Hari-hari selanjutnya Alana di sekolah terasa seperti membuka sebuah buku baru yang belum pernah ia baca.
Setiap halaman menyimpan sesuatu yang berbeda. Ada wajah-wajah baru, suara-suara baru, kebiasaan baru, bahkan suasana kelas yang perlahan mulai terasa akrab.
Pada awalnya, Alana lebih banyak diam. Ia duduk di bangkunya sambil memperhatikan teman-teman di sekelilingnya. Ada yang sudah begitu mudah bercanda, ada yang senang bercerita, ada yang sibuk mencatat dan ada pula yang sejak pagi sudah membuat suasana kelas ramai.
Alana hanya tersenyum kecil. Dalam hati ia bertanya-tanya, “Apakah aku bisa banyak punya teman di sini ?” Pertanyaan sederhana itu terus berputar di kepalanya. Namun ternyata, kekuatiran itu tidak berlangsung lama.
Suatu pagi yang tidak terlalu banyak murid yang datang di sekolah, tiba-tiba ada seorang teman menghampirinya.
“Alana, kamu sudah selesai mengerjakan tugas ?”
Alana menganggukan kepalanya dan berkata, “Sudah.”
“Boleh lihat?” Aku masih bingung bagian ini tunjuk temannya.
Alana tersenyum dan memberikan bukunya.
Sejak percakapan sederhana itu, hubungan mereka mulai terjalin. Hari demi hari, Alana semakin mengenal teman-temannya. Ia mulai mengetahui siapa yang suka bercanda, siapa yang senang membaca, siapa yang pandai menggambar, siapa yang suka olahraga dan siapa yang selalu bersedia membantu ketika teman-temannya mengalami kesulitan.
Tanpa disadari kelas yang pada awalnya terasa asing mulai menjadi menjadi tempat yang menyenangkan. Alana pun mulai berani membuka dirinya, tidak lagi hanya duduk diam di bangkunya.
Ia mulai ikut tertawa ketika teman-temannya bercanda. Ia mulai berani menyampaikan pendapat ketika berdiskusi dan mulai belajar bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk mendapatkan nilai, tetapi juga tempat untuk bertemu banyak orang dan belajar memahami karakter yang berbeda-beda satu sama lainnya.
Suatu hari, wali kelas mengumumkan berbagai kegiatan ekstrakurekuler yang dapat diikuti oleh murid-murid.
“Silakan kalian memilih kegiatan yang kalian sukai ?” kata wali kelas mereka. Ikuti sungguh-sungguh kegiatan ekstrakurekuler yang bisa menjadi tempat kalian untuk mengembangkan kemampuan sekaligus belajar bekerjasama.”
Alana memperhatikan daftar kegiatan yang tertempel di papan pengumuman sekolah. Ada pramuka, olahraga, seni, keagamaan dan berbagai kegiatan lainnya. Namun matanya berhenti pada satu nama kegiatan, yaitu pramuka. Entah mengapa, nama itu membuat Alana tertarik.
Teman disebelahnya langsung berkata, “aku mau ikut pramuka. Kamu mau ikut itu juga Alana ?”
Alana berpikir sebentar untuk membuat suatu keputusan. “Kayaknya aku mau juga ikut pramuka.”
“Serius ?” tanya temannya.
“Iya.”
“Bagus, nanti kita sama-sama ikut ya?” kata temannya yang bernama Anisa itu.
Alana pun tersenyum bahagia juga karena ada teman yang sama ingin ikut eskul pramuka. Keputusan sederhana itu ternyata menjadi awal dari banyak pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Pertemuan pertama eskul pramuka membuat Alana terasa sedikit gugup. Lapangan sekolah sore itu dipenuhi murid-murid SMP. Beberapa orang sudah mengenakan perlengkapan pramuka dengan rapi. Sebagian lainnya masih ada yang masih kasak kusuk mencari teman-temannya.
Di tengah keramaian para anggota pramuka mempersiapkan upacara pembukaan latihan pramuka hari ini di halaman sekolah, Alana tiba-tiba terhenyak melihat kehadiran bu Yulisa ditengah-tengah kaka-kaka kelas 9. Alana langsung terdiam sejenak untuk berpikir, kenapa bu Yulisa sore ini ada hadir di sekolah dengan pakai pramuka lengkap juga, sebagai apakah beliau ?
Akhirnya upacara pembukaan hari ini berlangsung yang dibuka oleh Bapa Kepala sekolah. Setelah selesai upacara, bu Yulisa maju ke depan untuk memberikan pengarahan. Ternyata beliau adalah kaka pembina putri di sekolah kami.
“Selamat datang semuanya,” kata bu Yulisa dengan senyum hangatnya seperti biasa.
“Di sini kita bukan hanya belajar tentang baris-berbaris, tali temali atau berbagai keterampilan pramuka lainnya. Kita juga akan belajar tentang tanggung jawab, kerjasama, keberanian, kedisiplinan dan bagaimana menjadi pribadi yang bisa diandalkan.”
Alana mendengarkan dengan seksama semua kata-kata bu Yulisa. Ada sesuatu dalam cara bu Yulisa berbicara, yang membuatnya merasa nyaman. Kata-kata beliau tidak seperti menggurui, tetapi tetap tegas. Tidak sekedar memberi perintah, tetapi juga menjelaskan alasan dibalik setiap kegiatan pramuka yang dilaksanakan.
Pertemuan pertama mereka diisi dengan permainan beregu. Alana awalnya masih canggung harus bekerjasama dengan beberapa teman yang belum terlalu dikenalnya. Namun permainan itu membuat mereka perlahan-lahan bisa tertawa bersama.
Ada yang salah memberikan instruksi. Ada yang lupa aturan permainan. Ada pula yang terlalu bersemangat sampai teman-temanya semua tertawa. Alana pun tidak bisa hanya berdiam diri saja, ia selalu ikut tertawa selama kegiatan itu berlangsung. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa sekolah benar-benar bisa menjadi tempat yang menyenangkan.
Setelah kegiatan selesai, bu Yulisa menghampiri regu Alana.
“Bagaimana ? Menyenangkan ?” tanya bu Yulisa dengan bibir yang selalu tersenyum.
“Alanapun menganggukkan kepala dan menjawab pertanyaan bu Yulisa, “menyenangkan sekali bu.”
“Kalau begitu, jangan hanya datang saat sedang senang saja. Ketika kegiatan terasa sulit pun, kalian harus tetap belajar menghadapinya.”
Alana menganggukan kepalanya lagi. Kalimat itu sangatlah sederhana, tetapi entah mengapa Alana mengingatnya terus sampai di rumah.
Minggu-minggu berikutnya kegiatan pramuka semakin menarik dan menantang. Semakin banyak kegiatan sekolah yang diikuti, semakin banyak pula hal yang ingin Alana pelajari. Alana baru menyadari bahawa belajar itu tidak selalu berarti duduk di depan buku pelajaran dan menghapalkan pelajaran. Belajar bisa terjadi ketika ia bekerja sama dengan teman-temannya. Ia mulai menyadari bahwa belajar tidak selalu berarti duduk di depan buku dan menghafalkan pelajaran.
Belajar bisa terjadi ketika ia bisa bersosialisasi, bekerja sama saling bantu membantu dengan teman-temannya, bertanggung jawab memikul semua pekerjaan secara bersama. Banyak hal dalam kegiatan pramuka dapat diambil hikmahnya.
Justru dari kegiatan itulah Alana belajar banyak bahwa sesuatu yang sulit pun bisa menjadi menyenangkan jika dijalani bersama orang-orang yang mendukungnya.
Hari-hari terus berlalu, Alana semakin mengenal teman-temannya. Ia mulai memiliki kelompok belajar. Ia memulai memiliki teman untuk berbagi cerita. Memiliki teman yang bisa diajak tertawa, ketika suasana sedang menyenangkan dan bisa diajak berdiskusi ketika menghadapi kesulitan.
Sekolah tidak lagi terasa seperti tempat yang asing, tetapi sekolah sudah menjadi bagian dari kehidupan Alana saat ini. Diantara semua pengalaman esktrakurekuler, kegiatan pramuka bersama bu Yulisa menjadi salah satu bagian yang paling berkesan.
Perasaan gembira yang Alana rasakan bersama teman-teman ternyata membawa perubahan besar dalam dirinya. Ia jadi lebih ceria, berani, percaya diri. bertanggunjawab, dan semakin memiliki keinginan untuk belajar.
Malam itu sebelum menutup buku, Alana tersenyum kecil karena baru menyadari satu hal, yaitu semangat belajar ternyata bisa tumbuh dari hal-hal sederhana. Dari sebuah percakapan dengan teman dan guru. Dari tawa di lapangan sekolah di kegiatan rutin pramuka di setiap minggunya.
Kreator : Yuliati Wardina
Comment Closed: BAB III Langkah-Langkah Kecil Alana
Sorry, comment are closed for this post.