KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » BAB 14_Satria Daun Simpor

    BAB 14_Satria Daun Simpor

    BY 30 Jun 2026 Dilihat: 2 kali
    Satria Daun Simpor_alineaku

    Sore hari ketika sedang merapikan pot-pot bunga di teras rumah dinas, aku dikejutkan oleh suara klakson motor di belakangku.

    “Ibuku … Selamat sore.”

    Aku membalikkan badan.  

    Seorang Bapak Tua berkulit hitam turun dari motor dan mengeluarkan sesuatu dari tas besar yang disampirkan di jok belakang motornya.  Rupanya sebuah majalah.  Majalah Bobo, tepatnya.

    “Sore, Ibu,” katanya menyodorkan tangan. “Semoga damai Tuhan selalu beserta kita. Sekarang dan selamanya.”  Dia menjabat tanganku dengan mantab.

    “Amin,” jawabku.

    “Ibu, maaf, saya Alo. Lengkapnya, Aloysius Werung Weruin. Saya Tukang Koran. Bapak ada pesan berlangganan Majalah Bobo untuk anak-anak. Ini majalahnya,” katanya sambil menyerahkan bacaan anak-anak yang terkenal pada zaman itu.

    Gabriel dan Audrey berhamburan keluar mendengar nama majalah itu disebut.  Keduanya berebut ingin cepat membacanya.

    “Eh, ayo salam dulu sama Opa Alo,” kataku.

    Kedua anakku menyalami Pak Alo.

    Itulah kali pertama aku mengenal Pak Alo Tukang Koran, yang lebih dikenal sebagai Alo Kompas, karena pada zaman itu koran Kompas adalah koran yang paling dikenal luas di Belitung dan itulah yang diantar Pak Alo kepada langganannya setiap hari.  Di kemudian hari aku memanggil Pak Alo dengan sebutan Om Alo.

    Beliau seorang perantau kelahiran Tua Kepa Lewolaga, Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur tahun 1943.  Yang merantau bersama beberapa pemuda Flores sekampungnya pada tahun 1960 dengan berlayar menumpang kapal barang ke Belitung.  Hidup di perantauan tidak seindah bayangan Alo muda.  Di Pulau Belitung kala itu kehidupan belum berkembang seperti saat ini.  Dia mencoba bekerja di kapal barang sebagai anak buah kapal.  Tetapi tubuhnya tidak sekokoh penampilannya ketika menghadapi gelombang lautan.  Mabuk laut membuatnya dipecat oleh Juragan Kapal.  Lalu ia bekerja serabutan.

    Pada tahun 1970-an Om Alo diterima bekerja di PT Keramika Indonesia (KIA), sebuah pabrik keramik modern kala itu yang memproduksi ubin dan dinding keramik.  Om Alo menjadi karyawan dengan kerja shift.  Namun di sela-sela aktivitas kerjanya, beliau juga mulai mencari penghasilan tambahan dengan menjadi tukang koran.  Sebuah peluang kerja yang kala itu belum ada pesaing. 

    Namun krisis moneter yang meluas sampai pada tahun 1998, pabrik KIA dengan biaya produksi tinggi dan masalah ekonomi global kala itu, terpaksa berhenti beroperasi di Belitung.  Pabrik ditutup.  Semua karyawan di PHK, termasuk Om Alo.  Sisa-sisa bangunan pabrik masih ada sampai saat ini, terbengkalai.  Cerobong besar yang dulu berjaya mengepulkan asap setiap hari, sekarang menjadi saksi bisu betapa pada masanya pernah ada pabrik termodern di Indonesia berdiri di Belitung.

    Om Alo akhirnya menjalani profesi sebagai Tukang Koran full time.  Dari hanya Koran Kompas akhirnya banyak majalah dan tabloid disediakannya.  Berkeliling seputar Tanjung Pandan dari Bandara Buluh Tumbang (sekarang Bandara HAS Hanandjoeddin) menjemput koran yang datang via pesawat dari Jakarta lalu segera mengedarkan ke pelanggan terkadang sampai malam menjelang.  Karena kata dia, kalau koran hari itu tidak selesai diantar, maka beritanya basi.

    Awalnya Om Alo mengantar koran berkeliling dengan sebuah sepeda ontel Raleigh legendaris. Pelanggannya masih seputar karyawan dan staf PT Timah, beberapa pejabat daerah dan pengusaha.  Membaca koran di pagi atau sore hari adalah gaya hidup berkelas pada masa itu. Media cetak berupa koran menjadi jembatan informasi terkini di jaman siaran televisi masih terbatas, dan hanya ada siaran radio RRI. Karena hanya kalangan tertentu saja yang mampu.

      Sepasang keranjang terbuat dari kain terpal kuat disampirkan di jok belakang tempat mengangkut semua koran. Om Alo menyebut koran-koran itu Daun Simpor, daun yang banyak tumbuh di Belitung (Dillenia Suffruticosa). Tanaman  berdaun lebar dan umum digunakan sebagai alas atau pembungkus makanan di Belitung.  

     Kala itu fisiknya masih sangat kuat.  Seiring waktu dan juga karena pelanggan semakin banyak di segala penjuru kota Tanjung Pandan, Om Alo tak kuat lagi menggowes sepeda.  Dibelilah sebuah motor empat tak yang keren jaman itu. Dan jangkauan pelayanannya menjadi semakin luas, bahkan sampai ke pinggiran kota.

    Ciri khas penampilan Om Alo saat  on duty adalah hanya memakai kaos berkerah, seringkali lengan pendek dan celana pendek olahraga putih. Pelengkapnya adalah sepatu kets, kaos kaki setengah lutut, topi dan kacamata rayban hitam pekat.  Tanpa jaket, apapun cuacanya.  Tanpa helm walaupun sedang ramai Operasi Zebra. Dan Polisi Lalu Lintas pun seperti sudah capek menilang Om Alo perkara tidak memakai helm.  Sehingga Om Alo seperti sudah ditandai “mane kendak die lah” (terserah dia lah). 

     Dia berkeliling kota seharian dengan Vega Putihnya seperti itu.  Bertahun-tahun.  Kulitnya sudah sangat hitam seperti arang karena setiap hari terpanggang matahari di jalanan.  Semua nasehat seperti anjuran memakai helm atau jaket, tidak akan mempan baginya.  Jatuh dari motor berkali-kali tidak membuatnya jera.  Selalu cepat bangkit kembali.  Mengingatkan aku pada tokoh Satria Baja Hitam, tontonan Gabriel, yang juga bermotor.  Walaupun dihantam monster sampai babak belur, tetap akan bangkit dengan gagah.

    Sekarang Om Alo sudah sangat sepuh. Pada 7 Juni 2026 usianya sudah 83 tahun. Usia bonus, kami menyebutnya. Namun, fisiknya seperti tidak termakan usia.  Hampir setiap hari dia masih menelpon suamiku, mengajak bermain tenis meja sore hari selesai mengantar koran.  Beliau masih sanggup main 4 sampai 5 set.  Jalannya masih gagah tegak lurus.  Encok seperti enggan mendekatinya. Kalau sedang berpakaian resmi batik, dia akan terlihat perlente dan orang tidak akan menyangka dia sudah setua itu.

    Yang berubah hanya “sumbu emosi” yang makin hari makin pendek.  Di lingkungan terdekatnya, dia dikenal mudah marah sekarang.  Cepat sekali menanggapi sesuatu dengan nada suara yang keras, padahal dia sedang tidak marah. Mudah sekali ngambek .  Ketika bermain gaple dan kalah, maka seperti anak kecil dia akan mengomel dan pergi begitu saja. Cepat meletup tetapi cepat juga padam.  Namun demikian Om Alo adalah orang yang sangat perhatian.  Terutama bagi orang-orang yang kesusahan, dia akan cepat membantu. 

    Bila kamu berkunjung ke Belitung, dan di jalanan kota Tanjung Pandan melihat seorang bapak tua berkaos, celana pendek, bertopi, berkacamata hitam, tidak berjaket, tidak ber-helm dengan Vega Putih yang suaranya melebihi kecepatannya, dengan keranjang koran di jok belakang, itulah Alo Kompas, Satria Daun Simpor.

     

     

    Kreator : drg. Maria Cornellia Nira Widyastuti (Nira.W)

    Bagikan ke

    Comment Closed: BAB 14_Satria Daun Simpor

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021