Meskipun Lama, Akhirnya Selesai Juga
Ada perjalanan yang tidak dapat dipahami hanya dari garis akhirnya.
Dari jauh, orang mungkin hanya melihat bahwa seseorang akhirnya selesai. Ia menyelesaikan studi. Ia melewati ujian. Ia menulis disertasi. Ia menerbitkan artikel. Ia menerima gelar. Ia tampak sampai.
Namun, dari dekat, perjalanan itu mungkin tidak serapi yang dibayangkan. Ada jeda yang panjang. Ada proposal yang ditolak. Ada tema yang diganti. Ada keraguan yang sulit dijelaskan. Ada rasa malu. Ada hari-hari ketika membuka dokumen saja terasa berat. Ada masa ketika seseorang tampak diam, padahal di dalam dirinya berlangsung pertempuran yang melelahkan.
Ada juga kehilangan.
Ada duka yang membuat langkah terhenti. Ada orang tercinta yang pergi. Ada ruang batin yang runtuh. Ada masa ketika pekerjaan akademik tidak lagi hanya terasa sebagai tugas intelektual, tetapi juga sebagai beban yang harus dipikul oleh hati yang sedang patah.
Hidup tidak selalu berakhir pada titik terberatnya.
Kadang, setelah terhenti cukup lama, seseorang mulai bergerak lagi. Tidak langsung cepat. Tidak langsung yakin. Tidak langsung kuat. Mungkin hanya membuka kembali catatan. Membaca satu halaman. Menulis satu kalimat. Menghubungi pembimbing. Menerima dukungan dari anak, cucu, keluarga, teman, kolega, promotor, mahasiswa, dan orang-orang baik yang tidak membiarkan dirinya benar-benar tenggelam.
Gerak itu kecil, tetapi nyata.
Satu ujian terlewati. Lalu ujian berikutnya. Satu tugas selesai. Lalu tugas berikutnya. Satu artikel terbit. Lalu artikel berikutnya. Satu bagian disusun. Lalu bagian lain diperbaiki. Tidak selalu gagah. Tidak selalu lancar. Tidak selalu penuh percaya diri. Tetapi tetap bergerak.
Dalam perjalanan panjang seperti itu, kita belajar bahwa penyelesaian tidak selalu lahir dari keyakinan yang besar. Kadang penyelesaian lahir dari kesediaan untuk kembali, berkali-kali, setelah berhenti. Kembali kepada tulisan. Kembali kepada bimbingan. Kembali kepada tanggung jawab. Kembali kepada diri sendiri yang pernah merasa gagal, tetapi belum sepenuhnya selesai.
Kita juga belajar bahwa rasa tidak percaya diri tidak harus hilang sepenuhnya sebelum kita melangkah. Barangkali ia akan tetap sesekali datang. Barangkali suara lama yang berkata “kamu tidak mampu” masih terdengar. Barangkali ingatan tentang kegagalan masih muncul ketika kita menerima kritik. Barangkali rasa impostor belum sepenuhnya hilang.
Tetapi sekarang kita tahu sesuatu yang penting: suara itu tidak harus menjadi satu-satunya suara.
Ada suara lain yang dapat kita bangun perlahan.
Saya pernah takut, tetapi saya tetap berjalan.
Saya pernah gagal, tetapi saya mencoba lagi.
Saya pernah berhenti, tetapi saya kembali.
Saya pernah merasa tidak layak, tetapi saya tetap belajar.
Saya pernah kehilangan arah, tetapi saya tidak sepenuhnya kehilangan arah.
Saya pernah ragu, tetapi akhirnya berhasil menyelesaikannya.
Kalimat-kalimat seperti itu bukan kesombongan. Ia adalah pengakuan yang adil. Sebab terlalu lama kita mungkin hanya mengingat bagian diri yang gagal, tertunda, salah, dan kurang. Padahal dalam perjalanan yang sama, ada juga bagian diri yang bertahan, belajar, mencoba, meminta bantuan, memperbaiki, dan kembali bergerak.
Kita perlu belajar mengingat diri secara lebih utuh.
Buku ini dimulai dari pertanyaan: mengapa seseorang yang tidak merasa gagal tetap tidak bergerak? Sepanjang perjalanan, kita melihat bahwa kebuntuan tidak selalu lahir dari kemalasan. Kadang ia lahir dari rasa takut. Kadang dari perfeksionisme. Kadang terlalu banyak membaca tanpa menulis. Kadang dari pikiran yang terlalu penuh. Kadang rasa tidak layak membuat pencapaian terasa tidak sah.
Kita juga melihat bahwa kemacetan tidak harus menjadi akhir. Ia dapat diuraikan. Pelan-pelan. Dengan tulisan pertama yang belum sempurna. Dengan pekerjaan besar yang dipecah menjadi bagian-bagian kecil. Dengan bimbingan. Dengan revisi. Dengan dukungan. Dengan belas kasih pada diri sendiri. Dengan keberanian untuk hadir di halaman ini.
Pada akhirnya, menulis bukan hanya soal menyelesaikan naskah. Menulis adalah cara untuk keluar dari kepala sendiri. Cara memberi bentuk pada ketakutan. Cara membuat gagasan dapat disentuh. Cara mengubah kecemasan menjadi pekerjaan. Cara membuktikan bahwa seseorang yang ragu tetap dapat bergerak.
Mungkin tidak semua pembaca sedang menyusun disertasi. Mungkin ada yang sedang menulis skripsi, tesis, artikel, buku, laporan, proposal kerja, atau keputusan hidup yang lama tertunda. Bentuknya bisa berbeda, tetapi pengalaman batinnya mungkin serupa: terlalu banyak berpikir, terlalu lama menimbang, terlalu takut salah, terlalu ingin sempurna, lalu tidak segera memulai.
Untuk pembaca yang sedang berada di sana, izinkan buku ini menutup diri dengan ajakan sederhana: jangan menunggu semua ketakutan hilang. Jangan menunggu diri menjadi sempurna. Jangan menunggu halaman pertama untuk langsung indah. Jangan menunggu sampai benar-benar percaya diri.
Mulailah dari yang kecil.
Satu kalimat.
Satu paragraf.
Satu catatan.
Satu halaman.
Satu percakapan.
Satu keberanian untuk membuka kembali sesuatu yang telah lama dihindari.
Tidak semua perjalanan selesai dengan cepat. Tidak semua jalan lurus. Tidak semua orang memiliki ritme yang sama. Ada yang sampai lebih awal. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang berjalan dengan ringan. Ada yang terseok-seok. Ada yang harus berhenti karena luka, lalu belajar melangkah kembali.
Perjalanan yang lama bukan berarti perjalanan yang sia-sia.
Penyelesaian yang datang terlambat tetaplah penyelesaian.
Keberhasilan yang ditempuh dengan air mata tetaplah keberhasilan.
Karya yang lahir setelah keraguan panjang tetaplah karya.
Dan diri yang pernah gagal tetap bisa menjadi diri yang berhasil.
Meskipun lama, akhirnya selesai juga.
Kreator : Ari Udijono
Comment Closed: Meskipun Lama, Akhirnya Selesai Juga (Epilog)
Sorry, comment are closed for this post.