utuh.
Siang harinya, ponsel Arga terus berbunyi.
Beberapa kali lelaki itu terlihat gelisah membaca pesan dari kantornya.
Nadia yang sedang melipat pakaian memperhatikannya diam-diam.
“Ada masalah kerjaan?”
Arga menghela napas panjang.
“Besok aku harus balik lagi.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi.
Farhan yang sedang menggambar langsung berhenti.
“Cepet banget?”
Arga menatap anaknya.
“Iya.”
“Kan baru pulang.”
Nada kecewa Farhan terdengar jelas.
Arga memejamkan mata sebentar.
“Ayah harus kerja.”
Farhan langsung berdiri lalu masuk kamar tanpa bicara lagi.
Nisa ikut diam.
Nadia hanya menunduk.
Arga mendadak merasa bersalah lagi.
“Kalau aku nggak kerja gimana kalian makan?”
Nadia menjawab pelan,
“Nggak ada yang nyalahin Mas kerja.”
“Terus?”
“Kita cuma pengen Mas juga hadir.”
Kalimat itu kembali membuat Arga kehilangan jawaban.
Malam harinya hujan turun deras.
Lampu ruang tamu menyala redup.
Farhan masih belum banyak bicara sejak siang tadi.
Arga mencoba mendekati anaknya yang sedang duduk sambil memainkan mobil-mobilan.
“Masih ngambek?”
“Nggak.”
“Kok jutek?”
Farhan diam beberapa detik.
“Ayah pergi lagi lama?”
“Mungkin dua minggu.”
“Lama banget…”
Arga duduk di samping anaknya.
“Ayah kerja biar Farhan bisa sekolah.”
Farhan menunduk.
“Tapi aku lebih suka Ayah di rumah.”
Kalimat itu membuat dada Arga terasa diremas.
“Ayah juga pengen di rumah.”
“Tapi Ayah selalu pilih kerja.”
Suasana mendadak hening.
Arga tidak bisa langsung membalas.
Karena untuk pertama kalinya…
ia sadar mungkin selama ini memang terlalu sibuk mengejar uang sampai lupa keluarganya hanya ingin dirinya hadir.
Farhan kembali memainkan mobil-mobilannya pelan.
“Ayah tahu nggak?”
“Tahu apa?”
“Kalau Ayah pulang, Bunda jadi sering senyum.”
Arga langsung menatap anaknya.
“Tapi kalau Ayah marah-marah, Bunda suka nangis diam-diam.”
Suara hujan semakin deras.
Dan malam itu Arga merasa dirinya sangat kecil.
Sekitar pukul sembilan malam listrik tiba-tiba mati.
“Yaaah…”
Nisa langsung mendekat ke Nadia.
“Gelap.”
Nadia menyalakan lilin kecil di meja ruang tamu.
Cahaya temaram membuat rumah sederhana itu terasa hangat.
“Kayak zaman dulu ya,” kata Nadia pelan.
Arga tersenyum kecil.
“Iya.”
Farhan tiba-tiba berkata,
“Kita cerita horor yuk.”
Nisa langsung memukul lengan kakaknya.
“Ih jangan!”
Arga tertawa kecil.
“Si penakut.”
“Ayah aja pasti takut.”
“Siapa bilang?”
“Ayo kalau berani cerita.”
Arga mengangkat alis.
“Oke.”
Nadia duduk sambil memperhatikan mereka.
Sudah lama sekali ia melihat Arga tertawa lepas seperti itu.
Lelaki itu mulai bercerita dengan suara dibuat menyeramkan.
“Jadi dulu ada tukang bakso lewat tengah malam…”
Nisa langsung menutup telinga.
“Jangan serem-serem!”
Farhan malah tertawa keras.
“Lanjutin Yah!”
“Terus pas dilihat…”
Tiba-tiba Arga membuat suara keras.
“BRAK!”
“AAAA!”
Nisa langsung memeluk Nadia.
Semua orang tertawa.
Bahkan Nadia sampai meneteskan air mata karena terlalu lama tidak merasakan suasana seperti ini.
Arga menatap istrinya.
Tatapan mereka bertemu beberapa detik.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
mereka sama-sama merasa seperti keluarga lagi.
Namun kebahagiaan itu kembali terganggu ketika ponsel Arga berbunyi.
Nama atasannya muncul di layar.
Wajah Arga langsung berubah tegang.
Ia berdiri lalu menerima telepon di luar rumah.
“Iya Pak…”
Nada suaranya terdengar serius.
Nadia diam-diam memperhatikan dari balik jendela.
Beberapa menit kemudian Arga masuk dengan wajah kusut.
“Aku harus berangkat lebih pagi.”
“Jam berapa?”
“Jam lima subuh.”
Farhan langsung menghela napas kecewa.
“Cepet banget…”
Nisa ikut murung.
“Ayah nggak bisa seminggu aja di rumah?”
Arga mengusap wajahnya lelah.
“Ayah nggak bisa nolak kerjaan.”
Farhan berdiri kesal.
“Kerja terus.”
“Farhan.”
“Ayah lebih sayang kerjaan daripada kita.”
“Farhan!”
Suara Nadia sedikit meninggi.
Rumah langsung hening.
Farhan terlihat menahan tangis.
“Aku capek Ayah pergi terus…”
Anak itu langsung masuk kamar sambil membanting pintu.
Nadia memejamkan mata pelan.
Sedangkan Arga hanya berdiri mematung.
Nisa ikut menunduk sedih.
Malam yang tadi hangat mendadak berubah sesak.
Nadia masuk ke kamar Farhan beberapa menit kemudian.
Anak itu sedang menangis sambil memeluk bantal.
“Farhan…”
“Aku nggak suka Ayah pergi terus.”
Nadia duduk di sampingnya.
“Ayah kerja buat kita.”
“Tapi aku pengen Ayah di rumah.”
Suara anak itu pecah.
“Aku iri sama temen-temen.”
Hati Nadia terasa nyeri.
“Kalau ada acara sekolah ayah mereka datang…”
Tangis Farhan semakin menjadi.
“Kenapa Ayah selalu nggak ada?”
Nadia memeluk anaknya erat.
Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.
Karena diam-diam…
ia pun merasakan hal yang sama
Di ruang tamu, Arga duduk sendirian sambil menatap lantai.
Nisa duduk di sebelah ayahnya.
“Ayah sedih?”
Arga tersenyum tipis.
“Iya.”
“Karena Kak Farhan?”
“Iya.”
Nisa memeluk lengan ayahnya.
“Ayah jangan marah ya sama Kakak.”
“Nggak kok.”
Nisa terdiam sebentar lalu berkata pelan,
“Aku seneng kalau Ayah di rumah.”
Kalimat sederhana itu membuat mata Arga memanas.
“Ayah juga seneng di rumah.”
“Terus kenapa sering pergi?”
Arga tertawa kecil pahit.
“Karena hidup nggak gampang, Nak.”
Nisa mengangguk walau mungkin belum benar-benar mengerti.
“Ayah…”
“Iya?”
“Kalau Ayah jauh, jangan lupa telepon ya.”
Arga langsung memeluk putrinya erat.
“Maaf ya…”
Malam semakin larut.
Anak-anak akhirnya tertidur.
Nadia sedang merapikan selimut ketika Arga masuk kamar perlahan.
“Kamu capek ya?”
Nadia tersenyum kecil.
“Banget.”
Arga duduk di tepi kasur.
“Aku bingung harus gimana.”
Nadia ikut duduk.
“Mas nggak harus jadi sempurna.”
“Terus?”
“Coba lebih hadir aja.”
Arga menunduk.
“Aku takut gagal.”
Nadia memandang suaminya lama.
“Rumah tangga itu bukan tentang siapa yang paling kuat.”
“Lalu?”
“Tapi siapa yang tetap mau bertahan.”
Hening beberapa saat.
Arga menggenggam tangan Nadia perlahan.
Tangannya dingin.
“Aku boleh mulai lagi?”
Pertanyaan itu membuat mata Nadia berkaca-kaca.
“Selama Mas benar-benar mau berubah…”
Arga mengangguk pelan.
“Aku akan coba.”
Nadia tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
ia mulai percaya bahwa mungkin rumah mereka belum benar-benar hilang.
Di luar, hujan masih turun perlahan.
Tetapi malam itu…
rumah kecil mereka tidak lagi terasa sedingin biasanya.
Kreator : Titin Mustika Merdekawati
Comment Closed: BAB 7 “RUMAH YANG HAMPIR HILANG”
Sorry, comment are closed for this post.