Apalah arti sebuah nama. Menurutku ungkapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Nama bukan tanpa arti. Bisa saja itu asal dilekatkan. Namun tak jarang nama itu bermakna doa atau harapan. Terutama nama yang disematkan orang tua pada anaknya. Bisa berasal dari cita-cita orang tua yang tak sampai sehingga berharap nasib baik akan jatuh pada anaknya. Ada juga yang berasal dari kekaguman pada seorang tokoh terkenal; artis, idola, tokoh dunia, pemuka agama, politisi atau kenangan akan sebuah tempat atau kejadian berkesan.
Jaman dulu nama orang Indonesia masih sangat sederhana, khas Indonesia dengan ciri kedaerahan seperti Dadang Sunandar, ini khas nama Orang Sunda. Slamet Subagyo, ini sudah jelas nama Orang Jawa. Erdayum Ismet, nama Uda pemilik Rumah Makan Padang dekat rumah. Andi Aziz, ini kawanku yang Bugis totok. Bang Saut, ini abang Tukang Tambal Ban bermarga Sinaga asal Siantar. Dari namanya kita bisa menebak asal usul atau sukunya.
Seiring perkembangan media informasi, terutama televisi, muncul nama-nama yang berasal dari artis sinetron yang sedang menjadi pujaan karena kecantikan atau ketampanannya. Ada suatu ketika muncul nama Leni Marlina di lembar Rekam Medis pasienku. Ini nama bintang film terkenal era 1970-an Kali lain ada Rudi Hartono karena ketika dia lahir, atlet badminton Rudi Hartono menang Piala All England ke-8 kalinya. Ada pula Ivana Lee yang ternyata asli Madura, hitam manis yang bapaknya mengidolakan pemain bulutangkis putri Ivana Lee, jauh dari mata sipit dan kulit putih. Dari namanya itu aku bisa menebak kisaran usia pasien-pasienku ini.
Di masa ada sinetron di televisi, nama-nama artis sinetron mulai banyak dipakai untuk menamai bayi-bayi yang lahir kala itu. Teuku Wisnu, padahal asli Belitung. Shiren Sungkar, padahal asli Tionghoa. Dan masih banyak lagi nama-nama artis top yang muncul di Generasi Z, yang tidak lagi menjadi penanda etnis atau suku. Nama-nama modern yang panjang atau nama-nama dari Bahasa Sanskerta, Latin, Arab atau Eropa yang sering menyulitkan guru ketika menuliskan nama siswa di ijazah.
Hari itu jadwal kegiatan Penjaringan Kesehatan Gigi dan Mulut Siswa Sekolah Dasar di wilayah kerja puskesmas. Kegiatan rutin di setiap Tahun Ajaran Baru untuk mendapatkan data kondisi kesehatan gigi dan mulut siswa usia Sekolah Dasar. Dan jadwal hari itu adalah ke sebuah SD yang berada di Aik Mungkui, Desa Buluh Tumbang. Aku berangkat bersama Tim UKS (Upaya Kesehatan Sekolah). Selain pemeriksaan gigi akan dilakukan juga pemeriksaan kesehatan umum siswa dan penyuluhan.
Sekolah ini masih sangat sederhana bangunannya, terdiri dari beberapa ruang kelas dan beberapa ruang guru. Halamannya tidak terlalu luas tetapi masih banyak pohon peneduh. Waktu itu sekolah ini belum mempunyai ruangan khusus untuk UKS, sehingga kami berkumpul di ruangan guru. Seperti lumrahnya sebuah kunjungan, kami sebagai tamu menghadap Kepala Sekolah lebih dulu, melakukan koordinasi dan mendengar sedikit arahan dari tuan rumah. Kemudian membagi tugas dan ruangan sesuai sasaran tugas masing-masing. Aku akan memeriksa mulai dari kelas satu.
Teman-teman tim sudah mulai menuju ruang kelas masing-masing. Sementara aku diminta menunggu sebentar karena siswa-siswa kelas satu baru saja berkegiatan di luar kelas. Tak lama seorang Ibu Guru memberi tahu bahwa kelas satu sudah siap.
“Dok, maaf,” kata Ibu Guru sambil berjalan di sebelahku menuju ke kelas. “Yusuf Kalla sedang ngambek hari ini. Dari pagi tadi tidak mau ikut belajar karena ditinggal pulang ibunya.”
“Oh!” Aku terkejut mendengar nama mantan Wakil Presiden disebut Ibu Guru.
“Pandai-pandai Dokter nanti gimana membujuknya supaya mau diperiksa giginya,”pesan Ibu Guru.
Aku hanya mengangguk.
Ruangan kelas satu ternyata cukup bersih dan rapi dengan banyak gambar-gambar lucu edukatif di dinding. Beberapa orangtua masih duduk-duduk di bangku panjang di luar kelas. Menunggui anak-anak mereka karena siswa kelas satu masih dalam masa peralihan dan butuh penyesuaian dengan sekolah, guru, teman dan suasana belajar yang berbeda. Keberadaan orang tua yang masih menunggu itu terutama untuk memberi ketenangan pada anaknya yang masih takut dengan suasana baru.
Kulihat di bangku deretan depan paling ujung ada satu anak yang menelungkupkan kepalanya di meja. Aku menduga itulah Mr. Yusuf Kalla yang dimaksud Ibu Guru. Di saat teman-temannya yang lain mau diajak berinteraksi, dia bergeming di bangkunya. Aku memutuskan memeriksa siswa yang lain sampai selesai, baru terakhir ke siswa yang sedang ngambek itu.
Jujur saja, aku terbiasa menghadapi anak kecil yang hiperaktif seperti Gabriel, tetapi mati gaya bila berhadapan dengan anak kecil yang pendiam atau pemalu. Aku tidak punya talenta untuk mengambil hati anak kecil yang tidak mau bersuara, tidak merespon ajakan berinteraksi. Situasi terselamatkan karena tiba-tiba Ibunda Yusuf Kalla muncul di ambang pintu kelas.
“Sup, ngape ken ko ne..suat jak umak tinggal.” (Sup, kenapa, sih, kamu ini?..Cuma sebentar umak tinggal). Ibunda Yusup masuk dan mendekati anaknya. Serta merta mendengar suara ibunya, Yusuf Kalla mengangkat kepala yang sejak tadi disembunyikannya dalam lipatan tangan. Secercah semangat terbit di wajahnya begitu melihat Ibunya datang dan menghampiri. Kepercayaan dirinya muncul. Dan mau aku periksa giginya.
Selesai dengan Yusuf Kalla, aku mengemasi dental instrument pemeriksaan untuk beralih ke kelas lainnya. Seorang siswa menghampiriku. Wajahnya cerah ceria, kulitnya putih bersih, sisiran rambutnya rapi tetapi tidak belah samping seperti umumnya.
“Bu Dokter, aku lah nunggu Ikam, ke kelas kamek dulu, ya. Kinik kelas lain,” katanya tanpa ragu. (Bu Dokter, aku sudah menunggu Ibu, ke kelas kami saja dulu. Kelas lain nanti).
“Kelas berapa?” tanyaku.
“Kelas tiga, Bu Dokter.”
Aku sekilas melihat nama yang tertera di dada kanannya. Lalu penasaran aku mendekatkan pandanganku. Anak itu tahu aku berusaha membaca namanya.
“Bill Gates,” katanya sambil mengarahkan dada kanannya menunjuk ke tulisan.
Alisku naik terkejut dalam hati. “Oh,..baik, kita ke kelasmu dulu. Antar Ibu, ya.”
Dari Ibu Wali Kelas Satu aku mendapat informasi kalau anak ini Cindo. Papanya Tionghoa dan Mamanya Melayu Belitung. Pantas anak ini kulitnya putih bersih, tapi wajahnya Melayu.
Anak itu menggandeng tanganku. Dengan langkah kecilnya yang cepat aku seperti ditarik. Pengalaman hari ini cukup berkesan dan aku gembira. Dalam hati aku berpikir, aku bisa bercerita kalau aku pernah bernegosiasi dengan Yusuf Kalla dan pernah berjalan bergandengan tangan dengan Bill Gates yang ganteng dan tentu saja memeriksa gigi mereka, tanpa berbohong.
Kelas tiga berada di tengah, selisih satu ruangan dengan kelas satu. Seorang Ibu Guru paruh baya berdiri di ambang pintu kelas, tersenyum menyambutku.
“Pagi, Dok, silahkan masuk,” katanya mempersilahkan.
Aku masuk, menyalaminya dan sambil berjalan aku melihat name tag yang tersemat di dada kiri Ibu Guru. Jelas terbaca olehku,..Titik Sandora.
Kreator : drg. Maria Cornellia Nira Widyastuti (Nira.W)
Comment Closed: BAB 15_Ditunggu Bill Gates
Sorry, comment are closed for this post.