Satu minggu kemudian
Pagi di hari minggu yang cerah. Rindu, Ruth, Ranti dan Rendi telah selesai mandi pagi. Rindu duduk di ruang tengah sambil membaca buku. Tak jauh dari Rindu, duduk Ruth yang telah sembuh dari sakit. Ruth ditemani ibu yang menyuapi sarapan. Gerakan Ruth masih lambat karena dalam masa pemulihan. Sudah seminggu Ruth tidak masuk sekolah. Sehari-hari di rumah di rawat oleh ibu. Sepulang sekolah, Rindu, Randi dan Rendi bergantian menemani. Sekadar mengajak ngobrol agar Ruth tidak merasa sepi. Tak lama kemudian, Ranti dan Rendi muncul.
“Kak Ruth, makan yang banyak. Biar bisa cepet sekolah. Main lagi dengan temen-temen. Kemarin Anis nanyain Kak Ruth. Kapan masuk sekolah,” ujar Rendi dengan semangat sambil berjalan mendekati televisi. Tangannya meraih remote bersiap menyalakan sambil melangkah ke karpet dan duduk disana. Ruth memperhatikan Rendi dengan tatapan sayang.
“Kak Ruth juga udah kangen temen-temen. Ingin bisa lekas main lagi,” jawab Ruth.
“Senin besok Ruth boleh berangkat ke sekolah, bu?,” tanya Ruth sambil menoleh ke ibu.
Ibu menatap Ruth dengan pandangan sayang. “Apabila hari ini Ruth udah bisa makan dan aktivitas dalam rumah dengan semangat. Sudah tidak demam lagi, baru besok boleh sekolah. Tapi tidak main lari-larian,” jawab ibu.
Ruth tersenyum. Matanya berbinar membayangkan besok akan bertemu teman-teman. Selesai berbicara dengan ibu, Ruth menoleh ke Rendi. Ternyata Ranti sudah duduk bersama Rendi. Mereka berbincang dengan akrab sambil menonton televisi. “Rendi, Ranti, kata ibu ka Ruth besok boleh sekolah apabila sudah tidak demam,” kata Ruth ke adik-adiknya.
“Alhamdulillaah, makanya ka Ruth makan yang banyak. Biar kuat,” kata Rendy.
“Kita bisa bareng-bareng lagi ke sekolah, ka Ruth. Ngak ada ka Ruth, ngak lengkap,” sambung Ranti. Sekolah Ruth, Ranti dan Rendi berdekatan dan searah. Mereka seringkali pulang bareng. Dalam perjalanan Ruth sering bercerita tentang peristiwa yang terjadi di sekeliling mereka. Tak heran bila setelah satu minggu Ruth sakit, Ranti dan Rendi merasa kehilangan.
Keesokan hari
“Ranti, Rendi jam 06.30. Udah siap. Ruth, yakin akan sekolah? Sudah lebih baik?,” kata Rindu sambil menyiapkan tas sekolah.
“Alhamdulillah ka, sudah jauh membaik. Tapi Ruth ngak akan banyak bergerak dulu kok. Sakit itu ngak enak, sepi,” jawab Ruth sambil menatap Rindu dan tersenyum.
“Oke, baik-baik di sekolah,” kata Rindu
“Ka Rindu, Rendi siap berangkat,” kata Rendi tiba-tiba yang sudah berdiri di sebelah Rindu.
“Aku juga,” kata Ranti yang berdiri di sebelah Rendi sambil tersenyum.
“Sip, udah siap semua ya. Yuk, kita pamit ke ibu,” kata Rindu seraya mendekat kearah ibu berada dengan diikuti oleh adik-adiknya.
“Ibu, kami pamit berangkat,” kata Rindu mewakili adik-adiknya. Ibu tengah sibuk di dapur, menghentikan aktivitasnya. Lalu berjalan mendekati Rindu. “Hati-hati di jalan ya anak-anak sholeh dan sholehah,” jawab ibu.
“Ya, bu,” sambut Rindu, Ruth, Ranti dan Rendi berbarengan. Hari ini, formasi pencari ilmu kembali lengkap.
Waktu cepat berlalu. Rindu telah duduk di kelas dua belas. Ruth duduk di kelas empat, Ranti di kelas tiga dan Rendi di kelas dua. Rindu mengamati akhir-akhir ini, bapak dan ibu sering terlihat berbincang dengan serius. Perbincangan tersebut, kadang berakhir dengan wajah sumringah bapak dan ibu. Kadang berakhir dengan wajah berpikir ibu setelah perbincangan tertentu. Rindu sering mendapati ibu tengah mencatat bumbu dapur dan komoditas sayuran lainnya. Walaupun demikian, Rindu tidak cukup keberanian untuk bertanya lebih detail kepada ibu.
“Selama ibu tidak membuka pembicaraan dengan aku, tentang apa yang tengah dipikirkan bapak dan ibu, aku hanya akan memastikan keadaan ibu sehat dan membantu yang aku bisa,” pikir Rindu.
Selang berapa lama, Rindu melihat ibu pulang dari pasar. Tidak seperti biasanya, kali ini belanjaan ibu lebih banyak dari biasanya. Semua belanjaan ibu adalah bahan memasak atau pangan tahan lama seperti garam, merica bubuk, kecap, dan pangan lainya.
Rindu tengah duduk di teras rumah sambil membaca novel. Aktivitas sore yang paling sering dilakukan Rindu. Ibu yang melihat Rindu tengah membaca, melangkah mendekat lalu duduk disampingnya. “Nak, kita ngobrol sebentar ya,” kata ibu sambil meraih kepala Rindu dan mencium rambutnya. Rindu menurunkan novel yang tengah dibacanya lalu meletakkannya diatas meja. Sambil merapikan rambut, Rindu tersenyum.
“Apa sih ngak buat ibu…,” jawab Rindu. Wajah ibu terlihat berpikir walau masih ada senyum di bibir. Rindu mendengarkan dengan seksama apa yang akan dikatakan ibu.
“Nak, kantor ayah meminta ibu untuk masak makan siang mereka,” kata ibu memulai pembicaraan. “Cukup banyak jumlahnya, 300 rantang. Masing-masing rantang akan berisi nasi, dua macam lauk pauk, sayur dan buah. Ada juga yang ingin disiapkan roti atau rebusan sayur. Rindu bisa bantu ibu untuk mengisi rantang-rantang tersebut di sela-sela waktu sekolah dan belajar? Mungkin malam hari, ibu juga akan minta Rindu untuk membantu membersihkan sayuran sesekali atau melap rantang setelah selesai di cuci,” jelas ibu panjang lebar. Rindu tercenung. 300 rantang bukan sedikit. Dengan isi yang beragam pula. Pikiran Rindu langsung mengarah ke kebiasaan ibu bila memasak. Belanja bahan masak, membersihkan, mengolah, perabotan yang digunakan untuk mengolah, rantang. Rindu langsung menoleh. “Kita memasak rantang sebanyak itu setiap hari bu?,” tanya Rindu.
“Tidak. Hanya hari senin sampai dengan jum’at saja. Hari sabtu kantor libur, nak,” jawab ibu.
“Kita dibantu siapa lagi bu? Ibu pasti sibuk sekali mempersiapkan sampai dengan makanan siap diambil. Jam berapa makanan harus siap bu?,” tanya Rindu lebih lanjut.
“Akan ada asisten rumah tangga yang bantu ibu juga. Rantang akan dijemput kantor Bapak jam 11.30 setiap harinya,” jawab ibu. “Rindu sekolahnya masuk siang. Mulai jam 07.00 pagi, mulai lap rantang. Apabila ada masakan yang sudah mateng, bantu untuk diisikan ke rantang. Malam hari, sehabis makan malam bantu ibu bersihkan sayuran. Kita akan mulai minggu depan ya,” pinta ibu.
“Ya, bu,” jawab Rindu. Mulai hari itu babak baru perjalanan Rindu dimulai.
“Pribadi yang kuat merupakan bekal dalam perjalanan hidup. Salah satu latihan yang dapat dilakukan adalah membantu meringankan beban Bapak dan Ibu.”
Kreator : Indri Koesnadi (Indrikoe)
Comment Closed: PERJUANGAN IBU
Sorry, comment are closed for this post.