Sore hari ketika sedang merapikan pot-pot bunga di teras rumah dinas, aku dikejutkan oleh suara klakson motor di belakangku.
“Ibuku … Selamat sore.”
Aku membalikkan badan.
Seorang Bapak Tua berkulit hitam turun dari motor dan mengeluarkan sesuatu dari tas besar yang disampirkan di jok belakang motornya. Rupanya sebuah majalah. Majalah Bobo, tepatnya.
“Sore, Ibu,” katanya menyodorkan tangan. “Semoga damai Tuhan selalu beserta kita. Sekarang dan selamanya.” Dia menjabat tanganku dengan mantab.
“Amin,” jawabku.
“Ibu, maaf, saya Alo. Lengkapnya, Aloysius Werung Weruin. Saya Tukang Koran. Bapak ada pesan berlangganan Majalah Bobo untuk anak-anak. Ini majalahnya,” katanya sambil menyerahkan bacaan anak-anak yang terkenal pada zaman itu.
Gabriel dan Audrey berhamburan keluar mendengar nama majalah itu disebut. Keduanya berebut ingin cepat membacanya.
“Eh, ayo salam dulu sama Opa Alo,” kataku.
Kedua anakku menyalami Pak Alo.
Itulah kali pertama aku mengenal Pak Alo Tukang Koran, yang lebih dikenal sebagai Alo Kompas, karena pada zaman itu koran Kompas adalah koran yang paling dikenal luas di Belitung dan itulah yang diantar Pak Alo kepada langganannya setiap hari. Di kemudian hari aku memanggil Pak Alo dengan sebutan Om Alo.
Beliau seorang perantau kelahiran Tua Kepa Lewolaga, Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur tahun 1943. Yang merantau bersama beberapa pemuda Flores sekampungnya pada tahun 1960 dengan berlayar menumpang kapal barang ke Belitung. Hidup di perantauan tidak seindah bayangan Alo muda. Di Pulau Belitung kala itu kehidupan belum berkembang seperti saat ini. Dia mencoba bekerja di kapal barang sebagai anak buah kapal. Tetapi tubuhnya tidak sekokoh penampilannya ketika menghadapi gelombang lautan. Mabuk laut membuatnya dipecat oleh Juragan Kapal. Lalu ia bekerja serabutan.
Pada tahun 1970-an Om Alo diterima bekerja di PT Keramika Indonesia (KIA), sebuah pabrik keramik modern kala itu yang memproduksi ubin dan dinding keramik. Om Alo menjadi karyawan dengan kerja shift. Namun di sela-sela aktivitas kerjanya, beliau juga mulai mencari penghasilan tambahan dengan menjadi tukang koran. Sebuah peluang kerja yang kala itu belum ada pesaing.
Namun krisis moneter yang meluas sampai pada tahun 1998, pabrik KIA dengan biaya produksi tinggi dan masalah ekonomi global kala itu, terpaksa berhenti beroperasi di Belitung. Pabrik ditutup. Semua karyawan di PHK, termasuk Om Alo. Sisa-sisa bangunan pabrik masih ada sampai saat ini, terbengkalai. Cerobong besar yang dulu berjaya mengepulkan asap setiap hari, sekarang menjadi saksi bisu betapa pada masanya pernah ada pabrik termodern di Indonesia berdiri di Belitung.
Om Alo akhirnya menjalani profesi sebagai Tukang Koran full time. Dari hanya Koran Kompas akhirnya banyak majalah dan tabloid disediakannya. Berkeliling seputar Tanjung Pandan dari Bandara Buluh Tumbang (sekarang Bandara HAS Hanandjoeddin) menjemput koran yang datang via pesawat dari Jakarta lalu segera mengedarkan ke pelanggan terkadang sampai malam menjelang. Karena kata dia, kalau koran hari itu tidak selesai diantar, maka beritanya basi.
Awalnya Om Alo mengantar koran berkeliling dengan sebuah sepeda ontel Raleigh legendaris. Pelanggannya masih seputar karyawan dan staf PT Timah, beberapa pejabat daerah dan pengusaha. Membaca koran di pagi atau sore hari adalah gaya hidup berkelas pada masa itu. Media cetak berupa koran menjadi jembatan informasi terkini di jaman siaran televisi masih terbatas, dan hanya ada siaran radio RRI. Karena hanya kalangan tertentu saja yang mampu.
Sepasang keranjang terbuat dari kain terpal kuat disampirkan di jok belakang tempat mengangkut semua koran. Om Alo menyebut koran-koran itu Daun Simpor, daun yang banyak tumbuh di Belitung (Dillenia Suffruticosa). Tanaman berdaun lebar dan umum digunakan sebagai alas atau pembungkus makanan di Belitung.
Kala itu fisiknya masih sangat kuat. Seiring waktu dan juga karena pelanggan semakin banyak di segala penjuru kota Tanjung Pandan, Om Alo tak kuat lagi menggowes sepeda. Dibelilah sebuah motor empat tak yang keren jaman itu. Dan jangkauan pelayanannya menjadi semakin luas, bahkan sampai ke pinggiran kota.
Ciri khas penampilan Om Alo saat on duty adalah hanya memakai kaos berkerah, seringkali lengan pendek dan celana pendek olahraga putih. Pelengkapnya adalah sepatu kets, kaos kaki setengah lutut, topi dan kacamata rayban hitam pekat. Tanpa jaket, apapun cuacanya. Tanpa helm walaupun sedang ramai Operasi Zebra. Dan Polisi Lalu Lintas pun seperti sudah capek menilang Om Alo perkara tidak memakai helm. Sehingga Om Alo seperti sudah ditandai “mane kendak die lah” (terserah dia lah).
Dia berkeliling kota seharian dengan Vega Putihnya seperti itu. Bertahun-tahun. Kulitnya sudah sangat hitam seperti arang karena setiap hari terpanggang matahari di jalanan. Semua nasehat seperti anjuran memakai helm atau jaket, tidak akan mempan baginya. Jatuh dari motor berkali-kali tidak membuatnya jera. Selalu cepat bangkit kembali. Mengingatkan aku pada tokoh Satria Baja Hitam, tontonan Gabriel, yang juga bermotor. Walaupun dihantam monster sampai babak belur, tetap akan bangkit dengan gagah.
Sekarang Om Alo sudah sangat sepuh. Pada 7 Juni 2026 usianya sudah 83 tahun. Usia bonus, kami menyebutnya. Namun, fisiknya seperti tidak termakan usia. Hampir setiap hari dia masih menelpon suamiku, mengajak bermain tenis meja sore hari selesai mengantar koran. Beliau masih sanggup main 4 sampai 5 set. Jalannya masih gagah tegak lurus. Encok seperti enggan mendekatinya. Kalau sedang berpakaian resmi batik, dia akan terlihat perlente dan orang tidak akan menyangka dia sudah setua itu.
Yang berubah hanya “sumbu emosi” yang makin hari makin pendek. Di lingkungan terdekatnya, dia dikenal mudah marah sekarang. Cepat sekali menanggapi sesuatu dengan nada suara yang keras, padahal dia sedang tidak marah. Mudah sekali ngambek . Ketika bermain gaple dan kalah, maka seperti anak kecil dia akan mengomel dan pergi begitu saja. Cepat meletup tetapi cepat juga padam. Namun demikian Om Alo adalah orang yang sangat perhatian. Terutama bagi orang-orang yang kesusahan, dia akan cepat membantu.
Bila kamu berkunjung ke Belitung, dan di jalanan kota Tanjung Pandan melihat seorang bapak tua berkaos, celana pendek, bertopi, berkacamata hitam, tidak berjaket, tidak ber-helm dengan Vega Putih yang suaranya melebihi kecepatannya, dengan keranjang koran di jok belakang, itulah Alo Kompas, Satria Daun Simpor.
Kreator : drg. Maria Cornellia Nira Widyastuti (Nira.W)
Comment Closed: BAB 14_Satria Daun Simpor
Sorry, comment are closed for this post.