Pagi itu, Alana duduk di bangkunya dengan perasaan yang tidak biasa. Sejak memasuki kelas tadi, pikirannya terus penuh kekuatiran yang tak bisa untuk diceritakan kepada siapapun juga. Ia tahu hari ini bu Yulisa akan membagikan hasil ulangan bahasa Inggris minggu lalu.
Bu Yulisa bukan sekedar guru bahasa Inggris bagi Alana. Selama ini, bu Yulisa dikenal sebagai guru yang dekat dengan murid-muridnya. Beliau sering menyapa Alana, menanyakan khabarnya, bercanda dengannya bahkan beberapa kali memberikan semangat ketika Alana mengalami kesulitan dalam belajar.
Karena itulah, hari ini Alana justru merasa semakin gelisah. “Bagaimana kalau nilaiku jelek ?” pikir Alana. Tangannya perlahan menggenggam ujung meja belajarnya. “Bagaimana kalau bu Yulisa kecewa kepadaku ?” pikiran itu terus berputar di kepalanya.
Alana sebenarnya sudah belajar sebelum ulangan. Ia bahkan sempat membaca kembali catatan dan mencoba mengerjakan beberapa latihan soal. Namun, saat mengerjakan ulangan, ada beberapa soal yang membuatnya bingung. Ia merasa jawabannya banyak yang salah.
Dan sekarang waktunya tiba, bu Yulisa masuk ke kelas dengan senyumnya yang khas untuk semua anak-anaknya yang ada di dalam kelas. Serta tak lupa membawa map yang tentunya berisi kertas ulangan untuk dibagikan.
“Good morning. My students !”
“Good morning, Mam !” jawab seluruh murid.
Alana ikut menjawab, tetapi suaranya hampir tidak terdengar.
“Anak-anak, ibu akan membagikan hasil ulangan kalian. Jangan berkecil hati jika nilainya belum sesuai dengan harapan. Jangan hanya melihat nilainya, tetapi lihat juga kesalahan kalian. Dari kesalahan itu kita bisa belajar lebih giat,” kata Bu Yulisa dengan senyum manisnya yang tergambar di wajahnya nan ayu.
Jantung Alana berdegup kencang. Satu persatu lembar kertas ulangan dibagikan. Ketika bu Yulisa berjalan mendekati mejanya. Alana menundukkan wajahnya, ia bahkan tidak berani menatap gurunya.
“Ini, Alana.” suara bu Yulisa terdengar lembut seperti biasa yang ia dengar apabila beliau berbicara.
Alana menerima kertas itu dengan tangan terasa panas dingin tak menentu. Ia pun segera membalik kertas tersebut. Matanya langsung tertuju pada angka merah di bagian atas, 55. Alana pun terdiam tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Seolah-olah suasana kelas yang riuh rendah mendadak menghilang begitu saja dari pendengarannya.
“LIMA PULUH LIMA…” Alana bergumam yang hanya telinganya saja mendengar. Ia membaca angka itu sekali lagi untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah melihat. Dadanya terasa berat sekali.
“Yaa Allah..”
Berbagai pikiran langsung muncul di kepalanya, “Kenapa nilaiku jadi serendah ini ?” Padahal aku sudah belajar. Bagaimana mungkin aku mendapatkan nilai 55 ? Bu Yulisa pasti kecewa dengan nilaiku seperti ini. Pikiran terakhir itulah yang membuat hati Alana terasa sakit. Ia bukan takut dimarahi, tetapi ia justru takut melihat wajah bu Yulisa.
Selama ini bu Yulisa selalu percaya kepadanya. Setiap kali Alana berhasil menjawab pertanyaan, bu Yulisa selalu memberikan senyum dan pujian . Bahkan ketika Alana mengalami kesulitan, bu Yulisa tidak pernah membuatnya merasa bodoh. Tetapi sekarang Alana merasa telah mengecewakan guru yang begitu dekat dan disayanginya.
Ia menundukkan kepala semakin dalam. Ia berharap bu Yulisa tidak memperhatikan wajahnya. Namun, ia diam-diam merasa malu. Bahkan sangat malu sekali.
Ketika beberapa temannya mulai membandingkan nilai mereka, Alana memilih untuk diam saja di bangkunya. Ia tidak ingin ada yang bertanya kepadanya.
“Alana, kamu dapat berapa ?”
Pertanyaan seorang teman membuat Alana semakin gugup. Ia hanya tersenyum tipis. “Lumayan.” Jawabnya. Padahal hatinya ingin sekali menangis namun ditahannya kuat-kuat.
Ia ingin mengatakan bahwa nilainya rendah. Ia ingin bertanya kepada bu Yulisa tentang soal-soal yang salah, tetapi rasa malu membuat mulutnya seakan terkunci.
Lebih dari sekali Alana mencuri pandang ke arah bu Yulisa. Setiap kali mata merka hampir bertemu, Alana buru-buru mengalihkan pandangnya. Kenapa aku malah malu bertemu bu Yulisa? Bukankah aku merasa sepert telah mengecewakan beliau? Pertanyaan-pertanyaan itu terus memenuhi pikirannya.
Saat pelajaran berlangsung, bu Yulisa menjelaskan beberapa kesalahan yang paling banyak dilakukan murid-muridnya.
“Tidak apa-apa kalau masih ada yang salah. Yang penting kalian tahu di mana letak kesalahannya dan mau memperbaikinya.”
Alana mendengar kata-kata itu. Namun, entah mengapa, justru semakin membuat hatinya bergejolak. Bu Yulisa bilang tidak apa-apa. Tapi apakah benar beliau tidak kecewa kepadaku? Alana menggigit bibirnya pelan dan menatap buku di atas meja.
Alana merasa bersalah sekali. Bukan karena bu Yulisa memarahinya, tetapi justru karena bu Yulisa tidak memarahinya. Kebaikan gurunya membuat Alana semakin merasa tidak enak hati.
Saat bel istirahat berbunyi, hampir semua murid keluar kelas, Alana tetap duduk di tempatnya. Ia melihat angka 55 yang masih terlihat jelas tulisan di kertas ulangannya. Tanpa terasa matanya mulai berkaca-kaca. “seharusnya aku bisa lebih baik..” gumamnya sendiri.
Ia mengusap matanya cepat-cepat ketika mendengar langkah kaki mendekati.
“Alana..’
Suara itu membuatnya terkejut. Bu Yulisa berdiri di samping mejanya sambil mengusap kepala Alana. Alana segera mengangkat wajahnya, “I..iyaa, ibu..”
“Kamu kenapa dari tadi diam saja?”
Alana tidak mampu menjawab. Ia menunduk lagi.
“Tidak apa-apa,bu.” jawab Alana terdengar suaranya timbul tenggalam..
Bu Yulisa menarik sebuah bangku dan duduk di dekatnya.
“Ibu melihat kamu seperti sedang memikirkan sesuatu.”
Alana terdiam cukup lama. Akhirnya dengan suara yang tak menentu ia berkata, “Maaf, ibu ?”
Bu Yulisa tampak heran, “maaf untuk apa ?” tanya beliau.
Alana menyodorkan kertas ulangannya, “Nilai saya jelek.”
Suasana menjadi hening sejenak. Bu Yulisa menatap kertas itu dengan perasaan campur aduk dan tak bisa mengeluarkan sepatah katapun juga.
Alana akhirnya memberanikan diri menatap bu Yulisa dan berkata, “Saya malu sama ibu. Selama ini ibu baik sekali kepada saya, tapi saya telah mengecewakan ibu dengan nilai ini.”
Bu Yulisa tersenyum lembut, “Alana, ibu tidak kecewa kepadamu.”
Alana menatap gurunya dengan mata berkaca-kaca, “benarkah, ibu ?”
“Tentu. Memang sebenarnya ibu berharap kamu bisa mendapatkan nilai yang lebih baik daripada itu, tetapi nilai yang rendah itu bukan berarti kamu adalah anak yang gagal.”
Alana terdiam sambil menghapus airmatanya yang tak terasa mengalir begitu saja tanpa bisa dibendung lagi.
“Yang membuat ibu senang bukan hanya ketika kamu mendapatkan nilai tinggi. Ibu juga senang ketika kamu mau berusaha untuk memperbaiki kesalahanmu.”
Perlahan, perasaan sesak yang sejak pagi memenuhi dada Alana mulai berkurang. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya terlalu takut terhadap sebuah angka. Angka 55 memang membuatnya kecewa, tetapi angka itu tidak menentukan harga dirinya sebagai seorang pelajar. Alana kemudian menghapus airmatanya.
“Kalau begitu, ibu mau membantu saya belajar lagi ?” tanya Alana.
Bu Yulisa tersenyum, “Tentu saja. Kita dapat belajar bersama-sama. Jangan pernah malu untuk bertanya apabila tidak mengerti. Jangan pernah simpan perasaan sungkanmu itu untuk menemui ibu apabila mengalami kesulitan. Banyak jalan menuju Roma, malu bertanya nanti sesat dijalan”
Untuk pertama kalinya sejak menerima hasil ulangan tadi, Alana tersenyum. Hari itu Alana pulang dengan perasaan yang berbeda. Nilainya memang 55. Namun, hatinya tidak lagi seberat pagi tadi. Ia membawa suatu pelajaran penting kesalahan bukan sesuatu yang harus disembunyikan, karena malu. Kesalahan adalah kesempatan untuk belajar untuk menjadi lebih baik lagi.
Dan bagi Alana, bu Yulisa bukanlah guru yang akan menghakiminya karena sebuah nilai. Bu Yulisa adalah guru yang membuatnya berani mencoba lagi. Dan membuka peluang yang besar untuk selalu membuang rasa malu agar bisa terus maju dan mendapatkan hasil yang terbaik.
Kreator : Yuliati Wardina
Comment Closed: BAB IV Ketakutan Alana Akan Sebuah Angka
Sorry, comment are closed for this post.