Jam menunjukkan pukul 14.00 WIB. Rindu membuka pintu rumah.
“Assalamu’alaikum…,” kata Rindu.
“Wa’alaikumussalam,” sahut Ibu.
Rindu duduk di lantai ruang tamu untuk membuka sepatu dan kaos kaki. Mata Rindu memandang sekeliling rumah. Ibu terlihat keluar masuk ruangan dapur dan kamar Ruth.
“Suasana rumah siang ini agak berbeda. Ada apa? Kenapa Ibu mukanya serius begitu?” pikir Rindu.
“Aku harus bertanya. Daripada menebak-nebak nggak jelas,” tekad Rindu.
“Bu, ada apa? Apa yang terjadi dengan Ruth?” mata Rindu mengarah pada Ibu penuh rasa ingin tahu.
“Tadi, pulang sekolah, muka Ruth pucat. Badannya demam,” jawab Ibu.
“Jangan-jangan masuk angin, Bu,” sela Rindu.
“Mungkin. Sampai saat ini Ruth belum makan siang. Mual katanya,” sambung Ibu.
Rindu sudah sampai di mulut kamar Ruth. Dipandangnya Ruth dengan seksama. Lalu, Rindu melangkah mendekat untuk memegang tangan, badan dan dahi Ruth.
“Suhu badan Ruth tinggi,” pikir Rindu.
Di atas lemari nakas samping tempat tidur Ruth terlihat sepiring nasi beserta lauk pauk dan sayur berkuah. Nasinya terlihat gendut.
“Sepertinya Ibu sudah lama menyiapkan makan untuk Ruth,” pikir Rindu.
“Makan dulu, yuk. Kakak suapin ya,” tanya Rindu kepada Ruth dengan lembut.
“Ngak mau. Mual, Kak,” jawab Ruth.
“Sedikit saja. Tiga sendok. Setelah itu kakak tidak akan maksa lagi,” kata Rindu sambil menyodorkan sesendok nasi beserta lauknya.
Ruth memandang Rindu dengan tatapan kesal. Badannya beringsut duduk. Dengan raut muka enggan, akhirnya Rindu membuka mulutnya.
“Tiga suap, Kak. Janji. Bohong dosa,” kata Ruth merengut.
“Iya. Tiga suap,” sambut Rindu sambil tersenyum.
Ibu yang sejak tadi mendengarkan tidak jauh dari pintu ikut tersenyum.
“Akhirnya Ruth mau makan disuapi oleh Rindu,” kata Ibu dalam hati. Raut muka Ibu terlihat lebih tenang.
Dua hari kemudian …
Hari Sabtu pagi, Rindu melangkah ke kamar Ruth. Selama dua hari ini kami sekeluarga bergantian menemani Ruth. Suhu badannya turun naik. Rindu memegang tangan, dahi dan leher Ruth. Suhu badannya masih tinggi.
“Ruth, badanmu masih belum ada perubahan. Kita ke dokter ya,” kata Rindu sambil menatap cemas kepada Ruth.
Ruth menoleh lemah, disambung anggukan lemah.
“Perut aku nggak enak,” kata Ruth lirih.
“Kakak bilang ke Bapak dan Ibu ya,” kata Rindu.
Tak lama kemudian Rindu meninggalkan Ruth untuk menemui bapak di teras rumah yang tengah membaca koran sambil menikmati kopi.
“Pak, apabila kita bawa Ruth ke dokter, gimana? Sudah tiga hari Ruth panasnya naik turun. Barusan bilang perutnya nggak enak. Rindu khawatir sakit Ruth bertambah parah,” kata Rindu.
Bapak menoleh ke arah anak sulungnya yang sudah duduk di seberang meja. Mencermati raut muka dan sorot matanya yang serius.
“Ibu mana? Ruth sudah sarapan?” tanya Bapak.
“Ibu sudah suapi Ruth nasi dengan sayur sop tadi,” jawab Rindu.
“Kamu bantu Ruth bersiap, ya. Bapak dan Ibu akan bawa Ruth ke dokter,” kata Bapak sambil menyeruput kopi dan melipat koran.
Rindu melangkah menemui Ibu untuk memberitahukan bahwa bapak mengajak ibu ke dokter membawa Ruth. Ibu yang tengah duduk langsung bergegas bersiap.
“Rindu, minta tolong ganti pakaian Ruth. Pakai baju hangat dan sepatu,” kata Ibu.
“Ya, Bu,” jawab Rindu sambil bergegas melangkah ke kamar Ruth, mengambil baju dan perlengkapan lain yang akan dikenakan Ruth. Selang sepuluh menit kemudian, Ruth telah siap berangkat bersama Bapak dan Ibu berangkat ke dokter.
Jam menunjukkan pukul 17.00 WIB ketika pintu diketuk. Terdengar suara Ibu mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum…,” kata Ibu.
“Wa’alaikumussalam,” sahut Rindu. Ibu pulang sendiri.
“Bapak dan Ruth mana, Bu?” tanya Rindu.
“Ruth harus dirawat di rumah sakit, nak,” jawab Ibu terdengar sedih. “Bapak yang akan jaga Ruth hari ini. Besok gantian Ibu yang akan jaga,” sambung Ibu.
Ibu mendekati, duduk bersebelahan dan merangkul Rindu.
“Ibu minta tolong ya, nak. Selama Ruth sakit, bantu Ibu menjaga Ranti dan Rendi,” kata Ibu.
“Ya, Bu. Rindu akan jaga Ranti dan Rendi. Mereka sudah mengetahui kondisi Ruth. Mudah-mudahan mereka mudah untuk mengerti dan tidak rewel,” kata Rindu.
“Ya, nak. Makasih ya sudah jadi kakak yang baik bagi adik-adik. Sudah membantu Bapak dan Ibu juga. Ibu bangga punya kamu,” kata Ibu sambil memeluk erat Rindu.
Keesokan Harinya …
Ibu berangkat pagi ke rumah sakit dengan membawa baju ganti untuk Bapak, Ibu dan Ruth serta perbekalan secukupnya. Sementara Rindu menjaga Ranti dan Rendi di rumah. Suasana pagi di rumah itu sendu. Keadaan Ruth yang sakit membawa kesedihan kepada Rindu dan adik-adiknya. Tak heran, karena Ruth adalah anak yang paling ceria di antara saudara sekandung.
Rindu mengisi waktu dengan mengerjakan hobinya: membaca buku. Sementara Ranti dan Rendi sibuk mengomentari acara televisi. Sampai dengan menjelang siang, suasana tetap seperti itu.
Waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB. Asisten Ibu telah menyajikan makan siang bagi Rindu dan adik-adik. Rindu meletakkan buku yang tengah dibacanya, lalu melangkah menuju meja makan.
“Ranti, Rendi ayo kita makan. Makan siang kita sudah siap,” kata Rindu.
Ranti dan Rendi menoleh ke arah asal suara. Ketika akan beranjak, terdengar suara ketukan pintu. Rendi berlari ke arah pintu dan membukanya.
“Bapak, Ruth kenapa?” tanyanya ketika melihat bapak membopong Ruth menuju kamar Bapak dan Ibu diikuti langkah Ibu yang membawa kantong berisi pakaian dan makanan.
“Kita akan rawat Ruth bersama,” jawab Bapak singkat.
Mulai siang itu, Bapak dan Ibu membagi tugas kepada Rindu dan adik-adik untuk merawat Ruth. Rindu tetap dengan tugasnya, menjaga dan memastikan kondisi adik-adiknya.
“Perhatian adalah salah satu ekspresi menjaga. Kasih sayang menjadi dasar dari perhatian. Ibu adalah pendidik pertama yang akan mengajarkan cara berkasih sayang.”
Kreator : Indri Koesnadi (Indrikoe)
Comment Closed: Adik Sakit
Sorry, comment are closed for this post.