Di minggu akhir bulan Ramadhan,
banyak keluarga mulai membicarakan hal yang sama…
menu opor, kue kering, dan pulang ke rumah orang tua.
Di ujung kota, percakapan kecil itu terdengar dari sebuah rumah.
Istri berkata pelan, “Mama sedang sakit, dan Mama tinggal sendirian.”
Suami mendengar. “Baik, kita ke rumah Mama dulu.”
Istri mengangguk. …..Hatinya sejuk karena permintaannya didengar.
Suara takbir berkumandang. Salat Ied selesai dijalankan.
Mama yang mulai menua menyambut dengan hangat di sebuah bangunan tua yang telah lama menjadi rumahnya.
Suasana Lebaran terasa.
Mereka berbincang, makan bersama, seolah waktu berjalan lebih lambat pagi itu.
Hingga suara adzan dzuhur berkumandang…
Suami pun berdiri untuk pamit. “Sudah ya, aku ke rumah Ibu.”
Mama tersenyum lembut. “Makasih ya, Nak, sudah datang.”
Istri melihat. Tak mampu berekspresi.
“Kamu bisa tetap di sini menemani ibumu,” kata suaminya.
Istri terdiam.
Ia tidak tahu apakah ia boleh merasa sedih, marah, atau justru berterima kasih atas pengertian suaminya.
Tidak ada pertengkaran. Tidak ada suara yang meninggi. Tidak ada tuntutan.
-R-
Kreator : RR kala Kopi
Comment Closed: Drama Idul Fitri
Sorry, comment are closed for this post.