KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Literasi Komunikasi
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • Memoar Reflektif
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Bab 9-Bulan Biru dan Dia

    Bab 9-Bulan Biru dan Dia

    BY 01 Nov 2026 Dilihat: 9 kali
    Labirin Hati Lara_alineaku

    Sejuknya udara pagi dengan hembusan angin yang dingin membelai kulit wajah Lara. Membuat ia termenung saat sedang menunggu di sebuah gedung Kementrian  Agama. Menatap masjid nasional Al-Akbar yang berada di depannya. Kalau saja Tuhan berkehendak sesuai rencanaku, aku tidak akan gelisah seperti sekarang. Adikku yang hanya terpaut delapan belas bulan lebih muda dariku telah mengenalkan bakal calon suaminya kepada mama dan ayah. Di dalam dada Lara, rasa sesak dan kebingungan berkelindang menjadi satu. 

    Ada hukum tidak tertulis yang mengakar kuat di masyarakat: seorang adik perempuan tidak sepatutnya melangkahi sang kakak menuju pelaminan. Lara tahu benar watak orang tuanya. Ia didera ketakutan jika setelah ini, Ayah dan Mama akan kalap, lalu bergegas mencarikannya pria mana saja demi sebuah formalitas adat.

    Bayang-bayang masa lalu kembali berkelebat. Lara teringat bagaimana kakak ketiganya dahulu dijodohkan secara paksa hingga menyisakan luka yang menganga lama. Ia takut takdir kelam itu berulang dan menjerat dirinya. Kendati sang adik berjanji tidak akan menikah dalam waktu dekat, gemuruh di kepala Lara tak mereda. Pada sunyi yang merayap, ia berbisik lirik, siapa yang bisa membantuku keluar dari labirin ini?

    Ping!

    Lamunan Lara buyar saat ponsel di genggamannya bergetar, memecah keheningan dengan satu notifikasi masuk.

    Albas: “Assalamualaikum. Pagi, Lara. Bagaimana kabarmu? Kamu tidak jatuh sakit, kan, sepulang dari perjalanan malam itu?”

    Lara mengulas senyum tipis, jemarinya bergerak di atas layar.

    Lara: “Waalaikumsalam, Kak Albas. Alhamdulillah, aku sehat walafiat.”

    Albas: “Sekarang sedang di mana? Bersama siapa?”

    Lara: “Sedang mengurus beberapa berkas penting di Kantor Kementerian Agama. Tadi bersama adik, tapi karena antreannya panjang dan dia ada jadwal kuliah, dia terpaksa berangkat duluan.”

    Albas: “Loh, kamu ditinggal sendirian di sana? Lalu nanti pulang naik apa?”

    Lara: “Rencananya mau memesan ojek daring. Tapi baru sadar kalau saldo aplikasiku kosong, hehe.”

    Albas: “Jangan ke mana-mana. Tunggu di sana. Kebetulan pekerjaanku sebentar lagi selesai. Sampai bertemu di titik penjemputan, ya.”

    Lara: “Waduh, jadi merepotkan sekali. Hati-hati di jalan, Kak.”

    Lara menurunkan ponselnya, menatap lurus ke depan. Kilas balik malam itu rupanya tidak hanya membekas di benaknya, tetapi juga di hati Albas. Perhatian pria itu belakangan ini terasa berbeda. Lebih dari sekadar ramah, di mata Lara, sikap Albas menyerupai ketukan perlahan yang berusaha membuka pintu hatinya.

    Angan Lara mulai melayang di antara selasar kantor yang lengang dan berhawa dingin. Perasaan yang semula membeku di dalam dadanya perlahan melumer. Seperti pucuk-pucuk daun yang mendadak disapa embun pagi, atau kuncup bunga yang merekah malu-malu saat disiram kehangatan sang surya.

    Albas tiba tepat ketika langit menumpahkan rintik gerimis. Pria itu melangkah mendekat, menyisakan bercak-bercak basah yang mulai menyebar di kemejanya. Lara tertegun. Mengapa setiap kali pria ini hadir, hujan selalu ikut mengiringi? Fenomena alam yang berulang ini perlahan menumbuhkan keyakinan aneh di benak Lara: apakah ini cara semesta mengisyaratkan takdir? Gejolak di hatinya kian sulit diredam. Hawa dingin yang dibawa angin hujan mendadak kalah oleh debar hangat yang meletup di dadanya.

    “Ra? Sudah selesai urusan suratnya?” Suara bariton Albas seketika meruntuhkan khayalan Lara.

    Lara mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha menarik kembali kesadarannya yang sempat melanglang buana. “Eh, iya… sudah, Kak. Waduh, maaf ya, kemeja Kakak jadi basah begini gara-gara menjemputku.”

    Albas mengibaskan tangan, tersenyum maklum. “Hanya gerimis tipis dari parkiran. Sambil menunggu hujan di luar agak reda, bagaimana kalau kita ke pujasera di sebelah? Kamu belum makan siang, kan?”

    Lara meringis kecil, tangannya refleks meraba tas kainnya yang terasa ringan. “Kak Albas saja yang makan. Aku… sepertinya tidak membawa uang tunai yang cukup hari ini.”

    “Memangnya sejak kapan aku membiarkan seorang perempuan membayar makanannya sendiri?” Albas terkekeh, menatap Lara dengan binar jenaka. “Sudah, ayo. Aku yang traktir.”

    Mendengar itu, gurat sungkan di wajah Lara luruh, digantikan cengiran khasnya. “Kalau dipaksa begitu, saya tidak boleh menolak. Siap, gaskan, Kak!”

    Albas tertawa renyah sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Lara, Lara… ada-ada saja kamu.” Ia tampak terkejut sekaligus terhibur melihat sisi konyol Lara yang keluar tanpa dibuat-buat.

    Sesampainya di warung makan, Lara melirik menu yang dipesan Albas: sepiring nasi putih hangat yang disiram kuah santan kental ikan pari, lengkap dengan tumis tahu tempe serta sesendok sambal goreng di tepinya. Aroma rempah yang menguar begitu menggoda selera di tengah kepungan udara dingin. Tanpa ragu, Lara memesan menu yang sama kepada sang pemilik warung.

    “Bagaimana, Ra? Mantap, kan? Aku tidak menyangka kamu juga suka ikan pari,” ujar Albas setelah mereka menyelesaikan suapan terakhir.

    Lara menyeka bibirnya dengan tisu. “Enak sekali, Kak. Apalagi dalam kondisi lapar begini, makanan apa saja pasti terasa nikmat.”

    Albas menumpu kedua tangannya di atas meja, menatap Lara lekat-lekat. “Ternyata kamu orangnya asyik juga, ya. Di awal pertemuan, aku sempat mengira perempuan dengan penampilan tertutup sepertimu akan sangat kaku dan membosankan.”

    Lara melengkungkan senyum tipis, ada binar ketegasan di matanya. “Kalau aku sekaku itu, aku tidak akan betah menjadi aktivis, Kak. Mengapa banyak orang yang sering berasumsi kalau perempuan berhijab lebar itu menutup diri dan tebang pilih dalam berteman?”

    “Iya, maaf. Itu kan hanya tebakan sepihak di kepalaku saja,” sahut Albas cepat, merasa tidak enak. “Lagipula, memang jarang sekali aku menemui perempuan sepertimu.”

    “Kak Albas sedang menyindirku?” Lara menyipitkan mata, lalu membuang pandangan ke luar jendela, berpura-pura merajuk.

    “Tentu tidak, justru itu sebuah pujian,” potong Albas, nadanya melembut. “Kamu itu simbol keterbukaan berpikir. Tidak semua orang yang memilih jalan sepertimu bisa bertindak selugas dan selonggar kamu dalam bergaul.”

    Lara kembali menatap Albas, kali ini raut wajahnya berubah serius. “Bagi sebagian orang yang mengagungkan kekakuan, caraku mungkin dianggap sebagai sebuah pelanggaran. Padahal, bagi saya, jalur hijrah itu tidak melulu berakhir di batas sujud dalam masjid. Setiap ruang yang di dalamnya terdapat majelis ilmu dan pergulatan adab adalah tempat berhijrah. Sebab, Tuhan tidak pernah membatasi diri-Nya hanya di satu tempat.”

    Albas mengangguk takjub. “Kamu benar. Jangan terlalu memasukkan perkataan orang lain ke dalam hati.”

    Lara tersenyum simpul, mencoba mencairkan kembali suasana. “Omong-omong, kenapa waktu itu Kak Albas sengaja menjodoh-jodohkanku dengan Kak Boy? Tidak mungkin, kan, Kak Boy bercerita yang tidak-tidak tentangku?”

    “Ah, itu hanya gurauan,” tukas Albas sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia diam sejenak, lalu melontarkan pertanyaan yang tak terduga. “Kalau menurutmu sendiri… jodoh itu apa, Ra?”

    Lara memainkan jemarinya di atas meja, mengetuk-etuk permukaan gelas es tehnya yang telah berembun. “Melihat dari tiga kakakku yang sudah menikah, jodoh itu misteri yang luar biasa. Tapi, aku rasa kita bisa melihat hilalnya dari dalam diri sendiri. Layaknya cermin, jodoh adalah pantulan dari pribadi kita.”

    Ia menjeda kalimatnya, menatap Albas yang menyimak tanpa berkedip. “Karakter mereka bisa saja bertolak belakang, tetapi mereka selalu menemukan titik nyaman yang sama saat bersama. Perbedaan itu bukan pemisah, melainkan pelengkap hidup. Seperti separuh jiwa, separuh agama, dan separuh hati yang ketika disatukan, melahirkan getaran asing yang mendebarkan sekaligus menenangkan. Terkadang ada luka, tapi di situlah letak keindahan sebuah perasaan bernama cinta.”

    Sadar kalimatnya baru saja melantur terlalu puitis, Lara buru-buru menyembunyikan wajahnya yang mendadak merona di balik sendok dan garpu. “Aduh… penjelasanku panjang sekali, ya. Anggap saja angin lalu, Kak.”

    Albas tidak tertawa. Tatapan matanya justru menancap dalam, mengunci manik mata Lara yang bersembunyi malu. Pria itu mengembuskan napas panjang. “Benar sekali,” bisiknya lirik. “Dan kurasa, aku tidak akan ragu lagi dengan keputusanku kali ini.”

    Sebelum Lara sempat mencerna arti kalimat itu, Albas tiba-tiba menepuk pahanya sendiri lalu berdiri. Lara membeku di tempatnya, menatap punggung Albas yang melangkah menuju motor untuk mengambilkan helm untuknya. Di luar, rintik hujan rupanya telah reda, menyisakan aroma tanah yang basah dan sebuah tanya yang menggantung indah di hati Lara.

    ~•••~

    Seminggu bergulir tanpa ada selembar kabar pun yang menjembatani mereka. Albas tidak mengirim pesan sepatah kata pun sejak hari di mana ia mengantar Lara pulang. Lara pun memilih mengunci rapat gengsinya; ia tidak ingin mengemis perhatian, pun enggan melempar kode-kode terselubung di media sosial.

    Lara melewati rutinitasnya seperti biasa, tetapi ada yang berbeda. Sudut hatinya terasa lowong. Pertanyaan-pertanyaan besar yang tak terucap di pujasera waktu itu kini beralih rupa menjadi desakan yang menuntut jawaban segera.

    Ping!

    Albas: “Apa kabar, Ra? Apakah hari ini orang tuamu ada di rumah?”

    Jantung Lara mencelos. Dengan jemari yang mendadak dingin, ia mengetik balasan.

    Lara: “Alhamdulillah baik, Kak. Ada apa menanyakan Ayah dan Mama?”

    Albas: “Aku ingin bertamu. Bersilaturahmi sekaligus meminta izin dan doa restu kepada kedua orang tuamu, karena aku berniat menta’arufi dirimu.”

    Pertahanan Lara runtuh seketika. Dadanya bergemuruh hebat, detak jantungnya bertalu-talu menghentak rongga dada hingga ia kesusahan mengatur napas akibat gelombang bahagia yang datang mendadak. Dengan rona merah yang tak bisa disembunyikan, ia menyampaikan niat mulia Albas kepada orang tuanya. Ayah dan Mama menyambut kabar itu dengan senyum lega dan tangan terbuka.

    Malam pertemuan itu berjalan begitu khidmat dan membekas dalam ingatan. Untuk pertama kalinya dalam hidup Lara, seorang pria datang menghadap ayahnya, bukan untuk bualan masa remaja, melainkan membawa sekeranjang keseriusan dan tanggung jawab demi merajut masa depan bersama.

    Namun, indahnya masa ta’aruf tidak bertahan lama. Albas mendadak harus kembali ke kampung halamannya. Pria itu melepaskan pekerjaannya di kota, lalu bergegas pergi, meninggalkan Lara bersama sekotak harapan. 

    “Beberapa hari lalu aku resmi mendaftarkan diri sebagai calon anggota DPRD Kota Semarang Dapil 1. Doakan perjuanganku di sini, Ra. Jika kemenangan itu berpihak pada kita, aku akan membawamu bersamaku ke mana pun aku melangkah.” Teks terakhir dari Albas mengunci ruang tunggu Lara.

    “Aamiin. Semoga kelak takdir terbaik yang merangkulmu, Kak,” balas Lara, mencoba tegar di atas untaian doa.

    Lara sadar sesadar-sadarnya, dunia politik yang kini diselami Albas adalah rimba yang terjal dan penuh intrik. Pertarungan itu tidak hanya menguras peluh dan energi fisik, tetapi juga menuntut modal materi yang masif serta menyita waktu hingga nyaris tak bersisa. Albas harus membelah dirinya demi urusan sosial, konstituen, dakwah, karier, dan cinta di saat yang bersamaan.

    Kini, lini masa media sosial menjadi satu-satunya jendela bagi Lara untuk mengintip kabar pria itu. Mereka jarang sekali bertukar pesan instan. Hanya sesekali, di sepertiga malam atau di kala lelah memuncak, Albas akan mengirimkan keluh kesahnya tentang cibiran dan fitnah politik yang kerap menyudutkannya. Di momen-momen rapuh itulah Lara berusaha hadir sebagai penenang. Ia merangkai kata demi kata di layar ponsel, menghidupkan suara di balik speaker telepon, meski jauh di dalam lubuk hatinya, Lara selalu merendah; apakah dukunganku yang sekecil ini benar-benar berguna untuknya?

    Kendati demikian, doa-doa terbaik untuk Albas dan kelanjutan hubungan mereka tidak pernah absen mengangkasa setiap kali gelombang rindu menghantam dada Lara. Hubungan jarak jauh ini secara perlahan mengikis egonya, menuntun Lara untuk berserah sepenuhnya kepada Sang Pemilik Hati. Kadang kala mereka mengobrol hangat seolah jarak ratusan kilometer itu tidak pernah ada. Namun, di hari lain, prasangka dan salah paham kerap datang mengetuk, menyulut pertengkaran kecil yang melelahkan.

    Mereka memang selalu saling memaafkan pada akhirnya. Namun, Lara paham, kata-kata yang telanjur melukai hati tidak akan pernah mudah untuk dihapus begitu saja. Karena itu, di atas sujud-sujud panjangnya, Lara terus berjuang keras menjaga hatinya agar tetap bersih dari prasangka buruk—sebuah benteng terakhir agar pondasi yang sedang mereka bangun tidak roboh sebelum masanya tiba.

     

     

    Kreator : Kuntum Khoiro Ummah (Diary Bintang)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Bab 9-Bulan Biru dan Dia

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021